
Vier berputar dua kali, memerhatikan penampilan Vaya mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dan kembali ke puncak kepala. Matanya tak putus-putusnya mengamati detail gaun malam berbahan sutra dengan warna merah gelap tanpa lengan ala putri duyung yang saat ini melekat pas di tubuh Vaya. Sebuah bolero berbahan menerawang melengkapi gaun tersebut. Gaun itu jelas membuat tubuh Vaya jadi terlihat ada lekukannya.
Garis lekukan bak gitar Spanyol jika tampak samping. Vaya sungguh merasa sesak karena harus memakai korset pelangsing yang membuat perutnya jadi terlihat super ramping, namun membuat dadanya jadi terlihat montok menggoda. Susu kembar itu terlihat tumpah-tumpah dari gaunnya, menyembul menggiurkan.
Efek korset pelangsing ini sungguh lebih jahat dibandingkan dengan memakai filter jahat pada aplikasi Enstagram.
Dengan tatanan rambut yang dicepol tinggi ala pramugari, membuat leher Vaya terlihat jenjang. Lipstik merah memberi kesan bold yang begitu dramatis nan sensual di bibir Vaya.
"Yah, tidak terlihat buruk," komentar Vier.
Penata busana dan penata rias yang menunggu penilaian hasil kerja mereka akhirnya bisa bernapas lega setelah Vier menyuruh Vaya untuk mencoba selusin gaun yang disiapkan oleh sang penata busana.
Vier harus menunggu sendiri untuk memastikan bahwa Vaya akan berpenampilan sesuai yang ia inginkan agar tidak ada yang menyangka wanita itu sebagai pegawai casual hotel lagi.
Aku benar-benar seperti ondel-ondel, batin Vaya begitu gusar saat melihat penampilannya di depan cermin.
"'Ada apa, Vaya?" tanya Vier.
"Hmm, tidak," Vaya menggeleng.
Vier mengangkat sebelah alisnya, sejujurnya ia bisa membaca dengan jelas ekspresi enggan di wajah Vaya.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi," ajak Vier.
Vaya mencebik, ia benar-benar merasa penampilannya pasti terlihat sangat konyol. Entah karnaval macam apa yang harus ia hadiri bersama Vier sampai Vaya harus berdandan heboh seperti ini.
...*****...
Sesampainya di pelataran sebuah hotel berbintang lima, Vaya turun dari mobil, mengangkat sebelah gaunnya agar bisa berjalan dengan baik.
"Vaya! Jalan yang benar!"
Vier menegur Vaya yang berjalan tertatih-tatih.
"Vier! Sepatu yang kukenakan saja sudah seperti egrang! Bagaimana aku bisa berjalan dengan baik dan benar?!" sungut Vaya.
Sepatu platform dengan hak setinggi sebelas sentimeter berwarna merah jelas terlalu tinggi untuk Vaya yang terbiasa memakai sepatu dengan hak maksimal tujuh sentimeter.
"Ck!" Vier berdecak kesal lalu menyodorkan lengannya.
Vaya enggan mengambil lengan Vier, ia memilih untuk tetap berjalan sendiri.
"Vaya," Vier melotot.
Vaya tak peduli meski Vier sudah melotot padanya. Toh Vaya memang tidak suka Vier mengajaknya pergi ke pesta.
"Vaya, kau ini, benar-benar ya! Apa kau benar-benar mau kuhukum lagi?" tanya Vier.
"Terserah!" sahut Vaya acuh.
"Oh, bagus sekali! Bagus!" sahut Vier sambil meremaas bokong Vaya.
"Vier!" Vaya tersentak kaget.
Vier menyeringai lalu melingkarkan tangannya di pinggang Vaya.
"Vier! Tolong lepaskan!" Vaya mencoba melepaskan tangan Vier.
Vier menyeringai saat Vaya mendorongnya menjauh.
__ADS_1
Mike yang mengekor di belakang sebisa mungkin menutupi dua orang di depannya dari pandangan orang-orang.
Sungguh tidak enak jika ada yang mengira bahwa Vier sedang melakukan pelecehan seksual.
"Pak Vier!"
Vier menghentikan langkahnya begitu mendengar suara-suara yang menyapanya.
Rombongan pria langsung menyapa Vier, Vaya pun langsung melangkah mundur, bahkan lebih mundur dari Mike.
Vier terlihat berbincang dengan para pria yang rupanya merupakan relasi bisnisnya.
Mata Vaya kembali mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Para tamu yang terlihat berpenampilan mewah, dengan aura-aura kemewahan yang terpancar jelas membuat Vaya makin insecure.
Terlebih para tamu wanita yang datang terlihat luar biasa cantik dengan kulit cerah yang berkilauan.
Sepertinya yang berkulit gelap hanya aku saja, batin Vaya yang seketika langsung makin insecure.
"Vaya."
