Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
149 - Kunjungan Vaya


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak Vier."


Mike menyapa begitu melihat sosok Vier yang muncul di ambang pintu kamar hotel. Vier terlihat hanya mengenakan handuk kimono berwarna putih.


"Ini pakaian Anda," Mike menyodorkan sebuah koper ke arah Vier.


"Terima kasih," sahut Vier.


"Dan ini pakaian untuk Bu Vaya," Mike kembali menyodorkan kantong kertas yang langsung diambil Vier dengan cepat.


"Terima kasih, Mike," ujar Vier lagi.


"Pak, pagi ini Anda ada rapat dengan..."


Brak...


Mike belum selesai bicara namun Vier sudah kembali menutup pintu kamar.


...*****...


"Vier, sini kubantu memasang dasi," Vaya menawarkan bantuannya.


"Tentu," sahut Vier sambil menyodorkan selembar dasi sutera berwarna abu-abu ke arah Vaya.


Vaya dengan cepat mengalungkan dasi itu ke leher Vier, mata mereka saling menatap dengan intens. Munafik jika Vaya mengatakan bahwa ia ingin berpisah dan pergi dari hidup Vier. Bisa melihat Vier yang selalu dan senantiasa tampan tentu menjadi pemandangan yang benar-benar luar biasa.


Aroma sampo dan sabun hotel saja bisa tercium begitu mewah di tubuh Vier.


"Ada apa, Vaya?" tanya Vier sambil mengulas senyum miring.


"Aku benar-benar benci melihatmu setampan ini," jawab Vaya.


"Haha!" Vier tertawa. "Bencilah aku sepuasmu, Vaya, sampai kau tidak bisa membenciku, sampai kau tidak punya alasan lagi untuk membenciku dan akhirnya kau tidak bisa melupakanku meski sedetik pun."


Vier mengecup puncak kepala Vaya berkali-kali.


Bagaimana Vaya bisa membenci pria ini? Sementara Vier benar-benar pandai membuat perasaan Vaya begitu mudah oleng.


Meski mereka bertengkar hebat, namun pada akhirnya mereka seakan melupakan semua itu setelah melewatkan malam panas bersama.


"Pulanglah, Vaya," bujuk Vier.


"Untuk apa aku pulang?" tanya Vaya.


"Tentu saja untuk begini, begini, dan begini," Vier menggoyangkan pinggulnya ke arah Vaya.


"Haha!" Vaya menyambutnya dengan tertawa lepas.


"Aku benar-benar akan merantaimu, dan kubuat kau tidak bisa berjalan selama satu minggu," gurau Vier sambil menciumi wajah Vaya.


"Haha!" lagi-lagi Vaya tertawa.


Vaya menarik simpul dasi di leher Vier.


"Selesai," ucap Vaya.


"Terima kasih," sahut Vier sambil memakai jasnya.

__ADS_1


Vier masih memandangi wajah Vaya yang bersemu merah.


"Vaya, bagaimana jika siang ini kita pergi makan siang bersama?" ajak Vier.


"Makan siang?" tanya Vaya.


Vier mengangguk.


"Aku akan mengirimkan sopir untuk menjemputmu.  Karena aku masih ada meeting, kau bisa menunggu di kantorku," sahut Vier.


"Hmm di kantormu?" Vaya terperangah.


Vier kembali mengangguk.


"Lebih baik kau menunggu di kantorku, daripada menunggu di restoran dan harus digoda oleh para lelaki cabul yang melihatmu sendirian," Vier menarik dagu Vaya.


"Lelaki cabul?"


Vier mengulas senyumnya lalu mendaratkan kembali bibirnya ke bibir Vaya. Vaya menyambut ciuman Vier yang begitu lembut.


"Aku anggap ini uang muka," Vier menyeringai jahil usai melepaskan bibirnya dari bibir Vaya.


"Haha," Vaya tertawa.


Ting.. Tong.. Ting.. Tong... Bel terdengar ditekan berulang kali.


"Oh, Mike!" Vier berdecak kesal lalu menyambar gagang pintu dan membuka pintu.


"Mari kita pergi sekarang, Pak Vier," Mike mengetuk-ngetuk jam tangannya dengan jari.


"Ya, ya, baiklah, Pak Mike, jangan marah-marah begitu, nanti cepat tua lho!" sahut Vaya bergegas keluar dari kamar lebih dulu.


"Ugh, dasar Mike!" Vier melotot ke arah Mike sambil menyusul Vaya.


Vier segera menggandeng tangan Vaya, tak ingin melepaskan tangan Vaya meski hanya sedetik.


