Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
147 - Mari Bicara


__ADS_3

"Vaya! Tunggu!"


Vier melangkah cepat mengejar langkah Vaya. Vaya mengabaikan panggilan Vier. Saat ini yang ada dalam benaknya adalah pergi secepat mungkin tanpa harus menunggu antrian lift.


Vaya meninggalkan antrian lift dan melangkah cepat menuju ke pintu darurat. Melewati tangga darurat sepertinya lebih baik daripada harus menunggu antrian.


Vier mengejar Vaya yang dilihatnya memasuki pintu darurat. Vier mempercepat langkahnya, menuruni tiga anak tangga sekaligus untuk mengejar Vaya yang lebih dulu menuruni anak tangga berkelok.


Vier segera menangkap tangan Vaya dan menahannya.


"Lepaskan aku, Vier!" sergah Vaya.


Sorot mata penuh kemarahan dan kekecewaan terpancar jelas dari tatapan mata Vaya.


"Vier," lirih Vaya berusaha meredam emosinya.


"Mari kita bicara baik-baik, Vaya," ajak Vier.


"Apa lagi yang harus kita bicarakan, Vier? Bukankah semuanya sudah berakhir?" tanya Vaya.


Vier menarik tangan Vaya dan membawanya keluar dari pintu penghubung tangga darurat.


"Vier, tolong lepas," Vaya berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Vier.


Vier melihat seorang room boy yang baru saja keluar dari salah satu kamar hotel. Ia segera mengeluarkan gawai cerdasnya dan menyodorkannya pada room boy tersebut.


"Pak, tolong berikan saya kunci kamar ini, silakan bicara dengan Mike," perintah Vier.


Room boy itu seakan kehilangan kemampuannya untuk menolak dan langsung menyerahkan kunci kamar tersebut, menukarnya dengan sebuah gawai cerdas yang berdering.


Vier segera membawa masuk Vaya ke dalam kamar itu, bersamaan dengan dijawabnya telepon oleh sang room boy.


"Ha..halo," kata room boy itu tergagap.


Mike menyadari bahwa suara yang menjawab telepon Vier bukanlah Vier.


"Di mana Anda sekarang?" tanya Mike dengan tenang.


...*****...


Vier melepaskan cengkeraman tangannya, matanya masih menatap Vaya yang terlihat begitu marah karena Vier membawanya secara paksa seperti ini.


"Vaya, mari kita bicarakan semuanya baik-baik," kata Vier.


"Membicarakan apa, Vier? Bukankah semua ini sudah berakhir?" tanya Vaya lagi.


"Selena sudah kembali ke sisimu, dan Selena sudah diterima dengan baik oleh keluargamu, ibumu, terutama kau, Vier!"

__ADS_1


Vaya berusaha untuk menegarkan dirinya. Rasa sakit dan sesak di dadanya benar-benar makin menyesakkan setiap detiknya.


Vier masih terfokus pada tubuh Vaya yang gemetaran menahan kemarahan.


"Vaya, apa kau sungguh berpikir seperti itu?" tanya Vier.


"Vier, bukankah sudah jelas seperti itu?" sahut Vaya.


Vier menghela napas sambil menyugar rambutnya.


"Vier, aku sungguh tidak akan menuntut apa pun darimu. Aku juga akan merahasiakan semua yang pernah terjadi di antara kita. Aku tidak akan bersikap bodoh dengan mengunggah kisah hidupku sebagai konten di aplikasi Toktok!"


"Aku sadar bahwa aku menikahimu merupakan sebuah konsekuensi yang harus kuterima akibat dari kebohongan yang kubuat. Aku tidak pernah bermaksud untuk merebutmu dari Selena. Aku tidak pernah berambisi untuk mendapatkan pria kaya raya!"


Vaya menatap lurus ke arah Vier yang juga balas menatapnya dengan bibir terkatup rapat.


"Sungguh, Vier, aku benar-benar akan pergi dari hidupmu. Aku tidak akan mengganggumu ataupun mengusik hidupmu, Vier!"


"Aku bahkan akan menganggap bahwa semua yang pernah terjadi di antara kita tidak pernah terjadi. Aku akan membawa semuanya sendiri sampai ke liang kubur!"


Vaya terus mengungkapkan semua yang bisa ia ungkapkan.


"Vier, aku menerima perceraian kita tanpa perlu berdebat lagi," lirih Vaya.


