Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
171 - Drama Nasi Goreng


__ADS_3

Suasana penuh ketegangan masih tercipta di antara Vaya dan Vier. Keduanya masih tetap bungkam dan berperang dingin tanpa kata-kata.


Aria yang baru saja mengganti pakaiannya hanya bisa mengintip.


Ia bahkan memutuskan untuk tidak perlu ikut campur urusan kakak dan kakak iparnya. Kemudian ia mengendap-endap naik ke lantai atas untuk menghampiri Mike dan Vero.


Aria benar-benar merasa senang dan berbunga-bunga karena bisa melihat Mike lagi. Aria segera duduk tak jauh dari Mike dan Vero.


"Pak Mike, kapan datang kemari?" tanya Aria.


"Kami baru tiba sekitar satu jam yang lalu," jawab Mike singkat.


"Kok Pak Mike bisa tahu kalau kami di sini?" tanya Aria lagi.


"Kami hanya kebetulan mampir untuk berteduh sebelum melanjutkan perjalanan. Sungguh tak kami duga bahwa tempat inilah yang pada akhirnya menjadi tujuan kami," jawab Mike.


"Oh begitu," Aria manggut-manggut.


Aria kembali mengulas senyumnya.


"Pak Mike, bagaimana kabar Pak Mike selama ini?" tanya Aria lagi.


"Yah, saya baik-baik saja," jawab Mike singkat.


"Oh," Aria ber-oh.


Aria harus bertanya lagi sebelum obrolannya dengan Mike terhenti.


"Oh ya, apa Pak Mike sudah menikah?" tanya Aria lagi.


Mike terkesiap mendengar pertanyaan Aria. Mike bahkan tidak punya waktu untuk berkencan, bagaimana ia bisa punya kekasih terlebih lagi menikah?


Aria sungguh harap-harap cemas. Sepertinya ia benar-benar belum siap jika harus mendengar bahwa Mike sudah menikah. Terlebih selama tiga tahun ini, Aria sama sekali tidak pernah mendengar kabar tentang pria itu.


Aria terus mencuri pandang ke arah jemari tangan Mike yang polos tanpa ada cincin tersemat.


Tapi sekarang juga banyak pria yang tidak memakai cincin kawin. Bahkan Kak Vaya sendiri juga tidak memakai cincin kawin! Batin Aria gusar.


"Tante! Berisik ih, coba jangan banyak tanya begitu!" gerutu Vero.


Aria mendelik gusar mendengar gerutuan Vero.


"Aduh, Vero! Tante banyak tanya karena ingin tahu!" sahut Aria seraya terkekeh.


Huh! Dasar bocah ini! Biasa dia juga banyak tanya! Awas ya! Aria melotot ke arah Vero.


"Aku lapar!" Vero segera beranjak dari pangkuan Mike.


"Vero, tunggu sebentar lagi, ya!" cegah Mike.


"Aku lapar! Aku lapar!" seru Vero segera berlari.


Vero segera berlari ke lantai bawah. Mendadak ia terkejut mendapati ibunya yang berlinangan air mata.


"Ibu!"


"Ve-Vero!" Vaya tergagap, dengan cepat ia menyeka air matanya saat Vero berjalan mendekat.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Vero.


"Vero, Ibu tidak menangis," jawab Vaya.


Vero memicingkan matanya ke arah Vier.


"Pak Vier! Kau membuat ibuku menangis?" tanya Vero.

__ADS_1


"Tidak, Vero! Ibu tidak menangis," jawab Vaya dengan cepat.


"Pak Vier! Jangan mentang-mentang ayahku tidak ada, lalu kau bisa menjahati ibuku!" sergah Vero.


"Vero, cukup sayang," cegah Vaya.


Vier menatap Vero yang terlihat begitu marah padanya, ia pun segera berjongkok agar pandangan mereka bisa saling sejajar.


"Vero, mana mungkin aku menjahati ibumu," Vier mengusap lembut kepala Vero.


Vero menepis tangan Vier dengan cepat.


"Tidak usah sentuh-sentuh!" ketus Vero.


"Haha!" Vier tertawa melihat betapa ketusnya Vero.


"Ada yang lucu?" Vero masih bertanya dengan ketusnya.


"Vero, kalau aku tidak menyentuh ibumu, bagaimana bisa kau ada di dunia ini?" tanya Vier sambil menyeringai.


"Vier!" Vaya melotot ke arah Vier.


"Apa?! Untuk apa kau menyentuh ibuku?!" tanya Vero.


