
Vaya terkesiap melihat Vier sudah berada di ambang pintu ruang pakaian. Pria itu mengenakan piyama hitam bergaris putih dengan sebuah handuk kecil yang dikalungkan di lehernya. Rambutnya masih nampak setengah basah, aroma sabun yang mewah menguar dari tubuhnya.
"Kenapa kau belum juga berganti pakaian?" tanya Vier.
Mata Vier menelisik penampilan Vaya. Kaus longgar berwarna hitam dengan celana jeans yang nampak sudah usang masih melekat di tubuh Vaya.
Vaya menelan ludahnya, tenggorokannya tercekat melihat seringaian yang menghiasi wajah Vier.
"Apa kau lebih suka tampil tanpa sehelai benang daripada memakai salah satu pakaian ini?" tanya Vier.
Vier melangkah perlahan menuju ke rak sambil membuka-buka koleksi lingerie.
"Kalau kau tidak mau memakai salah satu, kau bisa memakai semuanya," lanjut Vier.
Vier masih tetap mengurai senyumnya, melihat Vaya yang begitu tegang benar-benar membuatnya makin ingin mengerjai wanita itu.
Vaya bingung harus menjawab apa, saat ini ia benar-benar merasa mulai ketakutan.
"Apa kau butuh preferensiku?" tanya Vier dengan nada menggoda.
Terlihat jelas bahwa saat ini Vier sedang menantang Vaya.
"Aku rasa yang ini sangat cocok untukmu."
Tangan Vier mengambil salah satu lingerie berwarna kuning cerah. Lingerie dengan renda-renda tipis, menerawang macam kemasan minyak goreng, ditambah pita besar pada bagian dada yang terlihat menggelikan di mata Vaya.
"Vier, apa semua ini koleksimu?" tanya Vaya dengan tatapannya yang skeptis.
Vier mengangkat sebelah alisnya.
"Koleksiku? Apa kau pikir aku mengenakan ini semua?" tanya Vier.
"Hmm, ya, bisa jadi," sahut Vaya.
"Haha," Vier tertawa.
Dasar wanita tidak sopan! Batin Vier.
"Aku hanya menjalankan peranku sebagai fasilitator," sahut Vier.
Vaya mencebik, ia masih mempertahankan tatapan skeptisnya pada Vier.
"Apa semua wanita yang kau tiduri harus mengenakan pakaian macam ini?" tanya Vaya.
Vier masih tetap menyeringai yang di mata Vaya benar-benar terlihat seperti orang mesum. Sungguh pria gatal yang harus digaruk dengan garpu rumput!
"Haha, aku rasa itu bukan urusanmu," sahut Vier.
__ADS_1
Vier melempar lingerie yang dipilihnya ke arah Vaya.
"Pakai itu! Aku tidak mau tahu!" tandas Vier.
"Apa?!" seru Vaya tertahan.
"Jika kau tidak memakainya, jangan salahkan aku yang memakaikannya untukmu!" kata Vier dengan nada penuh ancaman.
Vier keluar dari ruangan itu meninggalkan Vaya yang menahan rasa kesalnya.
Vier benar-benar pria cabul! Dasar pria gila! Vaya mengumpat dalam hati.
Ia benar-benar nelangsa saat merentangkan lingerie super seksi itu. Warna kuningnya mengingatkan Vaya pada warna khas partai politik.
"Vaya! Lima menit lagi aku akan masuk!"
Seruan Vier terdengar penuh ancaman, persis seperti bom waktu yang terpasang di tubuh Vaya.
Vaya mengumpulkan segenap keberanian, mengabaikan rasa malunya. Daripada Vier mengikatnya lagi dan memakaikan lingerie ini secara paksa, bukankah itu jauh lebih memalukan?!
Vier masih menunggu di tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya.
Vier mengambil gawai cerdas, menimbang-nimbang apakah ia harus merekam momen kegilaan Vaya ketika wanita itu menggodanya. Pasti sangat menyedihkan melihat wanita itu menangis dan memohon pengampunannya.
Ini benar-benar menarik sekali! Vier menyeringai jahat.
Ia meletakkan gawai cerdasnya di atas nakas, memposisikan kamera yang akan merekam semuanya.
Pintu ruangan terbuka, mata Vier langsung tertuju pada Vaya yang muncul mengenakan pakaian tidur tipis, berenda-renda, dengan pita besar di depan dada.
Vaya mati-matian menahan rasa malunya karena pakaian menerawang itu benar-benar membuatnya nyaris tanpa busana.
Vaya bisa melihat ekspresi Vier yang seketika menegang.
"Huahahhaha!" Vier tertawa terbahak-bahak.
Pria itu tak kuasa menahan tawanya, ia bahkan memukul-mukul tempat tidur.
"Hahaha!" tawa Vier belum reda juga.
Wajah pria itu bahkan sudah terlihat memerah dan seakan kehabisan napas.