Vaya bergegas pergi, tangannya meraih gagang pintu untuk membuka pintu kamar itu.


Tangan Vaya terhenti, ia menangguhkan keinginannya untuk membuka pintu kamar itu.


"Siapa pria itu, Vaya?" tanya Vier.


Vaya menoleh ke arah Vier, memicingkan matanya kepada pria yang lagi-lagi mengungkit masalah itu.


"Apakah pria itu benar-benar adalah Yoran?" tanya Vier.


"Vier, bisakah kau berhenti menyeret nama Yoran?" Vaya balik bertanya.


"Yoran sama sekali tidak ada hubungannya denganku!" tandas Vaya.


"Harusnya kau sadar diri, Vier! Kau itu yang ingin kembali bersama Selena! Tunangan yang begitu kau cintai dan dicintai oleh keluargamu!"


"Jadi, Vier, sebelum kau membuangku seperti sampah, sudah seharusnya aku pergi sendiri!" lanjut Vaya.


Vaya mendengus kesal, ia segera berbalik untuk kembali membuka pintu.


Brak...!


Vier menahan pintu itu dengan tangan kirinya, lalu membawa Vaya ke dalam pelukannya dengan tangan kanannya yang bebas.

__ADS_1


Segera ia menyandarkan dan menahan tubuh Vaya di pintu.


"Berapa, Vaya? Berapa jumlah yang kau terima dari ibuku sampai kau bersedia untuk berpisah dariku?" tanya Vier.


Tatapan mata pria itu berkilat penuh kemarahan.


"Apa?!"


"Ya, berapa uang yang diberikan ibuku? Apa selama ini uang yang kuberikan padamu tidak cukup?"


"Vier, aku sungguh tidak peduli dengan semua uangmu! Aku tidak butuh!" jawab Vaya.


"Bohong! Kau berbohong padaku kan, Vaya?! Ibuku jelas-jelas mengatakan bahwa kau bersedia berpisah demi uang!" tandas Vier.


"Apa?! Aku berpisah demi uang?!" sergah Vaya.


"Vier, berapa kali harus kukatakan padamu?! Aku berpisah darimu karena aku sadar diri! Aku sadar posisiku hanyalah pengantin pengganti. Saat Selena sudah kembali padamu, maka aku harus pergi. Semudah dan sesederhana itu saja, Vier!"


"Dan aku akan pergi darimu karena aku harus membuktikan bahwa tuduhan yang kau dan ibumu lemparkan padaku mengenai aku yang dengan sengaja mengacaukan pernikahanmu dengan Selena lantaran aku terobsesi menikahi pria kaya sama sekali tidak benar!"


"Yang bisa kulakukan adalah memberi bukti padamu, Vier, bahkan aku memberimu keperawananku untuk membuktikan padamu bahwa aku tidak pernah menjual tubuhku demi uang!"


Vaya tak bisa membendung lagi air matanya.


"Aku hanya bisa memberimu bukti agar kau percaya, Vier! Karena aku tahu bahwa kau tidak pernah memercayaiku lantaran menganggapku sebagai wanita penuh dusta! Semua yang kukatakan hanyalah kebohongan!"


Vier mengendurkan kunciannya pada tubuh Vaya, kedua tangannya menangkup wajah Vaya lalu membiarkan kening dan hidung mereka saling menempel.


Vier memejamkan matanya, saat ini pikirannya pun benar-benar kacau.


Selena yang kembali datang dalam hidupnya jelas membuat batinnya bergejolak. Perasaan nyaman yang dirasakannya pada Vaya jelas membutakan logikanya.


Vaya yang selalu membuat emosinya bergerak dinamis telah mengisi hari-harinya.


Wanita itu tak hanya sekadar menggantikan posisi Selena sebagai istrinya, namun lebih dari itu semua. Canda, tawa, tangis, dan air mata Vaya benar-benar sudah menjadi konsumsi harian Vier yang membuat Vier merasa hidupnya jauh lebih berwarna dan bergairah.


"Vaya," lirih Vier sambil mengusap air mata Vaya.


"Maafkan aku, Vier, maafkan aku," Vaya memohon.


Vier menatap Vaya yang masih menangis tersedu-sedu.


Rasa sesak yang benar-benar terasa sangat menyesakkan Vaya.


Vier mengusap lembut air mata yang meleleh di pipi Vaya kemudian ia mengambil bibir Vaya dan menekan lembut bibir Vaya dengan bibirnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2