
Vaya mengaduk-aduk mie instan di dalam panci. Saat ini perutnya benar-benar terlalu lapar dan makan mie instan jelas lebih praktis daripada harus menunggu koki memasak makanan untuknya.
Mie instan dengan rasa super pedas itu pasti mampu untuk membuatnya lupa dengan masalah yang saat ini sedang dihadapinya.
Kembalinya Selena merupakan sesuatu yang lebih buruk dari mimpi buruk itu sendiri.
Vaya jadi teringat betapa keras usahanya saat berusaha untuk menemukan Selena melalui media sosial. Begitu banyak akun media sosial dengan nama Selena di dunia ini. Saat itu Vaya berharap bahwa Selena akan datang dan membuat Vier cepat-cepat mengakhiri pernikahan mereka.
Namun setelah melalui hari-hari bersama Vier, mulai dari hari-hari yang begitu buruk, hingga hari-hari yang begitu membahagiakan, Vaya akhirnya melupakan pencariannya terhadap Selena.
Ibarat kata, orang yang berniat jadi mak comblang, sang mak comblang justru menaruh hati pada targetnya. Seperti itulah yang saat ini dirasakan oleh Vaya.
Momen-momen manis yang diciptakan oleh Vier sungguh membuat Vaya tanpa sadar telah jatuh cinta pada pria itu.
Dan kini, Vaya seakan dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa saat ini cintanya kepada Vier harus mengalami pertentangan dari keluarga Vier, khususnya Bu Cintami.
"Jangan dengarkan apa pun yang dikatakan ibuku, dengarkan aku saja! Yang menikahimu itu aku, bukan ibuku!"
Ucapan Vier menjadi mantra untuk menguatkan hati Vaya. Kalimat sederhana itulah yang menjadi pedoman dan tuntunan untuk Vaya demi kehidupan yang damai serta sejahtera selain berpegang pada Pancasila dan UUD 1945 sebagai warga negara yang baik.
Tak peduli meski Vaya harus mendengar percakapan yang terjadi antara Vier dan Selena. Meski hatinya terlalu sakit saat melihat Selena berada dalam pelukan Vier, namun lagi-lagi Vaya harus menguatkan hatinya.
Selena hanya mantan tunangan Vier, akulah istri Vier! Akulah istri Vier!
Mulut Vaya berkomat-kamit merapalkan mantra itu.
"Di sini kau rupanya."
Vier melangkah masuk ke dapur untuk menghampiri Vaya.
"Vier," Vaya menyambut senang kehadiran Vier.
Vaya menatap Vier yang terlihat tetap mengurai senyum, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Vaya, kau pasti sangat terkejut dengan kehadiran ibuku dan juga Selena," ucap Vier.
"Hmm, ya, aku benar-benar sangat terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa," sahut Vaya. "Apa kau juga terkejut?" tanya Vaya.
"Ya, aku juga sangat terkejut," jawab Vier singkat.
"Vier, apa kau mau makan mie instan?" tanya Vaya.
Vier menggeleng pelan, saat ini sejujurnya ia benar-benar kehilangan selera makan. Perkataan ibunya mengenai Vaya terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Terutama perihal tentang Vaya yang menurut Bu Cintami sengaja mengacaukan rencana pernikahannya.
"Oh begitu," sahut Vaya sedikit kecewa.
"Aku akan ke rumah sakit sekarang untuk menemui Selena," kata Vier.
__ADS_1
"Rumah sakit? Memangnya Selena kenapa?" tanya Vaya.
"Selena terluka," jawab Vier.
Vaya menatap Vier secara saksama.
"Vier, apa kau dan Selena akan kembali bersama?"
Vaya tidak tahu mengapa ia melontarkan pertanyaan seperti itu. Mungkin alam bawah sadar Vaya mendesak dan memaksa agar Vaya menanyakan hal tersebut lantaran melihat Selena dan Vier saling berpelukan dengan begitu eratnya di depan mata Vaya.
Alam bawah sadar memasang alarm tanda bahaya agar Vaya menjadi lebih waspada. Ekspresi Vier seketika berubah tegang.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu, Vaya?" tanya Vier.
"Aku bertanya karena aku sungguh ingin tahu, Vier," jawab Vaya.
"Aku sungguh ingin tahu, bagaimana dengan nasibku ke depannya," lanjut Vaya.
"Karena jujur saja, aku sungguh tidak ingin hubungan kita harus berakhir seperti ini."
