Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
194 - Menikah Karena Berbohong


__ADS_3

Tok... Tok...


Suara ketukan membuat Bu Cintami yang sejak pagi berkutat di depan tumpukan dokumen pekerjaannya, menoleh ke arah Vier yang sudah berdiri di ambang pintu.


Vier melangkah masuk bahkan sebelum Bu Cintami mempersilakannya, sementara itu Gemma  hanya bisa diam dan menunduk sambil mencuri pandang ke arah Mike yang menunggu di luar ruangan kerja Bu Cintami.


Vier mendorong kursi di depan meja kerja Bu Cintami lalu segera duduk sambil mengulas senyum bersahabat lalu mencondongkan tubuhnya.


"Ibu," ucap Vier.


Bu Cintami masih memasang ekspresi dingin.


"Ada apa kau kemari, Vier?" tanya Bu Cintami.


"Jangan memasang sikap seperti anak manja yang merengek minta dibelikan permen!" celetuk Bu Cintami.


Vier menarik tubuhnya yang tadinya agak condong lantaran Bu Cintami menegurnya seperti itu.


"Ibu, begini...," Vier memulai sambil menautkan semua jemarinya.


"Begini apa?!" potong Bu Cintami cepat.


"Ck, Ibu, tolong jangan menyela seperti itu, aku bahkan belum bicara apa pun," keluh Vier.


Bu Cintami melemparkan ekspresi masam yang tak dapat ditutupinya ketika Vier memandangnya dengan penuh kesungguhan.


"Aku ingin meminta maaf pada Ibu," ucap Vier.


Bu Cintami masih memasang ekspresi skeptis pada Vier. Wanita paruh baya itu sudah bisa menebak ke manakah arah pembicaraan anak laki-laki yang paling disayanginya itu.


"Apa kau minta maaf karena lebih memilih menentang ibumu ini?" tanya Bu Cintami.


Vier menghela napasnya dengan berat, tatapannya masih tetap lurus, langsung ke dalam mata sang ibu.


"Ibu, sungguh aku tidak merasa menentang keinginan Ibu," jawab Vier.


"Tidak menentang? Lalu kau sebut apa yang sudah kau lakukan selama ini, Vier?"


"Ibu ingin kau menikah dengan Selena, bukannya malah menikah dengan wanita yang bahkan tidak sepadan untukmu, Vier!"


Vier masih membiarkan sang ibu untuk meluapkan semua hal yang masih mengganjal di benaknya. Vier cukup diam dan mendengarkan saja dulu. Setelah Bu Cintami menarik napas dan berhenti berbicara, barulah Vier mengambil kesempatan untuk melanjutkan ucapannya.


"Ibu, aku sungguh mengerti apa keinginan Ibu. Aku tahu, aku paham. Ketika aku mengenalkan Selena sebagai wanita yang ingin kunikahi, Ibu menyambut dengan baik," ucap Vier.


"Hanya saja, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiku, Selena bukanlah wanita yang kuinginkan," lanjut Vier.


"Ibu pasti menyadari bahwa aku bahkan menolak ketika Ibu berusaha mengaturkan perjodohan untukku. Aku merasa bahwa aku pasti akan menemukan seseorang yang benar-benar tepat untukku, dan dengan caraku sendiri."


"Aku tidak ingin menjadi seperti ayah yang bisa dengan mudah membagi cintanya karena merasa cinta dari Ibu tidaklah cukup."


Bu Cintami terdiam mendengar ucapan Vier.


"Aku tidak ingin menjadi seperti ayah yang mencintai Ibu, tapi nyatanya justru membuat Ibu selalu bersedih ketika bersama ayah," lanjut Vier.


"Oleh sebab itu, aku benar-benar harus mendapatkan wanita yang memang sangat kuinginkan, agar aku tidak menjadi seperti ayah, dan aku juga tidak ingin wanita yang kunikahi pada akhirnya justru menjadi seperti Ibu."


"Vier...," ucap Bu Cintami tertahan.


"Ibu, aku sungguh berharap Ibu menghargai dan menghormati keputusanku."


Bu Cintami menarik napasnya, kemarahan seakan hendak meledak bak gunung berapi yang siap untuk erupsi.


"Bagiku, masalah sepadan itu sama sekali tidak berarti. Saat Vaya berada di sisiku, aku bisa melihat betapa Vaya sudah berusaha keras untuk memantaskan dirinya," kata Vier.


Bu Cintami terdiam melihat Vier beranjak dari kursinya.


"Besok aku dan Vaya akan memperbaharui janji pernikahan kami. Jika Ibu tidak keberatan, aku ingin Ibu hadir di momen sakral itu. Menjadi saksi atas janjiku pada Vaya, dan juga pada diriku sendiri," lanjut Vier.


Vier membungkuk dalam sebelum pergi meninggalkan Bu Cintami yang termenung seorang diri.


...*****...


"Ibu."


