
Vaya termangu, matanya masih tetap menatap ke dalam mata Vier. Tatapan mereka masih saling mengunci satu sama lain. Genggaman tangan Vier dirasakan makin kuat oleh Vaya.
Vaya merasakan tangannya yang mulai basah dan berkeringat. Jantungnya sedang bekerja gila-gilaan untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Vaya benar-benar tidak tahu harus bereaksi apa terhadap semua pernyataan Vier yang sangat mengejutkannya.
Vaya sungguh tak menyangka bahwa pria itu, Vier, sosok pria yang bahkan tak pernah berani ia mimpikan, ternyata selama ini sudah menyimpan rasa untuknya.
Pria yang dulunya kerap merundung, mengejek, dan menghina Vaya, membuat masa sekolah Vaya benar-benar menjadi masa-masa paling kelam dalam hidupnya.
Bertahun-tahun kemudian pria itu akhirnya menikahi Vaya dan kemudian kembali melakukan aksi perundungan begitu mengikat Vaya dengan kontrak perbudakan birahi.
Pria yang membuat hidup Vaya benar-benar jungkir balik atas segala perbuatannya yang pada akhirnya membuat Vaya benar-benar jatuh ke pelukan pria itu.
Vaya yang pada awalnya bersikeras untuk menghindar justru malah terperangkap ke dalam hidup Vier.
"Ada apa, Vaya?" tanya Vier membuyarkan lamunan Vaya.
"Apa kau sungguh tidak ingin bersamaku lagi?"
Vier menatap Vaya yang nampak tidak fokus seakan pikiran wanita itu sedang melayang entah ke mana meski saat ini tatapan mereka masih saling mengunci satu sama lain.
"Vaya, apa kau sungguh mengkhawatirkan tentang ibuku?"
Vier kembali bertanya, Vaya menggigit bibir bawahnya, masih terlihat berpikir keras.
"Vaya, sungguh! Kau tidak perlu mencemaskan itu. Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa aku akan melindungimu dan juga Vero?"
"Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu, seumur hidupku," lanjut Vier memohon.
"Apa yang kau cemaskan, Vaya?" tanya Vier.
Vaya menarik napas banyak-banyak sambil menghembuskannya perlahan.
"Vier, rasanya aku masih tidak memercayai semua ini. Aku sampai berpikir apakah ini hanya terjadi dalam mimpiku saja," kata Vaya pada akhirnya, mengakhiri kebungkamannya.
Perlahan Vier bangkit dari berlutut, menatap Vaya dengan tatapan penuh keheranan.
"Apa maksudmu, Vaya?" tanya Vier. "Aku sungguh tidak mengerti."
Vaya menatap Vier lekat-lekat.
"Vier, sungguh, rasanya aku hampir tidak bisa memercayai ceritamu. Bahwa selama ini kau sudah menyukaiku bahkan memendam cinta untukku," kata Vaya.
"Vaya," Vier mendekap tangan Vaya di dadanya.
"Bukankah sudah kukatakan padamu? Aku pun juga tidak mengerti, dan tidak menyadari perasaanku sendiri," ucap Vier penuh kesungguhan.
__ADS_1
Vaya bisa merasakan debaran jantung Vier yang menggila. Mungkin ucapan di bibir bisa berbohong, namun untuk detak jantung adalah sebuah kejujuran.
"Vier, aku..," ucap Vaya tertahan.
Vier masih menatap Vaya, entah mengapa saat ini ia bisa merasakan bahwa Vaya sepertinya masih begitu keras kepala. Vaya pasti masih bersikeras untuk meminta perpisahan.
"Vaya, apa kau sungguh tidak ingin kembali bersamaku? Apa kau sungguh benar-benar ingin kita berpisah?"
Tatapan mata Vier meredup, pancaran kekecewaan tergambar jelas di manik mata hitamnya.
"Vier," Vaya balas menggenggam erat telapak tangan Vier.
Vier masih menatap Vaya dengan sorot matanya yang redup.
"Ayo kita kembali, aku takut Vero terbangun dan menangis karena mencariku," ucap Vaya.
Hati Vier rasanya mencelos mendengar ucapan Vaya.
Vaya tidak memberinya jawaban yang ia inginkan.
Entah mengapa Vier benar-benar tidak bisa menerima betapa keras kepalanya Vaya. Seakan tak ada yang bisa menggoyahkan keteguhan Vaya terhadap keputusan yang sudah ditetapkannya.
