Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
172 - Tidak Adil


__ADS_3

"Vaya, kita harus melanjutkan pembicaraan kita," ucap Vier sambil kembali duduk di kursinya.


Pria itu menatap lurus ke arah Vaya yang saat ini hanya bisa duduk terdiam di tangga.


Vaya tidak menanggapi ucapan Vier, ia masih menunjukkan sikap tidak bersahabat. Vier menghela napas berat dan langsung berjalan menghampiri Vaya.


"Jangan mendekat, Vier!" cegah Vaya.


"Kenapa aku tidak boleh mendekatimu?" tanya Vier.


"Pokoknya kau jangan mendekat! Aku tidak mau kau mendekat padaku!" sergah Vaya.


"Coba kau kemukakan dua alasan yang jelas, mengapa aku tidak boleh mendekat padamu?" tanya Vier.


"Tidak perlu dua alasan yang jelas, Vier! Karena menurutku, kau jelas-jelas tidak boleh mendekat padaku! Kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi!"


"Tidak memiliki hubungan apa pun lagi? Vaya, kau masih istriku!" sergah Vier.


"Ya, aku tahu, aku masih istrimu, tapi itu hanya sekadar status saja! Hubungan kita benar-benar sudah berakhir, Vier! Kau dan Selena sudah kembali bersama! Sehingga sudah tidak ada alasan bagimu untuk terus menggantungku seperti ini!"


"Vaya! Berapa kali harus kukatakan padamu agar kau mengerti?! Aku dan Selena tidak kembali bersama!"


"Selama tiga tahun ini, aku memang berada di sisi Selena. Namun itu hanya sebatas dukungan moral yang bisa kuberikan padanya sebagai bentuk pertanggung jawabanku pada Selena, kedua orang tua Selena, dan juga ibuku," ucap Vier.


Vier masih menatap Vaya.


"Aku dan ibuku membuat perjanjian," ucap Vier.


"Jika Selena benar-benar bisa sembuh seperti sedia kala, maka ibuku tidak akan menentang kita."


"Ibuku tidak akan mencampuri urusan kita, dan itulah yang selama ini tengah kuperjuangkan, Vaya."


"Aku tahu, kau pasti berpikir bahwa aku begitu egois dan tidak bertanggung jawab terhadapmu dan juga Vero."


"Tapi, lihatlah Vaya, usahaku tidak sia-sia! Selena menyerah dan memintaku untuk membawamu!"


"Inilah yang selama ini kutunggu, Vaya! Sungguh!"


Vier memohon dengan sangat pada Vaya.


"Vier, apa kau pikir aku akan percaya dengan apa yang kau katakan?" tanya Vaya.


"Vaya, apa maksudmu?" Vier balik bertanya.


"Aku tidak percaya padamu, Vier!" jawab Vaya dengan tegas.


"Vaya!" Vier terperangah. "Vaya! Aku benar-benar tidak percaya ini!"

__ADS_1


"Aku tidak percaya padamu, dan kau tidak percaya padaku. Kita sudah sama-sama menjalani kehidupan yang berbeda! Aku sudah merasa bahagia dengan kehidupan yang kujalani saat ini!"


"Kau tenang saja, aku dan Vero tidak akan mengganggu dan mengusik hidupmu," ucap Vaya.


Vier menyugar rambutnya, ia benar-benar merasa kesal dan frustrasi pada sikap Vaya.


"Vaya, mengapa kau begitu keras kepala seperti ini?"


Vier masih berusaha untuk tetap tenang dalam menghadapi Vaya, meski sebenarnya ia merasa kesal dan jengkel.


"Aku tidak keras kepala, Vier! Aku hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku! Aku bukan wanita yang bisa seenaknya kau dikte!"


Vaya menatap Vier dengan pandangan menantang.


"Aku bukan wanita yang bisa kau tinggalkan dengan sesuka hatimu dan kemudian kau ajak kembali semaumu!"


Vier kembali menghela napas berat, sikap Vaya yang begitu menantang jelas memancing dan menyulut emosi Vier.


Dengan tangan terkepal, Vier berpaling dari Vaya, langkahnya terasa berat saat ia memutuskan untuk keluar dari rumah.


Ia harus meredam emosi yang berkobar-kobar lantaran sikap Vaya yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Apa yang harus kulakukan?