"Vier, tolong jangan bicara yang aneh-aneh!" sergah Vaya.


"Ibu! Untuk apa Pak Vier menyentuh Ibu?!" tanya Vero.


"Vero, tidak usah pedulikan! Lebih baik sekarang kamu makan ya," bujuk Vaya.


Vier menyeringai melihat Vero yang masih memasang ekspresi tak bersahabat.


"Aku tidak jadi lapar, Bu," sahut Vero.


"Aku kenyang, Bu!" sahut Vero masih tetap ketus.


"Baiklah, kalau Vero tidak mau makan! Biar aku saja yang makan!" Vier menyahut dengan nada provokatif.


"Itu nasi gorengku!" sembur Vero.


"Haha! Vero katanya sudah kenyang!" goda Vier sambil mengambil piring berisi nasi goreng milik Vero.


Vaya mendelik gusar melihat kelakuan Vier yang sukses membuat Vero kesal. Begitu pula dengan Mike yang hanya bisa mengelus dada.


"Kembalikan! Itu punya Vero!"


"Tidak! Katanya Vero tidak mau makan!"


Satu Vier saja sudah merepotkan! Dua Vier rasanya terlalu berlebihan! Batin Mike.


Vaya menghela napas berat melihat Vier dan Vero berebut nasi goreng.


"Vier, kembalikan makanan Vero!" pinta Vaya.


"Tidak mau!" sahut Vier.


"Kembalikan!" seru Vero.


"Ehem! Kakak!" Aria memotong keramaian yang ada.


"Ada apa, Aria?" tanya Vaya.


"Kakak, aku rasa sebaiknya aku kembali ke puskemas untuk menyusul ibu," jawab Aria.


"Aria, apa kau yakin? Sekarang masih hujan," sahut Vaya.

__ADS_1


"Mike, tolong antar Aria dan jemput ibu mertuaku!" titah Vier.


Mata Aria membulat mendengar perintah Vier begitu juga dengan Vaya.


"Vier, sungguh tidak perlu!" cegah Vaya.


"Mike, lekas pergi!" perintah Vier.


"Baik Pak," jawab Mike.


"Vero, ikut Tante yuk," ajak Aria.


"Tidak mau! Aku mau nasi goreng!" gerutu Vero.


"Ya, ya, ini nasi gorengmu!" Vier mengembalikan piring nasi goreng yang direbutnya dari Vero.


Vero mengerucutkan bibirnya karena merasa bahwa Vier sedang mengerjainya.


"Aria, tidak usah pergi, nanti saja tunggu hujan reda baru jemput ibu," Vaya melotot ke arah Aria.


"Kakak, kasihan ibu," sahut Aria.


Oh tidak, Aria! Kasihanilah aku! Aku tidak mau bersama Vier! Vaya membatin.


Ia berharap Aria bisa mengerti jeritan batinnya.


"Kalau begitu kita pergi bersama-sama saja!" usul Vaya.


"Kakak, silakan bicara baik-baik dengan kepala dingin. Ayo, Vero, kita pergi!" ajak Aria.


"Aku mau makan, Tante!" tolak Vero.


"Vero, makannya bisa di mobil!" ajak Aria.


"Tapi, Tante, ibuku sendirian!" tolak Vero.


"Ibumu tidak sendirian! Justru Mbah yang saat ini sendirian di puskesmas dan harus kita jemput!" bujuk Aria.


Vier memberi kode pada Mike, Mike langsung menggendong Vero.


"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu," Mike berpamitan.


Aria segera membawa piring nasi goreng milik Vero dan menyusul Mike yang menggendong Vero ke mobil.


Vero terpana melihat mobil mewah yang dimasukinya.


"Tante! Mobilnya bagus sekali! Ada televisinya!" Vero bersorak heboh.


"Iya, beda sekali kan, dengan mobil-mobil yang biasa singgah di warung?" tanya Aria.


"Iya, Tante!" sahut Vero.


"Nah, sekarang Vero makan dulu ya," bujuk Aria.


"Iya Tante!" Vero mengangguk.


Aria mulai menyuapkan nasi goreng ke mulut Vero. Dari kaca spion, Mike yang sedang mengemudi turut mengawasi Aria dan Vero yang duduk di kursi belakang.


Entah mengapa Mike jadi teringat saat Aria menyuapinya di rumah sakit saat tangannya cedera.


Astaga! Apa yang sedang kupikirkan?! Mike mengumpat dalam hati.


Ia pun kembali fokus untuk mengemudi di tengah derasnya hujan.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2