Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
032 - Wanita Penuh Kebohongan


__ADS_3

Vaya terkesiap begitu merasakan guyuran air dingin yang membasahinya. Vaya membuka sebelah mata, Vier menyiramnya dengan air dingin yang mengalir dari shower yang dipegangnya. Rasa panas akibat tetesan dari lelehan lilin seketika terhapus oleh dinginnya air.


Vier melepaskan ikatan dasi yang membelenggu tangan Vaya, juga ikat pinggang yang melilit kedua kakinya.


"Vaya, aku sungguh tidak mengerti. Apakah begitu sulit bagimu untuk mematuhi aturanku?" tanya Vier.


Vaya masih menunduk, ia masih sesenggukan menahan tangis. Rasa takut saat ini benar-benar tidak bisa ditahannya.


"Apa kau tahu, sebenarnya aku lelah jika harus marah-marah seperti ini? Buang-buang energi. Membuat tekanan darahku naik. Bahkan akan menimbulkan kerutan-kerutan yang tidak diinginkan."


"Tolong jangan membuatku susah, Vaya."


Vier melepas shower yang dipegangnya, gagang shower mulai mengambang di permukaan air.


"Vier, sebenarnya yang membuat susah itu, kau atau aku? Aku sungguh tidak mengerti, mengapa semua yang kulakukan selalu salah di matamu?" tanya Vaya.


"Ya, karena kau sudah melakukan kesalahan. Kau sudah salah karena berurusan denganku. Jadi sudah sewajarnya kau menebus kesalahanmu itu dengan bersikap baik, bukannya malah menantangku seperti ini," jawab Vier.


Vaya hanya bisa menunduk, berat rasanya untuk mengangkat kepalanya.


"Baiklah, segeralah mandi! Lalu beristirahatlah dengan tenang sambil merenungi segenap kesalahanmu!"


Vier beranjak dari tepi bathtub dan meninggalkan Vaya sendiri.


Air mata kembali menetes membasahi pipi Vaya. Rasa marah, kesal, dan sedihnya campur aduk menjadi satu.


Vaya merenungi nasibnya. Jika ia menuruti semua peraturan gila Vier, itu artinya hidupnya benar-benar dikendalikan sepenuhnya oleh Vier.


Menghabiskan sisa hidupnya hanya melaksanakan apa yang didikte oleh Vier, tentu bukan hal yang membahagiakan.


Apa yang harus kulakukan?


Aku benar-benar bisa gila jika begini terus, hiks.


...*****...


Vier menghela napas berat, begitu keluar dari ruangan itu, Mike sudah menunggunya.


"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Mike.


"Baik-baik saja? Apa aku terlihat baik-baik saja?!" Vier menyugar rambutnya dengan kesal.


Vier melangkah menuju ke ujung lorong, terdapat balkon besar yang menghadap langsung ke arah taman. Mike melangkah pelan mengikuti dari belakang.


Vier menghirup dalam-dalam udara dingin yang langsung mengisi paru-parunya. Kepalanya benar-benar terasa panas akibat menahan emosi yang meluap-luap di dalam dirinya.


"Mike, aku benar-benar heran, mengapa wanita itu begitu sulit untuk diatur?" tanya Vier pada Mike.


"Mike, apakah penjelasanku kurang bisa dipahami?"


"Tidak, bagi saya, penjelasan Anda sudah sangat jelas dan saya bisa memahami apa maksud Anda," jawab Mike.

__ADS_1


"Tapi kenapa Vaya masih belum paham juga? Aku membuat aturan bertujuan untuk mengatur, dan aturan yang kubuat harus dijalankan!" kata Vier.


"Kenapa Vaya tidak seperti wanita lain, seperti kebanyakan wanita pada umumnya?" tanya Vier.


"Para wanita yang bahkan sudah melakukan apa yang kumau tanpa perlu kukatakan."


Vier melayangkan tatapan skeptis ke arah Mike.


"Tapi lihatlah! Vaya bahkan menantangku seperti ini! Dia mengencani pria lain! Bahkan sampai membelikan hadiah untuk pria tersebut menggunakan uangku! Sepertinya dia benar-benar sudah gila!" Vier mengusap wajahnya dengan gusar.


Mike mengerutkan alisnya.


"Pak, bukankah tadi Bu Vaya sudah menjelaskan bahwa jaket yang beliau beli ditujukan untuk ganti rugi?"


"Ganti rugi? Haha!" Vier tertawa.


