
"Pftt..."
Vier menahan tawanya melihat ekspresi Vaya yang benar-benar ketakutan. Tubuh wanita itu bahkan bergetar hebat dengan mata tertutup.
Vaya membuka mata, mendapati Vier yang lagi-lagi tersenyum mengejek.
"Vaya, apa kau pikir aku ini kucing yang tertarik dengan ikan buntal sepertimu?"
"Hee?"
"Turun! Kau berat! Dasar gendut!" sergah Vier.
Vaya cepat-cepat merayap turun dari pangkuan Vier.
"Jauhkan pikiran kotor dari pikiranmu," Vier menyundul kepala Vaya dengan telunjuknya.
"Tak ada hasratku yang bisa bangkit melihat perutmu yang bergelambir begitu, haha!"
Lagi-lagi Vaya menjadi korban body shamming Vier.
"Terima kasih, Vier. Kau benar-benar sungguh pria berkelas dan berselera tinggi," puji Vaya.
"'Tentu saja!" sahut Vier penuh kebanggaan.
"Memang hanya Selena yang pantas untuk menjadi istrimu. Kalian sungguh pasangan yang sangat serasi. Kalian sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk bersama sejak zaman dinosaurus," cerocos Vaya.
"Vier, kenapa kau tidak mencari Selena? Kalian kan saling mencintai. Aku sungguh tidak keberatan jika kalian kembali bersama. Kita bisa mengakhiri permainan rumah-rumahan ini, Vier. Kau bisa berbahagia bersama Selena. Sungguh, aku tidak akan menuntut apa pun darimu. Aku juga tidak akan berkoar-koar heboh karena kau menceraikanku," Lanjut Vaya.
"Vaya, cukup!" sergah Vier.
Vaya terdiam melihat ekspresi Vier yang berubah masam.
"Vier, tapi apa yang aku katakan adalah kebenaran kan?"
Vier mencengkeram pipi Vaya, Vaya tersentak kaget.
"Aku bilang cukup. Jangan bicarakan Selena," kata Vier.
Vier mengendurkan cengkeraman tangannya di pipi Vaya. Perlahan ia melepaskan wajah Vaya dari tangannya.
"Vaya, aku tanya padamu, sekarang yang menjadi istriku, Selena atau kau?" tanya Vier.
Vaya tidak menjawab, ia memilih menurunkan pandangan matanya.
"Jawab aku, Vaya!"
"A-aku," Vaya tergagap.
"Aku apa?!" nada bicara Vier naik setengah oktaf.
"Aku istrimu," jawab Vaya.
"Bagus, jadi kau sudah paham posisimu kan?" tanya Vier.
Vaya hanya mengangguk takut-takut.
"Jawab aku, Vaya!"
"Iya, iya, aku jawab!" sahut Vaya. "Tapi Vier, posisiku memang istrimu, namun itu kan hanya formalitas saja."
"Vaya, apa aku perlu memberimu hukuman?" tanya Vier.
Hee? Hukuman lagi?
"Tidak! Tidak! Maafkan aku, Vier!"
__ADS_1
Vaya kembali memijat kaki Vier.
"Ampun, Ndoro! Ampun!"
"Sepertinya aku memang harus memberimu hukuman," Vier menyeringai.
"Tidak! Vier! Kumohon," Vaya kembali memohon.
"Pokoknya mulai sekarang, setiap malam sebelum aku tidur, kau harus memijatku! Itu hukuman untukmu!"
"A-apa? Vier, mana bisa begitu!" sergah Vaya.
"Vaya, tidak melaksanakan hukuman sama saja kau melanggar peraturanku," Vier menyeringai.
Oh tidak!
"Lekas pijat yang benar!"
Vaya benar-benar kesal dengan Vier. Vier merupakan definisi dari dikasih hati minta jantung. Vaya kembali memijat kaki Vier.
Ada apa dengan Vier? Bukankah Vier begitu mencintai Selena? Tapi mengapa Vier malah tidak ingin membicarakan Selena?
Ugh! Dasar laki-laki ini! Sampai kapan aku harus memijatnya seperti ini?
Vaya mendongak, ia tersentak kaget melihat Vier yang sudah terlelap.
Hiih! Sejak kapan dia tertidur?!
Pelan-pelan Vaya melepaskan kaki Vier, perlahan turun dari tempat tidur menuju ke sisi Vier. Ia mendekat dan menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Vier. Memastikan bahwa pria itu sudah benar-benar tertidur pulas.
Vaya mengepalkan tangannya, ingin rasanya menonjok wajah Vier yang nampak innocent ketika terlelap. Alisnya tebal dengan bulu mata panjang, kulitnya cerah tanpa noda, hidungnya begitu mancung dengan sudut yang runcing, bibirnya merona pink, terlihat begitu sehat.
