
"Kita ke Disneyland!" Vero bersenandung riang saat Vier menggendongnya keluar dari ruang perawatan Selena.
"Ya, ya, sebentar lagi kita akan ke sana. Disneyland tidak akan pergi ke mana-mana," Vier menyahut.
Mike segera menghadang langkah Vier sambil menyodorkan gawai cerdas milik Vier.
"Bu Cintami menelepon Anda sampai gawai cerdas Anda seperti hendak meledak," Mike memasang ekspresi masam.
"Kenapa kau tidak menjawab saja, Mike, hehe," Vier terkekeh.
"Justru karena saya menjawab, makanya ibu Anda menelepon terus," sahut Mike dengan masam.
"Vero main sama Pak Mike dulu ya," Vier menurunkan Vero dari gendongannya.
"Pak Mike, di mana ibuku?" tanya Vero.
"Bu Vaya menunggu di taman," jawab Mike.
"Pak Mike, ayo jemput ibu," ajak Vero.
"Vero, nanti kita jemput ibumu bersama-sama ayahmu," ucap Mike dengan tegas.
Vero memasang ekspresi masam.
"Vero, jangan ke mana-mana, nanti kau tersesat," tegur Mike saat Vero berjalan mundur.
"Hu-uh!" cibir Vero.
Vero dan Mike menunggu Vier kembali setelah menelepon ibunya.
"Vero, kita akan ke Disneyland, tapi sekarang kita temui ibuku dulu, ya," ucap Vier.
"Nenek sihir itu?" tanya Vero.
"Ehem, Vero," Vier berdeham. "Vero, sungguh bahaya kalau sampai nenek sihir itu mendengarmu tahu identitas beliau. Apa Vero mau disihir menjadi batu kerikil?" tanya Vier.
"Tidak mau!" Vero menggeleng cepat.
"Kalau begitu, cukup panggil nenek saja, agar nenek sihir itu tidak marah dan menyihirmu!" tukas Vier sambil mengacak kembali rambut Vero dengan gemas.
"Oh begitu," Vero mengangguk pelan.
Vier menyeringai, rupanya Vero benar-benar percaya bahwa neneknya adalah seorang nenek sihir. Yah, meski bukan nenek sihir yang sebenarnya, namun sikap Bu Cintami yang kerap tak berperasaan itu benar-benar macam nenek sihir. Terutama kepada saudara-saudari Vier.
"Sekarang Vero sudah paham ya," ucap Vier mengulangi apa yang diinstruksikannya.
"Paham, Ayah," sahut Vero.
"Mike, tolong bantu uruskan seluruh keperluan pemindahan Selena ke Jerman," kata Vier.
"Nona Selena pindah ke Jerman?" tanya Mike.
"Selena mendapat rekomendasi rumah sakit pengobatan syaraf dari salah satu rekan ayahnya. Aku menghargai keputusannya itu," jawab Vier.
"Baik Pak, saya mengerti," Mike mengangguk singkat.
Vier segera beralih pada Vero.
"Baiklah, sekarang ayo temui ibumu," Vier segera menggendong Vero kembali.
"Ayah, kenapa sih aku digendong terus? Aku bisa jalan sendiri kok," gerutu Vero.
"Vero, Ayah bahkan tidak menggendongmu saat kau lahir, jadi biarlah Ayah menebusnya," sahut Vier.
Vero memandangi wajah Vier yang memohon.
"Lagipula, Vero lumayan cocok menjadi pengganti latihan beban untuk memperkuat otot-otot tangan Ayah," Vier menyeringai jahil.
__ADS_1
"Haha! Ayah!" Vero tertawa karena Vier menjadikan Vero bak weight plates alias plat angkat beban.
...*****...
Sesampainya di taman, Vier, Vero, dan Mike segera mengedarkan pandangan mereka ke taman yang ramai.
Bagi Vier, harusnya mudah saja menemukan Vaya di antara puluhan manusia berkulit terang. Namun mata Vier masih belum menemukan sosok Vaya.
"Ibu di mana?" tanya Vero.
"Mike, ke mana Vaya?" tanya Vier.
"Tadi Bu Vaya pamit untuk duduk di taman saja, Pak," jawab Mike yang juga turut melakukan pemindaian.
"Coba kau hubungi, Mike," perintah Vier.
Mike mengerutkan keningnya.
"Maaf Pak, Bu Vaya tidak menggunakan ponsel," jawab Mike.
"Apa? Tidak menggunakan ponsel? Apa maksudmu?"
"Ya, tadi sebelum berpisah dengan Bu Vaya, saya meminta nomor ponsel yang bisa dihubungi, namun Bu Vaya tidak membawa ponsel beliau," jawab Mike.
"Apa?! Aduh, Mike! Sekarang kutanya, bagaimana cara kita menemukan Vaya tanpa menghubunginya?"
"Apa kau pikir kita bisa menggunakan kekuatan telepati?" cecar Vier.
"Pak Vier, Bu Vaya bukan anak kecil yang mudah tersesat. Jika memang tersesat, beliau pasti akan mencari kantor polisi terdekat untuk minta tolong," Mike menjelaskan pemikirannya.
"Mike, itu hasil pemikiranmu! Bukan Vaya! Apa kau tahu, saat di Maldives, Vaya juga menghilang seperti ini?! Di resort private saja, Vaya bisa tersesat! Apalagi di keramaian seperti ini?!"
