
Vaya memilih untuk berdiri di dekat meja panjang yang menyajikan makanan prasmanan dan minuman. Vaya sungguh insecure datang ke pesta yang benar-benar membuatnya merasa salah tempat. Vaya bahkan tidak mengenakan gaun yang sudah disiapkan oleh penata busana dan lebih memilih menggunakan pakaian kerjanya saja. Kemeja putih dengan rok span hitam yang jelas membuatnya tak akan menjadi pusat perhatian dalam acara tersebut.
"Permisi, apa Anda menyediakan white wine?"
Vaya menoleh saat seorang pria bertanya padanya. Netra Vaya menangkap sosok pria dengan rambut gondrong yang diikat ke belakang.
"White wine?" Vaya balik bertanya.
"Hmm, ya, saya kebetulan lebih suka white wine dibandingkan red wine," jawab pria itu.
Pria itu menatap Vaya lebih lama sebelum akhirnya membuat Vaya kaget karena pria itu menepuk tangannya.
Plok..
"Oh ya ampun! Saya hampir tidak mengenali Anda, Nona lipstik palsu!"
"Hee? Lipstik palsu?"
Otak Vaya berputar cepat, ia segera teringat siapa sosok pria yang saat ini mengatainya sebagai nona lipstik palsu.
"Oh, Anda yang tempo hari di konter make up itu ya?" tanya Vaya.
Pria berambut gondrong dengan kumis tipis itu mengangguk sambil mengulas senyum sumringah.
"Anda langsung pergi begitu saja, padahal saya sudah berjanji untuk memberikan Anda hadiah karena sudah bersedia menukar lipstik palsu Anda," kata pria itu.
"Oh, tidak apa-apa, itu hanya lipstik palsu," sahut Vaya.
"Tapi bagi saya, lipstik palsu Anda sungguh berguna untuk membantu saya dalam banyak hal," ucap pria itu dengan gaya bicaranya yang ramah dan hangat.
"Haha, begitu ya, baru kali ini saya tahu bahwa produk palsu ada manfaatnya, padahal setahu saya produk palsu itu kan merugikan," Vaya berusaha tertawa untuk menutupi rasa groginya.
Mata Vaya tiba-tiba menangkap sosok Vier yang melangkah ke arahnya. Vaya bisa melihat kilatan kemarahan dari sorot mata Vier. Wajah pria itu bahkan nampak menegang.
Aduh, gawat, lebih baik aku pergi saja! Batin Vaya.
Vaya cepat-cepat bergegas pergi meninggalkan pria itu. Ia harus kabur dari Vier yang jelas sekali terlihat marah padanya. Lebih baik Vaya menghindar, namun terlambat, Vier sudah menghalangi langkah Vaya.
"Oh, ya, Pak, Anda jadi memesan white wine?" tanya Vaya pada pria gondrong itu.
Vaya harus mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Oh, baiklah, terima kasih," kata pria itu.
Mata Vaya dan Vier saling bertemu, namun Vaya segera menunduk dan bergegas pergi.
"Jovy, apa ada yang kau butuhkan?" tanya Vier.
"'Hmm, ya, aku butuh white wine," jawab Jovy.
"Oh ya, ngomong-ngomong, kau mengenal pegawai casual tadi? Kalian terlihat akrab," kata Vier.
"Benar, aku sungguh tak menyangka akan bertemu beliau di sini, dan ternyata beliau adalah seorang pegawai casual," sahut Jovy.
Vier tertegun mendengar ucapan Jovy.
"Pak Vier," Mike setengah berlari menghampiri Vier.
"'Jovy, aku permisi, silakan nikmati acaranya," kata Vier sembari melangkah pergi.
"Mike, bawa Vaya ke kamarku, minta dia bersiap-siap untuk menerima hukuman dariku," Vier menyeringai menyembunyikan rasa geramnya.
"Baik Pak," jawab Mike.
...*****...
Vaya memasuki kembali kamar tipe presidensial bersama Mike.
"Pak Mike, apa Vier sungguh marah padaku?" tanya Vaya.
"Beliau hanya menyampaikan akan memberi Anda hukuman. Jadi persiapkan diri Anda sebaik mungkin," jawab Mike.
Lagi-lagi hati Vaya mencelos mendengar ucapan Mike.
__ADS_1
"Oh, begitu," sahut Vaya.
"Bu Vaya, saran saya, apa pun yang terjadi, jangan keluar dari kamar ini sebelum Pak Vier datang," kata Mike.
Vaya menghela napas berat, memandangi ekspresi Mike yang nampak menegang.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," Mike berpamitan.
Semoga Pak Vier bisa bermurah hati kepada Anda, Bu Vaya, batin Mike.
Tuhan, lindungi aku dari semua masalah yang mungkin akan timbul. Amin. Batin Mike lagi.
...*****...
Vaya hanya bisa nelangsa, terkurung dalam kamar luar biasa mewah yang kosong. Menunggu dengan rasa gelisah yang semakin detiknya semakin memuncak.
Entah hukuman apa yang akan diberikan Vier padanya.
Kenapa Vier harus menghukumku? Memangnya aku salah apa? batin Vaya.
Masa iya, Vier marah padanya karena Vaya menolak menggunakan gaun luar biasa mewah yang jelas akan membuat Vaya nampak hendak mengikuti karnaval?
Gaun yang harusnya dikenakan Vaya masih berada di standing hanger. Gaun berwarna hitam seakan ada ribuan bintang yang disebar di seluruh permukaannya. Belum lagi gaun bermodel korset tanpa lengan itu jelas akan mengekspos lengan Vaya yang besar seperti tukang pukul.
Sepertinya Vier memang ingin membuat Vaya jadi bahan tertawaan semua orang.
