
Dokter Reno mengamati hasil CT Scan Vier secara saksama. Terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengulas senyum.
"Hasil pemeriksaan kesehatanmu tidak menunjukkan adanya masalah yang serius, lebam pada punggungmu akan pulih dengan sendirinya dalam beberapa hari ke depan," kata Dokter Reno.
"'Oh syukurlah, kalau begitu kau sudah bisa pulang kan, Vier?" Vaya menyeringai ke arah Vier.
"Dokter, coba periksa yang benar. Sepertinya aku ini mengalami gegar otak, dan aku masih merasa seluruh tubuhku sakit semua," Vier segera berpura-pura sambil memegangi belakang lehernya.
"'Aku ini tidak baik-baik saja, Dokter! Pasti ada luka dalam," keluh Vier.
Huh, Vaya mendengus kesal ke arah Vier.
Bagaimana pria itu bisa bicara hal omong kosong seperti itu padahal semalam suntuk ia bercinta tanpa mengenal lelah.
Aduh, Dokter Reno, kenapa kau jujur begitu sih?! Keluh Vier dalam hati.
"Tidak, Vier, aku rasa kau hanya kelelahan dan kurang beristirahat. Aku bisa melihat lingkaran hitam di bawah matamu," sahut Dokter Reno.
Vier menyeringai sambil mencuri pandang ke arah Vaya yang terlihat begitu skeptis.
"Jadi, aku rasa besok kau sudah bisa keluar dari rumah sakit dan menjalani aktivitasmu seperti biasa," lanjut Dokter Reno.
"Lalu, bagaimana dengan Pak Mike? Apa Pak Mike baik-baik saja?" tanya Vaya.
"Ya, Mike juga dalam kondisi yang bagus, hanya saja, Mike membutuhkan waktu untuk memulihkan tangan kanannya yang retak," jawab Dokter Reno.
"Syukurlah," Vaya bernapas lega.
"Vier, kenapa kau dan Mike sampai terluka seperti ini? Kalian tidak iseng bertarung seperti dulu kan?" tanya Dokter Reno.
"Haha," Vier tertawa. "Tentu saja tidak, Dokter," sahut Vier.
"Kau bertarung dengan Pak Mike? Kok bisa?" tanya Vaya keheranan.
"Haha, sudah, kau tidak perlu tanya-tanya," sahut Vier.
Vaya mencebik karena Vier tidak menjawab pertanyaannya. Vaya sungguh tak menyangka bahwa Vier dan Mike pernah bertarung. Entah pertarungan macam apa yang mereka lakukan.
"Ya sudah, kalau begitu, aku permisi dulu," Dokter Reno berpamitan.
"Terima kasih, Dokter Reno," Vaya mengantar kepergian Dokter Reno dari ruang perawatan Vier.
Vaya kembali beralih pada Vier.
"Vier, kau benar-benar bertarung dengan Pak Mike?" tanya Vaya lagi.
"Aduh Vaya, tolong jangan dibahas lagi," keluh Vier.
"Vier, aku sungguh penasaran! Kenapa kau dan Pak Mike bertarung? Pertarungan macam apa yang kalian lakukan, dan siapa yang menang?" tanya Vaya.
__ADS_1
Vier memicingkan matanya.
"Vaya, kau ini sungguh banyak tanya," sahut Vier.
"Vier, aku bertanya karena penasaran," kata Vaya.
Vier mengulas senyumnya.
"Baiklah, aku akan menceritakannya padamu, tapi dengan satu syarat," kata Vier.
"Apa?" tanya Vaya.
Vier menunjuk kedua pipinya dengan dua telunjuknya.
"Cium aku di sini," kata Vier.
Vaya terperangah melihat Vier yang bertingkah sok imut.
"'Haha!" Vaya tertawa.
"Cepat cium!" desak Vier.
Vaya mengulas senyumnya, ia segera mendekati wajah Vier dan memberikan kecupan lembut pada kedua pipi Vier secara bergantian.
Vier ikut mengulas senyum, menarik tubuh Vaya ke pangkuannya dan mereka kembali berciuman. Mengulang kembali ciuman panas mereka seperti semalam.
Kring..
"Tidak usah diangkat," kata Vier di sela-sela bibir mereka yang beradu.
"Tapi, Vier," ucap Vaya.
Vier tak peduli, ia tetap lanjut menikmati pertikaian lidah mereka.
Kring..
Dering ponsel Vaya masih belum berhenti. Suara berisik itu jelas membuat Vier merasa terganggu.
