
Vaya segera diantar ke kamar khusus tamu untuk beristirahat, mual dan pusingnya terasa makin menjadi. Terlebih setelah Vier menanyakan apakah dia sedang hamil. Pertanyaan itu seketika membuat asam lambung di perut Vaya makin meletup-letup.
Vier duduk di sofa, melemparkan tatapan skeptis yang membuat Vaya terintimidasi.
"Ugh, hoeek!"
Vaya menutup mulutnya.
"Anak siapa itu? Laki-laki mana yang menghamilimu?" tanya Vier penuh kesinisan.
"Aku tidak hamil, Vier!" sahut Vaya.
"Tidak hamil, terus kenapa kau mual dan muntah begitu?" tanya Vier.
"Aku rasa asam lambungku naik," jawab Vaya.
"Pembohong! Pendusta! Kau pasti sedang hamil karena saat ini kau sedang mengencani pria lain!" tuding Vier.
"Vier, sungguh! Aku bicara yang sebenarnya!" sergah Vaya.
"Huhu! Kita tunggu saja hasil pemeriksaan dokter!" tandas Vier.
Tok.. Tok..
Mike memasuki kamar tempat Vaya beristirahat. Ia datang bersama seorang dokter pribadi. Dokter Reno, pria paruh baya yang sudah menjadi dokter pribadi Vier selama puluhan tahun itu segera menjabat tangan Vier.
"Vier, kau terlihat baik-baik saja," kata Dokter Reno.
"Bukan saya yang sakit, Dokter, tapi dia," jawab Vier sambil menunjuk ke arah Vaya.
Dokter Reno segera menghampiri Vaya.
"Oh, tadi saya pikir kau yang sakit, Vier, makanya saya cepat-cepat kemari," kata Dokter Reno.
"Haha, Dokter, saya ini orang yang sangat peduli dengan kesehatan, karena bagi saya sehat itu sangat berharga," sahut Vier.
"Ngomong-ngomong, siapa nama Anda?" tanya Dokter Reno pada Vaya.
"Saya Vaya," jawab Vaya.
Dokter Reno mengeluarkan peralatan medis dari dalam tas yang dibawanya. Beliau mengeluarkan termometer digital untuk mengukur suhu tubuh Vaya, dan sebuah tensimeter digital.
Vaya mengapit termometer di ketiaknya, sembari menunggu Dokter Reno memasang alat pengukur tekanan darah.
"Ada keluhan apa saja?" tanya Dokter Reno.
"Saya rasa asam lambung saya naik, dan sepertinya masuk angin juga," jawab Vaya.
"Tekanan darah Anda biasa rendah?" tanya Dokter Reno.
"Iya, tekanan darah saya memang rendah," jawab Vaya.
Dokter Reno memakai stetoskop untuk melakukan pemeriksaan pada tubuh Vaya.
"Ugh, hoek," Vaya kembali mual.
"Kapan terakhir kali Anda datang bulan?" tanya Dokter Reno.
"Bulan kemarin," jawab Vaya.
Vier menatap Vaya dengan tatapan penuh intimidasi. Entah mengapa Vaya merasa bahwa Dokter Reno juga menaruh curiga pada Vaya.
"Dokter, saya tidak hamil, sungguh!" sela Vaya.
__ADS_1
"Apa Anda sudah memeriksakan diri?" tanya Dokter Reno.
"Saya tidak mungkin hamil, ini asam lambung saya saja yang sedang kumat!" jawab Vaya.
Vaya melotot ke arah Dokter Reno yang sepertinya berpikir bahwa Vaya tengah hamil.
"Jika kalian merasa berbuat, itu artinya sudah siap menghadapi konsekuensinya kan?" Dokter Reno melemparkan senyum ke arah Vaya dan Vier secara bergantian.
"Dokter, sungguh! Bagaimana bisa kecebong jantan membuahi betina tanpa melakukan kegiatan pembuahan?" tanya Vaya.
Dokter Reno mengerutkan keningnya. Vier mencebik sebelum akhirnya angkat bicara.
"Ya bisa saja kecebong jantan lain yang membuahi si betina," sahut Vier.
Ugh, pria ini! Geram Vaya.
"Dokter, menurut pendapat Anda, bagaimana caranya manusia melakukan fertilisasi eksternal?" tanya Vaya.
"Manusia bukan ikan yang bisa melakukan fertilisasi secara eksternal kan?!"
"Fertilisasi eksternal? Haha!" Vier tertawa.
"Sudah, jadi intinya kalian ini merasa berbuat bersama atau tidak?" Dokter Reno menyela perdebatan yang mulai terjadi antara Vier dan Vaya.
"Aku tidak merasa berbuat, Dokter Reno, tapi dia yang berbuat bersama pria lain!" tuding Vier.
"Vier! Kau jangan bicara sembarangan! Aku ini masih suci!" sergah Vaya.
"Haha! Suci dari mananya? Pendosa sepertimu jangan mengaku suci!"
Ugh! Dasar Vier!
"Dokter Reno, sungguh, saya bahkan belum pernah melakukan fertilisasi internal, bagaimana caranya saya bisa hamil? Saya bukan amoeba yang bisa membelah diri atau pun hewan hermafrodit yang memiliki kelamin ganda!" sergah Vaya.
Mike menyembunyikan tawanya, entah mengapa perdebatan antara Vaya dan Vier terkesan macam anak sekolah yang sedang melakukan presentasi mengenai sistem reproduksi hewan.
"Aku yakin, asam lambungku ini jadi naik karena pola diet ekstrem yang harus kujalani!" tambah Vaya.
