
Peringatan mengandung adegan menghalu biru.
...*****...
Sebuah lengkung senyuman langsung menghiasi wajah Vaya begitu melihat Vier yang menjelma menjadi penjual es krim.
"Ayo Nona, es krim rasa apakah yang Anda inginkan sebelum es krimnya mencair?" tanya Vier sambil memainkan scoop es krim di tangannya.
"Haha," Vaya tertawa.
Vier menyambut tawa Vaya dengan ikut mengulas senyumnya yang menawan.
"Hmm, apa ada es krim rasa yang tertinggal?" tanya Vaya.
"Haha," Vier tertawa.
"Es krim rasa yang tertinggal, ataupun rasa yang pernah ada, itu tidak tersedia," sahut Vier.
Vier masih memandangi Vaya yang kembali tertawa menanggapi sahutan Vier.
"Tapi, aku menyediakan rasa ingin memilikimu seutuhnya, hanya saja aku tidak menjual rasa itu," ucap Vier masih dengan nada menggoda.
Vaya kembali tertawa.
"Vaya, aku sungguh tidak ingin kau mencemaskan apa pun. Terserah keluargaku, orang tuaku, saudara-saudaraku, mau mengatakan apa pun tentang dirimu! Itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting adalah kau menikah denganku. Kita menikah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku."
Vier masih memandangi wajah Vaya. Vaya menunduk, merasakan debaran dan kehangatan yang menjalar ke sekujur tubuhnya.
Vier mengambil tangan Vaya, menggenggam dan mengecup punggung tangan Vaya.
"Jadi, tidak ada yang perlu kau cemaskan, Vaya," ucap Vier.
Vaya merasakan wajahnya kini memanas dengan jantung yang berdebar menggila.
"Ehem, yah, tapi tetap saja hampir semua anggota keluargamu nampaknya tidak menyukai kehadiranku," sahut Vaya kembali gundah.
"Haha! Vaya, terserah jika semua anggota keluargaku tidak menyukaimu! Toh, kau sudah menjadi milikku seutuhnya, dan aku tidak berkenan membagimu dengan mereka," ucap Vier.
Vaya makin berdebar-debar dengan ucapan Vier yang benar-benar membuatnya seakan melayang. Vier melepaskan genggaman tangannya dari tangan Vaya.
"Ohh, es krimnya sudah mulai mencair," Vier mencolek es krim dengan jari kelingking kanannya.
Vaya meneguk ludahnya saat mengamati Vier yang menjilat dan mengulum jari kelingkingnya. Terlihat sungguh sensual dan sangat menggoda, membuat alam bawah sadar Vaya menginginkan pria itu.
Vier membuka lemari es dan mengeluarkan es krim yang masih beku.
__ADS_1
"Vier, apa kau punya es krim rasa lain, selain es krim rasa vanila, coklat, ataupun stroberi?" tanya Vaya.
"Hmm, jangan meminta es krim dengan rasa yang tertinggal, rasa yang pernah ada, ataupun rasa ingin memiliki! Itu tidak ada di dalam lemari es ini," sahut Vier.
"Oh, haha," Vaya kembali tertawa.
"Vaya, apa kau ingin merasakan es krim rasa Vierlove Yanjayadi?" tanya Vier.
"Hee? Es krim rasa Vierlove Yanjayadi?" Vaya terperangah.
Vier mengambil scoop es krim, memakan es krim rasa stroberi yang membuat mulutnya belepotan es krim.
Vaya tidak tahu, gaya tarik Vier bak kutub magnet tak senama. Tarikan yang begitu besar dan begitu kuat hingga tanpa sadar Vaya mendekat dan langsung melahap es krim yang melumuri mulut Vier.
Rasa manis dan lembutnya es krim stroberi serta mulut dan bibir Vier sungguh membuat Vaya mabuk kepayang. Ciuman basah dan panas penuh gelora segera menjadi hidangan penutup yang menggugah hasrat.
"Vier, ini es krim rasa stroberi," ucap Vaya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.
Vier mengulas senyumnya menatap mata Vaya yang berkabut gairah.
Vier membuka jasnya, melemparnya ke lantai. Selanjutnya ia membuka kancing kemejanya satu per satu hingga tubuh atletis itu tersaji sempurna di hadapan Vaya.
Vier mengambil satu scoop es krim rasa vanila dan mengoleskan es krim ke leher dan bahunya.
