Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
122 - Dua Syarat Vier


__ADS_3

Vier menatap Vaya yang terlihat malu-malu usai memberinya sebuah ciuman yang lembut. Vaya sungguh tak mengerti, mengapa ia tiba-tiba saja mencium Vier, padahal sebelumnya ia merasa menyesal dan merutuki dirinya yang terpaksa mengikuti perbudakan birahi Vier.


Sepertinya hal tersebut terjadi karena alam bawah sadar yang mendorongnya. Alam bawah sadar yang membujuknya untuk menenangkan Vier, sebuah ciuman yang biasanya ampuh untuk meredam kemarahan pria itu. Ciuman untuk menyogok Vier, agar pria itu melunak dan mengampuni Vaya.


"Vaya, siapa yang menyuruhmu untuk menciumku?" tanya Vier sambil menatap ke dalam mata Vaya lekat-lekat.


Vaya menyeringai kikuk.


"Lancang sekali kau menciumku tanpa kuminta," ekspresi Vier berubah serius.


"A-anu, Vier," ucap Vaya terbata.


"Vaya, sepertinya kau benar-benar harus kuberi hukuman, agar kau bisa mengerti," Vier menyeringai.


"Vi-Vier, maafkan aku! Aku sungguh tidak bermaksud lancang!" ucap Vaya.


"Kalau bukan lancang, lalu kenapa kau menciumku?" tanya Vier penuh selidik.


"A-aku menciummu, karena aku merasa ingin menciummu," jawab Vaya kembali terbata.


"Menciumku karena kau ingin? Lantas kalau kau tidak ingin, kau tidak mau menciumku? Hanya terpaksa menciumku?"


Vier mencecar Vaya dengan pertanyaan yang membuat Vaya kehilangan kemampuan untuk bicara.


"Ayo kita kembali ke vila dan bersiaplah menerima hukumanmu."


Vier menyeringai horor sambil menautkan jemari tangannya untuk menggenggam tangan Vaya.


...*****...


Vaya keluar dari kamar mandi, ia masih mengenakan handuk kimono berwarna putih. Jantungnya bergemuruh tak karuan saat matanya  tertumpu pada Vier yang saat ini sudah menunggunya di tempat tidur sambil menyaksikan siaran televisi.


"Vaya, kenapa kau mandi lama sekali?" keluh Vier sambil menekan tombol power untuk mematikan televisi.


"Kau sengaja ya, hendak membuatku ketiduran?" tanya Vier.


Vaya melangkah takut-takut ke tempat tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur yang berada di sisi lain dari Vier.


Vier segera mendekat ke arah Vaya. Menghirup aroma sabun yang masih menguar dari kulit Vaya. Vaya benar-benar makin tegang tak karuan.


"Vaya, sekarang kau harus menerima hukumanmu tanpa boleh mengeluh," desis Vier sambil menyeringai.


"Vi-Vier, tu-tunggu, aku belum, aku belum siap mental! Se-sepuluh ronde benar-benar terlalu banyak! Na-nanti pinggangku, pinggangmu, bisa lepas!" Vaya tergagap dan terbata-bata melontarkan apa yang ada dalam benaknya.


Vier mengerutkan kedua alisnya mendengar cerocosan Vaya.


Pletak...


"A-aduh!" Vaya memegangi keningnya yang kesakitan karena Vier menyentilnya.


"Vaya, apa isi otakmu hanya ada sepuluh ronde?" tanya Vier.

__ADS_1


Vaya masih mengusap-usap keningnya yang memanas.


"Apa jangan-jangan seharian ini kau hanya memikirkan sepuluh ronde yang kau janjikan?" tanya Vier sambil menyeringai.


"Ughh!" sungut Vaya.


"Vaya, apa aku terlihat begitu mesum di matamu?" tanya Vier.


Bibir Vaya makin maju bersenti-senti.


"Vaya, apa kau masih belum paham juga? Aku hanya meniduri wanita yang membuat kesepakatan denganku. Wanita yang setuju untuk kutiduri."


Seringaian di wajah Vier makin terlihat horor di mata Vaya.


Vaya merasa wajahnya memanas tak karuan. Sepertinya sia-sia saja ia merasa tegang dan gelisah sendiri gara-gara sepuluh ronde mesum itu.


Vier membuka handuk kimononya, tubuh atletisnya yang terpahat sempurna itu sontak membuat Vaya langsung salah tingkah.


"Lekas pijat punggungku!" perintah Vier.


"Eh, apa?" Vaya terkesiap.


"Pijat punggungku!" Vier mengulangi ucapannya.


"Eh, oh, i-iya," sahut Vaya terbata.


