Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
083 - Ikeh Ikeh Kimochii


__ADS_3

Vaya tidak tahu, saat ini ia hanya bisa menatap kosong langit-langit kamar. Tubuhnya seakan melayang ketika merasakan adanya badai kenikmatan yang menghantamnya dengan keras.


Vaya merasa tubuhnya luluh lantak tak berdaya, ia menangis dalam diam. Ia menggigit bibir bawahnya, tak kuasa menahan rasa nikmat yang benar-benar membuainya. 


Kenikmatan yang membawa malu, begitulah kira-kira gambaran yang tepat untuk mendefinisikan apa yang menimpa Vaya saat ini.


Dengan tubuh tanpa sehelai benang, teronggok di atas meja bak sebuah hidangan yang siap disuguhkan untuk memuaskan lapar dan dahaga seorang pria gatal bin cabul alias mesum.


Entahlah, Vaya jadi teringat kondisinya saat ini persis seperti dalam adegan film biru dari Negeri Sakura yang dulu pernah tak sengaja ditontonnya ketika Ibe salah mengirimkan file yang ia sangka file video acara resepsi pernikahan Ibe.


Video singkat berdurasi selama lima menit itu dibintangi oleh seorang gadis cantik dan imut bersuara menggemaskan. Sedangkan lawannya adalah pria paruh baya berkepala botak dan berperut buncit.


Vaya yang ketika itu baru berusia dua puluh satu tahun langsung panas dingin dengan perut melilit saat menyaksikan adegan panas ketika sang pria mencicipi tubuh gadis cantik dan imut yang meracau "ikeh-ikeh kimochii" di sepanjang video berdurasi lima menit itu.


Apakah saat ini Vier sedang terinspirasi video tersebut?


Menunggu Vaya untuk meracau "ikeh-ikeh kimochii".


Vaya merasa benar-benar malu dan juga marah. Ia malu sekali sampai tak berani menyaksikan apa yang dilakukan Vier di bawah sana.


Vaya benar-benar hanya bisa mendengar sangat jelas sekali pria itu sedang mencecap dengan rakus sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dilepaskan Vaya.


Seruputan yang membuat Vaya benar-benar malu semalu-malunya, namun apa daya Vaya tak sudi. Vaya tak terima tubuhnya dijadikan santapan untuk memuaskan birahi Vier.


Vaya berpikir dengan sangat keras hingga membuat kepala dan dadanya terasa sesak.


Semua wanita pasti merasakan hal yang sama sepertinya ketika Vier menyantap tubuhnya seperti ini. Ya, semua wanita yang sudah menyerahkan diri mereka pada Vier, itulah yang saat ini ada dalam benak Vaya.


Vier bangkit dari posisinya, melepaskan kedua tangannya yang menahan kedua kaki Vaya yang nyaris mematahkan lehernya.


"Jadi, Vaya, haruskah kita memulai semuanya sekarang?" tanya Vier sambil membuka jasnya.


"Hiks..."


Vaya berguling dan meringkuk di atas meja, menangis sesenggukan, merasa malu dan juga begitu hina atas perbuatan yang dilakukan oleh Vier.


"Vaya!" sergah Vier.


"Vier! Hiks..." Vaya tak sanggup berkata-kata.


Hanya air mata yang keluar, tubuhnya gemetaran melihat Vier yang mulai melepas pakaian yang menempel di tubuh pria itu.


"Vaya!" Vier menarik tangan Vaya.

__ADS_1


"Vier! Aku benci! Aku benar-benar benci padamu!" geram Vaya dengan derai air matanya yang tak tertahankan.


"Ya, bencilah aku! Toh kebencianmu tidak akan mengubah apa pun," Vier menyeringai.


"Vier! Aku bukan budakmu!" 


"Ya, kau memang bukan budakku," sahut Vier dengan entengnya.


Jawaban Vier makin membuat Vaya menangis histeris. Vaya sungguh tidak ingin Vier menyentuhnya seperti ini.


"Hiks.. tidak! Hiks! Aku tidak mau! Huwaa! Huwaa!"


Vier menghela napas berat, gairahnya seketika padam seperti kompor meleduk yang ditutupi karung goni basah.


Vaya menangis histeris seperti orang kerasukan setan.


Seperti balita yang sedang tantrum, menangis sekencang-kencangnya sambil memukul-mukul meja.


Sebegitu enggannya Vaya untuk digarap oleh Vier. 


