Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
013 - Kostum


__ADS_3

Cahaya matahari pagi bersinar begitu cerah. Langit biru dengan semburat awan-awan putih berarak, ditambah dengan semilir angin lembut menggoyangkan rimbunnya pepohonan di sekeliling taman yang menjadi tempat Vier menikmati sarapan paginya.


Para pelayan berjenis kelamin wanita jelas tak pernah melewatkan sehari pun untuk menjadikan pria itu sebagai tontonan yang tak membosankan. Cahaya matahari membuat kulit putih dan mulus Vier makin berkilauan dan menyilaukan.


Pak Jo menjadi orang pertama yang menegur satu per satu para pelayan yang selalu berusaha mencari-cari kesempatan untuk mencuri pandang menikmati keindahan pria bersenyum cemerlang tersebut.


Pak Jo, kepala staf utama selalu berpatroli mengawasi para pelayan bekerja, ia sering mendapati pelayan kerap kehilangan fokus mereka saat menatap Vier.


"Jangan pernah menatap Pak Vier lebih dari lima detik, atau kalian harus kehilangan pekerjaan!" ancam Pak Jo.


Para pelayan pun akhirnya selalu menundukkan kepala mereka. Ketakutan dengan ancaman dari Pak Jo.


"Pak Jo!" seru Berlina setengah berlari menghampiri Pak Jo.


"Ada apa, Berlina?" tanya Pak Jo.


Berlina mengatur napasnya yang memburu sebelum bicara dengan Pak Jo.


"Pak Jo, Bu Vaya, beliau menginginkan barang bawaan beliau," jawab Berlina.


Pak Jo menghela napas berat sebelum akhirnya mengambilkan barang bawaan milik Vaya yang ia simpan, mengingat wanita itu belum mendapatkan ruangan di rumah ini.


...*****...


"Pak Vier, apa Anda berencana untuk mengosongkan jadwal Anda hari ini?" tanya Mike sambil berkutat di depan tablet pintarnya.


"Hmm, ya, kau benar, Mike, aku ingin mengunjungi suatu tempat bersama wanita itu. Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa dia lama sekali? Dia mandi atau bersemedi?" Vier menyeringai.


Mike mencuri pandang, mengamati ekspresi horor Vier. Entah apa yang sudah terjadi semalam hingga mood pria itu terlihat luar biasa baik.


Apa sudah terjadi hal romantis di antara mereka berdua?


Yah, pasti semalam keduanya menghabiskan malam panjang yang romantis dan penuh gairah, begitulah kesimpulan yang ditarik oleh Mike.


Vier menyeruput segelas jus jeruk yang menyegarkan tenggorokannya sambil menikmati paparan sinar matahari pagi yang hangat. Kedamaian di pagi hari merupakan hal yang ia sukai sebelum memulai aktivitas harian yang padat.


"Vier!"


Teriakan itu membuat Vier tertegun, Vaya terlihat setengah berlari menghampirinya.


Vier mengulas senyum cemerlangnya, menyambut kedatangan Vaya yang berapi-api, seakan membawa obor di kepalanya.


"Wah, wah, pagi-pagi kau sudah semangat sekali! Sebegitu inginnya bertemu denganku?" tanya Vier dengan nada mengejek.


Bertemu kepalamu! Vaya mengumpat dalam hati.


Mata Vier segera terfokus pada kaus oblong dan celana jeans yang dikenakan oleh Vaya.


"Vaya, kenapa kau tidak mengenakan gaun yang kusiapkan?"


"Vier, apa kau sungguh ingin aku memamerkan kadas, kudis, kurap, dan panu yang ada di tubuhku?" tanya Vaya.

__ADS_1


Vier mengerutkan alisnya, begitu juga dengan Mike.


"Bu Vaya, Anda mengidap penyakit kulit yang kronis?" tanya Mike.


"Ya! Aku punya penyakit kulit yang menular, meski kau hanya memandangnya saja!" sahut Vaya.


"Bu Vaya, sebaiknya Anda segera berkonsultasi ke dokter kulit terbaik, apa Anda mau saya buatkan janji?" tanya Mike.


"Haha," Vier tertawa dengan tawa yang dibuat-buat. "Vaya, aku sudah melihat seluruh tubuhmu, dan aku tidak menemukan adanya kadas, kudis, kurap, dan panu yang kau sebutkan!" Vier kembali menyeringai.


"A-apa?!" Vaya terperangah.


"Kau ini sungguh tidak kapok berbohong padaku ya? Haha," Vier tertawa lagi.


"Vier, bagaimana kau...," Vaya tak mampu berkata-kata.


