Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
153 - Pria Yang Sangat Jahat


__ADS_3

Vaya menggenggam tangan Vier begitu menyusuri dermaga menuju kapal pesiar yang akan membawa mereka untuk menikmati makan malam bersama. Kru kapal segera menyambut mereka dengan segala keramahtamahan. Kapal pesiar mewah itu segera berlayar secara perlahan.


Semburat langit yang merona jingga keemasan terlihat begitu memesona Vaya, ia saat ini sudah duduk di meja makan yang menghidangkan hidangan mewah menggugah selera.


"Vier, kenapa kau selalu memesan makanan sebanyak ini? Padahal kau tidak memakan seafood yang tidak bersisik dan tidak bersirip!" keluh Vaya.


Vaya memicingkan matanya ke arah Vier yang justru mengulas senyum senang.


"Apa kau sungguh sengaja ingin membuatku terlihat seperti ikan buntal?" tanya Vaya.


"Haha," Vier tertawa.


Tawa Vier benar-benar membuat Vaya makin mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja tidak seperti itu, Vaya. Aku justru sangat senang melihatmu makan dengan lahap, makan tanpa rasa bersalah pada tubuhmu. Aku bisa melihat betapa kau bahagia saat makan," Vier mencoba menjelaskan sudut pandangnya.


"Hmm, ya, siapa juga yang akan menangis saat memakan makanan yang enak? Aku justru menangis kalau tidak ada makanan yang bisa kumakan," sahut Vaya.


"Haha!" Vier tertawa lagi.


"Kenapa kau tertawa terus sih? Memangnya aku badut Ancol? Pelawak tunggal?" cibir Vaya.


"Haha!" Vier lagi-lagi tertawa sambil memandangi Vaya.


Vaya benar-benar jadi salah tingkah karena Vier memandanginya seperti itu.


"Ya sudah, sekarang mari kita makan," ajak Vier.


Vaya mulai menyantap hidangan yang tersaji di atas meja. Semua hidangan seafood membuat Vaya begitu antusias saat mencicipinya.


Seorang pemain biola kemudian, menghampiri mereka dan mulai menggesek setiap dawai yang meresonansikan nada-nada indah, berkumandang memanjakan pendengaran.


Vaya tentu saja tak bisa menyembunyikan ekspresi terpananya sehingga hal itu jelas membuat Vier tersenyum makin lebar.


"Wah, ini pertama kalinya aku mendengar langsung pemain biola sambil makan seperti ini," ucap Vaya.


"Haha, Vaya, yang benar saja! Aku tidak mungkin mengundang pengamen waria yang menyanyi lagu wik..wik.. ambyar untuk menemani kita makan malam seperti ini," sahut Vier.


"Haha! Wik..wik..ambyar?! Haha," Vaya tertawa.


"Vaya, aku ini pria berkelas!" lanjut Vier.


"Hmm, ya, ya," seloroh Vaya.


Usai makan malam, Vaya pun segera menuju ke anjungan kapal untuk menyaksikan malam yang mulai berhiaskan jutaan bintang di langit.


Vier segera memeluk Vaya dari belakang, lalu memberikan ciuman-ciuman lembut di puncak kepala Vaya.


"Vier, aku benar-benar sangat bahagia kau berada di sisiku seperti ini," ucap Vaya.


"Hmm, ya," sahut Vier.


"Hmm, ya apa, Vier?" tanya Vaya.


"Ya, aku juga merasa sangat bahagia karena kau ada di sisiku saat ini," jawab Vier.


"Vier, tapi aku sungguh kepikiran dengan Selena. Apa dia baik-baik saja?"


"Vaya, kenapa jadi kau yang kepikiran dengan Selena?" Vier balik bertanya.


Vaya memutar tubuhnya agar ia bisa berhadapan langsung dengan Vier. Pandangan mata mereka saling bertemu.

__ADS_1


"Vier, aku sungguh merasa begitu jahat pada Selena," ucap Vaya.


"Melihat Selena begitu marah, sampai menyerangku seperti itu, itu artinya Selena benar-benar sangat marah padaku. Selena begitu marah karena aku merebutmu darinya."


Vier menyelipkan rambut Vaya di belakang telinga Vaya dengan lembut.


"Vaya, aku sungguh tidak merasa bahwa kau merebutku dari Selena."


"Aku dan Selena sudah berakhir sebelum aku menikah denganmu. Selena memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan secara sepihak. Aku menerima keputusannya meski pada awalnya aku jelas tidak bisa menerima keputusan tersebut. Hanya saja, aku pikir, mungkin itulah yang diinginkan Selena," Vier menjelaskan.


"Hmm, begitu ya," Vaya mencebik. "Lalu, apa yang kau lakukan bersama Selena saat menemani Selena di rumah sakit?" tanya Vaya.


"Hmm, memangnya apa yang kau pikirkan?" Vier balik bertanya.


"Hmm, yaa, aku pikir kalian memutuskan untuk kembali bersama," jawab Vaya. "Aku sungguh kaget karena ternyata hal itu tidak terjadi."


"Vaya, untuk apa kami harus kembali bersama?" tanya Vier.