Entah mengapa Vier merasa penolakan Vaya jelas mengoyak harga dirinya. Ia tiba-tiba merasa seperti om-om cabul yang hendak menggagahi gadis belia di bawah umur.


Vier benar-benar merasa kesal, ia pun segera menggendong Vaya.


"Vier! Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Vaya begitu histeris.


Vier tak peduli, ia tetap menggendong Vaya ke dalam kamar mandi. Segera ia menurunkan Vaya ke dalam bathtub, mengisinya dengan air hangat.


"Mandilah yang bersih!" perintah Vier.


Tanpa banyak kata, Vier meninggalkan Vaya terdiam sendiri di dalam bathtub yang mulai dipenuhi dengan air hangat. Meninggalkan Vaya yang masih tetap menangis sesenggukan.


...*****...


Vaya sungguh tidak mengerti terhadap Vier yang benar-benar membuatnya kesal. Pria itu menyeringai, seperti tidak ada rasa berdosa karena sudah membuat Vaya takut dan terkejut setengah mati dengan perbuatan yang dilakukannya.


Vier segera naik ke tempat tidur, bergabung bersama Vaya yang sudah berbaring begitu selesai mandi.


"Vaya, berhenti memasang tampang cemberutmu padaku! Aku benar-benar tidak suka melihatmu cemberut begitu!" Vier menyeringai horor.


Ugh, apa kau pikir aku bisa tersenyum di hadapan pria yang hendak memperkosaku?! geram Vaya.


Bagi Vaya, saat ini otot wajahnya terlalu berat untuk bisa bergerak melawan gravitasi bumi.

__ADS_1


"Vaya, kau ini benar-benar ya! Apa kau memang suka sekali mendapat hukuman dariku?" tanya Vier sambil menyundul-nyundul kepala Vaya dengan jarinya.


"Kau ini benar-benar wanita penuh pelanggaran! Bisa-bisanya kau mengabaikanku dan malah justru begitu akrab dengan laki-laki lain di depan mataku! Apa kau memang sengaja memancing kemarahanku?" cecar Vier.


Vaya masih merengut, Vier mencengkeram kedua pipi Vaya.


Ugh, sakit! Keluh Vaya.


"Vaya! Ini peringatan terakhir untukmu! Aku benar-benar tidak akan memberi toleransi jika kau sampai melanggar aturanku! Jika kau berani bermain api di belakangku, yang akan kubakar hidup-hidup bukan hanya kau, tapi pria itu juga! Camkan itu baik-baik!" Vier menyeringai horor.


Nada bicara Vier penuh dengan ancaman yang tak main-main, selaras dengan seringaian horor di wajah pria itu.


"Vier, kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Vaya.


Air mata menetes dari pelupuk mata Vaya. Rasa ketakutan benar-benar membelenggunya.


"Karena kau istriku," sahut Vier sambil menyeka air mata yang menetes di pipi Vaya.


Vier segera membenamkan kembali bibirnya di bibir Vaya. Vaya hanya diam, tak menyambut ciuman Vier karena saat ini ia tidak ingin dicium oleh Vier.


Vier bisa merasakan tubuh Vaya yang gemetaran dan menolaknya. Vier sadar bahwa Vaya masih terlalu shock.


Vier memperlambat tempo ciumannya dan memberikan ciuman yang lembut hingga perlahan Vaya menerima ciuman dari Vier.


Vier melepas bibirnya dari bibir Vaya, ia mengecup kening Vaya dengan sangat lembut.


"Sekarang tidurlah," perintah Vier.


Vaya segera merebahkan dirinya, Vier segera membawa Vaya ke dalam pelukannya, melingkarkan tangan ke perut Vaya.


"Awas saja malam ini kau masih menangis!" ancam Vier sambil mengecup lembut puncak kepala Vaya.


Ugh! Vaya merutuk dalam hati.


Padahal malam ini Vaya ingin menangis, meratapi nasibnya yang begitu tragis. Namun ancaman dan pelukan dari Vier justru menghalanginya.


Vaya sungguh ingin memperjuangkan cintanya pada Yoran. Rasanya ia ingin kabur bersama Yoran. Pergi dan berbahagia bersama Yoran.


Hanya saja bagaimana caranya agar Vaya bisa terlepas dari cengkeraman Vier?


...*****...


Haluers tersayang di seluruh penjuru dunia kehaluan yang dipenuhi dengan kehaluan terhaqiuqiu.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan dukungan dan jejak semangat untuk Vier yang sedang berjuang di episode-episode selanjutnya.


Sampai jumpa di episode selanjutnya. 😁😁😁


__ADS_2