
Vaya terpaku saat melihat sosok pria berparas blasteran yang menyapanya. Yoseph Randvale atau yang lebih dikenal dengan sapaan Yoran, terlihat luar biasa tampan dalam balutan jas berwarna abu-abu, yang dipadukan dengan kemeja berwarna putih tanpa dasi.
"Vaya," sapa pria itu.
"Eh, oh, ha-hai Yoran," balas Vaya kikuk.
Astaga! Kok bisa aku bertemu Yoran di sini? Duh, bagaimana penampilanku ya? Kalau tahu akan bertemu Yoran, aku pasti sudah berdandan lebih rapi, batin Vaya.
"Lagi-lagi kita bertemu di tempat yang tidak terduga," kata Yoran.
"Haha, ya, sungguh benar-benar mengejutkan sekali," sahut Vaya.
Aduh Vaya! Jangan kikuk begitu! Vaya memaki dirinya.
"Apa kau sedang menunggu seseorang?" tanya Yoran.
Vaya tidak tahu harus menjawab apa, namun saat ini otaknya harus memikirkan sebuah alasan yang terdengar keren dan profesional.
"Hm, ya, begitulah, aku menunggu klien, tapi ternyata klienku ada urusan mendadak sehingga tidak bisa datang," jawab Vaya.
Wah, terdengar keren sekali ya, batin Vaya kegirangan.
"Oh begitu," sahut Yoran.
"Kau sendiri, Yoran?" tanya Vaya.
"Aku ada urusan pekerjaan, aku mampir ke restoran ini untuk makan siang," jawab Yoran.
"Oh, begitu, wah," sahut Vaya.
"Permisi, apa Anda sudah siap memesan?" pelayan kembali menghampiri Vaya.
Duh, padahal aku sudah mau pergi, batin Vaya.
"Vaya, bagaimana jika kita makan siang bersama?" tanya Yoran.
Hee? Bola mata Vaya membulat.
"Mumpung kita bertemu di sini," kata Yoran.
Makan bersama Yoran?
Jantung Vaya langsung berdebar tak karuan, terlebih ketika Yoran akhirnya memutuskan untuk duduk di hadapan Vaya.
...*****...
Tujuh belas tahun yang lalu, Vaya mendapati dirinya sedang menuju ke kantin sekolah bersama Mima dan juga Ibe.
Mima dan Ibe masih sibuk berdebat mengenai pelajaran sejarah tentang perang Troya dan mengaitkannya dengan film Troy yang dibintangi oleh Brad Pitt.
"Aku lebih setuju Tom Cruise yang menjadi Achilles!" kata Ibe.
"Tidak, Ibe, definisi dari prajurit seksi adalah Brad Pitt! Tinggi, tampan, dan pirang!" sahut Mima.
"Vaya, menurutmu siapa yang lebih cocok?" tanya Ibe.
Vaya tidak menjawab pertanyaan Ibe, saat ini mata Vaya tertuju pada sosok Yoran yang sudah berada di kantin. Yoran dan para anak-anak gaul sudah duduk di meja kehormatan.
__ADS_1
"Yoran," ucap Vaya.
"Hihhh! Anak ini sudah keracunan Yoran! Hihi," Ibe terkekeh geli.
"Sudah, sudah, yuk sekarang kita makan dulu," ajak Mima.
"Kalian mau makan apa? Aku yang traktir," sahutΒ Ibe.
"Yoran makan apa ya?" tanya Vaya.
"Hahaha, Vaya, apa kau mau makan apa yang dimakan Yoran?" Mima tertawa.
Vaya hanya bisa menyeringai getir. Saat itu bisa makan di meja yang sama dengan Yoran pasti akan sangat menyenangkan.
Hanya saja pasti tidaklah mungkin, mengingat Yoran selalu dikelilingi oleh murid-murid populer. Terlebih Yoran kerap nongkrong bersama Vier yang begitu populer di antara para siswi. Para gadis cantik sudah berlagak macam ladies escort alias wanita-wanita pendamping.
Jadi, tidak mungkin gadis lusuh macam Vaya bisa menjadi gadis yang berada di sekeliling Yoran.
Jauh antara langit dan bumi!
Tuhan, meski hanya satu kali saja, aku ingin bisa makan di meja yang sama dengan Yoran.
Begitulah doa yang selalu dipanjatkan oleh Vaya dalam hati setiap kali ia makan di kantin.
Berharap suatu hari akan ada keajaiban datang menghampiri Vaya. Berharap dengan sangat bahwa Tuhan akan mengabulkan doanya. Namun hingga hari kelulusan tiba, Tuhan belum juga mengabulkan doa Vaya.
Mungkin Tuhan tidak mendengar doa Vaya karena doa Vaya tidak penting-penting amat.
