
Vaya melangkah turun dari lantai dua begitu mendengar panggilan ibunya.
"Aria, tolong awasi Vero ya," pinta Vaya.
"Ya Kak," sahut Aria.
"Ini remote televisinya.*
Vaya menyerahkan remote televisi yang langsung disambut ogah-ogahan oleh Aria.
"Jangan nonton sinetron!" ancam Vaya.
"Hmm, yaa," sahut Aria lagi.
Aria segera menuju ke lantai atas, sementara Vaya segera duduk berhadapan dengan ibunya.
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" tanya Vaya mencemaskan kondisi Bu Asih.
"Maaf Bu, harusnya aku tidak perlu ke pasar hari ini. Harusnya aku langsung mengantar Ibu berobat," ucap Vaya.
"Vaya, Ibu sudah tidak apa-apa. Tadi di puskesmas Ibu sudah dapat perawatan medis dan juga sudah diberi obat-obatan," kata Bu Asih.
Vaya kembali menatap wajah ibunya yang telah dipenuhi garis-garis waktu yang telah banyak berlalu.
"Vaya, apa kamu sudah bicara dengan Vier?" tanya Bu Asih.
Vaya menghela napas sambil menundukkan pandangannya.
"Vaya," kata Bu Asih.
"Kami sudah bicara dan tidak ada yang harus kami bicarakan lagi," jawab Vaya.
Bu Asih tahu bahwa Vaya sedang berbohong lantaran Vaya memilih menunduk daripada langsung menatap mata Bu Asih.
"Vaya, kau dan Vier sudah dewasa sehingga dalam menghadapi masalah harus menyikapinya dengan cara dewasa. Pikirkan dan pertimbangkan baik-baik sebelum membuat keputusan," ujar Bu Asih memberi nasehat.
"Sudah, Bu, tapi Vier begitu keras kepala," keluh Vaya.
"Vier keras kepala? Memangnya kamu ini tidak keras kepala?" tanya Bu Asih.
"Ibu!" Vaya terperangah.
"Vaya, sebenarnya Ibu tidak mau ikut campur urusanmu dan Vier. Oleh sebab itu, sekarang coba kamu pikir dulu baik-baik. Jangan membuat keputusan saat sedang emosi."
"Ibu mau bicara dengan Vier," kata Bu Asih.
"Ibu, sungguh tidak perlu!" cegah Vaya.
"Vaya, tolong biarkan Ibu bicara dengan Vier."
Vaya memelas pada ibunya.
"Kamu ke atas saja bersama Vero dan Aria," perintah Bu Asih.
__ADS_1
Vaya melengos, namun Vaya tentu tidak berani membantah perintah ibunya. Vaya pun kembali ke lantai atas meski harus menyeret kakinya.
Bu Asih beranjak dari kursi, lalu membuka pintu rumahnya. Matanya langsung tertuju pada dua pria yang saat ini sedang berteduh di bawah payung di depan rumah.
"Nak Vier," panggil Bu Asih.
Mike mendengar panggilan Bu Asih, sontak langsung menepuk bahu Vier.
"Pak Vier, Bu Asih memanggil Anda," ucap Mike.
"Eh, oh," Vier terkesiap.
Mike mengerutkan keningnya melihat Vier yang seakan baru kembali mendapati raganya setelah sukmanya berkelana entah ke mana.
"Pak Vier, Anda dipanggil ibu mertua Anda," Mike mengulangi.
Vier segera berbalik dan mendapati Bu Asih yang berdiri di ambang pintu. Vier berjalan pelan menghampiri wanita paruh baya itu.
"Ibu," Vier mengambil tangan Bu Asih.
Bu Asih mengulurkan tangannya dan menyambut kecupan singkat yang diberikan Vier.
"Ibu kapan datang?" tanya Vier.
"Sudah dari tadi," jawab Bu Asih.
"Maaf, saya tidak menyadari kedatangan Ibu," kata Vier penuh sesal.
Bu Asih mengulas senyumnya.
Vier mengangguk pelan lalu menatap ke arah Mike. Mike dengan sigap segera menyerahkan koper berisi pakaian milik Vier yang sudah diambilnya dari dalam mobil.
...*****...
Setelah berganti pakaian, Vier pun segera menghampiri Bu Asih yang sudah duduk menunggunya di meja kosong.
Mike tetap siaga berjaga, dengan sigap menyiapkan kursi agar Vier bisa duduk dengan nyaman.