"Ya, bukankah kalian harus kembali bersama karena kalian saling mencintai?" sahut Vaya.


"Haha," Vier tertawa.


Vier menatap mata Vaya lekat-lekat.


"Vaya, sekarang logikanya seperti ini, untuk apa aku harus kembali bersama seorang wanita yang memilih untuk meninggalkanku karena merasa tidak percaya padaku?"


"Kau pun juga tidak percaya padaku kan, Vier!" cibir Vaya.


"Ya, aku tidak percaya padamu, makanya aku selalu meminta bukti padamu," sahut Vier.


Vaya mengulas senyumnya lalu memeluk erat pinggang Vier dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Vier. Aroma parfum mewah selalu memanjakan penciumannya.


"Vier, apa kau tahu, rasanya saat ini aku merasa seperti sedang bermimpi? Bagaimana bisa aku yang seperti ini berada dalam pelukan pria sepertimu?"


Vaya mendongak untuk melihat wajah Vier.


"Ya, kau benar-benar pria yang sangat jahat padaku, Vier! Gara-gara kau, selama lima belas tahun terakhir ini aku bahkan tidak berani berkencan dengan pria manapun!"


"Haha! Kenapa kau jadi menyalahkanku karena kau tidak mengencani pria manapun? Itu salahmu sendiri!" Vier tertawa mengejek.


"Vier, apa kau tahu? Selama lima belas tahun aku hidup dalam rasa takut dan trauma, bagaimana jika aku bertemu lagi dengan pria sepertimu?"


"Haha," Vier tertawa lagi.


"Apa kau bisa membayangkannya? Tipe pria sepertimu adalah tipe pria yang paling kuhindari! Tapi kenapa aku justru menikah denganmu? Sepertinya aku benar-benar sudah gila!" keluh Vaya.


"Haha!" Vier tertawa lagi.


"Tentu saja kau harus menikah denganku! Kau kan harus bertanggung jawab!" ejek Vier.


"Haha," Vaya tertawa lepas.


Vier segera mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Vaya.


"Vier, apa kau mencintaiku?" tanya Vaya.


Vier menatap Vaya yang terlihat membutuhkan jawaban Vier.


"Hmm, bagaimana denganmu?" Vier balik bertanya.


"Vier, aku bertanya padamu!"

__ADS_1


"Ya, aku juga bertanya padamu!"


Vaya dan Vier kembali saling berpandangan.


"Apa kau sungguh ingin tahu jawabannya?" tanya Vier.


"Tentu saja!" sahut Vaya dengan mantap.


Vier mengulas senyumnya, ia segera mengambil bibir Vaya dan memberi sebuah ciuman lembut.


"Aku sungguh yakin, jika aku menjawabnya, kau pasti tidak akan percaya," sahut Vier usai melepaskan bibirnya dari bibir Vaya.


"Begitukah?" Vaya terpana.


Vier mengangguk. Tanpa aba-aba ia segera menggendong Vaya ala-ala pengantin wanita.


"Vi-Vier!" Vaya terperanjat.


"Vaya, kita masih punya waktu dua jam sebelum kapal ini kembali bersandar ke dermaga," kata Vier sambil menyeringai.


"Maksudnya?" tanya Vaya berpura-pura.


"Kita harus memaksimalkan waktu yang ada, mumpung mereka menyiapkan kamar untuk kita," jawab Vier.


"Haha!" Vaya tertawa.


Vier segera membawa Vaya ke dalam kamar utama yang berada di kapal pesiar mewah itu. Dengan cepat mereka kembali bergumul dan bermandikan keringat.


Mengekspresikan bahasa cinta tanpa kata-kata.


...*****...


Sementara itu di lain pihak.


Mike terpaku begitu melihat tubuh Selena yang digiring masuk ke dalam mobil ambulans menggunakan tandu medis.


Petugas medis pun segera memberikan pertolongan pertama di tengah laju mobil ambulans menuju ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Selena segera dibawa ke ruang IGD.


Mike berusaha menghubungi Vier untuk mengabarkan hal tersebut. Namun tidak ada jawaban membuat Mike pun mengambil inisiaif untuk menelepon Vaya. Vaya juga tidak menjawab telepon dari Mike.


Mike menghela napas berat, siapa lagi yang harus ia hubungi?


Yang pasti ia harus mengabarkan kondisi Selena saat ini.


Mike merogoh sakunya, nama Bu Cintami membuat Mike tertegun.


"Halo, Nyonya Cintami," Mike menjawab telepon Bu Cintami.


"Mike, di mana Vier?" tanya Bu Cintami.


"Maaf Bu Cintami, Pak Vier saat ini tidak bersama saya," jawab Mike.


"Lalu ke mana dia?" tanya Bu Cintami.


"Permisi, keluarga Nona Selena!" seruan perawat membuat Mike terpanggil.


"Mike, kau di mana? Ada apa dengan Selena?" tanya Bu Cintami.


Mike merasa tidak bisa menutupi apapun lagi, daripada berbohong sebaiknya ia menjawab jujur saja.

__ADS_1


"Bu Cintami, saat ini Nona Selena dilarikan ke rumah sakit," kata Mike.


...*****...


__ADS_2