
Vaya membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Ia menghirup udara malam yang langsung memenuhi paru-parunya. Ia terlalu tegang untuk menjawab panggilan telepon dari Yoran. Entah apa yang harus ia katakan pada Yoran. Gemuruh jantungnya bahkan lebih heboh daripada gawai cerdasnya yang meronta-ronta minta diangkat.
Selepas makan siang bersama, Yoran mengantar Vaya kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan mereka bercerita cukup banyak. Terutama ketika mengenang masa-masa sekolah dulu.
Ternyata banyak hal menyenangkan untuk dibicarakan saat seseorang memiliki kenangan yang sama. Sama-sama pernah menjalani kehidupan masa sekolah belasan tahun silam.
"Halo, Yoran," jawab Vaya dengan mantap.
"Apa aku mengganggumu menelepon malam-malam begini?" tanya Yoran di seberang sana.
"Tidak, aku kebetulan memang tidak melakukan apa-apa," jawab Vaya.
Kyaa... Yoran benar-benar meneleponku! Batin Vaya bersorak kegirangan.
Yoran memang berjanji akan meneleponnya malam ini.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Yoran.
"Ya, sudah, bagaimana denganmu, Yoran?" Vaya balik bertanya.
"Ya, aku baru selesai makan malam," jawab Yoran.
"Oh begitu," sahut Vaya.
Vaya masih terlalu grogi karena mendengar suara Yoran yang terdengar lebih lembut saat di telepon.
Vaya sebenarnya tidak benar-benar sudah makan karena malam ini Vier belum pulang sehingga Vaya tidak memasak.
Bagaimana jika pria itu pulang tengah malam dan meminta Vaya memasak untuknya seperti di rumah orang tuanya?
"Vaya, sebenarnya, aku jadi kepikiran mie ayam di sekolah," kata Yoran.
"Hee?"
"Aku jadi ingin mengunjungi sekolah," kata Yoran. "Aku juga jadi penasaran karena kau bilang kelas kita dulu sudah tidak ada lagi."
"Jadi kau tidak percaya padaku?" tanya Vaya.
"Bukannya tidak percaya, aku hanya ingin mengunjunginya langsung. Apa kau punya waktu untuk pergi bersamaku?"
Vaya tertegun mendengar pertanyaan Yoran. Yoran mengajakku pergi? Oh apa aku tidak salah dengar?
"Kapan?" tanya Vaya.
"Hmm, sebenarnya besok aku punya waktu kosong," jawab Yoran.
Besok?
"Oh, besok kau pasti sibuk bekerja," kata Yoran.
"Aku rasa aku besok tidak sesibuk itu," sahut Vaya dengan cepat.
"Hmm, baiklah, kalau begitu nanti kuhubungi lagi," sahut Yoran.
Begitu Yoran menutup teleponnya, Vaya langsung merasakan ada ribuan kupu-kupu yang yang menggeliat dalam perutnya. Naluri untuk bisa bertemu dengan Yoran yang begitu kuat. Perasaan berbunga-bunga yang sudah begitu lama tidak pernah dirasakannya.
__ADS_1
Vaya menatap ke arah langit malam yang nampak semarak berkat pendar-pendar jutaan bintang di langit. Vaya menunjuk bintang-bintang itu, membentuk rasi bintang dengan wajah Yoran.
Tiba-tiba sebuah ringkusan membuat Vaya tersentak kaget. Rasi bintang wajah Yoran seketika ambyar.
"Vi-Vier!" Vaya tersentak kaget.
"Vaya, apa kau lupa apa yang harus kau lakukan saat aku datang?"
Vier berbisik di telinga Vaya. Ia mengendus rambut Vaya yang beraroma wangi shampo.
Vaya mendelik gusar, Vier segera memutar tubuh Vaya. Vaya memasang ekspresi cemberut saat Vier memegangi wajahnya.
"Mana ciuman untukku?" tanya Vier.
Vaya masih memasang ekspresi cemberut ke arah Vier.
"Vaya, apa kau marah padaku?" tanya Vier.
Vaya masih belum menjawab.
"Aku sungguh minta maaf karena tidak datang padahal kita sudah janjian untuk makan siang bersama. Ada pekerjaan mendadak yang harus kuselesaikan."
Vier mengusap lembut pipi Vaya, menatap wajah Vaya yang masih tetap cemberut.
"Vaya, apa kau tidak berkaca? Wajahmu itu kurang sedap dipandang. Jangan cemberut begini! Ayo tersenyum!" Vier menarik kedua pipi Vaya.
"Apa perlu mulutmu ini kurobek agar kau seperti Joker yang senantiasa tersenyum?" Vier menyeringai horor.
