Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
073 - Terbayang


__ADS_3

Yoran mengaduk kopinya dengan sendok kecil, memastikan bahwa tidak akan ada lagi bubuk kopi yang menggumpal pasca ia menuangkan air panas dari teko listrik. Yoran menghirup aroma kopi yang begitu semerbak, jika ada yang melihatnya saat ini, ia pasti akan disangka bintang iklan kopi instan paling populer di tanah air, mengalahkan bintang film dari negeri ginseng.


Yoran menyukai kopi hitam yang baru diseduh, meski saat ini yang diseduhnya hanyalah kopi instan dalam kemasan sachet. Kopi hitam tanpa gula yang selalu diminumnya untuk menemaninya bekerja. Terutama saat bekerja menjelang larut malam seperti ini.


Setelah membuat kopi, ia meninggalkan dapur sambil membawa gelas kopinya menuju ke meja kerja yang menghadap langsung ke arah balkon di apartemennya.


Ia membuka laptop untuk memeriksa surat elektronik. Ada banyak surat elektronik yang masuk, perlu waktu bagi Yoran untuk membaca semua isi kotak masuknya.


Seharian ini ia memang meninggalkan pekerjaannya. Perusahaan yang ia tangani bersama istrinya bergerak di bidang konstruksi dan properti. Ia menjabat sebagai Business Development Strategy Manager, dan semua itu hanya secara struktural saja. Mengingat bahwa saham perusahaannya diambil alih sepenuhnya oleh istrinya, Grace. Maka Grace-lah yang lebih banyak mengambil peran penting di perusahaan.


Gawai cerdasnya berdering, lagi-lagi nama Grace muncul setelah sepuluh kali Yoran mengabaikan panggilan dari Grace. Yoran sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Grace. Grace hanya menghubunginya untuk membahas masalah pekerjaan.


Yoran menyeruput kopinya terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab telepon dari Grace.


"Halo, Grace," kata Yoran.


"Yoseph!" Nada bicara Grace langsung meninggi dua oktaf.


Yoran menyiapkan mentalnya terlebih dahulu sebelum nantinya mendengarkan kemurkaan dari Grace. Yoran sudah hafal bagaimana Grace akan mengamuk padanya. Amukan yang seperti biasanya. Bukan Grace namanya, jika wanita itu tak mengamuk pada Yoran.


"Mengapa kau tidak menemui pihak dari AE Property?! Apa alasanmu tidak menemui pihak AE Property?!" Grace mencecar Yoran dengan pertanyaan.


Yoran mendelik gusar mendengar cecaran Grace. Ia sudah tahu bahwa Grace pasti akan mengomel padanya seperti ini.


"Apa kau tahu, pihak AE Property sampai dua kali menghubungiku, mereka sudah berbaik hati meluangkan waktu untuk menunggumu, Yoseph! Tapi lihat apa yang kau lakukan?! Kau malah kabur seperti orang yang tidak bertanggung jawab!" cecar Grace.


Yoran masih diam, ia membiarkan Grace meluapkan semua amarah wanita itu seperti yang selama ini ia lakukan.


"Yoseph! Aku benar-benar tidak mau tahu! Jika proyek dari AE Property ini gagal, aku benar-benar akan menyalahkanmu dan kau harus bertanggung jawab atas kegagalan itu!" cecar Grace.

__ADS_1


"Aku tidak akan melunak hanya karena kau adalah suamiku! Entahlah, apa pria sepertimu memang sungguh pantas untuk menjadi suamiku?"


Nada bicara Grace terdengar mencemooh dan penuh kesinisan.


"Kenapa kau hanya diam saja, hah!" bentak Grace.


"Jawab aku, Yoseph Randvale!" teriak Grace penuh kemurkaan.


"Baik, aku mengerti, Grace," sahut Yoran pada akhirnya.


Tut... tut...


Yoran mendengar Grace langsung menutup telepon dengan kasar.


Yoran mengusap wajahnya, lalu mengambil kembali gelas kopi. Menyeruput perlahan kopinya yang mulai mendingin tersapu angin malam dari luar balkon.