"Es krim Vierlove Yanjayadi," Vier mengedipkan sebelah matanya.
Tanpa perlu disuruh, tanpa perlu diperintah, tanpa perlu mendapatkan titah, Vaya dengan cepat menjilati es krim yang meleleh di leher dan bahu Vier.
Rasa es krim vanila yang manis dan lembut, bercampur dengan aroma cologne mahal Vier, duet maut yang benar-benar membuat Vaya mabuk kepayang.
Vier memejamkan matanya, merasakan lidah dan kecupan Vaya yang melakukan penjelajahan di dadanya yang telanjang.
Vier benar-benar merasakan gairah yang membara, rasa dingin es krim dan panasnya mulut Vaya sungguh menciptakan sensasi yang benar-benar membuat Vier menggila.
Vier mengambil bibir Vaya, memberikan ciuman yang penuh gairah dan menggelora yang tak terbendung.
Vaya mengusapkan jemarinya ke dada bidang Vier, naik ke leher dan berakhir meremaas rambut Vier.
"Hmm, Vaya," Vier mendesaah berat menikmati pertikaian lidah mereka.
"Vieer, aah," Vaya mendesaah.
Vier menyusupkan tangannya di punggung Vaya, menurunkan ritsleting yang membuat gaun berwarna hijau emerald itu terjatuh ke lantai.
Vier melepaskan ciuman mereka, mengambil satu scoop penuh es krim rasa vanila ke tubuh Vaya. Vaya memejamkan matanya, menikmati rasa dingin langsung menggelitik tubuh Vaya, bercampur dengan rasa panas dari bibir dan mulut Vier.
__ADS_1
Vier melepaskan pengait yang menyangga dada Vaya dengan cepat. Lelehan es krim yang mengalir di gundukan itu segera dilahap Vier.
"Ohh! Vieer," Vaya mendesah makin menggila.
Vier masih menyesap dan melumaat setiap inci dada Vaya yang terbuka. Gundukan lemak dengan pucuk menegang yang segera menjadi sasaran empuk.
"Hmmm, Vaya, aroma dan rasa tubuhmu benar-benar luar biasa," Vier menggeram penuh gairah.
"Oh, Vieer," Vaya mendesaah.
Vier merebahkan Vaya ke atas meja yang biasa menjadi tempat para koki menyiapkan masakan.
Vier kembali mengambil satu scoop penuh es krim rasa cokelat, meletakkan di atas perut Vaya.
Vier menjilati es krim cokelat, sambil menurunkan segitiga penutup yang menutupi lembah kenikmatan yang diincar oleh Vier.
Vaya memejamkan matanya, mendesis tak karuan saat dinginnya es krim meleleh hingga ke lembah kenikmatan.
Tanpa perlu berlama-lama, es krim segera disesap oleh Vier tanpa ampun.
"Aah! Aah! Vier!"
Vaya benar-benar merasa menggila, menekan kepala Vier lebih dalam saat memporak-porandakan lembah kenikmatannya.
"Oh, Vieer!" Vaya terengah-engah saat melihat Vier membuka ikat pinggangnya.
Vier merayap naik di atas tubuh Vaya, kembali menyesap bibir Vaya sambil melesakkan keperkasaannya ke dalam tubuh Vaya.
Vaya memeluk Vier lebih erat tatkala Vier mulai mendorong masuk lebih dalam, menghentak begitu kuat dengan tempo yang terjaga.
Keringat mulai membanjiri, deru napas mereka saling bersahutan. Hingga Vaya merasakan sensasi yang hendak meledak dari dalam dirinya.
"Aah! Aah!! Vier!"
Vaya mendesis, mengunci pinggang Vier ke tubuhnya lebih dalam, merasakan gelombang kenikmatannya meledak.
Vier mengulas senyumnya, merasakan Vaya yang sedang menikmati lebih dulu klimaaksnya.
Vier kembali menggerakkan tubuhnya dengan tempo yang lebih cepat dan semakin intens.
"Vayaa! Hmm, ini nikmat sekali, Vaya!"
Vaya bisa mendengar gigi Vier beradu, tubuhnya yang menegang dan mengencang menandakan bahwa pria itu sudah selesai meraih puncaknya.
Mereka saling memandang selama beberapa saat, berciuman sambil kembali menikmati es krim yang masih tersisa.
__ADS_1
...*****...