Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
114 - Ajakan Aria


__ADS_3

"Vier, apa kau pernah pergi ke restoran ini?" tanya Vaya sambil melirik ke arah Vier yang saat ini sedang sibuk berkutat di depan buku menu.


"Ini pertama kalinya aku pergi ke restoran ini," jawab Vier tanpa mengalihkan matanya dari daftar menu.


"Serius?" tanya Vaya keheranan.


Vier menutup buku menunya lalu mengalihkan pandangannya pada Vaya.


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Vier.


"Vier, restoran ini bahkan sudah sangat terkenal waktu aku kecil. Bahkan saat kita masih SMA, restoran ini merupakan tempat paling hits di zaman itu! Sepertinya hampir semua anak-anak muda dulunya nongkrong di sini lho!" kata Vaya.


"Hmm, begitu ya, aku rasa sepertinya dulu aku bukan bagian dari anak-anak nongkrong itu," sahut Vier seraya tertawa.


Namun tawa Vier terdengar penuh kegetiran.


"Hmm, ya, aku tahu, aku rasa tempat ini pasti akan menguras habis uang sakumu, jika setiap hari kau datang ke tempat ini bersama gadis-gadis yang berbeda," tukas Vaya.


"Haha," Vier tertawa. "Dasar sok tahu!"


"Jadi, apa kau sudah siap memesan?" tanya Vaya.


"Hmm, ya," sahut Vier.


"Pelayan," Vaya melambaikan tangannya.


Pelayan segera menghampiri meja mereka, pulpen dan memo sudah berada di tangannya.


"Saya pesan kepiting asap, kepiting lada hitam, udang telur asin, cumi saus Padang, ikan kakap asam manis, kerang hijau saus pedas, cah kangkung, cah taoge ikan asin, masing-masing 1 porsi, nasi putih 1 porsi,  minumnya es teh manis," Vaya menyebutkan semua menu yang dipesannya.


Vaya benar-benar sangat antusias dan tak sabar untuk menyantap hidangan yang menjadi rekomendasi utama restoran ini.


"Vaya, kau serius akan memakan semua makanan itu sendiri?" tanya Vier.


"Sendiri? Kan ada kau, Vier," sahut Vaya.


Vier menyeringai.


"Apa ada lobster panggang?" tanya Vaya.


"Lobster kosong, Kak," jawab si pelayan.


"Oh begitu," kata Vaya.


Vier segera menunjuk menu yang dipilihnya dan segera pelayan itu mencatat menu pesanan Vier.


Pelayan mengulangi semua menu yang dipesan sebelum diproses ke dapur.


Vaya memandang ke sekeliling restoran yang nampak sepi.


"Rasanya aneh sekali hanya ada kita berdua di sini, biasanya ada Pak Mike yang akan mengawasi," ucap Vaya.


"Kenapa? Kau tidak suka berduaan denganku seperti ini?" tanya Vier.


"Bu-bukan begitu, rasanya seperti ada yang kurang saja. Karena biasanya kan Pak Mike selalu ada meski hanya diam-diam saja," jawab Vaya.


"Yah, itu kan sudah jadi pekerjaan utama Mike. Diam dan mengawasi," sahut Vier.

__ADS_1


"Aku sungguh kepikiran dengan Pak Mike, bagaimana dia bisa makan dengan kondisi tangan terluka begitu?" Vaya bertanya-tanya.


"Vaya, Mike makan dengan mulutnya, bukan tangannya! Haha! Kau ini bodoh sekali," Vier tertawa mengejek.


"Vier, sungguh, aku mencemaskan Pak Mike," sela Vaya.


"Kau tenang saja, Mike bisa mengurus dirinya sendiri dengan sangat baik," tukas Vier.


...*****...


Sementara itu di rumah sakit, Mike masih menunggu di depan ruang perawatan tempat Darti dirawat. Ia masih menunggu dengan sabar sementara Vier dan Vaya membereskan masalah Deri di penjara.


"Pak Mike."


Sapaan Bu Asih membuat Mike menoleh. Bu Asih  segera kembali ke rumah sakit begitu mendengar kabar dari Vaya bahwa Darti harus dirawat di rumah sakit lantaran penyakit darah tingginya kambuh.


"Bu Asih," sapa Mike.


"Bagaimana kondisi Kak Darti?" tanya Bu Asih.


"Sudah lebih baik sehingga bisa dipindahkan dari ruang IGD," jawab Mike.


"Pak Mike sendiri bagaimana?" tanya Aria.


