
"Lho, Pak Vier kok makan bersama kita, Bu?"
Ceplosan Vero sontak membuat semua orang yang saat ini sedang bersiap untuk makan malam bersama seketika terdiam.
"Kenapa tidak boleh, Vero? Kan Kak Vier itu adalah aya-," Belum sempat Aria menyelesaikan ucapannya, Vaya sudah melotot ke arah Aria.
Mulut Vaya yang komat-kamit dengan mata melotot lebar penuh ancaman jelas seketika membuat Aria menciut.
"Aya- apa, Tante?" tanya Vero.
"Vero, ini namanya menjamu tamu," Vaya menjelaskan dengan cepat.
"Menjamu tamu? Tapi biasanya orang-orang yang datang kemari makannya di luar saja, Bu," cerocos Vero.
Vaya mencebik mendengar cerocosan Vero, sementara Vier mengulas senyum senang dan bangga.
Anakku memang sangat pintar! Bangganya! Batin Vier senang.
"Vero, di luar kan sangat dingin, kasihan kalau tamu kita makan di luar," Vaya mencoba mencari alasan.
"Oh begitu," Vero mengangguk.
"Lalu, kapan Pak Vier dan Pak Mike pergi?" tanya Vero.
Vier dan Mike terdiam mendengar pertanyaan Vero.
"Di luar kan sudah tidak hujan lagi, jadi Pak Vier dan Pak Mike sudah bisa pergi kan?" tanya Vero.
"Ya, ya, Vero, mereka sebentar lagi pulang kok," jawab Vaya.
Vier melengos mendengar ucapan Vaya. Entah mengapa saat ini Vaya benar-benar sengaja melakukan konfrontasi dengannya.
"Ayo dimakan makanannya, Nak Vier. Maaf hanya bisa menyuguhkan makanan seadanya saja," ujar Bu Asih.
"Terima kasih banyak, Bu, sungguh tidak perlu repot-repot begini," sahut Vier.
"Mbah, kenapa memanggil Pak Vier begitu? Memangnya Pak Vier anak Mbah?" tanya Vero.
"Vero, kamu salah dengar, Mbah bilangnya Pak Vier, bukan Nak Vier," sahut Vaya cepat.
Vero menggeleng dengan cepat.
"Ibu, telinga Vero belum rusak! Tante dengarnya tadi apa?" tanya Vero ke arah Aria.
Vaya melotot ke arah Aria, Aria mencebik dan memilih diam dengan menyuapkan nasi putih ke mulutnya.
"Tante? Pak Mike?" tanya Vero ke arah Aria dan Mike.
Melihat Vaya melotot jahat ke arah Mike, Mike hanya diam sambil menyuapkan nasi putih ke mulutnya.
"Kok semua pada diam sih?!" gerutu Vero.
"Vero, saat makan memang lebih baik diam, kebanyakan bicara nanti malah tersedak," sahut Vaya lagi.
__ADS_1
Vier menatap Vaya dan juga Vero. Vero yang begitu banyak bertanya dan Vaya yang menjawab dengan penuh kesabaran. Vier jadi menyadari betapa banyaknya momen yang telah ia lewatkan.
Ia bahkan tidak pernah tahu bahwa Vaya mengandung, melahirkan, bahkan telah membesarkan Vero tanpanya.
Rasa bersalah segera mendera Vier, rasa sesak yang bergulung-gulung bak deburan ombak menghantam karang.
"Oh ya, Bu, tadi kata Pak Vier, ayahku harus dipenjara karena sudah menelantarkanku dan juga Ibu," cerocos Vero.
"Uhuk... Uhuk...!"
Semua orang segera batuk berjamaah mendengar ceplosan Vero. Terutama Vier yang saat ini terbatuk paling keras.
Vaya melotot kesal ke arah Vier. Entah apa yang sudah dilakukan Vier sampai Vero jadi terkontaminasi seperti ini.
"Vero, hal-hal yang aneh lebih baik tidak usah didengar," tukas Vaya sambil mengerling ke arah Vier dengan sinisnya.
"Tapi itu benar kan, Bu, ayahku pasti orang yang sangat jahat!" sungut Vero.
"Tidak, Vero! Ayahmu bukan orang jahat!" potong Vier.
"Lalu, mengenai penjara itu, aku hanya bercanda saja! Sungguh, haha!" ucap Vier dengan cepat sembari tertawa-tawa.
