
"Mima! Ibe!"
Vaya langsung memeluk kedua sahabatnya yang baru saja memasuki sebuah kedai makan tempat mereka membuat temu janji.
"Vaya!" seru Mima dan Ibe saling berangkulan seperti Teletubbies.
Mereka bertiga saling memandang, mengamati penampilan masing-masing. Memastikan dengan jelas bahwa satu sama lain masih terlihat sehat-sehat saja.
"Wah, Vaya, kau terlihat jauh berbeda dari terakhir kita bertemu!" Ibe bersorak heboh.
"Oh ya ampun, Vaya, bagaimana kau bisa punya perut seramping ini? Aku jadi iri!" mata Mima membulat besar.
"Ramping apanya? Ini efek pakaian saja! Hehe," Vaya terkekeh.
"Efek pakaian apanya! Bokongmu bahkan begitu berbobot begini!" sahut Ibe yang langsung meremaas bokong Vaya.
"Aduh, Ibe!" Vaya terkesiap, melotot ke arah Ibe yang menyengir mesum.
"'Sebelahnya lagi dong, biar imbang! Hehe!" Vaya terkekeh.
"Haha," Ibe tertawa paling nyaring.
Untunglah di kedai makan tersebut tidak banyak pengunjung sehingga tidak ada yang mendengar betapa frontalnya Ibe saat bicara.
Mereka bertiga segera duduk di meja yang kosong, kebetulan kedai makan ini tidak terlalu ramai. Maklum lokasinya berada di ruko kecil yang terpencil di pinggiran kota.
Pesanan makanan mereka pun datang tanpa perlu menunggu lama. Hidangan yang mereka pesan adalah jajanan khas Korea seperti kue beras dengan saus pedas, odeng, nasi gulung rumput laut, hingga mie ramen.
"Vaya, syukurlah, kau sepertinya terlihat baik-baik saja sejak menikah dengan Vier," kata Mima.
"Ya, aku juga bersyukur masih baik-baik saja, hehe," sahut Vaya sambil menyuapkan nasi gulung ke mulutnya.
"Haha, Mima, coba kau lihat, sekarang aku bisa melihat kemewahan yang terpancar dari penampilan Vaya! Lihatlah, sekarang tasnya sudah Hermas lho, hehe," Ibe menimpali seraya terkekeh.
"Haha, teman-teman, tidak peduli apa pun yang kukenakan, aku tetaplah aku. Vaya yang kalian kenal selama belasan tahun dan tidak mengalami perubahan apa pun," kata Vaya.
"Ya, hanya status di KTP-mu saja yang berubah, dari belum kawin menjadi kawin," sahut Mima.
"Haha," Vaya tertawa.
Aku bahkan belum berani memperbaharui status KTP-ku, karena Vier bisa membuangku kapan pun ia mau, batin Vaya.
"Oh ya, teman-teman, aku ingin mendengarkan pendapat kalian," kata Vaya melemparkan tatapannya pada Mima dan Ibe.
"Ada apa, Vaya?" tanya Mima.
"Hmm, teman kantorku curhat padaku, dia punya masalah dan ingin aku memberikannya saran, tapi aku belum berani memberikan saran sebelum mendengarkan pendapat dari para ahli seperti kalian," jawab Vaya.
Ahli di sini maksud Vaya, kedua temannya sudah menikah cukup lama. Mima bahkan telah menikah ketika usianya baru menginjak dua puluh dua tahun, lebih tepatnya begitu lulus kuliah, ia langsung dilamar orang.
Sementara Ibe, wanita itu nekat kawin lari ketika usianya baru dua puluh satu tahun, meski pada akhirnya resmi menyandang status janda di usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun. Namun dua tahun kemudian Ibe menikah lagi. Hanya saja tiga tahun yang lalu, Ibe kembali resmi menjanda lagi. Akhirnya hingga kini, Ibe lebih betah menjalani hidupnya sebagai petualang cinta yang tak terikat.
"Teman kantormu?" tanya Ibe sambil mengunyah kue berasnya.
"Ya," Vaya mengangguk cepat. "Jadi begini ceritanya," Vaya mulai bercerita.
Mima dan Ibe mendengarkan secara saksama.
"Teman kantorku ini sudah menikah, lalu kemudian dia bertemu dengan cinta pertamanya. Cinta pertamanya ini juga sudah menikah. Keduanya akhir-akhir ini jadi dekat, terlebih karena ternyata mereka berdua ternyata sama-sama merasa tidak bahagia dengan pernikahan yang mereka jalani. Apakah mereka salah jika ada keinginan untuk bersama?" tanya Vaya.
__ADS_1
"Tunggu, kenapa mereka berdua sama-sama tidak bahagia dengan pernikahan yang mereka jalani? Lantas kenapa dulu mereka menikah?" Mima balik bertanya.
"Ya, mereka menikah karena perjodohan," jawab Vaya.
"Kalau memang karena perjodohan, kenapa sebelumnya mereka tidak menolak perjodohan itu?" tanya Ibe.
"Kalau mereka dari awal sama-sama sudah saling cinta, harusnya kan mereka bersama saja dari awal," lanjut Ibe.
"Ya, lebih baik seperti itu, daripada mereka harus menjalin hubungan di belakang pasangan resmi! Itu adalah perselingkuhan, dan kau pasti tahu bahwa perselingkuhan itu tidak baik, Vaya!" ceplos Mima.