Vier menyambut senang kedatangan Bu Cintami. Wanita itu masih melemparkan tatapan skeptis dan sinis, dengan sorot mata penuh keangkuhan.


Vaya benar-benar cemas, ia bahkan sama sekali tak bisa menyembunyikan raut wajah penuh ketegangan.


"Apa aku datang terlambat?" tanya Bu Cintami.


"Ibu, kami bahkan belum memulai acaranya," jawab Vier sambil mengulas senyumnya.


Vaya tak tahu, entah mengapa ia merasa lega melihat Vier dan Bu Cintami yang tak terlihat sedang berperang dingin.


Tak berselang kedatangan Bu Cintami, ayah Vier pun tiba.

__ADS_1


"Vier," kata Pak Javier.


"Ayah," ucap Vier.


Pak Javier langsung memberi Vier pelukan. Pria paruh baya itu hanya menepuk-nepuk punggung Vier tanpa mengucapkan sepatah kata pun mengingat bahwa hubungan keduanya memang sudah renggang sejak dulu.


"Ini anakmu?" tanya Pak Javier pada Vero.


"Benar, Ayah," jawab Vier singkat.


"Mirip sepertimu," tukas Pak Javier.


Vier menyeringai kecut sembari berpikir, wajar saja Pak Javier dulu kerap bersikap dingin pada Vier mengingat bahwa Vier justru tidak memiliki kemiripan fisik dengan ayahnya.


Kemudian saudara-saudari Vier yang begitu menyita perhatian mulai berdatangan.


Aria bahkan nyaris menjerit histeris ketika melihat sosok Missyu yang datang bersama Honey. Selebriti daring idola remaja masa kini yang ternyata adalah adik Vier.


"Aku mau foto bareng Missyu!" ceplos Aria.


"Tante Aria, jangan norak begitu," cibir Vero.


"Oh wow! Siapa ini? Vier, apa kau diracuni organisasi gelap dengan obat aneh sehingga menyusut menjadi bocah seperti ini?!" seloroh Praise begitu heboh tatkala melihat Vero yang digendong Mike.


Praise bahkan menarik-narik pipi dan mengacak-acak rambut Vero.


"Aduh! Sakit!" sungut Vero.


"Praise, apa kau mau filler di dagumu bergeser ke telingamu?" ancam Vier sembari menyeringai.


"Hu-uh!" dengus Praise.


"Mike, jadi kapan kau menyusul menikah?" tanya Praise dengan nada mencemooh.


Mike mengulas senyum sambil menjawab.


"Saya akan datang ke pernikahan Anda lebih dulu, Pak Praise."


Praise langsung memasang ekspresi merengut dan memilih menghindar dari duo jahanam yakni Vier dan Mike.


Yah, sedari dulu Praise memang tidak menyukai Vier, ditambah lagi Mike pada akhirnya menjadi ekor Vier.


Missyu dan Honey menghampiri Vero begitu Praise pergi.


"Honey, matamu pasti sudah rusak jika mengatakan bahwa Vero mirip Praise!" Vier terkekeh sambil melirik ke arah Praise.


"Aku masih tetap lebih tampan darimu, Vier!" Praise menyahut kesal.


"Haha!" Vier tertawa mencemooh.


"Jadi namamu, Vero! Kau benar-benar sama sekali tidak mirip ibumu ya!" ceplos Missyu.


Vaya menarik senyum kecut. Semua orang yang melihat Vero pasti berpikir seperti itu. Dulu bahkan orang-orang mengira bahwa Vaya adalah baby sitter Vero, mengingat betapa kontrasnya warna kulit Vaya dan Vero.


"Missyu," Vier melotot ke arah Missyu.


"Yuk, yuk, kita foto bersama," ajak Missyu pada Vero.


"Nona Missyu, saya rasa sekarang bukan waktu yang tepat," Mike menyela.


Missyu bersungut kesal pada Mike yang bahkan menghalau kamera gawai cerdasnya. Missyu jadi malas berurusan dengan Mike yang dulu bahkan pernah membuat akun sosial media Missyu tidak bisa diakses selama dua kali dua puluh empat jam.


Setelah semua tamu hadir, Vaya dan Vier pun memulai prosesi mereka untuk memperbaharui perjanjian pernikahan.


Bagi Vaya dan Vier, tentu saja momen tersebut sangat berarti. Saat ini semua anggota keluarga mereka bisa berkumpul dan menyaksikan momen pernikahan mereka yang kala itu tidak dapat disaksikan lantaran kesibukan masing-masing.


Meski keluarga Vier terkesan begitu kaku dan canggung pada Vaya dan keluarga, namun bagi Vaya sungguh tidak masalah. Keluarga Vier tetap menunjukkan sikap hormat mereka pada Vaya dan keluarganya.


...*****...


Sebelum meninggalkan tempat acara, Bu Cintami kembali menghampiri Vier dan Vaya.