Vaya meraih tangan Vier dan menggenggamnya. Tangan Vier yang besar terasa begitu dingin, sungguh tidak seperti tangan Vier yang biasanya selalu terasa hangat.
"Aku sungguh tidak ingin kau kembali bersama Selena. Aku tidak mau, Vier! Aku tidak peduli meski ibumu mengatakan bahwa aku tidak pantas mendampingimu, aku tidak pantas untuk menjadi istrimu. Aku tidak peduli meski ibumu menghinaku, menghina keluargaku yang miskin! Aku tidak peduli, Vier," beber Vaya.
"Vaya," lirih Vier.
"Aku sudah menjadi istrimu, itulah yang terpenting, benar begitu kan?!"
"Vaya, apakah memisahkanku dengan Selena memang sudah menjadi rencanamu?" tanya Vier.
Vaya tertegun mendengar pertanyaan Vier.
"Apakah kau memang sengaja merusak rencana pernikahanku dengan Selena?"
"A-apa maksudmu, Vier?" Vaya terperangah.
Vier masih menatap Vaya lekat-lekat.
"Vier, apakah kau sungguh lebih percaya dengan asumsi ibumu?" tanya Vaya.
"Aku bukannya lebih percaya dengan asumsi ibuku, aku hanya ingin memastikan bahwa asumsi ibuku tentu saja keliru," jawab Vier.
"Vier," Vaya menggenggam tangan Vier lebih erat.
Vaya merasakan gemuruh yang begitu besar mencambuki dadanya.
"Hanya saja melihatmu seperti ini, aku jadi berpikir bagaimana jika asumsi ibuku yang keliru itu, ternyata mengandung kebenaran," lanjut Vier.
__ADS_1
"Vier, apa maksudmu?"
"Vaya, aku tahu, kau memang merusak rencana pernikahanku dengan Selena lewat kebohonganmu. Hanya saja, apakah benar hal tersebut dilatar belakangi oleh ambisimu untuk memilikiku?" tanya Vier.
"A-apa? Ambisi untuk memilikimu?" Vaya terperangah.
Vaya melepas genggaman tangannya dari tangan Vier. Ia menarik napasnya dengan susah payah seiring dengan jantungnya yang bergemuruh menimbulkan rasa sesak.
"Vier, sungguh, aku tidak pernah bermaksud untuk merusak rencana pernikahanmu dengan Selena. Aku membuat kebohongan itu pada Selena murni karena aku hanya bercanda!"
"Mana pernah kutahu jika Selena benar-benar percaya pada kebohongan itu, Vier!"
Vaya merasakan matanya mulai memanas, namun sebisa mungkin ia bertahan untuk tidak menumpahkan air matanya.
"Mana pernah kutahu pada akhirnya Selena memilih untuk membatalkan pernikahan kalian! Dan kau memintaku untuk menggantikan posisi Selena!"
"Tapi mengapa sekarang kau justru malah menuduh bahwa semua itu dilatar belakangi oleh ambisiku untuk memilikimu?"
"Vaya, siapa yang bisa tahu apakah kau berbohong atau tidak?" Vier menyela.
Vaya terdiam menatap Vier yang terlihat menegang.
"Vier, apa kau tidak percaya padaku?" tanya Vaya.
Vier terdiam mendengar pertanyaan Vaya. Jujur saja, saat ini pun ia merasa sedang begitu bimbang.
"Maaf, Vaya, aku bahkan tidak yakin, apakah kebohonganmu itu hanya sekadar kebohongan ataukah kejujuran," jawab Vier.
Vaya kembali tertegun mendengar ucapan Vier.
"Vier, apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku?" tanya Vaya.
Vier tidak menjawab, ia memutar tubuhnya dan beranjak pergi meninggalkan dapur.
"Vier! Tunggu! Vier!" Vaya menahan kepergian Vier.
Vaya menahan lengan Vier, menatap lekat-lekat Vier dengan tatapan memohon.
Vier melepas tangan Vaya dengan lembut, namun tanpa ada senyum yang terulas di wajah tampannya.
"Aku harus pergi, Vaya," lirih Vier lagi.
"Tidak! Vier! Kumohon, jangan pergi!" pinta Vaya.
Vier mengangguk pelan dan tetap melanjutkan langkahnya.
Vaya terdiam menatap punggung Vier yang semakin menjauh dan pandangannya yang kini berkabut lantaran air matanya yang tumpah ruah.
__ADS_1
Mana pernah kutahu, jatuh cinta padamu.
...*****...