
Krek... Krekk...
Vier dengan cekatan membuka lilitan lakban yang membelenggu tangan dan juga kaki Vaya. Vier membuka jasnya lalu menyampirkan jas tersebut ke tubuh terbuka Vaya.
"Sekali lagi kuingatkan padamu bahwa perintahku adalah peraturan untukmu. Menolak perintahku, itu sama saja dengan melanggar aturanku! Melanggar aturanku berarti kau harus siap menerima konsekuensi yang kuberikan!"
Vier menyeka sisa-sisa air mata yang membasahi wajah Vaya.
"Do what I want, lakukan apa yang kumau, maka I do what you want, aku lakukan apa yang kau mau," Vier mengulas senyumnya.
Vaya masih terdiam ketika Vier mengajaknya pergi dari ruang kerja pria itu. Vaya masih terlalu syok dan tak habis pikir bahwa Vier ternyata benar-benar pria yang segila itu.
Langkah Vaya terhenti ketika Vier membuka pintu ruang seksi dan membawa Vaya masuk ke dalamnya. Mereka memasuki kamar mandi.
Di dalam bathtub sudah tersedia busa sabun berwarna putih yang melimpah.
"Lepaskan pakaianmu lalu masuklah," kata Vier.
Vaya nampak enggan melakukannya, namun mengingat bahwa perintah Vier adalah aturan yang harus dilakukannya, maka yang bisa dilakukan Vaya hanyalah menuruti apa yang diinginkan pria itu.
Vaya membuka jas yang menutupi tubuh atasnya, lalu dilanjutkan dengan membuka rok span.
Vaya merasa ia kehilangan harga dirinya. Tapi kehilangan harga diri masih lebih baik daripada kehilangan nyawa. Toh, ini sudah menjadi konsekuensi yang harus diterimanya.
Setelah itu, Vaya segera memasuki bathtub berisi air hangat yang secara ajaib membuat tubuhnya seketika merasa rileks.
"Apa air hangatnya terasa nyaman?" tanya Vier.
Vaya hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Vier duduk di tepi bathtub sambil mengamati punggung Vaya.
"Apa punggungmu baik-baik saja?" tanya Vier. "Masih terasa sakit?"
"Sudah tidak apa-apa," jawab Vaya.
"Maaf ya, semalam aku benar-benar tidak tahu bahwa air panasnya benar-benar akan sepanas itu," Vier kembali mengulas senyumnya.
Vaya tidak tahu, apakah ia harus merasa senang ataukah kesal dengan permintaan maaf Vier.
"Kemarikan kedua tanganmu," perintah Vier.
Vaya menyodorkan kedua tangannya pada Vier dengan perasaan takut.
Apa dia akan mengikatku lagi? Batin Vaya.
Vier mengambil cairan pembersih berbahan dasar minyak, lalu mengoleskannya ke pergelangan tangan Vaya. Tujuannya tentu saja untuk menghilangkan bekas perekat lakban dari kedua tangan Vaya.
"Vaya, jangan melihatku dengan ekspresi masam seperti itu, wajahmu itu tidak sedap dipandang, lebih baik kau tersenyum," Vier mengejek Vaya.
__ADS_1
Vaya bukannya tersenyum malah makin cemberut. Vier terkekeh sambil tetap mengusap lembut pergelangan tangan Vaya, berikutnya ia mengusap lembut tangan Vaya.
"Vaya, bagaimana bisa tanganmu begitu kasar seperti tangan kuli bangunan begini? Haha! Coba lihat, warna kulit kita seperti membandingkan kulit yang terawat dan tidak terawat!" Vier kembali tertawa dengan tawanya yang mengejek.
"Vier! Berhentilah komplain terhadap fisikku! Siapa suruh kau mau menikahiku? Sudah tahu aku memiliki begitu banyak sekali kekurangan!" gerutu Vaya.
"Haha!" Vier tertawa.
Vaya kembali melemparkan tatapan skeptis pada Vier.
"Yah, apa boleh buat, kau kan harus bertanggung jawab karena sudah membuat kebohongan yang merusak rencana pernikahanku, haha!" Vier masih tetap tertawa.
Vier melepaskan tangan Vaya begitu tawanya berakhir.
Ia segera beranjak dari tepi bathtub.
"Selesaikan mandimu! Kutunggu kau di tempat tidur!"
Vier segera keluar dari kamar mandi. Sementara Vaya hanya bisa merosot, menenggelamkan diri di dalam bathtub.
...*****...
Vaya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono berwarna putih, lengkap dengan handuk putih yang membungkus kepalanya.
Netranya langsung tertuju pada Vier yang sudah duduk di tepi tempat tidur. Pria itu nampak baru saja selesai mandi karena rambutnya terlihat masih setengah basah. Vier mengenakan handuk kimono berwarna biru gelap, membuat dada bidangnya mengintip karena ia tidak mengikatnya dengan benar.
