Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
178 - Tiba di Paris


__ADS_3

Gemerlap cahaya keemasan yang berpendar di tengah kegelapan langsung menarik perhatian Vaya. Menara Eiffel yang begitu megah dan berkilauan di tengah gelapnya langit malam menandakan bahwa Vaya sudah tiba di kota Paris.


Rasanya bagaikan mimpi bagi Vaya karena saat ini kakinya sudah menapaki jalan di kota Paris. Paris yang begitu dikenal sebagai salah satu kota paling romantis di dunia. Setiap sudut kotanya menyuguhkan keindahan dan keromantisan khas Eropa.


Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Kota Paris hanya bisa dilihat oleh Vaya melalui buku atlas yang berisi peta seluruh dunia. Edisi ketika menara Eiffel menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.


Menara Eiffel yang begitu gagah dan menantang langit. Menyuguhkan keindahan, keromantisan, sekaligus kemisteriusan.


Vaya yang biasanya hanya bisa melihat keindahan kota Paris dari unggahan para pesohor dunia, kini ia bahkan bisa menghirup udara kota Paris dengan hidungnya sendiri. Udara dingin yang seketika terasa akan membekukan paru-parunya.


Udara malam di musim gugur jelas bukan udara yang mudah ditoleransi oleh Vaya yang terbiasa hidup di negara tropis.


Vier melilitkan syal ke leher Vaya, membuat Vaya yang sedari tadi mengagumi keindahan kota Paris dalam diam, langsung kembali tersadar bahwa tujuannya untuk datang ke sana bukanlah untuk mengadakan acara pelesiran.


"Ibu, di sini dingin sekali," kata Vero.


Vaya mengamati wajah Vero yang memerah, meski bocah itu sudah memakai mantel bulu, topi, sarung tangan dan syal yang tebal untuk membuatnya merasa hangat.


"Tenang saja, Vero, nanti kau akan terbiasa," ucap Vier.


"Ayah sudah terbiasa?" tanya Vero.


"Tentu saja, maka dari itu, kau pun harus membiasakan diri," jawab Vier.


"Vier, apa kita akan langsung menemui Selena?" tanya Vaya.


Vier menatap Vaya dengan tatapan skeptis. Sangat tidak baik jika harus bertengkar di depan anak mereka kan?


"Vero, sini Ayah gendong."


Vier segera menggendong Vero agar tidak perlu menjawab pertanyaan Vaya.


...*****...


Vaya segera melakukan pemindaian begitu memasuki apartemen milik Vier yang berada di pusat kota Paris. Apartemen bergaya minimalis dengan perapian, bernuansa putih, dan berukuran besar itu langsung menyita perhatian Vaya. Ia sungguh tak kuasa jika sampai mendapati foto pernikahan Vier dan Selena dipajang di dinding.


Jantung Vaya bergemuruh, dalam benak Vaya saat ini terlintas bahwa Selena sudah menunggu mereka di salah satu kamar yang tertutup.


Vier menurunkan Vero dari gendongannya. Vero langsung terpana melihat rumah itu.


"Wah, ini rumah Ayah?" tanya Vero memecahkan keheningan.


"Hmm, sekarang rumah ini juga rumah Vero," jawab Vier.


Vero kembali terpana, bagi bocah itu, rumah sebagus ini hanya bisa dilihatnya di sinetron-sinetron yang biasa ia tonton bersama Aria.


"Terus, Vero tidur di mana?" tanya Vero.


"Vero boleh tidur di mana saja," jawab Vier.


"Wah! Luar biasa!" Vero berdecak kagum.


"Vaya, kau bisa menggunakan kamar itu untuk beristirahat bersama Vero," Vier menunjuk salah satu pintu yang tertutup.


"Sebentar Mike akan datang membawa barang-barangmu dan juga Vero," lanjut Vier.

__ADS_1


Vaya masih tetap bungkam, entah mengapa rasanya saat ini dadanya benar-benar terasa sesak.


Saat ini Vier berada di dekatnya, namun mengapa pria itu terasa begitu jauh?


Vaya memasuki kamar yang ditunjuk Vier bersama Vero. Kamar yang begitu luas dengan jendela besar yang tertutup tirai putih.


Vero memindai isi kamar yang nampak kosong, namun di atas nakas, bocah itu langsung mengambil sebuah pigura foto.


"Ibu, ini foto ayah dengan siapa?" tanya Vero.


Pertanyaan Vero seketika kembali membuat Vaya merasa sangat sesak, butuh keberanian yang begitu besar bagi Vaya untuk melihat foto itu.


