
Apa yang dicemaskan oleh Vaya, pada akhirnya benar-benar menjadi kenyataan. Ketika semua mata tertuju pada Vaya dan Vier yang saat ini tengah menyusuri pusat perbelanjaan yang ramai didatangi pengunjung. Memakai jaket couple dengan warna mencolok jelas bukan ide yang bagus karena mereka benar-benar terlihat seperti alien sedang terdampar di muka bumi.
Vaya benar-benar merutuki Mike karena memberikan ide konyol tentang kencan ala orang biasa yang mengharuskan pesertanya mengenakan pakaian couple.
Pak Mike mendapatkan referensi dari mana sih? Batin Vaya begitu gusar.
Vaya menunduk menghindari tatapan dari semua pasang mata yang menatap mereka dengan ekspresi sulit ditebak.
Sebagian ada yang merasa bahwa pasangan yang mengenakan baju couple itu aneh dan norak. Namun ketampanan dari sang pria jelas begitu menyita perhatian.
Vaya mengerling ke arah Vier yang nampak cuek, tak peduli meskipun saat ini ia sedang menjadi pusat perhatian para kaum hawa.
"Vaya, jalan itu lihat ke depan!" tegur Vier ketika Vaya nyaris menabrak orang-orang yang berpapasan dengan mereka.
Vier dengan sikap protektifnya mengawal langkah Vaya.
"Kau sungguh tidak berkenan dengan kencan ala orang biasa?" tanya Vier.
Vaya tak menjawab, ia masih tetap menunduk. Vier menghentikan langkahnya.
Vaya menoleh ke arah Vier yang saat ini sedang memandanginya.
"Baiklah, Vaya, kalau kau memang tidak berkenan berkencan ala orang biasa, kau mau kencan seperti apa?" tanya Vier.
"Bu-bukan begitu, Vier," ucap Vaya terbata.
"Lalu?" tanya Vier sambil memicingkan matanya.
Vaya cepat-cepat memutar otaknya. Jangan sampai ia mengucapkan sesuatu yang salah lalu mengakibatkan ia harus menerima hukuman dari Vier.
"Kau terlalu tampan, Vier! Mata para wanita yang melihatmu sampai hampir keluar!" kata Vaya dengan cepat.
"Huh? Begitukah?" Vier mendengus. "Vaya, aku tidak peduli meski bola mata para wanita itu lepas! Itu sungguh bukan urusanku!" sahut Vier.
"Haha," Vaya tertawa masam.
"Tidak usah pedulikan mereka! Nikmati saja kencan kita, Vaya!" Vier merangkul bahu Vaya.
"Duh, Vier!" gerutu Vaya karena Vier menyeretnya.
...*****...
Bioskop terlihat dipenuhi penonton yang kebanyakan adalah siswa-siswi sekolah karena hari ini bukan akhir pekan.
Vier terlihat kurang nyaman saat berada di tengah murid-murid berseragam sekolah. Vier memang meminta Mike untuk memberinya tiket film yang sedang booming. Terserah apa pun genrenya, yang penting Vier bisa pergi nonton bioskop bersama Vaya.
Vier bukan orang yang suka menonton film karena menurutnya, menonton film hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki banyak waktu. Vier bukan orang yang memiliki banyak waktu senggang. Seluruh waktunya hanya untuk bekerja dan beristirahat. Ia bahkan sudah bertahun-tahun tidak mengunjungi bioskop.
Vier menjadi pusat perhatian, bahkan saat memasuki ruang teater, petugas perobek tiket terhenti karena menatap Vier dengan takjub akibatnya antrian pun mengular.
"Mas, mas, hatiku jangan ikut dirobek ya," ucap petugas itu dengan tangan gemetar menyerahkan tiket yang sudah dirobek.
Terdengar para siswi berbisik-bisik di belakang. Vaya terlihat menahan tawanya. Bahkan sesampainya Vier di kursinya, para siswi masih menatap Vier dengan takjub.
"Tampan sekali om-om itu!" kata mereka dengan riang.
"Nanti kenalan yuk," kata mereka lagi.
"Bisa-bisanya mereka mengataiku om-om! Sepuluh tahun lagi mereka juga akan menjadi tante-tante," rutuk Vier sambil melipat tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Wajahmu tampannya tidak umum," Vaya menanggapi.
"Makanya kau jatuh cinta padaku kan?" goda Vier.
Vaya menyeringai kecut ke arah Vier, ia segera mengalihkan pandangannya ke layar besar. Vier meraih tangan Vaya dan menggenggam jemarinya. Vaya merasakan jantungnya kembali berdebar.
"Vier, memangnya film apa yang akan kita tonton?" tanya Vaya.
"Entahlah, Mike membelikan kita tiket apa," sahut Vier sambil mengamati sobekan tiket.
"Film horor ya?" tanya Vaya.
Vier kembali menyeringai, seketika perut Vaya terasa melilit lantaran mengingat kejadian memalukan saat Vier memberinya hukuman nonton film horor dengan tubuh terikat.
"Tenang saja, Vaya, kalau kau takut, peluk saja aku," sahut Vier sambil membawa kepala Vaya untuk bersandar di bahunya.
"Haha," Vaya tertawa.
Entah mengapa saat ini ia merasa semua rasa kesalnya pada Vier seketika sirna. Padahal semalam ia menangis karena merasa kesal dan marah pada Vier sampai-sampai melepas dan melempar cincin kawinnya ke arah Vier.