Mike mengangguk dan hanya mengulas senyumnya.


"Karena Bu Asih dan Aria sudah berada di sini, saya mohon pamit ke ruangan saya," ucap Mike.


"Pak Mike, sekali lagi saya ucapkan terima kasih," kata Bu Asih.


Mike mengangguk dan segera pergi meninggalkan Bu Asih dan Aria.


Kasihan sekali, Kak Darti, kondisinya drop begini pasti karena Deri, batin Bu Asih.


"Ibu, aku lapar, aku mau makan ya, Bu," kata Aria.


"Ya sudah, makan dulu, hati-hati ya, jangan pergi jauh-jauh," pesan Bu Asih.


"Ya Bu," sahut Aria.


Aria bergegas pergi dari ruangan itu. Langkahnya begitu ringan, bahkan setengah berlari menuju ke restoran yang menjual ayam goreng di lantai dasar.


Aria memang benar-benar sudah lapar karena begitu pulang sekolah, ibu mengajaknya ke rumah sakit lagi.


Dengan uang jajan yang diberikan kakak iparnya tempo hari, Aria bisa jajan apa pun yang ia inginkan meskipun setengahnya sudah ditabung. Meski begitu tetap saja, uang jajannya jadi banyak sekali dan rasanya tidak ada habisnya.


Pesan apa ya? Hmm, pikir Aria begitu berada di depan petugas restoran.


Apa Pak Mike kutraktir juga ya, sebagai ucapan terima kasih? Batin Aria.


...*****...


Aria segera membawa makanan yang dibelinya menuju ke ruang tempat Mike dirawat.


Entah mengapa Aria merasa sangat berdebar-debar dan gugup. 


Tok... Tok...

__ADS_1


Aria mengetuk pintu ruang VIP lalu membuka pintu tersebut.


"Pak Mike," sapa Aria.


"Aria?" Mike terperangah melihat kemunculan Aria.


Aria menghampiri Mike.


"Ada apa kau kemari, Aria?" tanya Mike.


"Pak Mike, ini," Aria menyodorkan kantong kertas ke arah Mike.


"Terimalah sebagai bentuk ucapan terima kasih saya," kata Aria.


"Oh, terima kasih, Aria, maaf, harusnya kau jangan repot-repot begini. Nanti uang jajanmu habis," ucap Mike menerima kantong kertas itu.


Aria menggeleng cepat.


"Tidak, saya tidak repot kok! Lagipula uang jajan yang diberikan Kak Vier masih banyak sekali," ucap Aria.


"Oh begitu," Mike menyeringai.


Yah, jika mengingat jumlah uang yang diberikan Vier untuk Aria, jelas saja itu nominal yang banyak sekali untuk ukuran anak SMP.


"Ada apa, Aria?" tanya Mike.


"Pak Mike, makan sama-sama yuk," ajak Aria.


"Saya lapar sekali, sejak pulang sekolah masih belum makan apa pun," kata Aria.


Aria segera mendorong meja portable dan langsung meletakkan makanannya di hadapan Mike.


"Makan bersama lebih menyenangkan daripada makan sendirian," kata Aria.


Aria mengambil kantong kertas dari tangan Mike, mengeluarkan satu per satu isi kantong kertas tersebut. Ada paket ayam goreng, nasi putih, dan minuman bersoda. Ada juga kentang goreng, sup, dan puding.


Aria begitu bersemangat dan antusias, sungguh berbanding terbalik dengan Mike yang hanya bisa terdiam.


"Ayo kita makan, Pak Mike, saya benar-benar sudah lapar," ajak Aria.


Mike masih terdiam.


"Pak Mike tak mau makan? Apa masih kenyang?" tanya Aria.


Aria tertegun melihat Mike yang masih mematung.


"Pak Mike tidak mau makan bersama saya?" tanya Aria.


Mata Aria mulai berkaca-kaca.


"Maaf, Aria, sungguh bukan seperti itu," jawab Mike.


"Jadi kenapa?" tanya Aria.


"Aria, maaf ya, sebenarnya saya terbiasa makan sendiri, lagipula saat ini saya tidak bisa makan dengan leluasa mengingat kondisi tangan saya yang seperti ini," Mike menjelaskan.


"Oh iya juga ya, kalau begitu, Pak Mike, saya suapi saja ya."

__ADS_1


Mike terdiam, saat ini di depannya, seorang gadis berseragam putih biru menawarkan diri untuk menyuapinya.


...*****...


__ADS_2