Vaya segera turun dari pangkuan Vier, mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Halo," jawab Vaya.
"Vaya!" sahut suara di seberang sana.
...*****...
Darti, wanita paruh baya dengan rambutnya yang sudah memutih sebagian. Masih dengan pakaian jubah bermotif macan tutul dan riasan matanya yang luntur, menangis tersedu-sedu sambil berlutut di hadapan Vier dan Vaya yang saat ini duduk di sofa sambil melemparkan tatapan skeptis.
"Vaya, aku mohon, bebaskan Deri!"
__ADS_1
Hanya kalimat itulah yang berkali-kali diucapkan Darti. Sisanya, tentu saja Darti menangis tersedu-sedu dengan ingus yang berderai sederas air matanya.
Vaya dan Vier saling berpandangan, dengan Mike yang saat ini juga sedang duduk di sisi sofa yang lain.
Mike yang biasanya selalu memasang ekspresi ramah, saat ini terlihat sangat skeptis.
Mike jelas tidak bisa dengan mudah menerima permohonan maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh Deri.
Melihat betapa terniatnya Deri melakukan aksi penculikan Aria dengan tujuan untuk mencabut tuntutan yang dilayangkan untuk pria itu.
Membawa selusin preman untuk melakukan aksi pengeroyokan yang membahayakan nyawa Vier jelas membuat Mike tidak bisa dengan mudah memaafkan Deri.
Itulah yang saat ini juga sedang dipikirkan oleh Vier. Vier tentu tidak bisa dengan mudah melupakan semua perbuatan Deri. Masih segar dalam ingatan Vier bagaimana Deri membentak, menghardik, bahkan mencekik Vaya di depan matanya.
Tidak boleh ada pria lain yang bisa berbuat semena-mena terhadap Vaya, kecuali Vier sendiri. Itulah yang selama ini dipegang teguh oleh Vier.
Dan sikap Deri yang bertindak semena-mena pada Vaya jelas menentang prinsip Vier dan jelas tidak bisa dimaafkan oleh Vier.
"Vaya, aku mohon! Biar bagaimanapun kita adalah keluarga! Kau adalah keponakanku, anak dari mendiang adikku yang paling kusayang!"
"Apa kau sungguh tega membiarkan Deri mendekam di penjara?"
"Apa kau tidak kasihan padaku, wanita renta yang harus hidup sebatang kara?"
Darti terus mencecar dengan melontarkan kalimat-kalimat penuh pengibaan.
"Aku ini sudah tua, seorang janda yang sudah renta! Apa kau sunggu tidak kasihan? Apa kau sungguh tidak punya perasaan, Vaya?!"
"Ibumu juga janda, tapi ibumu punya tiga anak yang bisa menemaninya melewati masa tua! Aku hanya punya satu anak laki-laki yang menjadi tumpuan hidupku! Tapi anak laki-lakiku yang sangat berharga itu harus mendekam di penjara. Aku janda tua dan renta ini harus menderita sebatang kara di usia senja!"
Darti terus mengiba, menangis sambil berlutut, bersimpuh memohon pengampunan.
"Tante," Vier menyela pengibaan Darti.
"Apa Tante tahu, apa yang dilakukan oleh anak kesayangan Tante itu nyaris membuat Vaya juga menjadi janda?" kata Vier.
"Hanya saja, Vaya tidak akan menjadi janda renta yang hidup sebatang kara," cibir Vier.
Janda seksi dan bergelimangan harta yang akan memanggil para pria-pria bajingan rendahan yang hanya akan memanfaatkan warisanku! Batin Vier gusar.
"Tante Darti, apa yang dikatakan oleh suamiku sungguh adalah kebenaran. Deri harus menuai apa yang sudah ditaburnya," Vaya menimpali.
"Perbuatan Deri sungguh keterlaluan dan biarlah hukum yang mengadilinya! Aku rasa maaf saja tidak akan menyelesaikan masalah ini!" tandas Vaya.
Vier menatap Vaya dengan tatapan tak percaya.
Suami? Vaya menyebutku suami? Batin Vier senang.
"Suamiku dan Pak Mike harus terluka demi melindungiku dan Aria. Aria bahkan masih merasa trauma. Harusnya Deri berpikir dengan baik, apa dampak dari tindakannya! Jangan hanya berpikir demi keuntungannya saja!"
__ADS_1
Vaya benar-benar meluapkan kemarahannya pada Darti hingga Darti tak mampu berkutik dan hanya bisa menangis terisak-isak.
...*****...