
Selena.
Mendengar nama Selena disebut, otak Vaya langsung membawa bayangan wanita secantik boneka Barbie, dengan pakaian glamor yang memekik histeris tatkala Vaya melontarkan sebuah kebohongan tentang tunangannya.
Dan siapa yang akan menyangka bahwa akibat kebohongan yang dilontarkan oleh Vaya, rencana pernikahan Selena dan tunangannya harus berantakan.
Di mana Selena?
Pertanyaan itu jelas menjadi sebuah pertanyaan yang membuat paru-paru Vaya seakan diremaas oleh dua saudari Vier yang saat ini masih melemparkan tatapan skeptis ke arah Vaya.
"Haha! Honey, untuk apa aku harus datang bersama Selena, sedangkan saat ini sudah ada Vaya di sisiku," Vier menjawab sembari tertawa.
"Vier, apa maksudmu?" tanya Missyu.
Wanita berusia lima tahun di bawah usia Vier itu jelas bertanya-tanya.
"Bukankah sudah jelas, Vaya ada di sisiku, karena Vaya adalah istriku," sahut Vier enteng.
Ekspresi terkejut di wajah cantik Missyu dan Honey tak bisa ditutupi.
"Vi-Vier! Bukankah yang akan kau nikahi itu Selena? Kenapa tiba-tiba kau menikah dengan...," Honey menahan kalimatnya.
"Honey, Vaya adalah istriku," potong Vier dengan cepat.
Honey dan Missyu kembali saling melemparkan pandangan mereka.
"Wah, wah, ada apa ini? Sepertinya aku ketinggalan kabar yang menarik."
Perhatian semua orang teralih saat melihat sosok pria berpenampilan mencolok yang langsung membuat semua pandangan tertuju padanya.
Pria bersetelan jas warna putih dengan kemeja motif bunga-bunga kuning dan biru itu langsung menyita perhatian Vaya. Rambut cokelat terang yang tertata rapi, bermata biru, dan bertubuh ramping itu memiliki wajah yang membuat Vaya tak mampu berkedip.
Vaya jadi teringat bahwa boneka Barbie memiliki pasangan bernama Ken. Ya, pria itu seakan menjelma menjadi sosok Ken dalam dunia nyata.
Keningnya lebar dengan kedua alis yang tinggi dan presisi, hidung kecil yang ramping dan mancung, tulang pipi super tinggi, bibir tebal yang penuh merona pink segar berkilau lengkap dengan dagunya yang terbelah tengah pada bagian ujungnya.
"Praise!"
Missyu dan Honey langsung bergantian memeluk pria Barbie itu.
__ADS_1
Pria berpenampilan ala boneka Barbie itu bernama Praise yang merupakan kakak sulung Vier.
"Missyu, Honey, miss you!" Praise merangkul kedua saudarinya.
Praise melemparkan senyumnya ke arah Vier. Mengamati penampilan Vier dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Huh, Vier, kau masih tetap terlihat, hmm, jelek!" ujar Praise dengan nada mengejek.
Haah?! Vier yang seperti ini dikatai jelek? Apa dia tidak berkaca? Batin Vaya melengos.
"Biar saja jelek, yang penting aku sudah laku, haha!" Vier tertawa menanggapi ejekan kakaknya.
"Haha! Vier, apa kau sungguh bangga memiliki istri macam kado natal begini?" Praise melemparkan tatapan mencemooh ke arah Vaya.
"Hmm, yeah, aku rasa istriku ini adalah kado natal terbaik yang pernah kumiliki," sahut Vier.
Ucapan Vier yang penuh kebanggaan membuat Praise makin dongkol.
"Vier, Praise, Ayah dan Ibu sebentar lagi akan datang."
Dearmine, adik laki-laki Vier segera menyela sebelum kedua kakak laki-lakinya kembali memulai perdebatan yang justru akan membuat situasi jadi kurang kondusif.
"Di- Dear diary?" tanya Vaya sambil menyambut uluran tangan pria berwajah manis itu.
Dearmine mengulas senyumnya. Namanya yang unik memang terdengar sulit untuk disebut.
"Dearmine," Dearmine mengulangi.
Vaya menyeringai kikuk. Ia benar-benar terkejut mendengar nama saudara-saudara Vier yang benar-benar unik.
Vaya segera menuju ke kursinya bersama Vier. Semua saudara Vier juga melakukan hal yang sama.