Itu pasti foto Vier dan Selena! Batin Vaya.


"Ibu," Vero menyodorkan pigura foto itu pada Vaya.


Jantung Vaya kembali bergemuruh melihat pigura tersebut. Air mata seketika merebak dan menghangatkan hati Vaya.


"Vero, ini foto Ibu," jawab Vaya.


"Sungguh? Kok sama sekali tidak mirip Ibu?" tanya Vero keheranan.


"Vero, apa maksudmu berkata begitu? Maksudmu Ibu ini jelek, begitu?" tanya Vaya.


"Ibu begitu cantik sampai Vero tidak kenal ya?" sahut Vier yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.


"Vi-Vier," Vaya terkesiap.


Vier melangkah menghampiri Vero.


"Benar begitu kan, Vero?" tanya Vier.


"Oh ya, Ayah, Ibu, kenapa aku tidak ada di foto ini?" tanya Vero lagi.


Vaya dan Vier terkesiap, keduanya langsung saling melemparkan pandangan.


"Vero, Mbah, Tante Aria, dan juga Om Rian tidak ada di foto itu kok," jawab Vaya dengan cepat.


"Ayah dan Ibu sengaja tidak mengajak foto bersama ya?" tanya Vero penuh selidik.


"Iya, baiklah Vero, nanti kita foto bersama ya," sahut Vier dengan cepat.


Vero masih memasang ekspresi kesal.


"Vero, mandi dulu yuk, biar segar," ajak Vaya.


"Ah ya, Vero, Ayah akan memandikanmu," ajak Vier.


"Ibu saja yang memandikan Vero," Vaya melotot ke arah Vier.


"Ayah saja," sahut Vier.


"Ibu saja," sahut Vaya tak mau mengalah.


"Ibu, Ayah, daripada rebutan begitu, kita mandi sama-sama saja," usul Vero.

__ADS_1


"Eh!" Vaya dan Vier kembali terkesiap.


Keduanya saling berpandangan.


"Ehem, ya sudah, ibu saja yang mandikan Vero," ujar Vier akhirnya mengalah.


...*****...


Begitu Vero terlelap, perlahan Vaya turun dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar.


Di ruang depan, Vier dan Mike terlihat begitu sibuk di depan layar laptop mereka. Kedua pria itu sungguh terlihat seperti mahasiswa yang sedang dikejar tenggat waktu pengumpulan tugas kuliah.


Vier dan Mike harus lembur menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selama mereka melakukan perjalanan untuk mencari Vaya.


"Bu Vaya," Mike menyapa Vaya.


Vier menoleh ke arah Vaya.


"Silakan lanjutkan pekerjaan kalian, aku hanya mau mengambil air minum," ucap Vaya.


"Vaya, apa Vero sudah tidur?" tanya Vier.


"Iya, sudah," jawab Vaya.


"Oh begitu, baguslah," sahut Vier.


Vaya melanjutkan langkahnya menuju ke dapur. Di dapur minimalis itu, perabotnya pun berjumlah minim.


Tidak ada tanda-tanda bahwa Vier tinggal bersama Selena. Bahkan di dalam lemari pakaian tidak ada pakaian wanita sama sekali kecuali pakaian Vier.


Apa selama ini Vier benar-benar tinggal sendiri?


Batin Vaya kembali bergejolak.


"Apa yang kau cari, Vaya?"


Vaya terkesiap saat Vier sudah berada di belakangnya.


Vier mengerutkan alisnya melihat Vaya membuka satu per satu lemari penyimpanan di dapurnya.


"A-aku mencari teh," jawab Vaya.


Vier mengerutkan keningnya.


"Vaya, aku tidak minum teh ataupun kopi, jadi, kau tidak akan menemukan yang kau cari," sahut Vier.


"Oh, begitu. Kalau tahu aku bawa saja teh dari rumahku," cibir Vaya.


"Vaya, terlalu banyak mengonsumsi kafein tidak baik untuk tubuhmu, karena kafein membuatmu kecanduan. Sama halnya dengan nikotin," ucap Vier.


Vaya mencebik mendengar penjelasan Vier.


Vier mendekat ke arah Vaya, tubuh mereka pun saling menghimpit satu sama lain.


"Kau begitu berbahaya, Vaya, karena kau sama halnya dengan kafein."

__ADS_1


Vaya menegang saat Vier mendekat ke arahnya lalu membenamkan bibirnya ke bibir Vaya.


...*****...


__ADS_2