"Kau jangan merasa di atas angin hanya karena aku datang kemari," ucap Bu Cintami masih dengan sikap sinis dan arogan terhadap Vaya.


"Berhati-hatilah dalam bersikap! Jaga benar-benar sikapmu! Aku akan terus mengawasimu," lanjut Bu Cintami.


Vaya melengos mendengar ancaman dari Bu Cintami.


"Memangnya aku ini pelaku kriminal?!" gerutu Vaya.


"Ya, kau memang pelaku krimimal, Vaya," Vier menyeringai.


"Vier, kau jangan mengada-ada begitu! Kalau aku ini pelaku krimimal, harusnya saat ini aku berada di penjara, bukannya di sini," cibir Vaya.


"Ya, ya, kau memang memilih untuk bersamaku daripada di penjara kan," Vier tertawa sambil merangkul pinggang Vaya.

__ADS_1


"Haha," Vaya tertawa kecut.


"Ayah, Ibu," Vero berlari ke arah Vaya dan Vier.


Vier langsung menyambut Vero dan menggendongnya.


"Vero," Vier langsung memeluk erat Vero.


"Ayah, Ibu, ayo kita pergi ke Disneyland," ajak Vero.


"Ke Disneyland sekarang?" tanya Vaya.


"Iya, sekarang," rengek Vero.


"Baiklah, baiklah, ayo kita pergi sekarang," sahut Vier.


"Vier, tunggu! Bukankah kita harus berganti pakaian dulu?" tanya Vaya.


"Tidak, Vaya, kita harus pergi sekarang," jawab Vier.


...*****...


Vier menyeringai lebar ke arah Vaya yang tercengang melihat kereta kencana sudah menunggu mereka untuk menjelajahi taman bermain yang sungguh luar biasa itu.


Vero benar-benar senang saat kereta kencana mulai bergerak berkeliling dengan iring-iringan yang begitu meriah menyambut mereka.


Vaya merasa sangat terharu hingga meneteskan air matanya.


"Vier, apa kau tahu, sewaktu kecil saat melihat iklan Disneyland di televisi, aku jadi ingin pergi ke sana. Dan siapa yang bisa menyangka bahwa akhirnya aku bisa ke Disneyland seperti ini," ucap Vaya


Vier mengulas senyum lembut ke arah Vaya. Jemarinya mengusap lembut cairan bening yang membasahi pipi Vaya.


"Vaya, katakanlah padaku apa saja impianmu, pasti akan kuwujudkan," ucap Vier.


"Apa kau sungguh akan mewujudkannya?" tanya Vaya.


"Selama kau jujur padaku, apa pun akan kuwujudkan," jawab Vier.


"Hmm, jadi, kalau aku berbohong padamu, maka kau tidak akan mewujudkannya?" tanya Vaya lagi.


"Jangan pernah berbohong padaku lagi, karena aku pasti tahu," jawab Vier.


"Haha," Vaya tertawa.


"Seandainya saja aku tidak berbohong, apa yang akan terjadi ya?" Vaya bertanya-tanya.


"Yah, yang pasti, mungkin kita tidak akan melalui semua ini," sahut Vier dengan mantap.


"Haha," Vaya tertawa lagi.


"Aku mencintaimu, Vaya," ucap Vier.


"Aku juga mencintaimu, Vier," balas Vaya.


Vier meraih dagu Vaya dan memberikan ciuman lembut dan dalam ke bibir Vaya.


"Jadi, apa lagi yang kau inginkan sekarang, Vaya?" tanya Vier usai melepaskan ciumannya.


Vaya mengulas senyumnya.


"Aku rasa kita harus pergi berbulan madu," jawab Vaya tanpa ragu.


"Haha, ayo kita pergi sekarang," sahut Vier antusias.


"Haha," Vaya kembali tertawa saat Vier menciumnya lagi.


Vaya benar-benar merasa sangat bahagia. Terbesit dalam benaknya, apa yang akan terjadi dalam hidup Vaya seandainya saja ia tidak membuat kebohongan yang membuatnya harus berurusan dengan Vier.


Menikah karena berbohong, sepertinya sungguh bukan hal yang patut disesalinya. Ia sepertinya perlu bersyukur, tanpa kebohongan yang dibuatnya, mungkin hidupnya tidak akan seperti sekarang ini.


Tanpa kebohongan yang dibuatnya kala itu, ia tidak mungkin bisa menggapai Vier yang tak tergapai meski dalam mimpi sekali pun.


...Tamat...


...*****...


Pembaca setia author dimana pun kalian berada.


Terima kasih sudah membaca karya ini dan mendukung sampai di episode terakhir.


Sampai jumpa di karya selanjutnya. ( Masih proses penggarapan karena author masih sibuk nonton piala dunia 2022 )


Salam sayang, cinta dan penuh kemanjaan untuk semua yang sudah mendukung karya ini.


VLav

__ADS_1


__ADS_2