Ocehan Vier benar-benar membuat Vaya makin gusar. Apa pria ini benar-benar sudah sakit jiwa karena ingin merobek mulut Vaya?
"Vaya, aku tidak membatalkan janji sekehendak hatiku. Aku sungguh baru ingat bahwa akhir-akhir ini aku akan lebih sibuk dari biasanya," Vier menjelaskan.
"Baru ingat? Jadi maksudmu kau lupa?" tanya Vaya.
Vier mengangguk.
"Bagaimana kau bisa lupa? Memangnya Pak Mike tidak mengingatkanmu?" tanya Vaya.
"Vaya, masalahnya, yang aku ingat bukanlah yang bisa diingat oleh Mike," jawab Vier sambil mengulas senyumnya.
"Memangnya apa yang kau ingat?" tanya Vaya.
Vier tidak menjawab, namun beberapa detik kemudian ia pun menjawab.
"Kau."
Vier segera mengambil bibir Vaya. Ia segera menyesap bibir Vaya, melumaat dengan begitu antusias. Vaya berusaha melepaskan ciuman Vier, Vier menahannya, lalu mengurangi ritme ciumannya. Ciuman yang tadinya begitu menuntut, berubah menjadi lebih lembut.
Vier benar-benar tidak tahan, ia meremaas-remaas bokong Vaya yang sudah mulai terbentuk lebih indah berkat latihan fisik secara intensif.
"Aah, Vier!"
Vaya berusaha melepaskan pagutan Vier. Vier mulai kembali memacu perbelitan lidah mereka berkat lenguhaan Vaya yang sukses membakar gairahnya.
Namun Vier tersadar, ia tidak boleh meneruskan hal ini karena pasti juniornya hanya akan bangkit sia-sia.
__ADS_1
Vier menyeringai melihat Vaya yang lagi-lagi kehabisan napas seperti orang yang baru saja lari marathon.
"Vaya, aku benar-benar sudah tak sabar untuk menyantapmu," goda Vier.
Ugh! Dasar laki-laki sakit jiwa! Batin Vaya.
"Vier, apa kau sudah makan? Kalau belum akan kusiapkan makanan," kata Vaya.
"Tidak perlu, Vaya, aku sudah makan," sahut Vier.
"Oh, kalau begitu, apa kau mau mandi? Akan kusiapkan air hangat," kata Vaya.
Vier menggeleng.
"Vaya, kau tidurlah lebih dulu, aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku," kata Vier.
"Baiklah aku mengerti, kau pasti sangat sibuk sekali," ucap Vaya.
"Ya, begitulah. Aku harap kau memakluminya," kata Vier.
"Tentu saja, Vier," sahut Vaya.
Vier kembali mencium bibir Vaya sambil menggendong Vaya dan merebahkannya ke tempat tidur.
"Beristirahatlah."
Vier mengecup kening Vaya sebelum meninggalkan Vaya.
Saat ini pekerjaan Vier memang luar biasa banyak. Selain masalah pemalsuan produk kosmetiknya, saat ini ia juga harus lebih memerhatikan persiapan peluncuran produk terbaru. Meski sibuk, ia tetap menyempatkan diri untuk menemui Vaya dalam rangka meminta jatah preman.
...*****...
Vaya mematut penampilannya di depan cermin. Ia begitu bingung untuk memutuskan pakaian apa yang akan dikenakannya.
Dalam hati, ia ingin tampil cantik dan elegan di depan Yoran. Hanya saja ia tentu tidak boleh terlihat berlebihan yang justru menimbulkan kecurigaan Vier.
Ah, tapi kan aku ini ikan buntal! Pikir Vaya.
Vaya mengambil gaun formal hitam lalu memadukannya dengan blazer tartan hitam putih yang membuat penampilannya terlihat elegan. Sepatu berhak sedang berwarna putih, dengan tas tangan berwarna putih menyempurnakan penampilan. Ia tidak mencepol rambut, membiarkan rambut panjangnya yang bergelombang terurai.
Vaya mengulas senyumnya. Ia sudah siap untuk menemani Yoran pergi ke sekolah mereka. Vaya bahkan izin tidak masuk kerja hari ini.
Ya, hanya hari ini saja.
...*****...
Vaya menunggu di halte terdekat hingga sebuah mobil terhenti di depannya.
Vaya terpana saat melihat penampilan Yoran yang terlihat semi formal. Pria itu mengenakan kemeja biru gelap dengan celana chino berwarna cokelat muda.
Aku tidak menyesal untuk bolos kerja seperti ini, batin Vaya begitu melihat Yoran tersenyum menyambutnya.
...*****...
Jangan lupa dukungan para haluers tersayang. Sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1