Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
056 - Malam Panjang


__ADS_3

Selamat membaca...


"Vier? Kau tidak apa-apa?" tanya Vaya.


Vier masih meringkuk menahan rasa sakit di kepalanya.


"Sakit lah! Sakit!" omel Vier masih meringis sambil memegangi kepalanya.


"Jangan-jangan kepalamu benjol," kata Vaya.


"Ugh! Aku gegar otak!" sungut Vier lagi.


"Coba sini aku periksa."


Vaya memegangi kepala Vier, memeriksa apakah ada bagian kepala yang benjol.


"Ugh! Tanggung jawab kau, Vaya! Ini semua gara-gara kau!" omel Vier.


"Loh, kok gara-gara aku?!" Vaya terperangah karena Vier menyalahkannya.


"Ya, ini gara-gara kau! Ini gara-gara tempat tidurmu yang tidak ada headboardnya! Sungguh tempat tidur yang tidak layak! Kepalaku yang begitu berharga ini jadi tumbal! Aduh!" Vier masih tetap ngedumel.


"Hihh! Kenapa kau menyalahkanku dan tempat tidurku? Bukannya semua ini terjadi karena kau yang terlalu bersemangat? Coba kau pelan-pelan saja," cibir Vaya.


Vier mengerutkan keningnya.


"Pelan-pelan? Jadi kau mau pelan-pelan saja?" tanya Vier.


"Tidak! Tidak!" sahut Vaya dengan cepat.


"Aduh! Sakitnya kepalaku!" keluh Vier lagi.


"Ya sudah, sini kupijat kepalamu," sungut Vaya lagi.


Vier menyeringai, ia merebahkan kepalanya di pangkuan Vaya, membiarkan Vaya memijat lembut kepalanya.


"Vaya, lakukan yang benar! Ini kepalaku sakit!" keluh Vier.


Kepala bawah malah lebih sakit euy! Rutuk Vier.


"Iya, ini sudah pelan-pelan," sahut Vaya.


Vier menatap wajah Vaya, mata mereka kembali bertemu. Vier berusaha mendistraksi pikirannya agar bagian tubuhnya yang menegang di balik sarung bisa lebih tenang. Peliharaannya belum bisa menikmati sarang yang masih direnovasi.


Sungguh menyebalkan!


"Berhenti memijatku! Lebih baik sekarang kau tidur," perintah Vier.


Vaya tidak banyak berkomentar, ia pun segera berbaring memunggungi Vier.


Vier menggerak-gerakkan otot tangannya dengan tujuan merelaksasikan otot yang menegang sia-sia.


"Vier, kenapa kau datang kemari? Bukankah kau sedang sibuk?" tanya Vaya.


"Vaya, bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan menyusulmu?" Vier balik bertanya.


"Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?" Vaya bertanya lagi.


Vier yang tadinya berbaring memunggungi Vaya, mengubah posisinya, ia segera memeluk Vaya dari belakang.


"Sudah, tidak usah banyak bertanya, lekas tidur," kata Vier.


"Vier, bisakah kau tidak memelukku? Gerah nih," keluh Vaya.


"Ya sudah, buka saja pakaianmu kalau begitu," sahut Vier sambil menyeringai.


Ugh, dasar mesum!

__ADS_1


Vaya berusaha memejamkan matanya, memaksa agar bisa terlelap meski saat ini situasi dan kondisi tidak memungkinkan terlebih Vier begitu usil dengan menguyel-uyel bukit kembarnya lagi.


"Emmaaah...," goda Vier.


"Emmoooh!" sahut Vaya sambil mencubiti tangan Vier.


Malam pun jadi terasa panjang bagi Vaya yang harus menerima teror erotis dari Vier.


...*****...


Sebuah truk pengangkut kontainer terhenti di depan sebuah gudang. Sopir truk turun, berjalan menghampiri petugas yang berjaga di sana. Ia memperlihatkan dokumen surat jalan kepada petugas, nampak petugas melakukan pemeriksaan sebelum akhirnya mengizinkan truk pengangkut kontainer itu masuk ke dalam gudang.


"Selamat malam."


Penjaga gudang terkejut melihat penampakan seorang pria yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Si-siapa ya?" tanya petugas itu.


"Perkenalkan, nama saya Mike," pria berparas ramah itu memperkenalkan dirinya.


"Siapa yang tanya namamu? Yang mau saya tanya, siapa kau dan kenapa kau kemari? Di sini bukan area yang bisa dikunjungi orang secara bebas," cecar si penjaga gudang berwajah sangar itu.


"Saya kemari hanya ingin menanyakan beberapa hal, saya harap Anda tidak keberatan untuk memberi informasi yang saya butuhkan," Mike mengulas senyum ramahnya.


"Tidak ada informasi yang bisa Anda dapatkan di sini! Lebih baik Anda pulang!" penjaga gudang mengusir Mike.


Mike mengulas senyumnya.


"Saya tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang ingin saya ketahui," kata Mike diplomatis.


"Hei, apa kau harus dibuat babak belur agar mengerti?!" nada bicara penjaga itu naik setengah oktaf.


"PERGI!" bentak penjaga itu penuh kemarahan.


Sebilah parang panjang yang dibawa oleh si penjaga gudang teracung ke arah Mike.


"Tolong bersikap kooperatif," Mike mengulas senyumnya.


Mike terpaksa mengeluarkan pistol yang dimilikinya. Senjata yang selalu ia gunakan untuk mendapatkan apa yang ia mau. Terkadang bersikap mengancam jelas akan menguntungkan.


"Kau pikir aku takut dengan pistol mainanmu itu, heh!" penjaga itu segera menyerang Mike.


