
Mike melirik ke arah jam tangannya, sudah berkali-kali pria itu melakukan hal tersebut, menunggu itikad baik dari sang pemilik gudang untuk datang memenuhi panggilan Mike. Namun sepertinya pria bernama Deri Sudrajat tersebut nampaknya bukan orang yang bisa diajak bersikap kooperatif. Terbukti dari beberapa kali Mike, bahkan Marno mencoba menghubungi pria itu namun nampaknya panggilan Mike hanya dianggap angin lalu saja.
Mike sudah memberi waktu kepada sang pemilik gedung hingga matahari terbit agar beliau merespon undangan Mike. Namun hasilnya nihil.
Mike pun akhirnya pergi ke kediaman Deri Sudrajat bersama Marno. Sesampainya di sana, Mike tidak menemukan pria itu. Menurut keterangan dari pengurus rumah, Pak Deri Sudrajat ada keperluan yang membuat beliau sudah meninggalkan rumah sejak pagi.
"Pak Deri ada urusan pribadi, beliau pergi bersama ibu beliau."
"Apa beliau ke luar kota?" tanya Mike lagi.
"Tidak, Pak Deri tidak keluar kota," jawab pengurus rumah.
Mike menghela napas berat, bagaimana ia bisa menemukan pria itu?
Pergi pagi-pagi bersama ibu, bukankah itu terdengar seperti urusan keluarga? Pikir Mike.
"Pak Marno, apakah Anda tahu, tempat tinggal keluarga atau kerabat Pak Deri di kota ini?" tanya Mike.
Marno memang pernah mendengar bahwa Pak Deri masih memiliki kerabat dekat yang tinggal di kota yang sama.
Setelah mencari nama kerabat beserta alamatnya, Mike mengerutkan kening. Alamat tersebut persis dengan alamat rumah orang tua Vaya.
Mike beserta para pengawal bergerak menuju ke rumah itu, siapa tahu orang yang dicarinya ada di sana.
Sepertinya Mike memang harus menggunakan cara penggerebekan untuk menjatuhkan mental seseorang. Terlebih orang yang dihadapi Mike ini bukanlah orang yang bisa bersikap kooperatif.
Langkah Mike terhenti di halaman rumah, telinganya menangkap adanya keributan dari dalam rumah tersebut.
Bukannya di rumah ini ada Pak Vier? Jangan bilang Pak Vier terlibat pertengkaran! Batin Mike.
Mike segera memasuki rumah tersebut, penghuninya nampak sedang bersitegang hingga mengabaikan kehadiran Mike yang sudah berdiri di ambang pintu.
Mike memberi kode kepada dua orang penjaga untuk meringkus pria bertubuh gempal yang tak lain adalah Deri Sudrajat.
Deri meronta begitu dua pengawal meringkusnya dari belakang.
"Ada apa ini?! Siapa kalian?! Lepaskan Deri!" teriak Darti.
Vaya pun terperangah menyaksikan drama penyergapan Deri. Entah mengapa ia jadi teringat penyergapan yang pernah dilakukan Vier padanya.
Bu Asih, Aria, dan Rian hanya bisa melongo melihat kejadian dramatis yang terjadi begitu cepat di hadapan mereka.
"Mike," Vier memberi kode.
Mike memahami kode tersebut, ia pun memberi kode pada dua pengawal untuk melepaskan Deri.
"Maaf, saya terpaksa melakukan ini, karena Anda tidak bersikap kooperatif, Pak Deri," kata Mike meminta maaf.
"Enak saja kau ini main tangkap-tangkap! Siapa kau?! Berani-beraninya menyergapku seperti ini!" tantang Deri.
"Bisa-bisanya kau menuduhku sebagai pemilik kosmetik palsu! Atas dasar apa kau menuduhku begitu?! Kau mau kulaporkan polisi?!" semburnya lagi.
"Pak Deri, bagi saya justru Anda yang harusnya saya laporkan kepada pihak kepolisian. Kosmetik yang Anda terima di gudang Anda merupakan kosmetik palsu," kata Mike sambil menunjukkan dokumen-dokumen pendukung.
"Apa?!" teriak Deri penuh kemurkaan. "Huh, yang benar saja! Kau jangan mengada-ada ya! Aku adalah orang yang paling tahu dan paling paham tentang semua barang yang singgah di gudang milikku! Lancang sekali kau datang dan memeriksa gudangku! Aku benar-benar akan melaporkanmu ke polisi!" sembur Deri.
"Aku rasa yang akan ditangkap oleh pihak kepolisian adalah kau," Vier menyela sambil mengambil dokumen di tangan Mike.
__ADS_1
"Hei, tukang ronda! Kau tidak usah ikut campur urusanku!" sergah Deri.
Tukang ronda? Mike menautkan kedua alisnya.
"Pokoknya aku tidak mau tahu! Aku akan melaporkan kalian ke polisi karena sudah lancang memasuki gudangku! Produk yang kuterima didatangkan langsung dari pabrik besar yang memproduksi brand kosmetik ternama! Bisa-bisanya kau menuduhku dengan mengatakan bahwa produk itu palsu!" cecar Deri.
Deri merampas dokumen dari tangan Vier.
"Ini produk OMG asli dan aku mendapat kehormatan untuk menjadi distributor tangan pertama! Bisa-bisanya kau menuduhku memiliki produk palsu! Huh! Bilang saja kau iri dengan posisiku!" tandas Deri.
Vier dan Mike saling bertukar pandang terhadap pria bertubuh gempal yang memiliki kepercayaan diri terlalu berlebihan ini. Bisa-bisanya bicara omong kosong begitu di hadapan pemilik resmi brand OMG.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa di pengadilan," kata Vier pada akhirnya.
