
Pelayan mulai meletakkan satu per satu piring berisi makanan yang dipesan oleh Vaya. Vaya menatap semua hidangan di depan matanya dengan pandangan berbinar-binar bahagia. Ia bahkan sudah tidak sabar untuk menyantap semua hidangan itu.
"Vaya, apa kau sungguh benar-benar lapar?" tanya Vier keheranan.
"Vier, bisa makan makanan yang ada di restoran ini merupakan salah satu keinginanku yang akhirnya terwujud!" jawab Vaya antusias.
"Haha, kalau begitu, selamat keinginanmu terwujud," Vier tertawa.
Vaya tak tahu mengapa ia merasa berdebar melihat tawa Vier.
"Tapi Vaya, kau jangan lupa untuk berolahraga setelah menghabiskan semua ini sendiri," kata Vier sambil menyeringai.
"Lho, Vier, bukankah kita akan memakan semua ini bersama?" Vaya mengernyitkan dahinya.
"Vaya, apa kau sungguh tidak memerhatikan secara saksama detail menu yang disajikan oleh para koki di rumahku?" tanya Vier.
Vaya mengatupkan bibirnya, mencoba mengingat-ingat penjelasan para koki.
"Vier, kau tidak makan seafood ya? Eh, tapi ikan kan seafood," sahut Vaya.
"Vaya, ikan yang boleh kukonsumsi haruslah memenuhi dua kriteria, yakni haruslah ikan yang memiliki sisik dan memiliki sirip. Jika tidak memenuhi dua kriteria tersebut, aku tidak bisa memakannya," Vier menjelaskan.
"Vier, tapi udang kan punya sisik," Vaya menusuk salah satu udang telur asin yang menggiurkan.
"Haha!" tawa Vier kembali meledak.
Vaya mengerucutkan bibirnya mendengar tawa Vier yang terdengar sangat mencemooh.
"Vaya, berapa nilai mata pelajaran biologimu? Bagaimana bisa kau menganggap kulit udang sebagai sisik?"
"Apa kau tahu? Udang itu adalah hewan eksoskeleton yang mana artinya udang sebagai hewan kelas krustasea memiliki rangka luar. Dengan kata lain, kulit udang itu sebenarnya adalah rangka alias tulang dari udang. Sama halnya seperti kepiting. Karena udang dan kepiting masih berada di kelas yang sama."
Vier menjelaskan panjang lebar kepada Vaya yang hanya bisa tersenyum kecut.
"Ya, Vier, aku memang tidak pandai di mata pelajaran biologi. Seandainya saja aku jago di pelajaran biologi, mungkin sekarang aku sudah menjadi dokter," cibir Vaya.
"Haha!" Vier tertawa lagi. "Vaya, kau bahkan hanya jago membuat para pria kabur karena kau memburu mereka! Haha!" Vier kembali tertawa.
Vaya mengerucutkan bibirnya mendengar ejekan Vier.
"Haha, sudah, pokoknya kau habiskan saja semuanya sendiri!" Vier tertawa lagi.
"Iih, Vier, kenapa kau tidak bilang dari awal sih kalau kau hanya makan seafood yang bersisik dan bersirip?" gerutu Vaya.
"Vaya, makanya kau harus memerhatikanku, jangan memerhatikan pria lain! Haha," Vier tertawa lagi.
Vaya semakin mengerucutkan bibirnya. Vier kembali mengulas senyum, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi bak bintang iklan pasta gigi sejuta umat.
"Vaya, aku tidak melarangmu memesan semua makanan yang kau inginkan, karena kau bilang makan makanan di restoran ini salah satu keinginanmu yang pada akhirnya terwujud. Sehingga aku pikir lebih baik aku diam agar keinginanmu itu benar-benar bisa terwujud," Vier menjelaskan.
Vaya tidak tahu mengapa ia merasa berdebar-debar mendengar ucapan Vier. Terlebih Vier menatapnya dengan tatapan yang membuat Vaya sungguh salah tingkah.
Duh, kenapa aku jadi grogi di depan Vier sih? Keluh Vaya dalam hati.
"Ya sudah, lekas makan!" perintah Vier.
"Ya," seloroh Vaya.
__ADS_1
Vier mengulas senyumnya, menatap Vaya yang mulai mencicipi satu per satu menu yang dipesan hingga memenuhi meja mereka.
Vier menatap Vaya yang begitu lahap saat menyantap semua makanan itu. Entahlah, ia benar-benar merasa sangat senang melihat Vaya yang terlihat bahagia.
"Ini benar-benar enak!" puji Vaya dengan mulut penuh makanan.
Vier kembali mengulas senyum tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari Vaya.
Vaya mengerling, mencuri pandang ke arah Vier, pria itu menatapnya dengan penuh minat.
