
Vaya sudah duduk di meja kerjanya, ia menatap kosong monitor komputer. Saat ini ia hanya bisa terdiam dan merenung.
Yoran sudah pergi meninggalkannya, ia pergi ke bandara pagi-pagi, dan saat ini pria itu pasti sudah bertemu dengan sang istri.
Vaya sungguh mencemaskan Yoran, apa Yoran akan baik-baik saja ya?
...*****...
Sementara itu di lain tempat, mobil terhenti di depan pelataran parkir sebuah rumah mewah. Yoran segera turun ketika seorang sopir membukakannya pintu.
Netra Yoran segera tertuju pada Grace yang juga baru saja turun dari sebuah mobil mewah. Mobil itu segera meluncur pergi dari pelataran.
Wajah cantik Grace terlihat lelah, jalannya pun sempoyongan. Yoran berjalan mengikuti langkah Grace.
Pelayan membukakan pintu rumah, membiarkan kedua pasangan suami istri itu masuk bersama dengan atmosfer penuh ketegangan.
Mereka berdua segera masuk ke dalam kamar.
"Grace, kau baik-baik saja?"
Tercium aroma alkohol dari tubuh Grace.
"Apa semalam kau minum-minum lagi bersama Niki?" tanya Yoran.
Grace hanya diam, ia mengabaikan pertanyaan Yoran dan memilih untuk merebahkan diri di atas tempat tidur.
"'Grace, bukankah lebih baik kau berhenti menenggak alkohol?" tanya Yoran.
"Yoseph!"
Grace bangkit dari tidurnya, ia menghampiri Yoran dan langsung mencengkeram kerah kemeja Yoran.
"Memangnya kau pikir gara-gara siapa aku sampai harus menenggak alkohol? Gara-gara siapa aku jadi harus punya banyak masalah?!"
Grace berteriak kencang, mendorong Yoran dengan segenap tenaganya yang masih tersisa. Yoran terhempas, tubuhnya berusaha untuk melawan gravitasi.
"Yoseph, lebih baik kau pergi bekerja sekarang! Aku lelah dan ingin beristirahat sebentar!" sergah Grace.
Grace kembali merebahkan dirinya di tempat tidur. Yoran menghela napas berat, lagi-lagi rasa bersalah menderanya.
Kemarahan Grace adalah akibat dari perbuatan Yoran, seperti itulah yang bisa disimpulkan olehnya.
...*****...
"Mbak Vaya! Mbak!"
Vaya tersadar dari lamunannya begitu Evi menggoyang-goyangkan bahunya. Vaya terlalu larut dalam lamunan hingga tak mendengar panggilan Evi.
"Eh, ada apa, Evi?" tanya Vaya.
"Mbak dicari resepsionis, katanya ada polisi yang mencari Mbak," jawab Evi.
"Hee?! Polisi?!" Vaya terperanjat.
"'Polisi itu mencari Mbak Vaya! Ada apa ya?" tanya Evi.
"Serius kau, Evi?!" Vaya terkaget-kaget.
"Bu Vaya!"
Lamia berseru sambil memasuki ruang kerja Vaya.
__ADS_1
"Bu Vaya, aku disuruh menjemput Bu Vaya!" Lamia langsung menarik Vaya.
"Eh, kenapa aku didatangi polisi?"
Lamia tidak peduli, ia segera menyeret Vaya untuk menemui dua orang polisi yang menunggu di lobi. Kehadiran Vaya jelas membuat semua orang langsung berkasak-kusuk heboh.
Vaya langsung gemetaran melihat bapak-bapak polisi berbadan tegap namun berperut buncit yang langsung mengeluarkan kartu tanda pengenal mereka.
"Anda Bu Vaya Mahalna?" tanya seorang polisi bernama Sunarto.
"I-iya," jawab Vaya tergagap.
"Kami membawa surat perintah untuk membawa Anda ke kantor polisi guna dimintai keterangan," jawab pak polisi lain bernama Subagio.
"Dimintai keterangan soal apa?" Vaya lagi-lagi bertanya.
"'Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan di kantor saja," jawab Sunarto.
"Tu-tunggu, saya harus mengambil tas saya," sahut Vaya.
"Bu Vaya, biar aku saja yang mengambilkan tas Bu Vaya," kata Lamia.
Usai menyerahkan tas Vaya, Lamia langsung memeluk Vaya.
"Bu Vaya, nanti ceritakan semuanya ya, aku di sini mendukung Bu Vaya," kata Lamia.
Vaya masih belum bisa mencerna semuanya, kenapa ia sampai harus dijemput polisi seperti ini?