"Pak Vier, Bu Vaya, saya pamit dulu," Mike berpamitan.
Vier menjawab dengan anggukan, sementara pandangan Vaya masih mengikuti Mike hingga pria itu menghilang dari balik pintu restoran.
Sepeninggal Mike, mata Vaya langsung tertuju pada sosok pria berusia sepuh, berjalan dengan tongkat kayu panjang berwarna hitam di tangan kanannya.
Setelan jas hitam yang dikenakannya terlihat sempurna. Pria dengan rambut yang masih terlihat hitam, wajahnya tegas dengan mata tajam langsung mengamati semua anak-anaknya.
__ADS_1
Javier Yanjayadi, pria berusia hampir kepala tujuh itu masih memancarkan aura kharismatik yang begitu kuat.
Ibu Vier bernama Cintami, tubuhnya masih terlihat bugar dalam balutan gaun berwarna hitam tertutup.
Atmosfer menegangkan langsung terasa menekan paru-paru Vaya. Kedua orang tua Vier memiliki aura yang sangat kuat hingga Vaya merasa terintimidasi.
Setelah kedua orang tua Vier duduk di kursi mereka masing-masing, barulah seluruh anak-anaknya diperkenankan untuk duduk.
Hal itu seakan menjadi sebuah peraturan tak tertulis yang sudah menjadi tradisi di keluarga Vier.
Vaya mengamati satu per satu ekspresi penuh ketegangan dari semua saudara dan saudari Vier. Vaya sungguh baru tahu bahwa Vier ternyata memiliki dua saudara dan dua orang saudari.
Praise. Pria itu sebenarnya pastilah memiliki wajah yang tampan, hanya saja obsesinya terhadap boneka Barbie membuat wajah pria itu terlihat aneh. Entah berapa banyak prosedur bedah plastik dan filler yang membentuk wajah idealnya.
Dearmine memiliki wajah yang lebih lembut, ramah, dan senyumnya manis. Pria muda yang mengenakan kemeja berwarna abu-abu gelap dipadukan dengan rompi rajutan berwarna putih. Sungguh mencerminkan anak baik-baik yang rajin belajar.
Sementara Honey, kakak perempuan Vier, memiliki tubuh tinggi menjulang bak model, sepatu tingginya membuat wanita itu hampir setinggi Praise. Ia memakai setelan blazer berwarna magenta yang sangat modis.
Missyu, wanita muda yang dikira Vaya adalah salah satu mantan kekasih Vier tampil memakai bolero berwarna putih yang dipadukan dengan kemeja berwarna merah muda lembut dan rok model tutu warna senada.
Keempat saudara Vier jelas memusatkan pandangan mereka pada Vaya. Sosok yang menurut mereka jelaslah sosok asing yang diakui Vier sebagai istri. Padahal setahu mereka, wanita yang diperkenalkan Vier saat acara pertunangan Vier tahun lalu adalah Selena.
Selena yang begitu cantik hingga membuat Praise merasa luar biasa iri pada Vier yang selalu mendapatkan wanita-wanita cantik dengan tampangnya yang sungguh biasa-biasa saja jika harus dibandingkan dengannya.
Dan sekarang wanita berkulit gelap dengan gaunnya yang berwarna seperti bungkus kado natal itu jelas membuat Praise ingin mengejek Vier habis-habisan.
Bagaimana bisa Selena yang luar biasa cantik itu digantikan oleh seorang wanita dengan tampang biasa-biasa saja?
Apa dia putri dari salah satu kerajaan yang ada di Benua Hitam makanya Vier sampai bersedia menukar Selena dengan wanita ini? Batin Praise bertanya-tanya sambil menduga-duga.
Praise bahkan tidak mau mengencani wanita yang kecantikannya di bawah kecantikan para kekasih Vier.
Pandangan Javier dan Cintami segera tersita pada sosok asing yang saat ini duduk dengan penuh ketegangan di samping Vier.
Vier bisa membaca dengan jelas ekspresi kedua orang tuanya yang pastilah bertanya-tanya siapakah gerangan wanita yang dibawa Vier untuk menghadiri agenda tahunan keluarga mereka.
"Ayah, Ibu, perkenalkan, ini istriku, Vaya," ucap Vier dengan nada tanpa keraguan.
...*****...
__ADS_1