"Hei, tukang ronda! Apa maksudmu?! Kenapa dari tadi kau ikut campur begitu?!" sergah Deri.
Vier hanya mengulas senyum misteriusnya.
"Kenapa aku harus berjumpa denganmu di pengadilan?!" sergah Deri.
Vier kembali menyeringai horor.
"Akan kupastikan bahwa Anda akan dijerat pasal berlapis, mulai dari kepemilikan produk kosmetik palsu, hingga pendistribusian produk palsu yang bukan berasal dari brand resmi OMG kosmetik," kata Vier.
"Hei! Memangnya kau siapa berani-beraninya kau mengancam Deri seperti ini?!" Darti yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Biar tim kuasa hukumku yang menjelaskan semuanya. Mike, layangkan gugatan dan jerat dengan pasal berlapis," Vier kembali menyeringai horor.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Vier.
"Baik, Pak," sahut Mike.
"Tunggu! Apa maksud semua ini?! Aku sungguh tidak mengerti!" Deri masih dipenuhi dengan tanda tanya.
...*****...
Deri seketika menegang begitu menutup telepon dari rekan bisnisnya. Wajah pria itu memucat seakan darah tidak lagi mengalir di wajahnya. Tubuhnya seketika bergetar hebat, keringat dingin bercucuran, napasnya bahkan terdengar hanya satu-satu.
"Deri, kamu kenapa?" tanya Darti.
Deri tak menjawab pertanyaan ibunya, dengan langkah penuh kemarahan pria itu keluar dari rumah.
Deri segera menghampiri Mike yang menunggu di luar rumah. Mike masih sibuk berbincang di telepon, melakukan konfirmasi ke sana kemari untuk membereskan masalah ini.
"Hei, Bung!" panggil Deri begitu Mike selesai menelepon.
"Siapa kau sebenarnya?!"
Mike mengulas senyum ramah.
"Anda akan tahu siapa saya begitu Anda menerima surat tuntutan," jawab Mike diplomatis.
"Brengsek kau!" Deri mencengkeram kerah jas Mike.
Mike masih mengulas senyum penuh ketenangannya.
"Pak Deri, bukankah saya sudah berusaha menghubungi Anda? Berharap Anda bersikap kooperatif namun Anda malah mengabaikan semua pesan yang saya sampaikan."
__ADS_1
"Bagi saya, pengabaian artinya Anda menantang dan menentang. Sehingga saya pun harus mengambil tindakan yang diperlukan," lanjut Mike.
Mike melepas tangan Deri dari jasnya.
"Yang perlu saya tekankan kepada Anda saat ini adalah bahwa Anda sudah melakukan kesalahan sehingga harus menerima konsekuensi atas kesalahan tersebut."
Deri menegang mendengar perkataan Mike. Saat ini entah mengapa ia merasakan firasat yang sangat buruk.
...*****...
Vaya segera memasuki kamarnya untuk menyusul Vier yang baru saja selesai mandi, ia mendapati Vier yang saat ini sedang memakai celana panjangnya.
"Vier, sebenarnya ada apa ini? Kenapa kau sampai menuntut Deri segala?" tanya Vaya.
Vier mengulas senyumnya.
"Vaya, ada hal yang sebaiknya tidak perlu kau ketahui demi profesionalisme. Bisnis adalah bisnis," kata Vier.
Vaya merengut mendengar jawaban Vier.
"Vaya, jangan merengut di depanku. Aku tidak suka melihatmu begitu," ucap Vier.
Vaya makin memajukan bibirnya bersenti-senti, dan itu membuat Vier menjadi gemas.
Vier segera mengambil wajah Vaya dan langsung melumaat kembali bibir Vaya. Vaya terperanjat dengan ciuman Vier yang kembali mengganas.
"Ehmph, Vi-Vier!" Vaya berusaha melepaskan bibirnya dari pagutan Vier.
Ciuman Vier makin menuntut, ada rasa kesal yang sedari tadi harus ditahannya yakni kenyataan bahwa Vaya hendak dijual oleh tante macan tutul itu tepat di depan matanya.
Vaya berusaha melepaskan diri dari pagutan Vier yang makin menjadi. Vier bahkan mendorong Vaya ke depan pintu kamarnya.
Semakin keras Vaya mendorong Vier, maka Vier pun akan semakin keras menempel padanya.
Ugh Vier! Aku tidak bisa bernapas! Jerit Vaya dalam hati.
Vaya mengalah, ia mengalungkan tangannya ke leher Vier, menerima ciuman Vier. Vier mengulas senyumnya, memperlambat ritme untuk menikmati ciuman mereka.
"Kak Vaya!"
Rian berseru sambil membuka pintu kamar Vaya. Tubuh Vaya terdorong pintu, ia jatuh terjerembab di lantai bersama Vier.
Rian terperangah melihat kakaknya yang nampak sedang bergulat dengan kakak iparnya yang setengah telanjang.
"Aku tidak lihat apa-apa! Tidak lihat!" Rian tertawa-tawa.
Gila! Pantas saja kudengar ada jedag-jedug! Ternyata Kak Vaya sungguh agresif! Wajar saja kakak ipar bucin begitu! Pikir Rian.
Vier menyeringai melihat Vaya yang nampak menunduk malu karena Rian memergokinya.
Ugh! Dasar Vier! Rian pasti sudah berpikir yang aneh-aneh! Ya pasti begitu! Batin Vaya.
"Ayo kita lanjutkan, aku masih belum puas," goda Vier.
"Ihh! Apa sih, Vier!" Vaya berusaha melepaskan diri dari Vier.
...*****...
__ADS_1