"Diet?" tanya Dokter Reno.
"Vaya, jangan salahkan pola dietnya! Salahkan dirimu yang gatal karena sudah sembarangan tidur dengan pria lain!" sahut Vier.
"Vier! Kau jangan asal bicara! Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki lain!" Vaya membela dirinya.
"Haha, pendusta sepertimu mana mungkin bisa kupercaya!" sergah Vier.
"Sudah! Sudah! Daripada ribut begitu, lebih baik langsung tes kehamilan saja," usul Dokter Reno.
"Nona, jika Anda memang sedang mengandung, syukuri kehamilan Anda sebagai sebuah anugerah dari Tuhan. Jika memang Anda tidak mengandung, yang bisa Anda lakukan saat ini adalah memulihkan fisik Anda. Saya akan menuliskan resep vitamin, selain minum vitamin, perbanyak istirahat, dan hindari pola diet yang ekstrem," Dokter Reno memberi penjelasan.
Vaya dan Vier masih saling melemparkan tatapan sinis.
Vaya sungguh tidak terima dituduh hamil seperti ini. Terlebih dituduh hamil anak pria lain.
...*****...
Dokter Reno segera berpamitan usai memberikan resep vitamin untuk Vaya. Mike mengantar Dokter Reno pergi meninggalkan kamar.
"Mike, apa wanita itu kekasih baru Vier?" tanya Dokter Reno.
Mike menggeleng pelan. "Bukan, Dokter," jawabnya.
"Lantas siapa beliau?" tanya Dokter Reno.
__ADS_1
"Bu Vaya adalah istri Pak Vier," jawab Mike.
"Oh, istri?" tanya Dokter Reno. "Serius, Mike?"
"Benar, mereka belum lama menikah," jawab Mike.
"Kenapa saya tidak diundang?" tanya Dokter Reno.
"Maaf, Dokter Reno, Pak Vier kebetulan menginginkan pernikahan yang bersifat tertutup," jawab Mike.
"Oh, begitu," sahut Dokter Reno. "Kalau memang mereka suami istri, kenapa mereka meributkan masalah kehamilan? Vier bahkan sampai menuduh istrinya hamil dengan pria lain."
"Hmm, mungkin Pak Vier dan Bu Vaya belum siap untuk punya momongan karena masih dalam fase bulan madu," jawab Mike sekenanya.
"Haha, yah, saya bisa mengerti," Dokter Reno tertawa kecil.
"Terima kasih sudah kemari, Dokter, sampai jumpa lagi," Mike mengantar kepergian pria paruh baya itu.
...*****...
"Vier, kenapa kau begitu yakin bahwa aku hamil?" tanya Vaya.
Vaya masih melemparkan tatapan skeptis ke arah Vier.
"Ya karena kau menunjukkan tanda-tanda kehamilan yang terlihat sangat nyata. Kau mengalami mual dan muntah di pagi hari, morning sickness begitulah orang-orang menyebutnya."
"Aku tidak hamil, Vier!" sergah Vaya. "Aku paling hanya masuk angin. Penyakit umum yang menyerang orang miskin!" Vaya membela dirinya.
"Khukhu," Vier terkekeh.
"Vaya, kau ini mau sampai kapan terus berdusta padaku? Vaya, kau bahkan terang-terangan berkencan dengan pria lain di depan mataku!"
"Vier, aku tidak hamil! Kau sungguh harus tahu, aku bahkan belum pernah tidur dengan pria mana pun! Bagaimana caranya aku bisa hamil tanpa melakukan persetubuhan dengan seorang pria?!"
"Apa kau berpikir bahwa Tuhan meniupkan roh suci ke dalam rahimku?"
Vaya masih melayangkan tatapan skeptis ke arah Vier yang memasang ekspresi masam.
"Ya, aku mana aku tahu! Apa kau pikir aku bisa tahu apa yang kau lakukan di luar sana tanpa sepengetahuanku?" tanya Vier.
"Aku kan bukan Tuhan yang Maha Tahu segalanya!" lanjut Vier.
"Vier, bagaimana kau bisa berpikir berlebihan seperti itu?" Vaya balik bertanya.
Vier memicingkan matanya.
"Vier, meski tubuhku ini penuh dengan timbunan lemak jahat, sama sekali tidak menarik di mata pria seperti yang kau bilang, tapi aku tidak akan semurah dan semudah itu menyerahkan tubuhku."
"Aku bukan orang macam kau yang bisa dengan mudah tidur dengan orang yang kau mau," lanjut Vaya.
"Ya, ya, tidak ada pria yang mau tidur denganmu karena kau itu jelek dan tidak menarik," ejek Vier.
"Ya, biar saja aku ini jelek dan tidak menarik. Untuk apa cantik tapi murahan?" ketus Vaya.
"Haha!" Vier tertawa. "Sudahlah, kau tidak perlu bersikap sok suci seperti itu, Vaya! Toh bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau pernah melakukan aborsi saat masih sekolah?"
"Vier, itu hanya kebohongan!" sergah Vaya. "Aku berbohong Vier! Aku berbohong!"
Vier melangkah mendekat ke arah Vaya, ia segera duduk di tepi tempat tidur, mengulas seringaian khasnya.
"Vaya, aku rasa sebaiknya aku harus mencicipimu untuk membuktikan apakah kau memang benar-benar sesuci perkataanmu."
Vier menyeringai horor ke arah Vaya yang terpaku mendengar ucapan Vier.
__ADS_1
Ya, umpan sudah dilempar, tinggal menunggu apakah akan bersambut atau tidak.
...*****...