Ia marah dan kesal karena merasa tidak pantas untuk mendampingi Vier. Perbedaan level yang membuat Ibu Vier mempertanyakan kepantasan Vaya untuk menjadi istri Vier.
"Vaya, tidak usah pedulikan ucapan ibuku, toh yang menikahimu adalah aku, bukan ibuku," ucap Vier sambil membelai lembut rambut Vaya.
"Hmm, Vier, apa ibumu juga bersikap seperti itu kepada semua wanita yang menjadi kekasihmu?" tanya Vaya.
"Haha!" Vier tertawa.
"Kenapa kau malah tertawa, Vier?" cibir Vaya.
"Vaya, aku tidak sembarangan membawa wanita untuk bertemu dengan ibuku. Aku hanya mengajak wanita yang serius berhubungan denganku," ucap Vier.
Vaya tidak tahu, saat ini hatinya kembali berbunga-bunga. Mengapa Vier begitu pandai membuatnya berbunga-bunga seperti ini sih?
Sampai-sampai Vaya tidak terlalu menyimak film horor yang sedang ditontonnya dan justru lebih senang menikmati saat-saat bisa bergelayut manja di bahu Vier seperti pasangan pada umumnya saat nonton bioskop.
"Ada apa, Vaya? Kau kedinginan?" tanya Vier.
"Hmm, pendingin udaranya dingin sekali," sahut Vaya.
Vier cepat-cepat membuka jaket bertudungnya lalu menyampirkannya untuk menutupi kaki Vaya.
...*****...
"Vaya!"
Panggilan seseorang membuat Vaya menoleh mencari sumber pemanggilnya.
Vaya dan Vier baru saja keluar dari ruangan teater bioskop, sosok Vier tentu saja menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang mencolok.
"Ibe!" seru Vaya melihat Ibe yang melambai ke arah Vaya.
Ibe langsung berjalan menghampiri Vaya dan Vier. Ibe menggandeng seorang lelaki yang belum pernah Vaya lihat.
"Jason, ini Vaya dan Vier."
Ibe memperkenalkan Jason. Jason adalah pria bertubuh ramping dengan kulit cerah yang bersih. Gayanya yang parlente mencerminkan penampilan khas dari para pria metroseksual.
"Jason," kata Jason sambil menyalami Vaya dan Vier bergantian.
__ADS_1
"Vaya," kata Vaya.
"Apa kalian sepasang kekasih?" tanya Jason.
"Kalian begitu kontras," lanjut Jason sambil memerhatikan Vier dan Vaya dengan tatapan menelaah.
Vier mengerutkan keningnya, ia menatap Jason yang terlihat santai.
"Sungguh kebetulan bertemu kalian di sini, kalian dari mana?" tanya Ibe.
"Kami baru saja menonton film", jawab Vaya.
"Kami baru mau pergi makan malam, kalian mau ikut?" tanya Ibe.
Vaya dan Vier saling berpandangan.
"Bagaimana, Jason? Tidak masalah kan?" tanya Ibe.
"Tentu saja tidak masalah! Semakin banyak orang semakin menyenangkan," kata Jason antusias.
Mereka pun segera memasuki restauran bernuansa etnik, tempat duduknya lesehan dan berbilik-bilik.
Jason menatap Vier dengan tatapan skeptis. Ia memelototi Vier seakan bola matanya hendak keluar.
Jason melihat gaya pakaian Vier yang begitu sederhana. Vier hanya mengenakan kaus berwarna hitam polos dan celana jeans.
Jason melirik cincin yang melingkar di jari manis kanan Vier. Lalu ia beralih pada Vaya yang juga terlihat berpenampilan sederhana.
Tak ada cincin yang menghiasi tangan ramping wanita itu. Jason menarik kesimpulan bahwa Vier adalah pria beristri yang hanya bisa meluangkan waktu sepulang kerja untuk menemani kekasihnya.
"Jason, mengapa kau melamun?" tanya Ibe.
"Ah tidak, aku hanya ingin merokok dulu," kata Jason mengeluarkan rokok dan korek gas dari clutch hitam yang dibawanya.
"Mau merokok?" tanya Jason pada Vier.
"Silakan, aku tidak merokok," tolak Vier.
"Kalau begitu, aku ke area merokok dulu," pamit Jason.
"Tumben kalian hanya berdua saja? Ke mana asistenmu, Vier?" tanya Ibe.
"Hei, aku dan Vaya sedang berkencan," sahut Vier.
"Ohh, begitu," sahut Ibe.
"Sebentar, aku cuci tangan dulu," pamit Vier.
Di tempat cuci tangan, Vier bertemu dengan Jason yang sedang mencuci tangannya.
"Wah, sebagai pria beristri, nyalimu hebat juga membawa selingkuhanmu jalan-jalan," kata Jason.
"Kalau aku jadi kau, aku tak akan melakukan itu, lagipula selingkuhanmu itu terlalu sederhana dan sepertinya terlalu tua untuk jadi simpanan," lanjut Jason.
Vier tertegun mendengar kata-kata Jason.
"Kalau mau, aku bisa memberimu informasi gadis-gadis muda yang menyenangkan yang lebih cocok dijadikan simpanan," lanjut Jason lagi. "Tidak perlu berterima kasih, aku sangat senang membantu pria bernyali hebat sepertimu," kata Jason sambil menepuk lengan Vier.
...*****...
__ADS_1