
"Ibu, Rian, Aria, pokoknya suamiku tidak boleh sampai tahu masalah Tante Darti. Pokoknya jangan sampai tahu."
Vaya memberikan pengarahan singkat kepada ibu dan adik-adiknya.
"Kenapa tidak boleh sampai tahu, Kak?" tanya Aria.
"Aria, suami Kakak itu orangnya super cemburuan. Nanti dia pikir, Kakakmu ini melakukan perselingkuhan karena mendengar Kakak dijodohkan dengan laki-laki lain. Apa kau mau Kakakmu ini mendadak dicerai gara-gara cemburu?" Vaya balik bertanya.
"Kak, kok bisa sih, orang setampan suami Kakak sampai cemburuan begitu?" tanya Rian. "Harusnya Kakak yang cemburu tuh!"
"Yah, namanya juga suami Kakak terlalu mencintai Kakakmu ini, hehe," Vaya terkekeh.
Bukan cinta, Rian, Kakakmu ini sedang terikat kontrak perbudakan birahi! Batin Vaya.
"Vaya, apa kau yakin?" tanya Bu Asih.
"Ibu, pokoknya persoalan dengan Tante Darti adalah masalah kita, bukan masalah suamiku. Suamiku sudah punya banyak masalah, jadi sungguh tidak baik jika harus membebaninya dengan masalah keluarga kita," Vaya mencoba menjelaskan.
"Ya sudah, kalau memang begitu maumu," kata Bu Asih.
"Oke, sepakat ya!" Vaya menekankan sekali lagi.
Vaya segera membubarkan pengarahan singkatnya. Selagi Vier masih mandi, ia bisa mengatur strategi. Vaya sungguh tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Vier jika sampai mengetahui rencana gila Tante Darti yang hendak mengaturkan perjodohan untuknya.
Tante Darti memang kerap memaksa para keponakannya untuk ikut perjodohan. Sudah banyak para sepupu dari pihak keluarga ayah Vaya mendapatkan jodoh berkat Tante Darti. Tapi tentu saja perjodohan itu murni demi kepentingan Tante Darti sendiri. Wanita paruh baya itu kerap membuat orang lain merasa sangat berutang budi padanya.
Ketika ayah Vaya jatuh sakit, Tante Darti yang membiayai pengobatan ayah Vaya. Meski kerap bersikap semena-mena terhadap Bu Asih dan anak-anaknya, namun Bu Asih tidak bisa melupakan bantuan beliau. Oleh sebab itu, Bu Asih seakan sungkan untuk menolak permintaan dari Tante Darti karena merasa belum bisa membalas budi.
"Vaya, apa tidak apa-apa? Ibu sungguh tidak enak dengan Kak Darti," kata Bu Asih.
"Tidak apa-apa Bu, biar aku yang menjelaskan semuanya pada Tante Darti, semoga saja jika dibicarakan baik-baik akan membuat Tante Darti mengerti," ucap Vaya menenangkan ibunya.
"Vaya!" terdengar seruan Vier dari dalam kamar mandi.
"Iya, Vier!" sahut Vaya.
Vaya mengakhiri sesi briefing dengan keluarganya, mereka semua keluar dari kamar Vaya dan kembali melakukan aktivitas masing-masing.
"Ada apa, Vier?" tanya Vaya menghampiri Vier di depan pintu kamar mandi.
Kepala Vier muncul di ambang pintu yang tertutup.
"Aku perlu pakaian ganti," sahut Vier.
"Vier, kau tidak membawa pakaianmu sendiri?" tanya Vaya.
"Pakaianku tertinggal," sahut Vier.
"Minta Mike mengantarkan pakaianmu," ucap Vaya.
"Tidak bisa, saat ini Mike sedang sibuk," sahut Vier. "Lekas siapkan pakaian yang layak untukku, apa kau mau aku melakukan pertunjukkan bugil di depan keluargamu?" Vier menyeringai.
Vaya memutar bola matanya, pria ini sungguh akan kuusir jika berani melakukan pertunjukan bugil! Batin Vaya.
"Vaya cepatlah! Apa kau sungguh mau aku memamerkan bokongku di depan keluargamu?" tanya Vier.
"Vier, jangan aneh-aneh!" Vaya melotot ke arah Vier.
Vier menyeringai.
"Jadi, apa kau hanya ingin melihat penampilan erotisku secara privat?" goda Vier lagi.
__ADS_1
Vaya menghela napas berat.
"Baiklah, tunggulah di kamarku, akan kucarikan kau pakaian yang layak," kata Vaya.
Vier segera menyelinap masuk ke kamar Vaya hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Vier mengedarkan pandangan ke penjuru kamar Vaya yang benar-benar kecil. Tempat tidur Vier bahkan lebih besar dari kamar Vaya.
Vaya menghampiri Rian yang sedang asyik menyaksikan siaran televisi.
"Rian, apakah ada pakaianmu yang bisa dipinjamkan?" tanya Vaya.
"Pakaianku? Kenapa, Kak?" tanya Rian.
"Suamiku tidak membawa pakaian ganti," jawab Vaya.
"Oh baiklah."
Rian segera mencari pakaian di lemarinya. Kebanyakan pakaian yang dimiliki Rian adalah kaus oblong, mengingat Rian memiliki tubuh tambun berisi.
"Coba yang ini, Kak, ini kaus masih baru, belum pernah kupakai," Rian menyodorkan kaus oblong berwarna hitam.
"Rian, kau tidak pernah pakai, itu artinya kaus ini kekecilan kan?" tanya Vaya.
"Hehe," Rian terkekeh.
"Rian, kalau kau saja kekecilan, apalagi Vier?" Vaya melotot ke arah Rian.