Vaya pun segera memasuki mobil patroli, ia sukses menjadi bahan tontonan semua orang.
"Bu Vaya kenapa sampai berurusan dengan polisi ya?"
"Ada apa ya?"
...*****...
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor polisi, Vaya benar-benar ketakutan. Ada apa sebenarnya?
Keterangan apa yang hendak dimintai oleh pihak polisi darinya?
Vaya tidak melakukan sesuatu yang salah dengan melanggar hukum. Ia warga negara yang berusaha untuk hidup sesuai dengan tatanan kehidupan damai, tenteram, sentosa, dan bersahaja.
Sesampainya di kantor polisi, Vaya segera digelandang ke kursi penyelidikan.
"Tunggu di sini ya Bu," kata polisi itu ramah.
Para polisi nampak mengulas senyum ramah meski wajah mereka semua nampak sangar.
Vaya menunggu dengan rasa tegang yang memukul-mukul dadanya.
Tak berapa lama menunggu, mata Vaya tertuju pada sosok pria paruh baya berwajah dingin yang menghampirinya.
"'Pak Jo," sapa Vaya.
"Selamat siang, Bu Vaya," balas Pak Jo.
"Pak Jo, kenapa Anda bisa ada di sini?" tanya Vaya keheranan.
"Saya harus menjemput Anda," jawab Pak Jo.
"'A-apa?!"
__ADS_1
...*****...
Vaya benar-benar tidak habis pikir dengan Vier yang nampaknya memang sudah tidak waras. Bisa-bisanya pria itu meminta polisi untuk menjemput Vaya dan menimbulkan kehebohan.
Ya, semua orang pasti heboh, bertanya-tanya mengapa Vaya sampai dijemput polisi!
Kesalahan apa yang sudah diperbuat oleh Vaya?
Meski Vaya sudah berusaha bertanya pada Pak Jo, namun Pak Jo hanya mengatakan hal yang singkat.
"Saya hanya menjalankan perintah Pak Vier."
Perintah Vier! Perintah Vier! Aku benar-benar bisa gila! Batin Vaya.
"Kenapa kita pergi ke rumah sakit, Pak Jo?" tanya Vaya.
"Saya hanya menjalankan perintah Pak Vier," jawab Pak Jo lagi.
"Aduh Pak Jo! Apa jika Vier meminta Anda untuk melompat ke jurang, apa akan Anda lakukan juga?" tanya Vaya.
"Jika memang itu perintah beliau, pasti akan saya lakukan," jawab Pak Jo.
Lagi-lagi Vaya merasa nelangsa. Mengapa semua orang-orang dalam lingkaran Vier macam kerbau yang dicocok hidungnya?
"Selamat datang, Bu Vaya," Dokter Reno menyambut kehadiran Vaya di ruang kerjanya.
"Selamat siang, Dokter," Vaya tersenyum kikuk.
"Bu Vaya, mari segera bersiap untuk melakukan pemeriksaan kesehatan," kata Dokter Reno.
"Hee? Pemeriksaan kesehatan?" Vaya tersentak kaget.
"Ya, suami Anda meminta agar Anda melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh," jawab Dokter Reno.
"Untuk apa pemeriksaan kesehatan?" tanya Vaya.
"Untuk memastikan bahwa Anda memang sehat," jawab Dokter Reno singkat.
Dua orang perawat segera membawa Vaya untuk bersiap melakukan pemeriksaan kesehatan. Vaya mulai melakukan serangkaian tes kesehatan, mulai tes kesehatan jantung, berlari di atas treadmill, tes kesehatan mata, pendengaran, gula darah, hingga tes urin. Belum lagi Vaya juga harus menjalani tes obat-obatan, alkohol, hingga tes HIV/ Aids.
Sebenarnya apa tujuan Vier menyuruhku untuk tes kesehatan segala?
Apa dia pikir aku ini orang penyakitan sampai harus pakai tes kesehatan?
Aku benar-benar tidak mengerti Vier!
Apa sih maunya pria itu?!
Vaya sudah selesai menjalani rangkaian tes kesehatannya.
"Bu Vaya, setelah ini Anda harus segera berangkat ke bandara," kata Pak Jo.
"Apa? Ke bandara?" Vaya lagi-lagi terperangah.
"Ya, Anda harus menyusul Pak Vier," jawab Pak Jo.
Oh tidak!
...*****...
Pembaca setia, terima kasih sudah membaca sampai episode ini.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta dan kasih sayang serta perhatian supaya otor makin semangat.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.