Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
098 - Perintah Vier


__ADS_3

Vaya masih tetap berbaring di tempat tidur. Rasa kurang nyaman masih sangat terasa di pangkal pahanya. Rasa sakit, panas, terbakar yang membuat Vaya hanya bisa membentangkan kedua kakinya lebar-lebar di dalam selimut.


Apa kehilangan keperawanan rasanya sesakit ini ya ?


Adakah wanita yang mengalami nasib sama sepertinya?


Merasakan rasa sakit yang begitu berlebihan usai pengalaman pertama yang benar-benar spektakuler.


Vaya menyebutnya spektakuler karena ia harus melakukannya dengan sangat terpaksa, menerima semua perlakuan tanpa boleh membantah, dan melakukannya dengan seorang pria yang tidak ia inginkan.


Sungguh sangat spektakuler sekali kan? Menyerahkan diri demi bukti otentik guna menyelamatkan diri dan menyelamatkan pria yang dicintainya.


Sungguh ironis, namun semua sudah terjadi. Entah apa yang akan dilakukan Vaya selanjutnya. Melihat betapa tidak tertebaknya Vier, Vaya jelas harus lebih berhati-hati lagi.


Cklek..


Pintu kamar Vaya terbuka, Vier memasuki kamar dan mendapati Vaya yang masih meringkuk.


Vier segera duduk di tepi tempat tidur, mengusap lembut kepala Vaya.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Vier.


Vaya tak menjawab, baginya lebih baik ia diam daripada salah bicara.


Vier melirik kemasan obat yang masih utuh di atas nakas.


"'Kau belum minum obat?" tanya Vier.


Vaya masih tetap bungkam seribu bahasa dan itu benar-benar membuat emosi Vier segera tersulut.


"Vaya, apa-apaan sikapmu ini?" sergah Vier.


"Vier, kumohon, aku tidak ingin berdebat denganmu," kata Vaya.


"Vaya, siapa yang mengajakmu berdebat? Aku hanya menanyakan keadaanmu saja," kata Vier.


"Terima kasih, Vier, tapi kau tidak perlu repot-repot melakukan basa-basi seperti itu," sahut Vaya.


"Basa-basi?" Vier terperangah.


"Vier, pergilah!" nada bicara Vaya memerintah.


"Vaya, apa-apaan kau ini?!" sergah Vier.


Vaya memutar bola matanya, geram dan gusar tak bisa ditahannya lagi.


"Vier, kau bisa dengan mudah menyuruhku pergi setelah apa yang kau lakukan semalam. Mengapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama padamu?" tanya Vaya.


Vaya menarik selimutnya lebih tinggi, bahkan hingga menutupi kepalanya. Vier memutar bola matanya melihat kelakuan Vaya.


"Vaya, minum obatmu sekarang!" perintah Vier.


Vaya tidak bergeming, ia masih tetap bersembunyi di balik selimutnya.


"Vaya!" Vier menarik selimut Vaya.


Menyentaknya dengan satu kali sentakan dan membuat Vaya kehilangan perlindungannya.


"Vier!" Vaya tersentak kaget.


"'Minum obatmu," perintah Vier.


"Tidak mau! Aku tidak mau!" tolak Vaya.


"'Kenapa kau tidak mau minum obat?" tanya Vier.


"Ya, karena aku tidak mau!" jawab Vaya.


"Kenapa kau tidak mau? Apa kau tidak mau cepat sembuh?" tanya Vier.


"Ya! Aku tidak mau cepat sembuh! Biar saja aku sakit seperti ini! Kalau perlu, langsung mati saat ini juga!" cecar Vaya.


Vier menarik napas berat.


"Vaya! Minum obatmu! Ini perintah!" kata Vier.

__ADS_1


Vaya menatap Vier dengan tatapan penuh kebencian.


"Jangan membuatku mengulang perintah yang sama, Vaya!" kata Vier menegaskan.


"Aku tidak mau!" jawab Vaya.


"Wah! Wah! Kau berani menentangku!" Vier menyeringai horor.


"Aku tidak menentangmu, Vier! Aku punya hak menolak!" kata Vaya dengan tegas.


"Haha," Vier tertawa.


Vaya menatap kesal ke arah Vier, ia segera mengambil kembali selimutnya. Kembali menyembunyikan dirinya.


"Ck!" Vier berdecak kesal.


Lagi-lagi selimut Vaya ditarik oleh Vier.


"'Vier!" sergah Vaya.


Vier meraih wajah Vaya, membenamkan sebuah ciuman yang membuat Vaya terperanjat. Vier mendesak agar Vaya membuka mulutnya, menyalurkan obat dan air yang sudah berada dalam mulut Vier.


Vaya terperanjat merasakan obat dan air yang meluncur turun memasuki kerongkongan menuju ke lambungnya.


"'Uhuk.. Uhukk..!"


Vaya terbatuk-batuk begitu Vier melepaskan ciumannya.


Vier menyeka bibirnya yang basah.


"Vaya, apa kau sungguh sangat tergila-gila pada ciumanku, sampai-sampai minum obat pun kau harus mendapat ciuman dariku terlebih dulu?" goda Vier.


Vaya benar-benar menggigil menahan rasa kesal yang memukuli dadanya.


"Vaya, berapa kali harus kukatakan, jangan menentangku! Atau kau harus menerima akibatnya," Vier kembali menyeringai horor.


"Huh, apa hukuman yang kau maksud itu adalah memborgolku, mencambuki, lalu meniduriku seperti seorang pelacur?" tanya Vaya.


"Ah, ya, benar, kau kan memang pria yang selalu meniduri para wanita yang memuaskan birahimu!"


Kemarahan yang sudah tak mampu ditahan oleh Vaya. Kemarahan yang benar-benar membakar Vaya dengan sempurna.