"Vier, kau tidak makan?" tanya Vaya.
"Aku tidak tertarik dengan semua makanan ini," sahut Vier.
"Lah, terus kau mau makan apa?" tanya Vaya keheranan.
"Hmm, aku maunya memakanmu," jawab Vier.
"Uhuk... Uhuk...!"
Vaya langsung tersedak mendengar jawaban Vier.
"Haha!" Vier tertawa melihat Vaya yang begitu panik dan langsung menyambar es teh manisnya.
Ugh, aku kenapa sih?! Vaya merutuk dalam hati.
"Vaya, jangan cemberut begitu! Setiap kali melihatmu cemberut, aku jadi ingin menciummu!" goda Vier.
"Vier, berhenti menggodaku!" gerutu Vaya.
"Tidak, aku tidak menggodamu! Aku benar-benar ingin melakukannya," sahut Vier enteng.
"Sebentar ya, aku ke belakang dulu," Vier beranjak dari tempat duduknya.
Vier segera meninggalkan Vaya. Vaya menghela napas berat. Ia mengutuk dirinya yang seakan begitu mudah grogi di hadapan Vier.
Ugh, aku kenapa sih? Batin Vaya bertanya-tanya sendiri.
Dua orang wanita tiba-tiba menghampiri Vaya. Salah satu dari dua wanita itu langsung mengambil gelas es teh Vaya dan menyiramkan isinya ke wajah Vaya.
Byur..
"Kyaa!" Vaya menjerit, lalu bangkit dari kursinya.
"Bagus ya! Dasar wanita ******!" teriak dua wanita itu.
"Hei! Ada apa ini?! Siapa kalian? Kenapa tiba-tiba menyiramku seperti ini?!" sergah Vaya.
"Tutup mulutmu, dasar pelacur! Sadar diri ya! Berani-beraninya kau menggoda pacarku!" cecar wanita itu.
"Tunggu! Siapa yang menggoda pacarmu?!" sergah Vaya.
"Tutup mulutmu! Dasar lontee!" Wanita yang bertubuh lebih besar langsung menjambak rambut Vaya.
"Kyaa! Lepaskan aku!" teriak Vaya.
"Dasar pelacur! Wanita murahan! Berani-beraninya kau menggoda Sammy!" teriak wanita bertubuh lebih kecil.
__ADS_1
Keributan di meja Vaya jelas langsung mengundang perhatian pengunjung lain yang ingin tahu.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?!"
Aksi dua wanita yang mengeroyok Vaya terhenti saat mendengar bentakan yang cukup keras.
"Apa kalian mau kupanggilkan polisi?!"
Hardikan Vier seketika langsung membuat dua wanita itu langsung melepaskan Vaya. Vier langsung membawa Vaya ke sisinya.
Dua wanita itu seakan kehilangan kata-kata lantaran terpesona pada pria tampan di hadapan mereka.
"Siapa kalian?" tanya Vier penuh selidik.
"Hei, tampan! Wanita itu sudah berani menggoda pacar Erika!" wanita bertubuh lebih besar menjawab.
"Ya! Berani-beraninya dia menggoda Sammy!" wanita bernama Erika itu menyahut.
"Sammy?" Vier mengerutkan keningnya lalu menoleh pada Vaya.
Vaya menggeleng cepat.
"Aku tidak tahu dan tidak kenal siapa Sammy!" sahut Vaya sambil mengedikkan bahunya.
Vier memicingkan matanya.
"Vaya, siapa Sammy?" tanya Vier dengan seringaian horor.
"Mana kutahu siapa Sammy itu, Vier! Sumpah!" Vaya meyakinkan Vier.
Ugh, apa Vier berpikir aku punya hubungan dengan Sammy? Sammy siapa?
"Hei, atas dasar apa kalian langsung menuduh wanita ini menggoda Sammy? Memangnya kalian punya bukti?" tanya Vier.
"Bukti?! Gaby, kau lihat sendiri kan, Sammy datang ke restoran ini bersama wanita berkulit gelap?!" kata Erika.
"Ya, aku yakin! Aku sendiri yang melihat!" Sahut Gaby.
"Erika! Gaby!"
Dua wanita itu segera menoleh saat mendengar suara orang yang memanggilnya.
"Sammy!" seru Erika dan Gaby.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya pria bernama Sammy.
"Sammy, kau jangan pura-pura! Kau datang ke restoran ini bersama selingkuhanmu ini kan?!" seru Erika sambil menunjuk ke arah Vaya.
"Siapa dia?" tanya Sammy.
Plok... Plok...
Vier bertepuk tangan.
"Sepertinya lebih baik kita lanjutkan pembicaraan ini di kantor polisi saja."
Ucapan Vier seketika membuat Erika dan Gaby menegang tak karuan.
__ADS_1
...*****...