Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
077 - Jovy


__ADS_3

Grace menyambut kedatangan seorang pria yang nampak mendelik gusar begitu tiba di depan meja bartender.


Pria berambut gondrong yang malam ini mengikat rambut panjangnya dengan kuncir kuda.


Mata pria itu langsung tertuju pada Niki yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala menempel di atas meja.


"Grace, aku sungguh minta maaf karena Niki jadi merepotkanmu," kata pria itu meminta maaf.


"Tidak Jovy, justru aku yang berterima kasih karena kau mau datang untuk menjemput Niki," kata Grace.


"Berapa banyak minuman yang dihabiskan Niki?" tanya Jovy.


"Sekitar hampir sepuluh gelas," jawab Grace.


"Ck, dasar Niki!" keluh Jovy.


Grace mengulas senyumnya pada Jovy. Jovy melihat gelas kosong yang ada di depan Grace.


"Grace, kau juga minum?" tanya Jovy.


"Hmm, ya, hanya sedikit saja," jawab Grace.


"Grace, meski hanya sedikit, kau tetap saja minum. Biar aku mengantar kalian pulang," kata Jovy.


Jovy segera memapah Niki yang tak sadarkan diri.


...*****...


Setelah mengantar Niki ke apartemennya, Jovy pun mengantar Grace pulang.


Di dalam mobil, kedua orang yang sudah saling mengenal lama itu pun lebih banyak diam, sampai akhirnya pria berambut panjang itu membuka pembicaraan.


"Grace, kenapa kau dan Niki minum-minum? Apa ada masalah?" tanya Jovy ke arah Grace yang duduk di sampingnya.


"Hmm, begitulah," jawab Grace.


Grace menyandarkan kepala pada tangannya yang menempel di kaca mobil.


"Ck, kurangi kebiasaan kalian melampiaskan masalah dengan alkohol," kata Jovy.


Grace melirik Jovy dengan sudut matanya.


"Jovy," ucap Grace ragu-ragu.


"Kata Niki, kalian berencana untuk menikah," lanjut Grace.


Jovy tertegun, Grace mengulas senyum ke arahnya.


"Aku sungguh terkejut kalian memutuskan untuk menikah," kata Grace.

__ADS_1


Jovy menghela napasnya dengan kedua alis terangkat tinggi.


"Grace, sebenarnya, aku dan Niki bukan berencana untuk menikah. Kami hanya membicarakan masalah pernikahan," Jovy mencoba meluruskan.


"Ya, itu berarti, kalian memang berencana untuk menikah, begitu kan?"


Jovy kembali menghela napas berat, ia melepaskan satu tangannya dari kemudi lalu mengambil tangan Grace dan menggenggamnya erat.


"Grace, wanita yang ingin kunikahi itu adalah kau," kata Jovy.


Grace mengulas senyumnya ke arah Jovy, terlebih saat Jovy membawa Grace ke apartemennya. 


Begitu pintu apartemen Jovy terbuka, keduanya langsung saling berciuman dengan penuh hasrat yang menggebu.


Bagi Grace, hanya Jovy saja pria yang bisa memuaskan hasratnya. Pria inilah yang mengambil keperawanannya saat mereka sama-sama kuliah di luar negeri. Menjalin hubungan rahasia tanpa ada seorang pun yang tahu, bahkan hingga detik ini.


Itulah sebabnya Grace meminta Jovy untuk berkencan dengan Niki. Grace tahu bahwa Niki tergila-gila pada Vier, sehingga Grace tidak perlu cemas Jovy akan berpaling darinya.


Grace selalu merasa puas dengan apa yang dilakukan oleh Jovy terhadap tubuhnya.  Hal tersebut terjadi dikarenakan Jovy sudah sangat paham apa yang diinginkan Grace. Keinginan Grace yang tidak didapatkan oleh wanita itu dari pria yang menikahinya.


Setiap kali mereka bertemu, keduanya pasti berakhir di tempat tidur, seperti saat ini.


Tanpa sehelai benang yang menempel, peluh yang membanjiri tubuh mereka yang menyatu selaras dengan lenguhaan, dan erangaan Grace yang selalu sukses membakar gairah Jovy.


Jovy sungguh ingin menikahi Grace, hanya saja orang tua Grace justru menjodohkan Grace demi kepentingan bisnis. Meski Grace telah menikah, namun Jovy tetap memenuhi perannya sebagai pria yang memuaskan hasrat Grace. 


"Grace, tidak bisakah kau bercerai dari suamimu?" tanya Jovy. "Aku sungguh ingin memilikimu seutuhnya."


