Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
097 - Jatuh Sakit


__ADS_3

Tap.. Tap..


Terdengar suara langkah yang begitu mantap. Langkah-langkah yang terdengar tidak pernah ada keraguan atau pun kebimbangan yang menggema memasuki kamar Vaya.


"Vaya, kau mau tidur sampai kapan?!"


Suara itu membangkitkan setiap sel-sel di tubuh Vaya. Vaya terjaga sepanjang malam dan baru saja terlelap setelah merasa sangat lelah.


Selimut yang membungkus tubuh Vaya ditarik paksa oleh Vier. Vaya yang masih memejamkan matanya, mencengkeram dan enggan untuk berpisah dari selimutnya.


"Vaya, bangun! Ini sudah hampir siang!"


Vaya masih meringkuk, beberapa detik kemudian cahaya matahari menerobos masuk usai Vier membuka tirai penutup jendela.


Vaya membuka matanya, perlahan, mengintip ke arah Vier yang sibuk membuka pintu balkon, membiarkan udara segar masuk.


Vaya menutup wajahnya dengan bantal, ia benar-benar tidak mau melihat Vier.


Terlebih setelah kejadian semalam yang benar-benar lebih buruk dari mimpi buruk apa pun yang pernah dialami oleh Vaya.


"Vaya!"


Vier menarik bantal yang menutupi wajah Vaya.


"Tidak, Vier!" Vaya setengah berteriak.


Ia mempertahankan bantal dengan segenap tenaganya yang masih tersisa. Namun dengan perbedaan kekuatan membuat Vaya harus mengikhlaskan bantalnya.


Vier mengerutkan kening melihat penampilan Vaya yang benar-benar kacau. Rambut panjang kusut, wajah sembab, dan kelopak mata yang membengkak.


Vaya membuang pandangannya dari Vier, penampilannya pasti sangat menyedihkan. Penampilan yang mencerminkan perasaannya saat ini.


"Vaya, pagi-pagi kau sudah melewatkan jadwal latihan fisikmu, lalu kau juga melewatkan tugasmu memasak sarapan untukku! Dan kau malah enak-enakan tidur begini?!" kata Vier.


Siapa yang enak-enakan tidur?! Aku bahkan sama sekali tidak bisa tidur! Batin Vaya.


Vier menyeringai melihat Vaya yang masih tetap menunduk. Vier mengambil wajah Vaya dan mencengkeram kedua pipi Vaya.


Vaya memandangi wajah Vier yang terlihat tetap tampan dan sangat segar. Kaus hitam yang mencetak tubuh atletisnya menguarkan aroma parfum maskulin yang memabukkan.


Bagaimana pria itu terlihat tetap baik-baik saja dan seolah tidak ada apa pun yang terjadi pada mereka semalam?


Oh, ya, aku hampir melupakan kenyataan bahwa Vier adalah seorang pemain kelas kakap yang tidak terpengaruh apa pun! Batin Vaya.


"Apa yang kau pikirkan, Vaya?" tanya Vier.


"Vier, aku masih lelah dan mengantuk," jawab Vaya.


"Huh!" dengus Vier.


"Lelah dan mengantuk? Yang benar saja! Kau bahkan hanya diam seperti seonggok batang pisang! Haha!" Vier tertawa mengejek.


Vaya hanya diam, ia tak tahu harus mengatakan apa untuk membalas ejekan Vier. Vier melepaskan tangannya dari wajah Vaya.


"Batang pisang! Ahaha!" Vier tertawa lagi sambil menyundul-nyundul kening Vaya dengan jarinya.


"Memangnya apa yang bisa kulakukan dengan kedua tangan diborgol? Apa kau pikir aku ini pemain akrobat?!" gerutu Vaya.


"Haha," Vier tertawa lagi.


Vaya benar-benar benci melihat tawa Vier, seperti orang yang tidak berdosa sama sekali atas apa yang sudah ia lakukan terhadap Vaya, secara khusus adalah tubuh Vaya.


"'Lekas bangun! Siapkan sarapan untukku! Aku benar-benar lapar!"

__ADS_1


Vaya tidak bergeming dengan perintah Vier. Ia masih tetap meringkuk.


"Vaya, apa aku benar-benar harus menyeretmu?" tanya Vier.


"Vier, maaf, aku merasa sedang tidak enak badan, tolong tinggalkan aku," ucap Vaya.


Vier memicingkan matanya.


"Ck, Vaya, berani sekali kau memberiku perintah! Kau pikir siapa dirimu?" Vier kembali menyundul kening Vaya.


"Vier, aku tidak memerintahmu, aku hanya minta tolong padamu," sahut Vaya.


Vier menempelkan telapak tangannya ke kening Vaya.


"'Vier," gerutu Vaya mencoba menyingkirkan tangan Vier dari keningnya.


"Vaya, kau sepertinya demam," kata Vier.


"Vier, aku kan sudah bilang tidak enak badan," sahut Vaya.


"Mike!" seru Vier sambil berlari keluar dari kamar.


...*****...


Kehebohan Vier membuat semua orang di rumahnya ikut heboh. Teriakan Vier membuat para pelayan berbondong-bondong datang menghampiri.


Mereka membawakan wadah berisi air hangat dan kain-kain untuk mengompres tubuh Vaya.


Makanan berupa sup dan buah-buahan segera datang memenuhi kamar.


"Cepat makan yang hangat-hangat agar demammu segera turun!" perintah Vier.


