
Vaya, Mima, dan Ibe saling berpandangan begitu mereka memasuki toilet.
"Vaya, apa Vier sudah sering begini? Maksudku tiba-tiba muncul begitu saja?" tanya Ibe.
Vaya mengangguk lambat, seringkali pria itu muncul secara tidak terduga.
"Apa dia begitu over protektif terhadapmu?" tanya Mima.
"Hmm, ya, sangat! Vier sangat membatasi interaksiku dengan pria lain bahkan dengan teman kantorku sendiri," jawab Vaya.
"Astaga, serius?!" Ibe terperangah.
Vaya mengangguk cepat.
"Sudah kuduga! Vier begitu karena dia pasti takut perselingkuhannya diketahui, makanya bersikap over protektif begitu! Biasa modus para peselingkuh kan seperti itu!" kata Ibe berapi-api.
"Vaya, apa kau sungguh mau membongkar perselingkuhan Vier?" tanya Mima.
"Teman-teman, aku sungguh tidak tertarik dengan kehidupan pribadi Vier!"
Vaya mencuci tangannya di bawah air yang mengalir deras dari kran.
"Terserah dia mau mengencani wanita mana pun yang dia inginkan! Terserah jika dia mau kembali bersama tunangannya, atau bahkan berselingkuh dengan pria!" lanjut Vaya.
"Oh waw, Vaya, kehidupan pernikahan apa yang kau jalani bersama Vier?" Mima terperangah.
"Kehidupan pernikahanku dengan Vier adalah konsekuensi yang harus kuterima sebagai akibat dari kebohongan yang kubuat. Jujur saja, aku sungguh menyesal karena telah mengusik kehidupan Vier. Tapi, apa yang bisa kulakukan selain menghadapinya?"
Vaya mengambil tisu dan mengelap tangannya yang basah. Mima dan Ibe melemparkan tatapan penuh simpati pada Vaya.
"Vaya, kau sungguh tegar. Kalau aku jadi kau, pasti sudah kutinggalkan Vier itu!" kata Ibe.
"Vaya, kau pasti bisa menghadapi semua ini," ucap Mima meyakinkan.
"Pasti, aku pasti bisa!" Vaya menepuk dadanya dengan tangannya yang terkepal.
"Yuk kita kembali, daripada nanti Vier ngambek," Vaya bergegas keluar dari toilet.
Mima dan Ibe kembali saling berpandangan.
"Mima, Vaya sungguh kasihan sekali ya, harus menjalani pernikahan tanpa cinta, belum lagi ternyata diselingkuhi begitu," kata Ibe.
"Kau benar, Ibe, Vier ternyata memang tidak bisa diajak bercanda ya," ucap Mima.
"Yah, laki-laki kalau punya kuasa kan memang seperti itu! Semaunya sendiri!" sahut Ibe.
"Ya sudah, kita doakan yang terbaik saja buat Vaya," kata Mima.
Keduanya pun bergegas kembali ke tempat duduk. Lagi-lagi Mima dan Ibe dibuat terperangah melihat Vier yang sedang menyuapi Vaya dengan potongan kue beras.
Bagi Vaya daripada disebut disuapi, yang ada Vier justru menjejalkan potongan kue beras pedas memenuhi mulut Vaya.
"Wah, kalian ini romantis sekali," ceplos Ibe.
"Haha, aku sangat suka melihat Vaya makan dengan lahap seperti ini! Lihat, wajahnya yang menggembung ini seperti ikan buntal kan?" Vier tertawa-tawa senang.
Vaya cepat-cepat mengunyah dan menelan potongan kue beras itu. Yang terjadi sebenarnya bukanlah adegan suap-suapan yang romantis. Vier sedang menghukum Vaya karena Vaya tidak meminta izin untuk menemui teman-temannya. Belum lagi Vaya juga melanggar aturan pola diet dengan jajan seperti ini. Makanan penuh tepung, berminyak, yang otomatis akan membuat berat badan Vaya bertambah.
"Vier, kenapa kau cuma menyuapi Vaya? Gantian dong," Ibe menyeringai.
