
"Vaya, aku tidak mau tahu! Pokoknya aku menagih sepuluh ronde yang kau janjikan padaku!"
Ucapan Vier terngiang-ngiang dalam benak Vaya. Hingga akhirnya Vaya tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya yang saat ini sudah menumpuk di meja kerja.
Saking menumpuknya, Vaya tidak tahu harus mengerjakan yang mana dulu. Meninggalkan pekerjaan selama dua hari sudah membuat Vaya seakan frustrasi sendiri.
Vaya menghela napas berat, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dengan mata menerawang ke langit-langit ruang kerjanya.
Bercinta sebanyak sepuluh ronde dengan Vier. Vaya benar-benar menyesal sudah mengucapkan hal tersebut pada pria itu.
Dalam olahraga tinju, durasi bertanding untuk satu ronde adalah tiga menit. Tapi masalahnya, ia dan Vier tidak sedang membicarakan pertandingan tinju, melainkan bercinta sebanyak sepuluh ronde dalam satu waktu.
Vaya sungguh tak bisa membayangkan apa jadinya jika ia dan Vier sampai bercinta sebanyak sepuluh ronde. Bisa-bisa pinggang dan lututnya lepas!
"Mbak Vaya!" panggil Evi.
"Eh, ada apa, Evi?" Vaya tersentak kaget.
"Itu, ponsel Mbak Vaya dari tadi berdering," sahut Evi.
"Eh?!" Vaya cepat-cepat mengambil ponselnya.
Rupanya Vier berkali-kali menelepon, namun Vaya sungguh tidak mendengar ponselnya berdering saking sibuknya melamun.
Vaya segera keluar dari ruang kerjanya, menuju ke tangga darurat untuk menjawab telepon Vier.
"Ha-halo, Vier," jawab Vaya.
"Vaya, kenapa kau tidak segera menjawab teleponku?" tanya Vier di seberang sana.
"Harus berapa kali aku meneleponmu sampai kau bisa menjawab teleponku?"
"Memangnya kau ke mana sampai tidak menjawab teleponku?"
Vier mencecar Vaya dengan pertanyaan-pertanyaan khas auditor.
"Oh, a-aku sibuk, Vier," jawab Vaya.
"Lima menit lagi, aku tiba di kantormu. Segeralah bersiap!"
"A-apa?!" Vaya terkejut. "Halo, Vier? Halo!"
Tut... Tut... Telepon terputus.
Vaya cepat-cepat menelepon balik.
"Nomor yang Anda tuju sedang dialihkan," jawab operator telepon.
"Aduh!" keluh Vaya.
Vaya segera kembali ke ruangannya.
Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Batin Vaya.
"Mbak Vaya, Mbak kenapa?" tanya Evi.
Vaya hanya mengulas senyum kecut.
"Mbak ada masalah apa sih? Kok sepertinya akhir-akhir ini Mbak terlihat begitu rempong," tanya Evi.
"I-iya Evi, kebetulan memang saat ini urusanku sedang banyak-banyaknya," jawab Vaya.
__ADS_1
"Ada apa, Mbak? Coba cerita saja, mana tahu aku bisa membantu," Evi menawarkan.
"Evi, terima kasih banyak ya, tapi tidak perlu cemas, aku pasti bisa menyelesaikannya," sahut Vaya.
Kring...
Ponsel Vaya kembali berdering menampilkan nama Vier. Cepat-cepat Vaya menyambar tas dan memasukkan barang-barang ke dalamnya.
"Evi, aku ada urusan mendadak, aku izin keluar kantor lebih dulu, surat izinnya menyusul setelah aku kembali ke kantor," Vaya berpamitan pada Evi.
Belum sempat Evi menjawab apa pun, Vaya sudah pergi dengan terburu-buru.
"Mbak Vaya kenapa sih? Akhir-akhir ini sungguh aneh sekali," gumam Evi bertanya-tanya.
Vaya segera berlari keluar dari gedung kantornya, matanya langsung tertumbuk pada mobil mewah Vier yang sudah menunggu di pelataran gedung.
Vaya berjalan cepat menjauhi mobil yang langsung menyita perhatian orang-orang.
Vaya segera menelepon Vier.
"Halo, Vier, tolong jemput aku di halte saja," kata Vaya.
"Kenapa harus di halte?" tanya Vier.
"Vier, aku sudah di halte!" jawab Vaya.
"Vaya, kau bahkan belum sampai di halte!" tukas Vier.
Hee? Bagaimana Vier bisa tahu? Batin Vaya.
"Vier, maksudku, aku sedang menuju ke halte terdekat," Vaya mengoreksi ucapannya.
Vaya menoleh ke belakang dan mendapati mobil mewah Vier mengikutinya dari belakang.