...*****...


Mobil yang ditumpangi Vaya segera terhenti di depan pelataran parkir sebuah gedung pencakar langit, membuat Vaya mengulas senyumnya.


Bangunan megah bergaya modern yang nampak menantang langit itu membuat Vaya berdecak kagum. 


Siapa yang akan bisa menduga bahwa pemilik perusahaan besar ini adalah Vier?


Vaya melangkah ringan menghampiri resepsionis yang menyambutnya dengan ramah.


"Selamat siang, selamat datang di Jaya Grup, silakan isi buku tamu terlebih dahulu," ucap si resepsionis.


"Baik," jawab Vaya.


Vaya mulai menuliskan namanya dan sedikit berpikir ketika harus mengisi kolom keterangan untuk keperluan apa ia datang ke perusahaan ini. Sekadar mengantar lamaran pekerjaan, mengantar dokumen tagihan perusahaan, ataukah Vaya harus jujur bahwa saat ini ia ada janji makan siang bersama Vier?


Vaya mengulas senyumnya saat menuliskan bahwa ia datang dengan tujuan bertemu dengan Vier.


Resepsionis cantik itu masih mengulas senyum ramahnya begitu mengambil buku tamu dan membaca informasi yang tertera.


"Mohon maaf, apa Anda sebelumnya sudah membuat janji dengan Pak Vier?" tanya resepsionis itu.

__ADS_1


"Sudah," jawab Vaya.


"Mohon maaf, kalau boleh tahu, Anda sebelumnya sudah membuat janji via telepon, surat fisik, ataukah surat elektronik?" tanya resepsionis itu dengan detail.


"Hm, ya, sudah," jawab Vaya sambil terkekeh.


"Baik, mohon tunggu sebentar," ucap resepsionis itu.


Vaya masih menunggu sambil melihat-lihat keadaan di sekitarnya.


"Selamat siang, Pak Mike, mohon maaf, di sini ada tamu atas nama Bu Vaya, beliau hendak bertemu dengan Pak Vier, menurut informasi beliau sudah membuat janji sebelumnya," resepsionis menjelaskan secara detail.


Vaya melirik ke arah resepsionis yang langsung mencuri pandang ke arah Vaya.


"Baik, saya mengerti, terima kasih, Pak Mike," ucap resepsionis itu sebelum menutup teleponnya.


"Bu Vaya, mari saya antar," ajak resepsionis itu pada Vaya.


Vaya segera mengikuti resepsionis yang membawanya masuk ke dalam lift dan menekan lantai teratas gedung tersebut.


Begitu lift terbuka, mata Vaya langsung tertuju pada Mike yang sudah berdiri di depan pintu lift.


Mike memberi kode kepada resepsionis yang mengantar Vaya untuk segera kembali bekerja.


"Selamat datang, Bu Vaya," sapa Mike.


"Terima kasih sudah menjemput saya, Pak Mike," ucap Vaya.


"Bu Vaya, silakan tunggu di ruang kerja Pak Vier. Saat ini Pak Vier masih ada meeting," kata Mike sambil membuka pintu sebuah ruangan.


"Apa akan lama?" tanya Vaya.


"Paling lama tiga puluh menit lagi," jawab Mike.


"Oh begitu," sahut Vaya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Bu," Mike pamit undur diri.


Vaya mengedarkan pandangannya ke ruangan besar yang menjadi ruang kerja Vier.


Di atas meja kerja besar itu terdapat papan nama berbahan akrilik bening bertuliskan nama dan jabatan Vier.


Vaya kembali mengulas senyum sambil terus mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sama persis dengan ruang kerja Vier yang ada di rumah.


Vaya segera duduk di sofa hitam berbahan beludru yang begitu empuk dan nyaman. Keheningan akhirnya membuat Vaya mulai diserang rasa kantuk.


...*****...


"Vier, aku tahu kau sangat mencintaiku kan?! You love me, don't you?!"


Suara sayup-sayup itu mengusik pendengaran Vaya, hingga kelopak mata Vaya perlahan kembali terbuka.


"Kita bisa kembali bersama! We live together as our promise! Kita hidup bersama seperti janji kita!" 


Vaya mencoba menegakkan tubuhnya, matanya langsung tertuju pada sosok Vier dan Selena yang berdiri di ambang pintu.


Jantung Vaya seakan hendak melompat keluar dari mulutnya melihat Selena berada dalam pelukan Vier.

__ADS_1


"Vier!" 


...*****...


__ADS_2