Mike menyembunyikan senyumnya, rasanya ia ingin tertawa jahat. Pria yang selalu mengancam orang dengan ancaman mendekam di penjara, kini justru panik dengan ancamannya.
"Pak Vier mengenal ayahku?" tanya Vero penuh selidik.
"Vero, ayo lekas makan, tidak usah tanya-tanya begitu," potong Vaya.
Bu Asih dan Aria saling melemparkan pandangan mereka sebelum akhirnya bertukar pandang ke arah Vier.
...*****...
Usai makan malam, Vaya segera membereskan meja dibantu Aria.
"Kak, kenapa Kakak tidak memberitahu Vero bahwa Kak Vier adalah ayah Vero?" tanya Aria.
Vaya memicingkan matanya lalu memercikkan air bilasan piring ke wajah Aria.
"Aduh Kak!" seru Aria sambil mengusap percikan air di wajahnya.
"Aria, lebih baik sekarang kau belajar untuk ujian!" perintah Vaya.
"Kak Vaya! Kenapa Kakak malah menghindari Kak Vier? Bukannya Kakak sangat mencintai Kak Vier?" tanya Aria.
"Aria, lekas naik ke atas dan belajar!" perintah Vaya.
Aria mengerucutkan bibirnya lalu beranjak meninggalkan Vaya yang masih membereskan sisa cucian piring.
"Kakak, kalau cinta jangan gengsi dong," ujar Aria lagi sebelum gadis itu menghilang dari dapur.
"Hihh! Anak ini!" gerutu Vaya dengan gemas.
Vaya menghela napas berat. Saat ini ia benar-benar merasa dilema dan bimbang.
__ADS_1
Tawaran untuk hidup bersama dengan Yoran, memulai semuanya dari awal lagi jelas sangat menggiurkan.
Ini seperti mimpi bagi Vaya, memimpikan pria yang pernah begitu didambakannya selama separuh hidupnya.
Pria pujaan yang mengisi hari-harinya di masa sekolah dulu. Meski pria itu hanya melintas di depan kelas Vaya, bagi Vaya itu sudah membuatnya luar biasa senang.
Berpisah selama belasan tahun dan kemudian takdir mempertemukan mereka kembali di waktu yang salah. Di saat Yoran sudah menikahi Grace dan Vaya pun sudah menikah dengan Vier.
Namun saat ini hati Vaya tidaklah ada pada Yoran. Rasa cinta itu seakan menguap bersama kenangan-kenangan manis dan singkat yang mereka lalui bersama.
Ancaman demi ancaman yang diberikan Vier untuknya justru membuat Vaya menyerahkan hatinya pada Vier.
Ya, pria yang saat ini menggenggam hatinya tengah melangkah ragu-ragu, membuyarkan lamunan Vaya.
"Uhuk! Vaya," Vier terbatuk.
Vaya masih tetap bersikap skeptis pada Vier.
"Hatcim!"
Vier bersin begitu keras hingga pria itu terhuyung dan menabrak meja.
"Vier!" seru Vaya.
"Vier, kau baik-baik saja?" tanya Vaya penuh kecemasan.
"Uhuk! Ya, aku baik-baik saja," jawab Vier.
Vaya melihat ekspresi wajah Vier yang menegang, wajah Vier dipenuhi rona kemerahan.
"Vaya, aku akan pergi," ucap Vier.
Vaya merasa jantungnya seakan berhenti berdetak, darah yang mengalir di pembuluh darahnya terhenti, dan paru-parunya bahkan berhenti memompa udara.
"Aku akan pergi seperti yang kau inginkan," ucap Vier.
"Tidak ada gunanya aku terus memintamu untuk kembali, sedangkan kau justru tidak ingin kembali padaku."
Nada bicara Vier terdengar penuh kegetiran.
"Uhuk!" Vier kembali terbatuk.
"Aku tidak akan pernah lagi memaksamu, seperti yang kulakukan sebelumnya."
"Daripada kau merasa terpaksa dan setengah hati, itu justru malah membuat kita sama-sama terluka."
"Uhuk! Hatchim!"
Vier kembali terbatuk dan bersin. Ia menyeka cairan bening yang mengalir keluar dari rongga hidungnya.
Vaya mendekati Vier dan memegang tangan Vier yang terasa begitu panas.
"Vier, kau demam!"
__ADS_1
...*****...