Batin Vier sambil menghirup dalam-dalam udara dingin yang langsung memenuhi paru-parunya. Namun tetap saja, panas yang menggelora dalam tubuhnya tidak bisa seketika redam hanya dengan menghirup hawa dingin.


Vier meninju udara untuk melepaskan semua rasa kesalnya.


Ia benar-benar merasa kecewa lantaran apa yang sudah dilakukannya, hal yang telah ia perjuangkan selama tiga tahun ini seakan menjadi hal yang sia-sia.


Tidak mudah bagi Vier, selama tiga tahun ini berusaha keras memenuhi persyaratan ibunya, yakni membuat Selena kembali sembuh seperti sedia kala.


Tahun-tahun pertama dilalui Vier dengan Selena yang masih menunjukkan sikap menyerah dengan keadaan. Selena yang kala itu memilih untuk mati daripada harus hidup dalam kecacatan. Hingga akhirnya Selena menyerah dan memiliki keinginan untuk bisa sembuh seperti sedia kala.


Vier bahkan harus kehilangan momen kebersamaannya dengan Vaya yang ternyata justru mengandung anak mereka. Vier benar-benar merasa sedih dan kecewa atas penolakan Vaya.


...*****...


Vaya berjalan menuju ke jendela. Ia mengarahkan pandangannya ke luar, Vier masih berdiri di tengah derasnya hujan.


Pria itu benar-benar kembali padanya dan akhirnya datang untuk menjemputnya.


Vaya menolak, ia enggan untuk menerima ajakan Vier.


Bagi Vaya, rasanya semua itu tidak adil. Di saat ia harus berlari dan bersembunyi dari teror Bu Cintami, di sana Vier mendampingi Selena.


Masih segar dalam ingatan Vaya betapa ia harus berjuang sendiri melewati masa kehamilan, melahirkan, hingga membesarkan Vero sendirian. Tak ada Vier yang mendampinginya meskipun ia sungguh ingin ada pria itu di sisinya.

__ADS_1


Vaya segera naik ke lantai atas begitu melihat mobil yang dikemudikan Mike memasuki pekarangan rumah.


Aria, Vero dan Bu Asih segera turun dari mobil menuju ke teras.


Sementara Mike dengan gesitnya segera turun dari mobil memakai payung, berjalan cepat menghampiri Vier.


"Pak Vier, kenapa Anda hujan-hujanan begini?" tanya Mike.


Vier hanya terdiam dengan pandangan kosong. Mike menghela napas berat, sepertinya ia bisa menebak apa yang sudah terjadi di antara dua orang itu.


Sekian lama keduanya tak berjumpa, namun begitu berjumpa pastilah bertengkar.


"Pak Vier, mari kembali ke rumah. Anda harus berteduh," ajak Mike.


"Bagaimana jika Anda sakit karena hujan-hujanan begini?" tanya Mike.


Vier masih terdiam dan mematung. Mike tidak tahu harus membujuk Vier dengan cara apa.


...*****...


"Ibu!" Vero berseru begitu memasuki rumah.


Bocah itu segera mencari keberadaan ibunya.


"Ibu!" seru Vero sambil menaiki tangga.


"Vero, kenapa teriak-teriak begitu?" tanya Vaya.


Vero segera berlari menghampiri Vaya. Saat ini ia sedang duduk di depan televisi yang dibiarkan menyala.


"Ibu, tadi Vero naik mobil yang bagus sekali! Kata Pak Mike, itu mobilnya Pak Vier lho!" Vero begitu antusias.


"Pak Vier orang kaya ya, Bu?" tanya Vero lagi.


Vaya hanya tersenyum kecut mendengar ocehan Vero. 


"Ibu! Ibu! Kok malah melamun?!" omel Vero.


...*****...


Bu Asih saling bersitatap dengan Aria. Wanita paruh baya itu jelas sangat kaget karena Aria datang menjemputnya di puskesmas bersama Mike dan juga Vero.


"Ibu, tadi aku meninggalkan Kak Vaya dan Kak Vier di rumah agar mereka berdua bisa bicara baik-baik," ucap Aria.


Bu Asih menghela napas dengan pandangan mengarah ke lantai atas.


"Vaya!" panggil Bu Asih.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2