"Kemarilah."
"Kemarikan tanganmu," perintahnya.
Vaya kembali menyodorkan kedua tangannya. Ia benar-benar pasrah jika Vier kembali mengikatnya. Meronta pun percuma, yang ada membuatnya lelah dan merasa kesakitan.
Vaya tersentak kaget ketika Vier meletakkan es gel di antara kedua pergelangan tangan Vaya.
"Huh, lihat, tanganmu jadi nampak bengkak begini!" rutuk Vier.
"Memangnya siapa yang mengikat tanganku?!" gerutu Vaya.
Vier mengulas senyumnya.
"Vaya, berapa kali harus kukatakan padamu agar kau mengerti?"
"Kau layak dihukum karena kau sudah melanggar aturan. Jangan berpikir bahwa kau bisa bebas melakukan apa pun yang kau mau."
Vier kembali menatap Vaya yang masih memasang ekspresi kesal bukan kepalang.
"Dan satu hal lagi, jika kau berencana untuk mengencani pria lain, pastikan bahwa aku jangan sampai tahu," lanjut Vier sambil menyeringai horor.
"Vier! Aku tidak berkencan!" sergah Vaya.
__ADS_1
Aku bahkan tidak pernah punya pacar seumur hidupku!
"Ya, tapi aku melihatmu bersama pria lain, kalian boncengan dengan sangat erat! Kau bahkan melambaikan tangan melihat kepergiannya! Haha!" Vier tertawa sinis.
"Vier, pria yang kau lihat itu adalah teman kantorku! Dia mengantarku kembali ke kantor karena rumahnya searah!" Vaya mencoba menjelaskan.
"Aku tidak peduli, mau dia teman kantormu atau pria lain! Kau harus membatasi interaksimu dengan lawan jenis!"
"Vier, apa maksudmu?"
"Vaya, kau itu kan seorang pemburu laki-laki paling tidak tahu diri! Asalkan jenis berjenis kelamin laki-laki, pasti kau buru! Kau ini benar-benar perempuan gatal ya! Haha!"
Vaya mendelik gusar, ia mendorong Vier menjauh darinya. Vier terhuyung, bahkan nyaris terjerembab ke atas tempat tidur.
"Playboy sepertimu tidak pantas mengataiku perempuan gatal! Lagipula itu sudah lama sekali dan aku bahkan sudah tidak melakukan hal konyol seperti itu lagi!" sergah Vaya.
"Aku sungguh berterima kasih padamu yang dulu tak henti-hentinya mengejek dan menghinaku setiap kali aku mendapat penolakan! Kau sungguh menyadarkanku bahwa aku harusnya sadar diri! Pria adalah makhluk visual yang hanya memandang wanita dari segi fisiknya saja!"
"Persetan dengan semboyan cinta itu buta! Kebanyakan pria melihat wanita yang berkulit lebih cerah jauh lebih menarik dari wanita berkulit gelap! Kecantikan fisik adalah segala-galanya bagi pria! Terlebih pria sepertimu!"
"Ya, memang sih, namanya masih muda, ya pasti cantik dan menarik! Saat sudah tua, ya pasti tidak menarik lagi! Daun muda memang lebih enak dijadikan lalapan!" cerocos Vaya.
"Dan kau, Vier! Jangan merasa kau itu paling tampan dan menarik! Kalau sudah tua, kau pasti akan keriput, otot-ototmu akan mengendur, para wanita muda hanya akan mengincar harta warisanmu saja!"
"Haha!"
Vier tertawa mendengar cerocosan Vaya.
"Sudah, kau tidak perlu memikirkan kulit keriput, ototku yang mengendur, atau pun wanita muda yang hanya akan mengincar harta warisanku saja! Sekarang lebih baik kau tidur! Besok pagi-pagi, kau sudah harus ada di gym pribadiku, atau aku akan mengikat dan menyeretmu untuk kujadikan barbelku! Haha!" Vier tertawa horor.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku," sahut Vaya.
"Tidak! Mulai malam ini, kau harus tidur di kamar ini," kata Vier.
"Vier! Aku tidak mau tidur di kamar ini! Ini kan kamarmu!" sergah Vaya.
"Vaya, ini perintah!" sahut Vier.
Lagi-lagi Vaya hanya bisa memasang ekspresi kesalnya. Vaya segera berbaring dan menyelimuti dirinya.
"Lekas tidur!" perintah Vier.
"Kau tidur di sini juga?" tanya Vaya.
"Aku tidur di mana pun selama masih di rumah ini, tentu tidak masalah kan?!" Vier menyeringai horor.
Ugh! Vaya hanya bisa merutuk dalam hatinya.
Ia memejamkan mata, memaksa agar ia segera terlelap.
__ADS_1
Vier mengulas senyumnya, lalu beranjak dari tempat tidur, melangkah keluar dari kamar tersebut untuk kembali ke kamarnya sendiri.
...*****...