Ugh, ini bukan saatnya aku mengagumi wajah Vier! Aku harus pergi! Batin Vaya masih dengan tangan terkepal.
"Apa yang kau lakukan, Vaya?"
Vaya benar-benar terkejut melihat mata Vier yang tiba-tiba saja terbuka.
"A-aku hanya memeriksa apa kau sudah tidur," jawab Vaya sambil menautkan semua jemari tangannya.
"Kenapa kau berhenti memijatku? Apa aku sudah menyuruhmu untuk berhenti?" tanya Vier.
"Ya, kalau kau sudah tidur, aku bisa kembali ke kamarku," sahut Vaya.
"Kau benar-benar harus dihukum," kata Vier.
"Vier! Yang benar saja!" Vaya mendelik gusar.
"Berbaring di sini sekarang!" perintah Vier sambil menepuk sisi kasur yang kosong.
"Vier, jangan bercanda!"
"Vaya, apa kau pikir aku bercanda saat memberimu hukuman?" tanya Vier.
Vaya segera duduk di sisi Vier. Vier mengeluarkan tali yang tadi sudah ia siapkan di bawah bantal.
Vier mendorong Vaya ke atas tempat tidur, lalu merentangkan tali yang membuat Vaya terperanjat.
Vaya benar-benar hanya bisa pasrah saat kedua tangannya diikat menggunakan tali, tali tersebut dilanjutkan lagi untuk mengikat kedua kaki Vaya. Vaya benar-benar tak bisa bergerak.
"Vi-Vier! Kenapa kau mengikatku seperti ini?" tanya Vaya.
"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku sedang memberimu hukuman," jawab Vier sambil menyeringai.
"Vier, kenapa kau tidak menghukumku lari keliling halaman rumahmu sepuluh kali, atau membersihkan toilet saja?"
__ADS_1
"Haha!" Vier tertawa.
"Apa kau pikir rumahku ini sekolah?" Vier kembali menyeringai.
Vier mengambil gawai cerdasnya di atas nakas.
"Vi-Vier! A-apa yang kau lakukan? Apa kau akan merekamku dalam keadaan terikat seperti ini?" tanya Vaya.
Vier menyeringai horor, ia segera berbaring di sisi Vaya.
Ti-tidak! Dasar Vier gila!
...*****...
"Kyaaa!"
Vaya menjerit, disertai dengan tubuhnya yang meronta hebat.
"Vaya, diam! Jangan berisik!" tegur Vier.
"Vier! Itu hantunya datang! Itu hantunya datang!" teriak Vaya.
Vier menghentikan film yang baru saja mereka tonton selama lima belas menit. Film bergenre horor itu sukses membuat Vaya menjerit ketakutan bahkan mulai menangis sesenggukan.
Hukuman yang diberikan Vier benar-benar selalu sukses membuat Vaya ketakutan setengah mati. Dalam posisi tubuh yang terikat, menyaksikan film horor sungguh hukuman yang mengerikan.
"Vaya, kau benar-benar payah! Ini hanya film! Mana ada hantu di dunia ini!" sergah Vier.
"Vier, aku benar-benar sangat takut," kata Vaya gemetaran.
"Takut? Tapi kau berani saja setiap malam tidur di kamar yang ada di paviliun barat," Vier menyeringai.
"Ya, tapi di sana kan tidak ada hantu yang terlihat!" rutuk Vaya.
"Haha!" Vier tertawa lagi.
"Vier, aku mau pipis," kata Vaya.
"Apa?"
"Aku sudah tidak tahan," kata Vaya.
"Vaya, kau jangan bicara yang aneh-aneh."
"Vier, apa kau sungguh ingin melihatku ngompol?"
Vier terkesiap, ia segera membuka ikatan pada kaki Vaya.
"Vier, cepat! Aku mau pipis! Aku sudah tidak tahan!"
"Ya sebentar, aku buka dulu simpulnya!"
"Vier!" Rengek Vaya.
"Huh! Sial! Kenapa tidak mau terlepas?" keluh Vier.
"A-Apa?! Vier?! Kau serius?!" seru Vaya.
Vier pun akhirnya menggendong Vaya menuju ke kamar mandi.
Namun belum sempat Vaya duduk di dudukan kloset, Vaya yang sudah tidak tahan akhirnya melepaskan hasratnya.
Persetan dengan rasa malu yang lenyap entah ke mana.
Yang pasti saat ini Vaya tengah menikmati sisa-sisa pelepasan hasrat ingin pipis yang luar biasa melegakan tanpa peduli pada Vier yang mematung sambil menggendongnya.
__ADS_1
Entah mengapa hukuman dari Vier saat ini dirasa Vier bagaikan hukuman makan tuan.
...*****...