Ibe?! Mata Vaya membulat.
"'Kenapa, Vier? Apa makanan seperti ini tidak level untukmu? Apa tidak mewah? Atau kau hanya makan sayur-sayuran mentah?" tanya Ibe dengan nada penuh provokasi.
Astaga, Ibe! Tolong jangan mengompori Vier! Vaya menggeleng cepat ke arah Ibe.
Ibe hanya menyeringai lebar.
"Oh, atau pencernaanmu sudah melemah karena kau sudah mulai jompo?" tanya Ibe lagi.
Ibe! Jangan bicara aneh-aneh! Aku benar-benar bisa mati di tangan Vier! Vaya melotot ke arah Ibe hingga bola matanya hendak lepas.
"Ayo Vaya, suapi suami tercintamu dengan kue beras ini," bujuk Ibe.
__ADS_1
"Haha, Ibe, Vier tidak terbiasa makan-makanan begini, tepung dan minyak itu bukan paduan yang baik," sahut Vaya.
"Biar aku saja yang menghabiskannya," lanjut Vaya.
Vier menahan tangan Vaya.
"Vaya, bukan masalah tepung dan minyak."
Vier mengambil sendok dan menciduk potongan kue beras.
"Aku ingin kau yang menyuapiku," Vier menyeringai sambil meletakkan potongan kue beras ke telapak tangan kanan Vaya.
"Vi-Vier!" Vaya tersentak, berusaha menarik tangannya.
Namun terlambat, Vier sudah mengambil potongan kue beras di telapak tangan Vaya, lidahnya langsung menjilati saus yang menempel dengan gerakan-gerakan sensual yang menggoda iman.
Ibe dan Mima kembali terbelalak melihat apa yang dilakukan Vier. Sungguh begitu erotis, sukses membuat pikiran Ibe dan Mima bertualang liar.
Terlebih Ibe yang sangat reaktif terhadap hal-hal erotis. Seketika wanita itu merasakan ada kedutan-kedutan yang tiba-tiba muncul menggelitik pangkal pahanya.
"Vi-Vier!" Vaya menegang.
Seketika Vaya jadi teringat apa yang sudah dilakukan Vier ketika menjadikan tubuh Vaya sebagai piring.
Vier menyeringai senang melihat Vaya yang menegang dan mencengkeram erat tangannya. Ia benar-benar sudah memegang kunci sensualitas Vaya. Salah satunya yakni di telapak tangan Vaya.
"Vi-Vier!" Vaya menarik tangannya dari genggaman tangan Vier.
Namun percuma saja, Vier sudah menggenggam tangan Vaya dengan erat.
"Aduh, aduh! Kalian berdua ini, bisa-bisanya melakukan perbuatan meresahkan di depan mataku! Sana lebih baik kalian cari kamar dan tuntaskan! Bikin orang yang lihat panas dingin saja!" keluh Ibe.
Mike yang mendengar keluhan Ibe langsung memicingkan matanya ke arah wanita itu.
Huh, kalian baru melihat seperti itu saja sudah panas dingin! Apa kabar aku yang hampir setiap hari melihat mereka lebih dari itu? Batin Mike.
"Haha!" Vier tertawa senang. "Ya, maksudku juga seperti itu!"
"Jadi bagaimana, Vaya? Apakah kita harus pulang sekarang untuk menuntaskan semuanya?" Vier mengulas senyumnya sambil mengecup punggung tangan Vaya.
"Haha, Vier, kenapa buru-buru pulang? Makanannya masih banyak lho!" sahut Mima.
Mima! Kenapa malah ikut-ikutan?! Vaya melotot ke arah Mima.
Mima menyeringai, ini sungguh menarik baginya. Ia benar-benar ingin melihat sampai di mana sandiwara Vier dalam memerankan sosok suami penuh gairah.
"Haha! Ya ampun! Porsi seperti ini sungguh hanya sampai di tenggorokanku saja!" Vier tertawa.
"Mike, segera pesan semua makanan yang ada di sini!" Vier memberi perintah.
"Baik Pak," jawab Mike.
...*****...