Vier mengulas senyumnya, ia segera berbaring dalam posisi menelungkup. Vaya mulai memijat bahu Vier.


"Vier, kau ini aneh! Bagaimana caraku bisa pergi dari tempat ini? Apa kau pikir aku ini punya pintu ajaib Doraemon?" gerutu Vaya.


"Lagipula ini pertama kalinya aku pergi ke suatu tempat yang benar-benar sangat jauh dari rumah. Jadi, aku tidak mungkin ke mana-mana, daripada nanti tidak bisa pulang," ucap Vaya.


"Hmm, baguslah kalau kau mengerti," sahut Vier dengan mata yang terpejam.


Vaya masih memijat bahu Vier.


"Oh ya, Vier, ngomong-ngomong, kapan kita akan pulang?" tanya Vaya.


Vier langsung membuka matanya begitu mendengar pertanyaan Vaya. Vier bahkan langsung berguling dari posisinya, lalu menatap Vaya lekat-lekat.


"Vaya, apa maksudmu bicara seperti itu? Kita bahkan baru saja tiba," kata Vier dengan nada kecewa.


"Vier, aku hanya ingin tahu, supaya aku bisa membuat alasan yang tepat untuk mengambil cuti dadakan," ucap Vaya.


"Vaya, apa kau tahu? Aku bahkan meninggalkan pekerjaanku secara mendadak agar bisa pergi bersamamu. Apa kau tidak bisa langsung mengatakan bahwa kau pergi liburan bersamaku ke Maldives?"


"Vier, yang mau pergi ke Maldives itu kau. Kau yang memaksaku untuk ikut denganmu," sahut Vaya.


Vier menghela napasnya. Ia sangat tahu, Vaya tidak mungkin bersedia pergi bersamanya jika Vier tidak memaksa.


"Baiklah, Vaya, mari kita buat kesepakatan," ajak Vier.

__ADS_1


"Kita akan pulang besok sore. Tapi tentu saja ada dua syarat yang harus kau penuhi," ucap Vier.


Setiap mendengar kata syarat yang keluar dari mulut Vier, jelas membuat seluruh sel syaraf di tubuh Vaya menegang.


"A-apa itu?" tanya Vaya.


"Yang pertama adalah besok kau tidak boleh mengeluh, komplain, atas apa yang akan kita lakukan."


Mata Vaya membulat lebar. Setiap kali Vier menyampaikan syarat seperti itu, itu artinya Vier benar-benar akan melakukan hal-hal gila yang mau tidak mau dan suka tidak suka harus diterima oleh Vaya.


"Vi-Vier, kenapa kau selalu memberi syarat seperti itu sih?" Vaya menggerutu.


"Haha! Vaya, itu terserah aku sebagai pihak yang memberikan syarat," Vier menyeringai.


Vaya mengernyitkan dahinya.


"Apa kau setuju?" tanya Vier.


Baiklah, daripada harus berlama-lama di sini! Batin Vaya.


"Baik, aku setuju," jawab Vaya mantap.


"Lalu, yang kedua...," kata Vier menggantung.


Vaya berdebar tak karuan, apakah Vier sungguh akan memintanya melakukan sepuluh ronde dalam semalam?


"Sekarang kau tidur!" perintah Vier.


Vier segera berbaring dan menarik selimutnya. 


Vaya pun segera berbaring dan menarik selimut. Ia melirik ke arah Vier yang memunggunginya.


Entah mengapa Vaya merasa bahwa tempat tidur ini terlalu besar. Rasanya ada yang aneh karena Vier tidak memeluk Vaya seperti biasanya.


Apa Vier marah?


Vaya berusaha memejamkan matanya, namun ia masih tetap terjaga. Ia menoleh ke arah Vier yang sepertinya sudah tertidur dengan tenang. 


Vaya menatap punggung Vier yang telanjang. Punggung yang tegap dan atletis itu terlihat begitu mengundang untuk Vaya mendekat.


Vaya tak tahu mengapa ia merasa Vier terlihat sangat jauh darinya. 


Mereka begitu dekat tapi terasa begitu jauh.


Vaya tidak bisa tidur, ia terlalu takut menghadapi hari esok. Entah apa yang akan dilakukan Vier padanya setelah pria itu memberinya syarat yang lagi-lagi membuatnya gelisah.


Vaya tak tahu, saat ini ada keinginan yang begitu besar untuk menyentuh punggung Vier. 


Ya, jari Vaya menyentuh punggung itu, seketika Vaya merasakan kehangatan yang mengalir. Tubuh Vier terasa hangat dan itu membuat Vaya menarik dirinya untuk mendekap punggung Vier. Merasakan kehangatan yang membuatnya nyaman.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2