Dalam benaknya terlintas kemungkinan bahwa Vier mungkin sudah memeriksa tubuhnya ketika ia terlelap. Terbukti dari ikatan dasi dan ikat pinggang yang sudah terlepas begitu Vaya terbangun.


Oh tidak! Aku ternoda! Vaya meronta dalam hati.


Bodoh! Kenapa aku sampai ketiduran sih?! Bodoh! Vaya memaki dirinya sendiri.


Vier masih tersenyum cemerlang.


"Vaya, sebaiknya kau makan dulu. Kau harus makan, agar tetap kuat saat meronta," goda Vier.


Vaya memutar bola matanya, ia benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam otak Vier.


"Baiklah, jadi kau sungguh tidak mau mengenakan gaun yang kupilihkan untukmu?" tanya Vier.


"Tidak, aku lebih memilih kain kafan daripada gaun itu, Vier!" tolak Vaya.


"Haha!" Vier tertawa lagi.


"Baiklah, kalau begitu, mari kita pergi ke suatu tempat agar kau bisa memilih sendiri pakaian terbaik untukmu," kata Vier sambil tersenyum misterius.


...*****...


Vaya memasuki sebuah toko pakaian yang benar-benar membuatnya hanya bisa mengelus dada. Vier melangkah lebih dulu, sementara Vaya begitu enggan untuk melangkah masuk ke dalam toko.


Toko pakaian yang dikunjungi Vaya saat ini merupakan toko yang menjual berbagai kostum dewasa. Kostum dewasa di sini maksudnya adalah kostum-kostum yang digunakan untuk bermain peran. Mulai dari kostum pelayan seksi, kostum kucing seksi, dokter, perawat, hingga kostum kelinci.


"Vaya, aku rasa kostum kelinci ini sangat cocok untukmu," Vier menunjuk ke arah kostum kelinci.


Kostum kelinci super seksi, lengkap dengan stoking jala-jala yang dikenakan boneka manekin dipajang di sudut ruangan.


"Ahaa, aku rasa kostum pasien rumah sakit jiwa cocok juga untukmu!" tunjuk Vier lagi.


Vaya melongo makin lebar melihat manekin dengan kostum robek-robek yang memperlihatkan pakaian dalam yang tak kalah seksi.


"Aku bisa merobek-robek kostum itu, sebelum menyantapmu," bisik Vier seraya terkekeh.

__ADS_1


Vaya melengos, wajahnya seketika memerah.


"Vier, bagaimana kau bisa secabul ini?!" tanya Vaya keheranan.


"Cabul?" Vier balik bertanya.


"Ya, kau benar-benar sangat cabul!"


Vier memutar bola matanya, ia segera menarik tangan Vaya lalu menyeret Vaya keluar dari toko itu.


"Vier! Lepaskan aku! Tanganku sakit!" sergah Vaya.


Vier melepaskan tangannya, lagi-lagi Vaya jatuh terjerembab karena kehilangan keseimbangan.


"Aduh!" erang Vaya sambil berusaha bangkit.


"Vaya, aku benar-benar tidak mengerti bagaimana kau bisa menganggapku cabul!" kata Vier.


"Vier, apa isi dalam otakmu hanya ada dunia perlendiran?" tanya Vaya.


"Apa?! Dunia perlendiran?!" tanya Vier.


"Vier, aku mohon padamu! Aku setuju menikah denganmu, tapi aku menolak untuk menjadi bonekamu!" ucap Vaya dengan tegas.


"Aku tahu, aku salah dengan membuat kebohongan! Aku pun sudah menebus kesalahanku dengan pernikahan ini. Tapi, peranku hanya sebatas pengantin pengganti, bukan untuk menjadi boneka pemuasmu!" lanjut Vaya.


"Haha!" Vier tertawa lagi.


Vier segera mengambil gawai cerdasnya, ia segera menghubungi Mike.


"Mike, jemput kami sekarang," perintah Vier.


...*****...


Vier kembali menarik Vaya secara paksa begitu tiba di rumahnya.


Vaya kembali memasuki kamar yang semalam ia tempati.


Tubuh Vaya segera terpelanting ke atas tempat tidur karena Vier mendorongnya lalu menguncinya.


"Vier, lepaskan aku!" Vaya meronta.


"Sepertinya aku benar-benar harus memberimu penjelasan, mengenai apa makna seorang istri bagiku!" Vier menyeringai.


"Vier, lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Vaya.


"Ya, berteriaklah sampai pita suaramu putus! Percuma saja, tidak akan ada yang bisa mendengarmu! Haha!"


"Tidak!" teriak Vaya.


Ketakutan pun kembali menyergap Vaya dengan segenap rasa penyesalannya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2