"Mima, itu bukan aku, tapi temanku, teman kantorku," Vaya cepat-cepat memberi klarifikasi.
Mima dan Ibe saling bertukar pandang, mengulas senyum melihat ekspresi Vaya yang terlihat begitu gugup.
"Vaya, apa Vier melakukan perselingkuhan?" tanya Ibe.
"Jujur saja, Vaya, apa Vier dan mantan tunangannya itu kembali bersama?" tanya Mima.
"Apa kau benar-benar sudah dibuang oleh Vier?" tanya Ibe.
Vaya terperangah dengan rentetan pertanyaan dari kedua sahabatnya. Kedua teman yang memasang ekspresi luar biasa serius membuat Vaya jadi tegang setengah mati.
"Dasar Vier itu! Sudah kuduga pasti akan begini akhirnya! Huh! Mentang-mentang dia punya segalanya, lantas dia bisa berbuat sesukanya?!" cerocos Mima.
"Huh! Semoga saja Vier itu impoten! Barang kebanggaannya itu kehilangan kemampuan berdiri! Mampus dia! Hidup segan mati tak mau!" tandas Ibe.
"Vaya, apa tunangan Vier itu hamil, makanya Vier pada akhirnya kembali ke pelukan tunangannya?" tanya Mima.
"Aduh, teman-teman," keluh Vaya merasa lelah mendengar asumsi teman-temannya tentang Vier.
Kring... Kring...
"Vaya, apa perlu aku yang bicara pada Vier?" tantang Ibe.
"Ibe, itu sungguh ide yang buruk," Vaya menggeleng.
Vaya menggeser panel hijau, membuatnya harus menjawab telepon dari Vier.
"Iya, halo," ucap Vaya.
"Kamu di mana? Dengan siapa? Sekarang berbuat apa?"
Vier memberondong Vaya dengan pertanyaan yang membuat Vaya langsung memutar bola matanya.
Kenapa Vier jadi terdengar seperti babang tamvan Andiky Missed Band?
"Vier, kau sudah pulang?" tanya Vaya.
"Ya, makanya aku akan menjemputmu sekarang," sahut Vier.
"Tapi Vier, sekarang aku masih ada pertemuan dengan teman-temanku," kata Vaya.
"Pertemuan dengan teman-teman? Teman-teman yang mana maksudmu?" tanya Vier penuh selidik.
"Ya, teman-teman sekolah," jawab Vaya sambil menatap ke arah Mima dan Ibe.
"Teman-teman sekolah?"
Ibe merebut ponsel yang menempel di telinga kiri Vaya.
__ADS_1
"Hai Vier, kenapa kau tidak kemari dan bergabung bersama kami di sini? Anggap saja reuni kecil-kecilan!" tantang Ibe.
"I-Ibe!" Vaya melotot ke arah Ibe.
Ibe mengerjapkan matanya pada Vaya.
"Tenang Vaya, ini hanya gertakan saja," bisik Ibe.
"Baiklah, share location!"
Tut.. Tut..
Vier menutup sambungan telepon.
"Haha, Vaya, kau tenang saja, Vier paling hanya balas menggertak saja," Ibe tertawa.
"Tidak mungkin Vier akan benar-benar datang kemari, dia tidak akan segabut itu!" Mima menimpali.
...*****...
Vaya menghela napas berat, rupanya kedua temannya ini memang tidak mengenal Vier.
Mima dan Ibe benar-benar tak bisa berkata-kata ketika kemunculan Vier hanya berselang tak lebih dari tiga puluh menit pasca pria itu mengakhiri panggilan teleponnya.
Vier langsung duduk di samping Vaya yang menegang seperti kedua teman Vaya yang saat ini ikut-ikutan menegang.
Serius nih? Pria tampan dengan penampilan mewah paripurna itu bersedia datang ke sebuah kedai makan kecil yang berada di salah satu ruko terpencil dari komplek ruko yang disambangi oleh Vaya dan teman-temannya.
"Kenapa kalian tiba-tiba diam?" tanya Vier.
"Haha, kami tidak menyangka kau benar-benar akan datang, Vier," jawab Ibe seraya tertawa canggung.
"Ya, kau kan sangat sibuk, Vier, tidak mungkin kau segabut kami, hehe," Mima menyeringai.
"Aku pasti datang untuk menjemput istriku ini," Vier langsung merangkul bahu Vaya.
Vaya terkesiap dengan rangkulan Vier. Ia melotot ke arah Vier yang menyeringai horor.
"Vi-Vier, apa sih," Vaya mencoba melepaskan tangan Vier dari bahunya.
"Haha, jadi, apa yang tadi kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali sampai aku bisa mendengarnya dari luar," ucap Vier.
"Apa kalian membicarakan apakah aku benar-benar datang kemari atau hanya sekadar wacana saja?" tanya Vier.
Vier membawa tangannya ke paha Vaya dan memberikan usapan lembut yang membuat Vaya terperanjat.
"Teman-teman, aku ke toilet dulu," Vaya segera beranjak dari tempat duduknya.
"Oh, ya, aku juga!" Mima dan Ibe pun segera menyusul Vaya.
Kenapa Vier sampai datang kemari?
...*****...
Jangan lupa tinggalkan semua yang cantik-cantik ya haluers kesayangan author.
Biar Babang tamvan Vier makin berbunga-bunga.
Sampai jumpa di episode selanjutnya. 🌹🌹🌹🌹
__ADS_1