"Terlebih kemampuan bahasa Inggris Vaya benar-benar hanya di level dasar! Malahan sangat payah!"
"Anda tidak pernah menyebutkan bahwa Bu Vaya pernah tersesat," sahut Mike datar.
"Baiklah, saya akan mencari keberadaan Bu Vaya," ujar Mike.
"Ayah, ibu ke mana?" tanya Vero.
"Hmm, Ayah rasa ibumu hanya berjalan-jalan karena bosan menunggu," jawab Vier.
"Ibu jalan-jalan sendiri tanpaku?! Kok ibu tega?" tanya Vero.
"Vero, ibumu hanya merasa bosan saja, sepertinya kita terlalu lama berbincang dengan Selena," jawab Vier.
Vier berusaha bersikap tenang, padahal dalam hatinya saat ini ia benar-benar tegang tak karuan. Bagaimana jika Vaya sampai menghilang karena diculik sindikat perdagangan organ tubuh?
Atau diculik dan dijadikan pekerja di tempat-tempat prostitusi?
Pikiran-pikiran semacam itu cepat-cepat ditepis oleh Vier.
"Vier!"
Vier menoleh ke arah seseorang yang memanggil namanya. Bu Cintami melangkah cepat menghampiri Vier.
"Ibu? Cepat sekali Ibu datang kemari," Vier terperangah.
"Ibu kebetulan berada tak jauh dari sini," jawab Bu Cintami sambil mengerling ke arah Vero.
Vero segera memalingkan wajahnya, kata-kata Vier tentang nenek sihir yang akan menyihirnya saat marah jelas membuat Vero takut.
"Apa salahnya Ibu ingin menemui cucu ibyu?" tanya Bu Cintami.
Vier mengulas senyum tipisnya.
"Jadi, Ibu akhirnya mengakui bahwa Vero adalah darah dagingku?" tanya Vier.
__ADS_1
"Ya, tentu saja Ibu harus memastikan sendiri, apakah benar Vero adalah anak biologismu," jawab Bu Cintami enteng.
Vier mencebik, padahal sebelum ada hasil tes DNA, Bu Cintami bahkan enggan untuk menyebut Vero sebagai cucunya.
"Ayo kita pergi, Vier. Ibu sudah mengabari ayahmu," ajak Bu Cintami.
"Maaf Bu, saat ini aku belum bisa pergi menemui ayah," tolak Vier.
"Apa maksudmu, Vier?" tanya Bu Cintami.
"Aku harus menemukan istriku lebih dulu,sebelum menemui ayah," jawab Vier.
"Menemukan istrimu?" alis Bu Cintami terangkat sebelah.
"Memangnya ke mana dia sampai kau harus menemukannya?" tanya Bu Cintami dengan tatapan sinis.
"Aku akan segera menemukan istriku, Bu," jawab Vier dengan cepat.
Bu Cintami masih memandangi Vero yang mencuri pandang, namun kembali memalingkan wajahnya
"Baiklah, kalau begitu pergilah mencari istrimu, biar Vero bersama Ibu."
Vier terperangah mendengar perkataan ibunya.
"Bawa saja pengawal Ibu untuk mencari istrimu, biarkan Vero bersama Ibu di tempat yang aman dan nyaman," lanjut Bu Cintami.
Vero memandangi wajah Vier lalu menyusupkan wajahnya ke dada Vier. Tangannya mencengkeram erat jas Vier sebagai pertanda bahwa bocah itu tidak setuju dengan keinginan Bu Cintami.
"Tidak mau," lirih Vero.
"Vero, tidak apa-apa," bisik Vier.
"Nanti Vero disihir jadi batu," lirih Vero.
"Selama Vero menjadi anak yang baik, nenek tidak akan menyihir Vero," bisik Vier.
"Tidak mau, Vero mau ibu," rengek Vero.
"Vero, Ayah mengerti. Ayah akan mencari ibumu, selagi Ayah mencari ibumu, Vero tunggulah bersama ibunya Ayah ya," Vier menjelaskan.
"Ibunya Ayah?" tanya Vero.
"Iya, ibunya Ayah," jawab Vier.
Vero terlihat ragu dan enggan melepaskan pelukannya dari Vier.
"Vero, ingat ya, selama Vero menjadi anak yang baik, ibunya Ayah tidak akan menyihir Vero, paham?" tanya Vier.
Vero masih nampak enggan, namun pada akhirnya bocah itu melepaskan pelukannya dari Vier.
Bu Cintami segera mengulurkan tangannya.
"Kemari, Vero."
"Ibu, Vero akan bersikap baik," kata Vier.
"Vier, apa kau pikir ibumu ini akan menggigit anakmu?" tanya Bu Cintami.
Vier menyeringai kecut, Vero nampak enggan saat Bu Cintami hendak menggandengnya. Vero justru memilih untuk menghampiri Gemma.
Bagi Vero, Gemma jauh lebih ramah daripada Bu Cintami.
Bu Cintami melotot saat mendapat penolakan dari Vero, namun wanita paruh baya itu hanya bisa menahannya.
"Baiklah Bu, kalau begitu aku titip Vero," ucap Vier berpamitan.
...*****...
__ADS_1