"Aku tidak ingin membagi tubuhmu dengan pria lain," pelukan Jovy makin erat.


"Jovy, hanya kau yang bisa membuatku merasa sangat puas seperti ini," kata Grace.


Jovy mendelik gusar, sudah beratus-ratus kali ia mendengar Grace mengatakan hal yang sama. Grace berbalik menghadap Jovy. Ia menyingkap rambut panjang Jovy ke belakang telinga pria itu.


"Jovy, kau pasti tahu kan, saat ini perusahaanku masih terikat kerja sama dengan perusahaan Yoseph. Aku belum bisa melepaskannya begitu saja dan aku pun tetap harus mendukung perusahaanmu, Jovy," ucap Grace.


Grace menatap kekasihnya itu. Hubungan mereka memang mendapat tentangan dari orang tua Grace lantaran kedua orang tuanya merasa bahwa Jovy kurang setara dengan mereka. Oleh sebab itu, Grace pun memberi dukungan penuh agar suatu saat nanti Jovy dan perusahaannya tidak akan dipandang sebelah mata.


Jovy mengecup bibir Grace sambil membelai lembut rambut Grace.


Grace menatap jam digital yang ada di atas nakas. Jam baru menunjukkan pukul dua dini hari.


"Aku harus pulang, Jovy," kata Grace.


"Menginaplah malam ini, Grace," bujuk Jovy. "Kita sudah lama tidak melihat matahari terbit bersama."


"Benarkah?" tanya Grace keheranan.


Jovy mengangguk. "Besok aku akan mengantarmu pulang."

__ADS_1


"Besok aku harus ke kantor lebih awal, ada meeting dengan klien," sahut Grace.


"Grace," rengek Jovy sambil memburu leher jenjang Grace.


"'Jovy," Grace tertawa.


"Aku mencintaimu, Grace," ucap Jovy.


Sebelum akhirnya keduanya kembali melanjutkan untuk menghabiskan malam panas bersama.


...*****...


Vaya terbangun dari tidurnya, matanya langsung mengedarkan pandangan ke segala arah. Ia terlalu kaget karena saat ini sedang berada di dalam kamar bernuansa putih. Jam di atas nakas yang berada di samping tempat tidur masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Vaya jadi terbiasa bangun lebih awal karena harus melakukan olahraga pagi.


Ia turun dari tempat tidur, berjalan pelan, lalu membuka pintu kamar.


Di ruang tamu, ia melihat Yoran yang masih terlelap di sofa. Semalam, Yoran memang meminta Vaya untuk tidur di kamarnya.


Vaya menuju ke dapur, bersiap memasak sarapan untuk Yoran.


Yoran terbangun dari tidur, hidungnya mengendus aroma harum masakan. Matanya mengerjap dan langsung tertuju ke arah dapur.


Ada seseorang yang sedang sibuk berkutat di dapurnya.


"Yoran, kau sudah bangun?"


Sapaan dan senyum ramah langsung membuat Yoran ikut menarik lengkungan senyum di wajahnya.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Vaya.


Yoran mengangguk pelan, matanya masih mengikuti Vaya yang saat ini sedang menata meja makan.


"Segeralah bersiap, sebentar lagi kau harus ke bandara kan" ucap Vaya.


Entahlah, saat ini Yoran benar-benar merasa senang. Setidaknya pagi ini ia tidak terbangun sendirian. Di meja makan bahkan sudah tersedia sarapan yang disiapkan oleh seseorang yang bukan bekerja sebagai pelayan.


Yoran segera bergabung di meja makan bersama Vaya. Vaya tentu saja terpesona pada Yoran yang terlihat sudah tampan, rapi, dan wangi.


"Silakan dimakan, Yoran, maaf aku hanya menyiapkan masakan yang paling mudah saja," kata Vaya.


"Terima kasih," kata Yoran.


Yoran mulai memakan roti lapisnya.


"Bagaimana? Enak?" tanya Vaya.


Yoran mengangguk sambil mengulas senyumnya. Senyum yang cukup membuat Vaya merasa begitu bahagia.


Sungguh pagi yang membuat Vaya merasa lebih istimewa dibandingkan pagi-pagi yang lalu yang harus dilaluinya dengan begitu banyak drama pagi. Mulai dari bangun pagi, latihan fisik, hingga memasak sarapan.

__ADS_1


Pagi yang sungguh istimewa bagi Vaya, karena dilalui bersama seseorang yang disukainya hampir selama separuh hidupnya.


...*****...


__ADS_2