Seperti itulah yang ada dalam pikiran Vaya ketika itu.
...*****...
Vaya duduk di meja yang sama dengan Yoran. Duduk berhadapan langsung, dengan makanan yang sudah terhidang di atas meja.
Yoran memilih menu spicy salmon aglio olio, sedangkan Vaya memilih salad tuna dan sepiring penuh potongan buah-buahan segar. Ia tentu tidak boleh makan yang aneh-aneh mengingat bahwa akan ada Vier yang siap untuk mengejeknya jika berat badannya bertambah.
Bagaimana Yoran bisa terlihat begitu tampan saatΒ menyantap spaghetti?
Ih, aku ingin menjadi spaghetti yang diseruput Yoran!
Batin Vaya meronta-ronta bahagia, Vaya bahkan merasa sudah kenyang hanya dengan memandangi Yoran saja.
"Ada apa, Vaya? Apa ada sesuatu yang salah di wajahku?" tanya Yoran.
Vaya terkesiap mendengar pertanyaan Yoran.
Vaya cepat-cepat memikirkan alasan yang harus ia utarakan supaya tidak perlu merasa malu karena kepergok memandangi wajah tampan Yoran.
"Hm, tidak, aku hanya teringat saat masih sekolah dulu, aku sering melihatmu makan mie ayam, tapi sekarang spaghetti," jawab Vaya.
Yoran mengulas senyumnya.
"Hmm, ya, mie ayam yang dijual di sekolah dulu rasanya enak," sahut Yoran.
"Kau benar, pantas saja aku sering melihatmu nongkrong di warung mie ayam," ceplos Vaya.
Aduh, aku bicara apa sih! Batin Vaya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, apa warung mie ayam di sekolah itu masih ada?" tanya Yoran.
"Warungnya masih ada, hanya saja penjualnya sudah berganti. Info yang kudengar dari adikku, penjual mie ayam terdahulu sudah tutup usia," jawab Vaya.
"Oh begitu, sayang sekali ya, padahal aku pikir bisa sekali-kali berkunjung ke sana," kata Yoran.
"Karena jujur saja, sudah lama sekali aku tidak pernah mengunjungi sekolah, terlebih pasca kelulusan," lanjut Yoran.
Vaya mengulas senyum kikuk, entahlah, wajahnya nampak seperti apa saat ini. Vaya hanya bisa merasakan debaran jantungnya yang makin meningkat.Β
"Bagaimana denganmu, Vaya? Apa kau pernah mengunjungi sekolah pasca kelulusan?" tanya Yoran.
"Hmm, ya, aku ada beberapa kali ke sekolah, itu pun untuk mengambil rapor adikku," jawab Vaya.
"Sekolah pasti sudah banyak berubah ya," kata Yoran.
"Iya, kau benar, bahkan kelas kita dulu sudah tidak ada lagi," ucap Vaya.
"Tidak ada lagi? Maksudnya?" tanya Yoran keheranan.
"Ya, kelas kita dulu sudah diubah menjadi pintu masuk gedung karena adanya penambahan beberapa ruangan baru yang belum ada di zaman kita masih sekolah dulu," jawab Vaya.
"Oh, wah, sudah lama sekali berarti ya," kata Yoran.
"Ya, lima belas tahun tentu bukan waktu yang singkat," sahut Vaya.
Ya, lima belas tahun mencintai seorang Yoran dan meski harus menerima penolakan, namun entah mengapa hati Vaya belum bisa sepenuhnya merelakan Yoran.
...*****...
"Yoran, terima kasih karena sudah mentraktirku makan siang," kata Vaya.
Mereka berjalan menyusuri koridor keluar dari restoran.
"Tidak masalah, kebetulan bertemu denganmu di jam makan siang, mengapa tidak?" ucap Yoran.
Vaya merasa bahwa ia belum ingin berpisah dari Yoran.Β
"Vaya, setelah ini kau kembali ke kantor lagi?" tanya Yoran.
"Iya benar," jawab Vaya.
"Ngomong-ngomong di mana kantormu?" tanya Yoran.
"Di kawasan Sudirman," jawab Vaya.
"Oh, kebetulan aku ada urusan di daerah Sudirman, apa kau keberatan jika kuberi tumpangan?" tanya Yoran.
Hee? Serius? Vaya terperangah.
"Terima kasih banyak, Yoran, apa kau yakin tidak akan merepotkanmu?" tanya Vaya.
"Kenapa harus repot? Bukankah kita menuju ke arah yang sama?"
Vaya mengangguk, debaran jantungnya benar-benar makin menggila. Saat ini ia hanya tunduk pada keinginan hatinya saja.
Ya, hatinya yang masih mendambakan Yoran hingga detik ini.
__ADS_1
...*****...
Jangan lupa πβββββπππππππππππππππΉπΉπΉ