"Nak Vier, diminum dulu wedang jahenya, kata Mike, kau tidak minum teh ataupun kopi," kata Bu Asih.
"Terima kasih Bu," ucap Vier.
Vier segera menyeruput wedang jahe yang langsung terasa menghangatkan tubuhnya. Vier meletakkan kembali gelasnya di atas tatakan gelas.
"Bagaimana kondisi Ibu?"
"Ibu sudah merasa lebih baik. Terima kasih sudah datang dan menjemput Ibu," jawab Bu Asih.
"Terima kasih juga sudah menjaga Vero, Ibu benar-benar merasa was-was dan kepikiran karena harus meninggalkan Vero sendirian di rumah," lanjut Bu Asih.
"Ibu, justru saya yang harusnya berterima kasih kepada Ibu karena sudah menjaga Vero dan juga Vaya selama ini," potong Vier.
"Saya benar-benar minta maaf dan saya sama sekali tidak bermaksud untuk menelantarkan Vaya dan juga Vero," lanjut Vier.
__ADS_1
"Keadaan mendesak saya dan Vaya untuk hidup terpisah selama ini. Tapi Bu, selama ini, saya tidak pernah sekali pun melupakan Vaya."
"Nak Vier," potong Bu Asih.
"Sekarang Ibu tanya, apa maumu?" tanya Bu Asih.
"Apa mauku?" Vier balik bertanya.
Bu Asih mengangguk.
"Yang saya mau adalah agar Vaya dan Vero kembali hidup bersama saya. Kembali menjadi keluarga yang utuh, hidup bersama tanpa perlu terpisah lagi," jawab Vier.
Bu Asih mengambil gelas berisi wedang jahe miliknya, menyeruput sedikit lalu kembali meletakkan gelasnya di atas tatakan.
"Nak Vier, jika maumu adalah kembali menjadi keluarga yang utuh, lantas apa kau sudah memikirkan apa maunya ibumu?" tanya Bu Asih.
Vier terdiam mendengar pertanyaan Bu Asih.
"Nak Vier, Ibu tidak bermaksud untuk mendiskreditkan ibumu ataupun keluargamu."
"Namun, apakah ibumu ataupun keluargamu bisa menerima kehadiran Vero?" tanya Bu Asih.
"Ibu bisa melihat dengan jelas bahwa ibumu nampaknya kurang bisa menerima kehadiran Vaya dalam hidupmu. Ibumu menganggap bahwa Vaya bukanlah menantu yang diinginkannya."
"Kami bahkan terpaksa pindah ke tempat yang jauh dan terpencil seperti ini lantaran Vaya merasa bahwa keselamatan kami adalah prioritas yang utama," lanjut Bu Asih.
Bu Asih masih menatap ke dalam mata Vier.
"Ibu hanya ingin melihat Vaya bahagia," ucap Bu Asih.
"Ibu," Vier menghela napas berat.
"Saya paham dan saya sangat mengerti apa yang Ibu cemaskan."
"Hanya saja, saya mohon, tolong percayalah pada saya."
"Selama tiga tahun ini, saya bukannya menjadi pria yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkan Vaya dan juga Vero, Bu," kata Vier.
Vier membalas tatapan Bu Asih.
"Selama tiga tahun ini, saya berusaha keras dengan cara saya agar ibu saya pada akhirnya bisa menerima Vaya. Mungkin terdengar sangat egois, namun bagi saya, hanya inilah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan. Sekaligus memberi bukti bahwa berapa lama pun waktu berlalu, itu semua tidak memengaruhi rasa cinta saya kepada Vaya," Vier menjelaskan.
Bu Asih menghembuskan napas berat.
"Apa kau benar-benar mencintai Vaya?" tanya Bu Asih.
"Saya selalu mencintai Vaya, Bu," jawab Vier.
"Vier, Ibu harap kau benar-benar bisa memegang apa yang kau ucapkan."
"Saya adalah pria yang selalu berpegang pada kata-kata yang saya ucapkan Bu," kata Vier.
"Baiklah, Ibu mengerti. Bagi Ibu, kebahagiaan Vaya dan juga Vero adalah hal yang paling utama. Hanya saja sekarang semua keputusan ada di tangan Vaya. Vaya bersedia kembali padamu atau tidak, Ibu tidak akan ikut campur," tutup Bu Asih.
__ADS_1
...*****...