Sungguh keputusan yang benar bagi Vaya untuk menolak memakai gaun itu.
Ia bukan Selena yang bisa di-setting untuk memakai gaun karnaval ke acara reuni sekolah!
Vaya memasuki kamar mandi mewah yang fasilitasnya setara saja dengan kamar mandi yang ada di rumah Vier.
Ia mulai menghapus riasan di wajahnya. Mencuci wajah, lalu segera mandi agar tubuhnya terasa lebih segar.
Maklum saja seharian ini aktivitasnya begitu padat. Mulai dari bekerja hingga melakukan rangkaian pemeriksaan kesehatan.
Usai mandi, Vaya keluar dari kamar mandi sambil mengenakan handuk kimono berwarna putih.
Dering ponselnya membuat Vaya segera mengambil benda itu dari tas, menggeser layar ponselnya yang retak-retak. Untunglah meski layarnya retak masih bisa digunakan untuk sekadar menjawab telepon.
"Halo, Yoran," jawab Vaya.
"Vaya, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Yoran di seberang sana.
"Menjawab teleponmu, hehe," jawab Vaya terkekeh.
Berbincang-bincang dengan Yoran sungguh membuat Vaya tidak kepikiran dengan teror ancaman hukuman dari Vier.
"Apa kau masih bekerja?" tanya Vaya.
"Sekarang tidak, karena aku sedang berbincang denganmu," jawab Yoran.
"Oh, begitu, hehe," Vaya terkekeh.
Ia kembali merasa salah tingkah hanya mendengar suara Yoran saja. Rasanya ribuan kupu-kupu kembali beterbangan dalam perutnya. Vaya kembali berdiri untuk mengurangi rasa tegangnya. Ia berjalan menuju ke arah jendela besar, menyingkap tirai dan mengamati pemandangan malam yang indah.
"Apa kau sudah makan?" tanya Yoran.
"Makan?" Vaya balik bertanya.
"Ya, makan malam," Yoran mengulangi.
"Aku belum makan malam, hehe," jawab Vaya.
"Ya sudah, ayo kita makan malam sekarang."
Bisikan di telinga kanan Vaya, serta sebuah ringkusan dari belakang membuat Vaya tersentak kaget.
Prak...
Ponsel yang tadinya menempel di telinga kiri Vaya teronggok di lantai usai membentur dinding karena dilempar oleh Vier.
"Vi-Vier!" suara Vaya tercekat.
__ADS_1
Oh tidak! Yoran! seru Vaya dalam hati.
Vier menyeringai dingin, Vaya merasa gentar dengan Vier yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi.
"Vier, apa yang kau lakukan?" tanya Vaya.
"Vaya, yang harusnya bertanya itu adalah aku! Saking sibuknya kau bertelepon, kau sampai mengabaikan kedatanganku! Sungguh luar biasa sekali kau!'
Plok.. Plok..
Vier bertepuk tangan, namun ekspresinya menyeringai horor.
"Vaya, apa kau sudah siap untuk menerima hukumanku?" tanya Vier.
"Vier, aku sungguh tidak mengerti, mengapa kau seakan terobsesi untuk memberi hukuman padaku?"
"Vaya, menurutku, justru kaulah yang sepertinya benar-benar gatal jika tidak kuhukum, haha!" Vier tertawa lagi.
"Tapi, sebelum aku menghukummu, sebaiknya aku perlu makan," Vier segera menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Vaya tertegun melihat para staff hotel menyiapkan meja panjang dan menyusun hidangan berupa potongan ikan segar berwarna merah di atas banyak wadah berisi es batu.
"Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Pak Vier?" tanya Mike.
"Terima kasih, Mike, aku rasa ini sudah cukup," sahut Vier.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi," Mike segera meninggalkan kamar tersebut.
"Vier, serius kau akan makan semua ikan mentah ini?" tanya Vaya keheranan.
"Tentu saja," jawab Vier.
Vier kembali menatap Vaya dengan tatapan mengintimidasi, membuat Vaya menjadi gentar.
"Vaya, apa kau tahu, berapa banyak pelanggaran yang sudah kau lakukan?" tanya Vier.
Vaya tidak menjawab, entah mengapa saat ini ia merasa firasatnya seketika memburuk karena Vier melangkah mendekat ke tempat Vaya berdiri mematung.
Vier menyeringai saat menarik ikatan handuk kimono yang dikenakan Vaya.
"Vi-Vier! Apa yang kau lakukan?" Vaya tersentak kaget, menahan Vier yang hendak menelanjanginya.
"Tentu saja aku harus memberimu hukuman, Vaya!" kata Vier sambil mendorong Vaya ke arah meja.
"Tu-tunggu, Vier!" sergah Vaya.
"Naik ke atas meja sekarang!" perintah Vier.
"A-apa?!" Vaya tersentak kaget.
Vier mendorong Vaya ke atas meja, menahan kedua tangan Vaya di atas kepala Vaya.
"Vaya, lakukan saja apa yang kuperintahkan dan jangan membantah atau kau benar-benar akan menyesal!" ancam Vier.
Oh Tuhan! Apa yang hendak Vier lakukan padaku?!
...*****...
Apa yang akan dilakukan oleh Vier?
Ada yang bisa tebak?
Tinggalkan jejak cinta dan kasih sayang haluers kesayangan othor biar makin semangat menghalu biru.
🤭🤭🤭
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
Visual Yoran ( Yoseph Randvale )
Ngomong-ngomong cowok kece ini dulu prince charming othor di zaman othor masih belia. Nggak ganteng badai kalau bukan beliau. Hehe..
Ada yang kenal? 🤭🤭
__ADS_1