Pria itu menebas udara dengan parangnya, mengarahkan serangan brutal pada Mike.


Mike menghindar dari serangan bertubi-tubi itu dengan penuh kegesitan dan ketangkasan. Mike menguasai beberapa aliran seni bela diri terlebih ia sudah memegang sabuk hitam.


Klang..!


Parang panjang terlepas dari tangan penjaga gudang, Mike memanfaatkan situasi tersebut untuk menyerang setelah beberapa saat memilih menghindar.


Mike mengunci leher si penjaga bertampang sangar itu sambil menodongkan pistol di samping kepala si pria.


"Saya benar-benar tidak akan segan-segan menarik pelatuk pistol ini dan membuat otak Anda tercecer di lantai," ancam Mike.


"Ugh! Ugh!" pria dalam kuncian Mike berusaha meloloskan diri.


"Jika Anda bersikap kooperatif, saya berjanji tidak akan menyakiti Anda seperti ini," Mike mengulas senyumnya sambil memelintir tangan pria itu.


"Argh! Sakit! Ampun, Pak! Ampun!" seru pria itu.


...*****...


Penjaga gudang beserta beberapa pekerja yang berada di gudang tersebut hanya bisa duduk bersimpuh di lantai. Beberapa pria berpakaian serba hitam menodongkan senapan api ke arah mereka. Senapan api yang siap untuk ditembakkan jika mereka membuat gerakan berontak sedikit saja.


Mike berdiri tenang di hadapan mereka, memainkan pistol di tangannya sambil mendengarkan penuturan pria paruh baya bernama Marno yang bertugas sebagai penanggung jawab di gudang tersebut.


"Gudang ini milik Pak Deri, beliau adalah pengusaha yang menyediakan jasa pergudangan. Selain menyediakan gudang, Pak Deri juga akan mengatur pendistribusian barang-barang ini," Marno menjelaskan dengan takut-takut.

__ADS_1


"Hmm, Pak Deri ya, Deri yang mana?" tanya Mike.


"Pak Deri Sudrajat," jawab Marno.


"Lalu, barang-barang itu sendiri didatangkan dari mana?" tanya Mike.


"Tidak mungkin kan, barang-barang ini tiba-tiba dikirim tanpa tahu siapa yang mengirimkannya?" Mike kembali melemparkan pertanyaan.


"Anda pasti tahu kan, siapa pengirimnya? Tidak, lebih tepatnya pemilik semua barang itu?" tanya Mike.


Marno terdiam, ia pikir sudah terlalu banyak membocorkan rahasia perusahaan. Pak Deri pasti akan sangat marah padanya.


"Bicaralah, saya lebih menghargai jika Anda bersikap jujur," kata Mike.


"Hanya Pak Deri yang mengetahui hal itu Pak, sungguh," kata Marno lagi.


Mike tidak bisa serta merta memercayai ucapan Marno. Tidak ada dasar yang bisa membuatnya percaya.


Kring...


Ponsel dalam saku kemeja Marno berdering. Mike mengambil ponsel milik Marno. Nama Deri Sudrajat yang disebutkan oleh Marno muncul di layar datar tersebut.


Mike menggeser panel hijau, lalu membiarkan Marno untuk bicara.


"Marno, apa barang-barangnya sudah datang?"


"Su-sudah, Pak," jawab Marno takut-takut.


"Kapan datangnya? Kenapa kau tidak segera lapor?!" Pak Deri mencecar Marno.


"I-iya Pak, tadi saya mau mengabari," jawab Marno masih tergagap.


"Ya sudah, sekarang juga kau bongkar, dan kau siapkan untuk pengiriman berdasarkan daftar yang sudah kuberikan padamu! Besok semua sudah harus kau kirim!"


Tut.. tut..


Sambungan telepon terputus.


"Apa daftar yang dimaksud oleh bosmu itu adalah daftar pelanggan kalian?" tanya Mike.


Marno kembali mengangguk takut-takut.


"Bisa tunjukan padaku, di mana kau menyimpan daftar tersebut?" tanya Mike.


Marno berdiri, Mike mengekor sambil tetap menodongkan pistol di punggung Marno.


Marno mengambil amplop yang ia simpan di laci meja kerjanya.


Mike mengambil dan segera membuka isi amplop tersebut.


Sindikat pemalsu kosmetik sungguh harus dibereskannya.


...*****...


Deri masih mondar-mandir tidak tenang usai menutup telepon dari anak buahnya. Ia merasa khawatir karena sebelumnya mendapat kabar bahwa truk kontainer yang membawa ribuan kosmetik yang dikirimkan oleh rekan bisnisnya sempat terjaring razia.


Besok rekan bisnisnya akan datang dan mereka bisa memulai kerja sama bisnis dengan jaminan pernikahan. Hanya saja Deri merasa sangsi dengan Vaya.


Wanita itu dirasanya terlalu tua untuk menjadi istri muda rekan bisnisnya.


"'Ada apa, Deri? Kamu dari tadi tidak berhenti mondar-mandir," tegur Darti.


"Ibu, entah mengapa aku merasa bahwa Vaya tidak cocok untuk jadi istri muda Pak Gumilang. Dia terlalu tua, Bu." 


"Deri, lalu menurutmu siapa yang lebih pantas? Sudahlah, Vaya sudah cukup untuk menjadi jaminan. Toh, kau tahu sendiri, para istri Pak Gumilang setuju suaminya menikah lagi tapi dengan catatan tidak boleh dengan wanita yang lebih cantik dari mereka," sergah Darti.


"Sudahlah, Deri, biarkan saja Vaya menikah dengan Pak Gumilang. Yang penting bisnismu bisa berjalan lancar," lanjut Darti.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2