Vaya menatap enggan sup yang masih mengepul di hadapannya.


"Dokter Reno masih dalam perjalanan, Pak," jawab Mike yang sudah menghubungi Dokter Reno sebanyak tiga kali.


"Aduh Mike, harusnya kau saja yang menjemput Dokter Reno!" keluh Vier.


Vier kembali menoleh pada Vaya yang masih belum juga menyantap supnya.


"Vaya, kenapa kau belum juga makan supmu? Cepat makan!"


"Vier! Supnya masih panas! Apa kau mau lidahku terbakar!" sergah Vaya.


Sudah cukup rasanya selangkangaanku yang masih terasa terbakar! Vaya merutuk kesal dalam hati.


Vier mengambil sup dengan sendok dan meniupkannya dengan cepat.


"'Buka mulutmu!" perintah Vier.


Vaya melihat Mike dan Pak Jo yang saat ini menjadikannya sebagai tontonan kegilaan Vier. 


"Vieer," Vaya mendorong tangan Vier.


"Vaya, apa perlu aku menyuapimu dengan mulutku?" tanya Vier.


"Vier, itu bukan ide yang bagus!" sahut Vaya menyimpan rasa geramnya.


"Ayo lekas makan! Buka mulutmu! Atau kau lebih memilih aku membuka bajumu?!" ancam Vier.


Ugh! Dasar Vier gila!


"Selamat datang, Dokter Reno," sapa Mike menyambut kedatangan Dokter Reno.

__ADS_1


Dokter Reno mengulas senyumnya begitu muncul di kamar Vaya.


"Dokter Reno, kenapa Anda lama sekali?" keluh Vier.


"Maaf, Vier, tadi masih ada rapat dengan dewan rumah sakit," jawab Dokter Reno.


Dokter Reno mengalihkan pandangannya pada Vaya yang masih meringkuk di atas tempat tidur.


Mike dan Pak Jo segera keluar dari kamar, membiarkan Vaya menjalani pemeriksaan dari Dokter Reno.


Vaya benar-benar merasa sangat malu dengan kondisinya saat ini. 


"Demam Anda cukup tinggi, apa disertai rasa nyeri juga?" tanya Dokter Reno.


Sangat, batin Vaya.


"Di bagian mana rasa nyeri itu timbul?" tanya Dokter Reno.


Vaya mendelik gusar, tidak mungkin terang-terangan menjawab bahwa saat ini rasanya kelaminnya membengkak sepuluh kali lipat.


Benar-benar sangat memalukan sekali! Memalukan!


"Hmm, anu Dokter Reno, saya hanya kelelahan dan perlu istirahat yang cukup," jawab Vaya malu-malu.


"Tidak, Dokter, istriku tidak baik-baik saja. Demamnya bahkan begitu tinggi," Vier menimpali.


Ugh! Vier! Kau pikir gara-gara siapa aku sampai harus sakit begini?! Dasar laki-laki lucknut! Ingin rasanya Vaya berteriak seperti itu.


"Ehem, Dokter Reno, sungguh, saya ini biasa menderita penyakit orang miskin. Paling meriang karena masuk angin, biasanya dibawa rebahan nanti sembuh sendiri," Vaya meringis.


"Vaya, mau kau terserang penyakit orang miskin, penyakit orang gila, kalau kau sampai jatuh sakit begini, berarti kau itu sedang sakit! Beleng betul kau ini jadi orang!" tandas Vier.


Vaya hanya bisa meringis ngilu, percuma berdebat dengan Vier, yang waras harus mengalah.


"Baiklah, kalau begitu saya akan memberikan resep obat penurun demam, pereda nyeri, dan vitamin tambahan," sahut Dokter Reno.


"Dokter Reno, apa bisa kita bicara sebentar?" tanya Vier.


...*****...


Vier segera membawa Dokter Reno ke ruang kerjanya.


"Dokter, apa istriku sampai jatuh sakit merupakan pengaruh dari...," Vier menggantungkan kalimatnya.


"Dosis kontrasepsi yang diberikan untuk istrimu adalah dosis yang standar, kontrasepsi jenis suntik sebulan sekali tergolong relatif lebih aman  untuk menunda kehamilan, dan resikonya juga minim," Dokter Reno menjelaskan.


Vier nampak berpikir keras, saat ini kesehatan Vaya jelas membuatnya merasa cemas.


"Vier, kenapa kau harus repot-repot menunda kehamilan istrimu? Aku rasa tidak masalah dengan usiamu saat ini untuk segera memiliki anak," kata Dokter Reno.


"Kalian berdua dalam kondisi yang sama-sama prima, dan sudah sangat dewasa untuk membesarkan anak," lanjut Dokter Reno.


"Hm, kami masih ingin menikmati masa bulan madu lebih lama, Dokter," sahut Vier seraya terkekeh.


"Vier, aku rasa istrimu sakit bukan karena pengaruh dari kontrasepsinya, melainkan dari kalian berdua," kata Dokter Reno.


"Kalian pasti terlalu antusias, hingga kurang beristirahat," tebak Dokter Reno.


"Haha, Dokter!" Vier tertawa.


Vier jelas tahu bahwa Vaya belum menginginkannya. Sehingga lebih aman melakukan tindakan preventif dan terkontrol oleh Vier daripada Vaya justru melakukan tindakan-tindakan nekat yang berbahaya.


Vier benar-benar akan menunggu hingga Vaya benar-benar menginginkannya tanpa syarat dan ketentuan yang berlaku.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2