Ibe mencuri pandang ke arah asisten Vier yang duduk di meja seberang. Pria tampan berwajah ramah namun bersikap dingin dan misterius jelas langsung menarik perhatian Ibe.
"Mas, Mas! Kenapa cuma sendiri di situ? Kemari, bergabunglah bersama kami!"
Ibe memanggil asisten Vier yang hanya duduk sambil berkutat di depan layar tablet cerdas. Mike tidak menghiraukan panggilan Ibe.
"Vier, asistenmu itu masih lajang?" tanya Ibe.
"Ibe!" lagi-lagi Vaya melotot ke arah Ibe.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Vier.
"Ya, kan tanya saja," sahut Ibe enteng.
"Haha, ya sudah, kalau begitu tidak usah bertanya!" sahut Vier seraya tertawa mengejek.
"Huu, dasar kau ini, Vier!" cibir Ibe.
"Sudah, kau jangan ganggu-ganggu Mike! Dia sedang sibuk bekerja!" tandas Vier.
__ADS_1
Kling..
Vaya langsung membuka gawai cerdasnya begitu mendengar notifikasi pesan masuk.
Dari Yoran.
Yoran: Apa yang sedang kau lakukan?
Vaya membalas dengan cepat.
Vaya: Makan malam dengan teman-teman
Yoran: Selamat bersenang-senang
Vaya mengulas senyumnya begitu menyimpan kembali gawai cerdasnya di dalam tas, namun diam-diam Vier menangkap senyum samar Vaya.
Bertanya-tanya, mengapa Vaya tersenyum di depan layar gawai cerdasnya?
Apa yang membuatnya mengulas senyum seperti itu?
...*****...
"Vier, terima kasih sudah menraktir, sering-sering ya," kata Mima.
"Kalau aku ada waktu luang, kenapa tidak?" sahut Vier.
"Sampai jumpa lagi, Vaya," Ibe segera merangkul Vaya.
"Vaya, kuat-kuat ya," bisik Mima sambil ikut merangkul Vaya.
"Hehe, jangan bilang begitu," Vaya terkekeh.
"Hih! Kalian ini mau sampai kapan berangkulan begitu?" sergah Vier.
"Hihh, apa sih, Vier? Galak amat!" cibir Ibe.
"Ya sudah, sampai nanti ya teman-teman," Vaya berpamitan.
Mike segera membukakan pintu mobil untuk Vaya dan Vier.
"Mas! Aku lagi jomblo lho!" seru Ibe ke arah Mike.
Mike sama sekali tidak menanggapi seruan Ibe. Pria itu segera masuk ke dalam mobil.
"Hih! Sombong amat sih!" keluh Ibe.
"Ibe, jangan ganjen-ganjen begitu," tegur Mima.
"'Aduh, Mima! Apa kau tidak lihat, betapa menggemaskannya asisten Vier itu? Hihi!" Ibe terkikik genit.
"Sudah, kau jangan gemas-gemas! Jangan berurusan dengan asisten Vier! Siapa tahu pria itu ternyata diam-diam playboy terselubung! Kau pasti tahu kan, playboy itu biasanya circle-nya pasti playboy juga!" sahut Mima.
...*****...
Sementara itu di dalam mobil, Vaya benar-benar harus merasakan tekanan udara yang lagi-lagi menyesakkan paru-parunya.
"Huhu, Vaya! Kau benar-benar harus menerima hukuman karena sudah lancang membuatku makan sebanyak itu! Aku benar-benar harus menuntut pertanggung jawabanmu!"
"Aku tidak peduli, malam ini kita harus berolahraga, kalau perlu sampai pagi," Vier menyeringai.
Oh, tidak! Batin Vaya kembali nelangsa.
Sementara itu di belakang kemudi, Mike yang sedang mengemudi tiba-tiba jadi kepikiran satu hal.
Kenapa wanita itu mengaku jomblo ya? Kenapa harus lapor padaku? Memangnya aku biro jodoh?
...*****...
Jangan lupa dukungan cantik-cantik dari para haluers tersayang.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
😁😁
__ADS_1