Vaya benar-benar tersinggung dengan sikap Vier yang jelas menertawakannya habis-habisan.
Seperti inilah yang dirasakan oleh Vaya ketika dulu kerap menjadi bahan tertawaan semua orang tatkala pengakuan cintanya ditolak oleh setiap pemuda.
"Aduh, aduh! Kau benar-benar terlihat seperti ikan buntal! Lihat perutmu yang bergelambir begitu! Itu pasti lemak semua! Haha!" ledek Vier habis-habisan.
__ADS_1
"Ya ampun, pahamu benar-benar sebesar paha badak bercula satu! Tidak, aku rasa paha gajah! Haha!"
Vier masih sibuk tertawa-tawa, sementara Vaya hanya bisa meredam rasa malu dan marahnya.
Kesal sekali rasanya jadi korban body shamming seperti ini.
"Kau itu ya! Bisa-bisanya membuat kebohongan bahwa kau dan aku pernah berkencan, lalu aku menidurimu sampai kau hamil! Halo! Melihat tubuhmu yang penuh tumpukan lemak jahat itu saja membuatku tidak selera! Haha!"
Vaya sadar bahwa ia memang memiliki tubuh yang tidak seperti tubuh tunangan Vier yaitu Selena. Selena bahkan begitu kurus, tinggi, dan ramping. Angin yang berembus kencang pasti akan menerbangkan Selena.
Tapi, bukankah ejekan Vier benar-benar keterlaluan?
"Haha, sepertinya kau benar-benar harus berusaha keras untuk menjalani diet ketat! Aku akan meminta ahli gizi terbaikku untuk mengatur pola diet yang cocok untukmu!"
"Mataku benar-benar sakit melihat kondisi tubuhmu yang berbentuk seperti lontong plastik itu! Benar-benar tidak ada bentuknya! Haha!" Vier kembali tertawa terbahak-bahak.
Vaya menghembuskan napas berat. Vier yang mengomentari bentuk tubuhnya benar-benar keterlaluan.
Ingin rasanya ia membalas semua perkataan pria itu. Namun keraguan jelas menghantui Vaya. Bagaimana jika Vier marah lalu akan mengikatnya seperti malam itu? Bukankah itu sama saja dengan menggali lubang kuburnya sendiri?
"Aku rasa selain diet ketat, kau juga harus mengikuti latihan fisik yang ketat guna menghilangkan lemak perutmu yang menggelambir itu. Aku benar-benar risih melihatnya," lanjut Vier.
"Dan juga kulitmu itu! Aduh, kulit di betismu bahkan terlihat bersisik seperti sisik naga! Rasanya aku jadi ingin mengambil amplas kayu, lalu mengamplas betismu itu!"
"Sebagai seorang wanita harusnya kau itu benar-benar concern terhadap penampilanmu. Tubuhmu adalah anugerah dari Tuhan. Merawat tubuh yang baik adalah cara bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan."
Vier masih melayangkan tatapan mencemooh pada Vaya. Sejujurnya ia heran, mengapa Vaya sama sekali tidak bereaksi seperti yang sudah dibayangkannya?
Harusnya wanita itu menangis sambil memohon pengampunannya. Atau mungkin makin merendahkan dirinya di hadapan Vier. Melihat Vaya yang diam saja seperti itu membuat Vier jadi gemas sendiri.
"Hei, apa aku perlu memperlihatkan kepadamu para wanita yang selama ini kukencani? Mereka semua adalah wanita-wanita dengan kecantikan luar biasa, bertubuh indah, dan sangat memanjakan mata! Tapi lihatlah dirimu itu! Apa kau sungguh tidak pernah berkaca?"
Bagus, Vier! Terus saja kau cecar aku seperti ini. Setelah kau puas komplain terhadap fisikku, tidak puas dengan penampilan fisikku, jangan ragu-ragu untuk menceraikanku! Batin Vaya.
"Mulai besok kau harus mengikuti pola diet, temui instruktur untuk mengikuti program latihan fisik, lalu pergilah ke tempat perawatan kulit, hilangkan sisik nagamu itu!" kata Vier.
"Hee?! Apa kau bilang?!" Vaya terperangah.
"Apa perkataanku kurang jelas?" Vier balik bertanya.
"Tunggu, Vier! Kalau kau tidak suka dengan penampilanku, kenapa kau tidak menceraikanku? Cari saja wanita lain yang bisa memenuhi kriteriamu!"
"Haha! Kalau aku mencari wanita lain yang sesuai dengan kriteriaku, lantas bagaimana denganmu? Lantas bagaimana dengan dosa-dosa yang kau perbuat atas kebohonganmu?"
Vaya terperangah melihat Vier yang kembali menyeringai horor.
"Pergilah, aku benar-benar tidak berselera melihat wanita menyedihkan sepertimu!"
__ADS_1
Vier beranjak dari tempat tidur, meninggalkan Vaya yang langsung mengacungkan jari tengahnya ke arah Vier.
...*****...