...*****...
Vaya menaiki lift yang membawanya menuju ke lantai tempat apartemen Vier.
Pria itu bahkan sama sekali tak mengucapkan sepatah kata. Sorot mata yang selalu cemerlang itu meredup seakan pria itu baru saja menelan pil pahit bernama kenyataan.
Saat ini perasaan Vaya pun benar-benar tak menentu. Ada rasa kaget bercampur bahagia, namun juga rasa takut yang teramat besar kini merasuki benaknya.
Vier masih bersikeras mengajaknya untuk kembali memulai hidup bersama. Memulai hidup bahagia sebagai keluarga kecil yang utuh.
Namun di sisi lain, Vaya benar-benar merasa takut dengan bayang-bayang ancaman Bu Cintami yang kapan pun bisa kembali merusak kebahagiaan Vaya lantaran wanita paruh baya itu belum menurunkan restunya.
Selain itu, Vaya masih belum bisa percaya seratus persen pada Vier. Semua yang diceritakan oleh Vier terdengar seperti gombalan dan rayuan untuk membuat hati Vaya goyah.
Vaya benar-benar merasa takut. Bagaimana seandainya di masa depan akan ada Selena lain yang merusak kebahagiaannya?
Lalu Bu Cintami kembali hadir untuk memporak porandakan keutuhan keluarga kecilnya?
Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Vaya.
Vaya menatap pantulan wajah Vier dari dinding lift. Ekspresi kekecewaan benar-benar terlukis jelas di wajah pria itu.
Bisakah aku memercayai Vier?
"Vier," ucap Vaya.
__ADS_1
"Hmm," jawab Vier singkat.
"Vier, aku bukannya tidak ingin kembali bersamamu, namun begitu banyak hal yang masih mengganjal dalam hatiku," ujar Vaya.
"Hmm, ya, aku mengerti," sahut Vier.
"Vier, apa kau tahu, aku pernah menginginkan pria lain saat bersamamu", ucap Vaya.
"Hmm, ya, aku tahu," jawab Vier sekenanya.
Vaya menggigit bibir bawahnya. Wajar saja ketika itu Vier benar-benar marah padanya.
"Dan aku memahaminya, karena saat itu kau belum menginginkanku," lanjut Vier.
"Apa kau pernah menginginkan wanita lain saat bersamaku?" tanya Vaya.
Vier memutar bola matanya mendengar pertanyaan dari Vaya.
"Vaya, berapa kali harus kukatakan padamu agar kau benar-benar mengerti?" tanya Vier.
"Saat bersamamu, aku tidak pernah menginginkan wanita lain. Mengapa demikian? Karena wanita yang kuinginkan sudah berada di sisiku," Vier berujar dengan penuh ketegasan.
"Saat itu yang bisa kulakukan hanyalah memaksamu untuk mengikuti semua yang kuinginkan," lanjut Vier.
"Kau boleh mengatakan bahwa aku adalah pria yang begitu egois. Tapi masalahnya, kau tidak bisa mengerti jika tidak kupaksa!"
Vier mengambil rambut Vaya yang terurai dan menciumnya.
Dengan gerakan sangat pelan, ia melepas rambut Vaya yang menyelinap di antara jemarinya.
"Oleh sebab itu, aku rasa lebih baik aku tidak perlu memaksamu karena yang ada kau malah makin keras kepala dan menentangku," ucap Vier.
Vaya menyeringai kecut melihat Vier menyunggingkan senyum tipis.
Begitu pintu lift terbuka, mereka berdua segera keluar dari lift lalu berjalan menyusuri koridor yang benar-benar sunyi.
Vier membuka pintu apartemennya, tiba-tiba Vaya menahan Vier di depan pintu.
Vaya langsung menarik kerah kemeja Vier dan mencium pria itu bersamaan dengan pintu yang tertutup.
Vier benar-benar terkejut dengan ciuman yang diberikan Vaya. Perlahan Vaya melepaskan bibirnya dari bibir Vier.
Dengan napas yang terengah-engah tatapan mata mereka kembali saling menancap.
"Vier, apa aku benar-benar bisa memercayaimu sepenuhnya?" tanya Vaya.
"Vaya, jika kau tidak percaya, akan kubuktikan padamu bahwa kau bisa memercayaiku sepenuhnya," jawab Vier.
__ADS_1
...*****...