Sebuah sapaan langsung membuat Vaya seketika menoleh. Jantung Vaya nyaris melompat keluar dari mulutnya saat netranya menangkap sosok Yoran.
Yoran berjalan dengan langkah yang anggun saat menghampiri Vaya. Vaya bahkan tak berkedip menatap pria tampan dalam balutan jas berwarna krem yang terlihat menyempurnakan penampilannya tersebut.
"Yo-Yoran!" Vaya terperangah.
"Vaya, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yoran.
Duh, kenapa malah bertemu dengan Yoran di sini?! Batin Vaya mendadak gelisah.
Vaya tidak mungkin menjawab bahwa saat ini ia sedang mendampingi Vier.
"Hmm, ya," sahut Vaya singkat.
Yoran mengulas senyumnya, mengamati penampilan Vaya yang terlihat begitu memesona.
"Kau terlihat luar biasa, Vaya," puji Yoran.
"Te-terima kasih," sahut Vaya kikuk.
"Kalau begitu, sampai bertemu di dalam," Yoran berpamitan.
"Ah, ya, sampai jumpa, Yoran."
Duh, aku bicara apa sih, batin Vaya sambil menatap kepergian Yoran.
Vaya merasa lega melihat Yoran nampak baik-baik saja. Rasanya sungguh canggung sekali harus bertemu lagi dengan Yoran. Padahal Vaya pikir ia tidak akan bertemu lagi dengan pria itu.
"Bu Vaya, mari kita pergi," ajak Mike.
"Eh, apa?" Vaya tersentak kaget.
"Mari kita ke tempat acara," ajak Mike.
Mike sengaja menyusul Vaya yang sudah tertinggal jauh karena terbengong-bengong sendiri di lobi hotel.
Mike mempersilakan Vaya untuk duduk di kursi kosong yang berada di samping Vier yang sudah lebih dulu duduk sambil berbincang dengan beberapa relasi bisnisnya.
Vaya hanya bisa diam, mengamati pemandangan sekitar. Lagi-lagi matanya tertuju pada sosok Yoran yang terlihat bersama Grace.
__ADS_1
Grace terlihat luar biasa cantik, gaun berwarna nude dengan manik-manik yang bertaburan memenuhi gaun berpotongan lurus dengan dua tali tipis yang tersangga di bahunya. Kulitnya yang putih nampak bersinar bersama rambutnya yang kecokelatan tergerai indah. Definisi dari wanita yang memiliki kecantikan bagai dewi adalah Grace.
Namun jika mengingat apa yang dilakukan oleh wanita itu terhadap Yoran, keyakinan Vaya seakan goyah.
Bagaimana bisa wanita luar biasa cantik, anggun, dan terlihat begitu lembut seperti permen kapas itu bisa melukai Yoran?
Masa sih, Yoran berbohong?
Keraguan dalam hati Vaya mendadak muncul, namun Vaya segera menepisnya jauh-jauh. Ia sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan Yoran. Hubungan mereka bahkan harus berakhir sebelum semuanya dimulai.
Vaya segera menundukkan pandangannya, lebih baik ia berkutat dengan gawai cerdasnya daripada harus melihat pemandangan menyesakkan yaitu Yoran dan Grace yang benar-benar terlihat sangat serasi dan bikin iri.
"Hai Vier!"
Vier bangkit dari tempat duduknya, lalu menyambut uluran tangan Yoran.
"Yoran," Vier menjabat tangan Yoran.
"Vaya?" sapaan Yoran benar-benar membuat Vaya menegang tak karuan.
Vaya berdiri dari tempat duduknya, lalu menunduk memberi salam.
"Hai Yoran," Vaya balas menyapa Yoran.
Yoran terlihat mengerutkan keningnya melihat Vaya yang berada di samping Vier.
Oh, mungkin Vaya duduk di samping Vier karena mereka saling kenal, batin Yoran.
"Hai Vier," sapa Grace.
Vaya makin menegang melihat kedatangan Grace yang menyapa mereka.
"Hai Grace," Vier menyambut uluran tangan Grace.
"Oh, kita bertemu lagi," Grace mengarahkan pandangannya pada Vaya.
"Selamat malam," Vaya menyapa.
Pandangan Vaya tak bisa lepas dari pesona Grace yang begitu memukau.
Semakin dilihat rasanya Vaya jadi makin merasa bersalah karena pernah menginginkan Yoran.
"Oh ya, Vier, kau datang sendiri saja? Tidak membawa serta istrimu?" tanya Grace.
Pertanyaan Grace benar-benar membuat perut Vaya seketika melilit.
"Permisi, toiletnya di mana ya?" tanya Vaya.
Pertanyaan Vaya jelas membuat semua orang jadi tercengang mendengarnya.
Tanpa memerlukan jawaban, Vaya langsung pergi seperti pengecut.
Ya, dia terlalu pengecut untuk mengakui bahwa ia adalah istri Vier, terutama di depan Yoran.
...*****...
Visual Grace
__ADS_1