Rasa sakit fisik yang didera oleh Vaya tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit hati yang ia rasakan karena Vier yang sudah bersikap semena-mena terhadapnya.


Pria yang memberinya pengalaman pertama yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan menyengsarakan.


"Silakan buang aku, Vier! Buang aku seperti semua wanita yang sudah kau buang dari hidupmu!"


Vier hanya diam memandangi Vaya yang nampak berapi-api, meluapkan semua rasa marahnya pada Vier.


"Haha!" Vier tertawa.


Ugh! Lihat, dia bisa tertawa seperti itu! Batin Vaya gusar.


"Vaya, apa kau tahu, ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wanita agar bisa kutiduri?" ucap Vier sambil mengulas senyumnya.


"Yang pertama adalah wanita itu haruslah membuat kesepakatan untuk tidur denganku. Dalam hal ini, kau sudah sepakat untuk kutiduri. Kau bahkan juga menerima dua permintaan yang kuberikan sebelum aku menidurimu," beber Vier dengan entengnya.


"Kau setuju, aku setuju, maka sudah sewajarnya aku melakukan hal yang sudah kita sepakati bersama. Aku menidurimu sesuai dengan ketentuan yang sudah kutetapkan."


"Jika saat ini kau marah padaku karena merasa bahwa aku memperlakukanmu seperti seorang pelacur, tentu saja itu adalah kesimpulan yang salah, Vaya."


Vier menatap Vaya yang masih melemparkan tatapan kebencian.


"Dan satu hal lagi, tadi kau mengatakan bahwa pengalaman pertamamu sungguh mengerikan. Aku benar-benar merasa tersinggung dengan ucapanmu itu, Vaya. Haha!" Vier tertawa lagi.


"Baiklah, kalau begitu, ikutlah denganku sekarang! Akan kuberikan pengalaman pertama yang menyenangkan!"


"Tidak! Aku tidak mau!" sewot Vaya.


"Wah, wah, Vaya, apa kau menentang perintahku?" tanya Vier.


Vaya terkesiap melihat seringaian Vier.


"Vaya, kau pasti paham kan, menolak perintahku artinya apa?" tanya Vier.

__ADS_1


Aduh! Mampus! Batin Vaya.


Vier menyeringai, dengan satu gerakan cepat, ia langsung membopong Vaya di bahunya, seperti memanggul karung berisi beras lalu keluar dari kamar Vaya.


"Vier! Turunkan aku!" Vaya meronta.


"Haha," Vier hanya tertawa kesal.


"Pak Vier," Mike terkejut melihat Vier yang memanggul Vaya.


"Mike, kosongkan jadwalku dua hingga tiga jam ke depan!" perintah Vier.


"Ba-baik Pak," sahut Mike tergagap.


"Vier, turunkan aku!" Vaya meronta, memukul punggung Vier.


"Ya, pukul saja aku sampai kau merasa puas, Vaya! Pukul saja aku sebanyak yang kau mau! Karena aku akan membalasmu sepuluh kali lipat! Haha!" Vier tertawa.


...*****...


Ruangan bertirai hitam jelas menjadi ruangan yang tidak ingin dikunjungi Vaya lagi. Namun lagi-lagi, Vier membawanya ke ruangan ini.


Vaya kembali berbaring di atas tempat tidur yang semalam menjadi saksi bisu ketika Vier merenggut kesuciannya. Dan sekarang pun, Vaya sudah berada di posisi yang sama.


Terkunci dalam kungkungan Vier, kedua tangan Vaya berada di atas kepala karena Vier menahannya dengan keras.


"Ugh, Vier, sakit," Vaya berusaha meronta.


Vier menyeringai.


"Vaya, jika kau mengeluhkan betapa pengalaman pertamamu sangat mengerikan, itu salahmu sendiri. Salahmu karena sudah membuatku marah."


"Tidak, aku tidak hanya sekadar marah! Aku benar-benar sangat marah padamu!"


"Harus berapa kali kukatakan padamu agar kau mengerti bahwa kau harus menjaga jarak dengan para pria! Aku tidak peduli siapa pun mereka, bahkan jika mereka bukanlah manusia!" 


"Vier! Mengapa kau melakukan ini padaku?!" tanya Vaya.


Vier menatap Vaya sambil mengulas senyumnya.


"Syarat kedua dari wanita yang bisa kutiduri adalah wanita itu haruslah milikku seutuhnya," jawab Vier.


Vaya terkesiap, rasa ngeri dan takut kembali menyergapnya, menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Vier, lepaskan aku! Lepaskan!"


Vaya meronta dengan keras saat Vier membenamkan bibirnya di sepanjang garis rahang Vaya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya.


Ia benar-benar tak sudi Vier menyentuhnya lagi.


Vier tak peduli, meski Vaya meronta dengan keras, ia tetap membenamkan ciuman yang dalam pada Vaya.


Ugh! Tidak! Lepaskan!


Vaya mendorong tubuh Vier dengan keras.


Ugh!


"Vier! Ceraikan saja aku! Ceraikan!" seru Vaya.


"Apa? Cerai?" Vier terperangah.


"Lebih baik kau ceraikan saja aku! Daripada aku harus menjadi pemuas birahimu!"


"Ck," Vier berdecak kesal.


"Vaya, sepertinya aku memang harus memberimu hukuman."


Vier turun dari tempat tidur, menuju ke lemari kaca yang tertutup tirai hitam. Tempat Vier menyimpan koleksi benda-benda fantasi berbahayanya.


Vaya menegang saat Vier mengeluarkan sebuah benda berkilauan yang membuat jantung Vaya berdentam makin keras.


...*****...


Pembaca setia author, dukung terus yaa..

__ADS_1


__ADS_2