"Kakak cari sendiri saja deh kalau begitu, kan Kakak yang tahu ukuran suami Kakak," sahut Rian.
"Ya elah, ini anak," Vaya mendelik gusar.
Ia segera mencari kaus oblong berukuran paling besar. Namun untuk celana, Vaya yakin, semua celana Rian pasti akan kebesaran, mengingat perut dan pinggang Vier tidak selebar Rian. Kalau Vier memakai celana Rian, bisa-bisa pria itu sungguh akan memamerkan bokongnya di depan Vaya.
Vaya segera mengantarkan pakaian untuk Vier yang sudah menunggu di dalam kamar Vaya. Vier terperangah begitu melihat pakaian yang diserahkan oleh Vaya.
"Vaya, apa kau serius memberiku pakaian ini?" tanya Vier.
"Hanya ini pakaian yang bisa kutawarkan," jawab Vaya.
"Vaya, kau serius menyuruhku pakai kaus oblong dan sarung?" tanya Vier.
"Vier, maaf, Rian tidak punya celana yang ukurannya pas untukmu," sahut Vaya.
Vier menatap skeptis ke arah Vaya.
"Baiklah, aku akan siapkan makan malam untukmu," sahut Vaya.
"Vaya, ini sungguh penghinaan bagiku. Bagaimana bisa pria sepertiku yang biasa memakai pakaian bermerek rumah mode Eropa harus memakai kaus oblong tanpa merek dan sarung cap gajah nyungsep begini?!" keluh Vier.
"'Vier, kalau kau memang kurang berkenan, pakai saja pakaianmu sendiri," sahut Vaya.
"Vaya, aku tidak bisa memakai pakaian yang sudah kupakai. Aku bisa gatal-gatal," keluh Vier.
"Vier, terserah kau saja," sahut Vaya.
"Vayaaa!" Rengek Vier.
"Vier, bukankah kita sudah sepakat bahwa kau tidak akan rewel?"
Vier mencebik, menatap nyinyir kaus oblong yang sudah nampak usang dan juga sarung bermotif kotak-kotak berwarna cokelat.
Vaya segera keluar dari kamarnya, menyiapkan makanan untuk Vier.
__ADS_1
Vier menggerutu habis-habisan sambil memakai kaus dan sarung tersebut.
Sebal! Kesal! Aku yang selalu dan senantiasa bergaya elegan ini harus pakai sarung gajah nyungsep begini!
Ini benar-benar melukai harga diriku! Ah kesal sekali! Dasar sarung gajah nyungsep yang tidak berkelas! Tidak elegan!
Oh Tuhan! Semoga tidak ada yang melihatku memakai pakaian mengerikan ini!
Vier masih ngedumel dalam hati. Meski berat, ia tetap harus memakainya.
Selesai berpakaian, ia keluar dari kamar Vaya, bergabung dengan keluarga Vaya yang sedang menyaksikan sinetron di televisi.
Vier berusaha untuk duduk bersila, seperti yang dilakukan oleh keluarga Vaya.
"Vier, ini makanan untukmu," Vaya menyodorkan nampan berisi sup telur.
"Terima kasih," sahut Vier.
Vier segera menyuapkan sup telur ke mulutnya.
"Apa yang kalian tonton? Sepertinya seru sekali," komentar Vaya.
"Memang seru, Kak! Judulnya, azab suami yang suka menyiksa istri," sahut Aria.
"Uhuk! Uhuk!" Vier terbatuk-batuk.
Vaya menyodorkan air mineral untuk Vier. Vier meneguknya dengan cepat.
"Suaminya kejam sekali, istrinya tidak boleh salah! Salah sedikit disiksa! Hihh! Rasanya mau kusunat saja itu suaminya! Sok cakep banget jadi orang!" Rian menimpali.
"Haha," Vaya tertawa dengan tawa dibuat-buat sambil melirik ke arah Vier.
Vier nampak memandang skeptis ke arah sinetron yang ditonton oleh adik-adik Vaya.
"Lalu, apa yang terjadi pada suaminya?" tanya Vaya.
"Ya, suaminya tiba-tiba saja kecelakaan, lumpuh, lalu mati tersambar petir!" sahut Rian.
"Hahaha!" Vaya tertawa lagi.
"Ih, Kak Vaya, kok malah tertawa begitu sih?" tanya Aria.
"Azabnya kurang mantap! Suami jahat yang suka menyiksa istri itu harusnya kecelakaan, lumpuh, tersambar petir, lalu mati! Setelah itu jenazahnya ditabrak truk pengangkut kambing, terlempar ke selokan yang dipenuhi kotoran sapi! Lalu saat hendak dikebumikan, jenazahnya tertimbun hujan meteor! Kemudian kuburannya terbelah, jenazahnya dimuntahkan bersama lava sebagai bentuk penolakan bumi!" cerocos Vaya begitu antuasias.
Vaya kembali mencuri pandang ke arah Vier yang nampak memasang ekspresi masam.
"Wah, kalau begitu, Kakak saja yang jadi penulis skenarionya! Haha!" Aria menimpali.
"Ehem, kenapa kalian tidak menyaksikan tayangan yang lebih edukatif?" tanya Vier. "Tayangan yang lebih bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan."
"Daripada menyaksikan sinetron yang kurang bermanfaat seperti itu," lanjut Vier.
"Kak, tayangan edukatif itu tidak seru," sahut Aria.
"Iya, lagipula sinetron seperti ini banyak mengandung pesan moral. Suami yang kejam nanti kena azab baik di dunia maupun di akhirat," Rian menambahkan.
"Tuh, Vier, jangan jadi suami yang kejam, nanti kau kena azab!" Vaya terkekeh mengejek Vier.
Dasar sinetron si*alan!
...*****...
__ADS_1