"Mike, jujur saja, aku tidak bisa serta merta percaya dengan apa yang dibicarakan oleh Vaya! Vaya itu wanita yang penuh dengan kebohongan! Kau jangan serta merta memercayai apa yang diucapkannya! Aku bahkan tidak pernah percaya apa pun yang dikatakannya!"


"Huh! Berani-beraninya dia mengencani pria lain di depan mataku!"


Mike mengernyitkan dahinya lagi.


"Pak Vier, apa Anda cemburu?" tanya Mike.


"Apa? Cemburu? Mike! Aku tidak cemburu ya! Aku tidak cemburu!"


Vier mendengus keras mendapat tudingan dari Mike.


Mike mengangguk, Vier kembali memandang Mike dengan tatapan skeptis.


"'Aku tidak cemburu, Mike!"


Vier mengacungkan telunjuknya kepada Mike sebelum melangkah meninggalkannya.


...*****...


Pagi-pagi sekali, Vaya sudah berada di ruangan gym pribadi Vier. Ia mulai melakukan pemanasan dan peregangan otot guna menghindari cedera saat berolahraga, dibimbing oleh Ivan yang akan memandunya.


"Tumben pagi-pagi Anda sudah kemari, Bu Vaya," kata Ivan.


"Haha! Aku rasa sedang bersemangat saja," sahut Vaya.


Baiklah, Vier! Aku benar-benar akan menghilangkan lemak-lemak jahat yang kau tuduhkan! Batin Vaya.


Vaya mulai berlari di atas treadmill. Keringatnya mulai bercucuran, napasnya pun mulai berantakan, namun Vaya tidak boleh menyerah.


Ia harus mendapatkan bentuk tubuh yang ideal agar terhindar dari cacian dan hinaan Vier yang akan mengatainya tidak memiliki bentuk tubuh, seperti lontong plastik.


Vaya mendengus keras, jika harus mengingat bahwa Vier macam orang yang selalu mencari-'cari kesalahannya agar Vaya mendapat hukuman.


Hukuman yang kerap diberikan Vier pasti hanya akal-akalan pria itu untuk menyiksa Vaya.

__ADS_1


Begitulah hasil kesimpulan dari pertapaan Vaya semalam.


Tidak! Tidak! Aku tidak mau selama-lamanya menjadi bulan-bulanan Vier! Batin Vaya.


"Selamat pagi, Vier!" 


Vaya menyapa Vier yang baru saja memasuki ruangan gym. Vier mengenakan kaus hitam yang pas membungkus tubuh atletisnya. 


"Tumben, kau datang lebih awal," kata Vier.


Vaya mengulas senyum misterius.


"Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana kondisi kulitmu?" tanya Vier.


"Kulit?" Vaya balik bertanya. "Oh, haha! Aku baik-baik saja!" 


Vaya tertawa seceria mungkin meski dalam hati ia benar-benar sangat kesal dengan perbuatan Vier semalam.


"Oh baguslah, kalau begitu," sahut Vier.


Usai berolahraga, Vaya segera menuju ke taman tempat ia biasa menyantap sarapan pagi bersama Vier.


Vaya segera menandaskan gelas berisi jus sayuran. Meski berat untuk menelan jus yang rasanya benar-benar menyakiti tenggorokan, namun apa boleh buat.


Vaya juga segera menghabiskan sepiring salad gulung berisi sayur dan buah-buahan. 


Vier jelas merasa keheranan melihat kelakuan Vaya yang nampak seperti orang tidak pernah makan. Selera makannya seketika menjadi sirna.


"Vier, kau tidak memakan saladmu?" tanya Vaya.


"Aku merasa sudah kenyang," jawab Vier.


Vaya mengambil salad gulung yang masih ada di piring Vier lalu melahapnya dengan rakus.


"Vaya, kau ini, seperti orang tidak pernah makan saja," celetuk Vier.


Vaya melotot dengan mulut penuh salad. Ia pun segera menelan saladnya.


"Haha! Vier! Aku benar-benar merasa sangat lapar! Aku bahkan merasa bisa memakan orang!" jawab Vaya seraya tertawa.


Vier mengerutkan alisnya.


"Haha! Tenang saja, Vier, aku tidak akan memakanmu! Haha!"


Vaya tertawa lagi.


Kenapa dia jadi tertawa-tawa seperti ini? Apa dia tiba-tiba menjadi gila? 


Vier masih menatap Vaya dengan tatapan penuh keheranan.


Masa iya, dia tiba-tiba menjadi gila hanya dalam semalam?

__ADS_1


...*****...


__ADS_2