"Astaga! Vier!" Vaya terlonjak kaget.
Langkah Vaya pun terhenti bertepatan dengan terbukanya pintu mobil di kursi belakang.
"Masuk!"
Vier yang duduk di kursi belakang segera memerintah Vaya.
Ugh! Dasar Vier gila! Batin Vaya sambil memasuki mobil.
"Mana ciuman untukku?" tanya Vier.
"Hm, Vier, tapi di depan ada sopir."
Vaya menjawab sambil melirik ke arah sopir yang duduk di belakang kemudi. Sopir yang sementara menggantikan posisi Mike.
Mobil bergerak begitu Vaya sudah duduk dengan tenang di samping Vier.
"Kalau dia menoleh atau melirik dari kaca spion, dia akan kehilangan pekerjaannya," Vier menyeringai sambil menarik dagu Vaya.
Vier segera menyambut bibir Vaya, melumaatnya dengan lembut.
Vier mengulas senyumnya saat melepaskan bibir Vaya.
"Vier, kenapa kau menemuiku sekarang?" tanya Vaya.
"Tentu saja untuk menagih sepuluh ronde!" sahut Vier sambil menyeringai.
__ADS_1
"Vi-Vier, se-sepuluh ronde itu, oh tidak yang benar saja!" Vaya mendelik gusar.
"Vaya, bukankah kau sendiri yang mengatakan dengan sangat jelas bahwa sepuluh ronde pun sungguh tidak masalah bagimu?" ucap Vier.
"Hmm, a-anu, Vier, apa kau sungguh tidak takut pinggangmu lepas?" tanya Vaya ragu-ragu.
"Vaya, apa kau sedang menyumpahiku?" Vier balik bertanya.
"Ti-tidak, Vier! Tentu saja tidak! Tapi kalau sepuluh ronde dalam satu malam rasanya tidak mungkin. Bukankah kita harus tidur selama delapan jam sehari agar kondisi kesehatan kita tetap prima? Tidak, Vier, kita tidak bisa melakukan itu," kata Vaya.
"Kenapa tidak bisa?" Vier bertanya.
"Ya tentu saja tidak bisa. Kita tidak punya waktu kosong selama dua puluh empat jam," jawab Vaya.
"Huh! Begitukah menurutmu?" Vier menyeringai.
Vaya meneguk ludahnya, seketika ia merasakan firasatnya memburuk setiap kali Vier menyeringai seperti itu.
Vier mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya.
"Mulai hari ini kita akan pergi menuntaskan sepuluh ronde itu," Vier menyeringai sambil memamerkan dua buah paspor.
"A-apa?!" Vaya terlonjak kaget.
"Ya, kita akan pergi berlibur!" sahut Vier riang.
"Vi-Vier! Mana bisa begitu! Aku tidak bisa cuti mendadak!" kata Vaya.
"Aku tidak mau tahu! Bukankah pekerjaanmu itu urusan pribadimu? Haha!" Vier tertawa jahat.
...*****...
Vaya benar-benar tidak tahu harus beralasan apa agar bisa mendapat izin dari kantornya. Vier yang mendadak mengajaknya pergi liburan jelas membuat Vaya jadi pusing sendiri.
Namun semua kegusaran Vaya seakan menguap begitu menyaksikan pemandangan yang memanjakan matanya.
Pesawat laut yang ditumpanginya mendarat mulus di dermaga yang berada di sebuah resort mewah nan eksklusif.
Kedatangan mereka segera disambut dengan penuh keramahan oleh para staf yang bekerja di resort tersebut. Senyum ramah mengembang lebar dan tulus.
Salah satu dari mereka maju selangkah, mengalungkan untaian bunga ke leher Vier dan Vaya.
"Welcome, Mr and Mrs Vierlove. My name is Jamal and I am as the manager in charge in this resort," salah seorang pria dengan bahasa Inggris yang terdengar seperti bahasa India memperkenalkan diri.
"Thank you for your warm welcoming, Mr Jamal. I am so glad to see this awesome place," ucap Vier.
"Please enjoy your quality time for creating the best moments," kata Mr Jamal menutup penyambutannya.
Seorang pelayan menyuguhkan minuman selamat datang beserta gulungan handuk hangat di atas nampan untuk Vaya dan juga Vier.
"Thank you," kata Vaya.
"You're welcome, Madam," ucap si pelayan.
Vaya memandang sekeliling tempat mereka akan menghabiskan liburan dadakan.
"Ayo, Vaya, kita harus menikmati makan malam," ajak Vier sambil menggenggam tangan Vaya.
Vaya tak tahu, saat ini ia menerima genggaman tangan Vier dengan jantung yang berdebar-debar.
...*****...
__ADS_1