Jika saja saat ini Grace ada di hadapannya, entah apa yang akan dilakukan oleh Grace terhadapnya. Yang pasti Grace bisa mencecarnya sepanjang malam, bahkan dilanjutkan lagi keesokan paginya.


Hanya akan ada cecaran penuh kemarahan yang akan keluar dari bibir indah Grace. Tak ada senyuman manis dan ucapan yang menghiburnya.


Yoran membuka gawai cerdasnya, terpaku pada galeri penyimpanan yang menyimpan beberapa potret Vaya yang diambilnya secara candid.


Wanita yang seharian ini menemaninya melarikan diri dari rutinitas harian yang menekan dan melelahkan mentalnya.


Seharian ini Yoran merasa senang, ia bahkan sudah lama tidak tertawa. Tutur kata yang santun dan ceplas-ceplos, serta celotehannya tentang masa muda yang dirindukan Yoran, saat semua orang begitu mengagumi dan mengandalkannya. Golden period, masa-masa gemilang dalam hidup Yoran yang perlahan memudar seiring berjalannya waktu.


Aku dulu sebagus itu di mata orang lain? Mengapa sekarang aku terlihat seperti orang yang tak becus dalam menjalani hidup? Mengapa sekarang aku seperti orang yang menyedihkan?


Itulah pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam benak Yoran tentang dirinya saat ini.

__ADS_1


Kemudian sebuah ungkapan manis pun harus didengar oleh Yoran.


Masih ada seorang wanita yang selama lima belas tahun ini menyukainya. Menganggap bahwa mencintai Yoran adalah kebahagiaan untuknya.


Jujur saja Yoran langsung tersentuh dengan pengakuan manis itu. Yoran bahkan memberanikan diri untuk memberi sebuah ciuman untuk mengapresiasi rasa cinta Vaya kepadanya.


Yoran benar-benar merasakan gejolak yang sudah begitu lama tak pernah dirasakannya. Rasa berdebar saat mencium seorang wanita, seperti pertama kali ia mencium kekasih pertamanya.


Ciuman yang penuh gairah dari seorang wanita yang sangat menginginkannya. Sungguh berbeda ketika ia mencium Grace. Ia tidak merasakan adanya gairah yang membakar Grace seperti yang dilakukan oleh Vaya untuknya.


Grace begitu dingin dan kaku, sungguh berbeda dengan Vaya yang benar-benar membuatnya merasa nyaman.


Kehadiran Vaya bagaikan hujan sehari yang menyapu kemarau setahun. Padahal jika dipikir-pikir, saat masih sekolah dulu, mereka tidak seakrab ini. Mereka bahkan baru bertemu beberapa kali setelah lulus dari sekolah menengah atas yang sama. Hanya saja sikap yang ditunjukkan Vaya membuat Yoran merasa nyaman. Ia jadi merasa ingin terus berbincang dengan Vaya.


Yoran memilih salah satu foto candid terbaik dan mengirimkannya melalui aplikasi chat pada Vaya. Ia menunggu respon dari Vaya atas foto yang ia ambil secara diam-diam tanpa sepengetahuan wanita itu.


Tring...


Senyum Yoran mengembang begitu membaca balasan pesan dari Vaya. Mereka pun berbalas pesan dengan cepat.


Yoran menyeruput kopinya, kopi hitam tanpa gula itu pun mendadak terasa manis lantaran mengingat bagaimana seharian ini Vaya tersenyum padanya, membuat hati dan pikiran Yoran langsung tersita.


Sisa malam ini pun dihabiskan Yoran untuk mengingat kejadian menyenangkan yang terjadi antara ia dan Vaya.


Sungguh gila rasanya, ia mencium seorang wanita yang bukan istrinya. Ciumannya dengan Vaya benar-benar membuatnya terbayang-bayang. Mereka saling menyesap, membelit, dan memilin penuh gelora. Bagi Yoran, itu sebuah ciuman yang luar biasa yang tidak pernah ia dapatkan dari Grace yang notabene adalah istrinya sendiri.


Sepanjang malam ini, Yoran terus terbayang kehadiran Vaya. Ia bahkan merasa saat ini Vaya seakan sedang bersamanya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2