
“Saya bawanya gantian ya, Bu, saya bawa baby boy dulu,” ucap Mona lagi, dan disetujui oleh Shafa.
Mona pun segera mengambil Daviandra untuk segera di serahkan ke tante Lucy.
Mona gak tau kalau dia sejak tadi udah diawasi anak buah yang berjaga di luar. Anak buah yang Bayu siapkan untuk berjaga di dekat ruangan Shafa segera memberitahu pada semua temannya kalau suster Mona saat ini baru saja membawa bayi Shafa.
Reigha yang masih di depan rumah sakit pun baru saja mendapat info tentang hal itu. Reigha dan polisi udah bersiap di depan rumah sakit.
Suster Mona udah sampai depan rumah sakit dan melihat mobil tante Lucy yang terparkir tepat di depannya.
Tante Lucy segera keluar dari mobil dan menerima salah satu anak Reigha. Setelah menerima, suster Mona pun mendapat imbalannya dan segera pergi dari rumah sakit.
Tante Lucy segera masuk ke mobil, di dalam udah ada Cantika. Sopir tante Lucy segera melajukan mobilnya. Namun, saat akan keluar dari halaman rumah sakit, ada mobil yang menghadang mobil tante Lucy. Reigha segera turun dari mobil tersebut.
“Tante, mau tante bawa ke mana anakku?” tanya Reigha tepat di depan mobil tante Lucy.
Tante Lucy pun segera menyerahkan anak Reigha pada Cantika, kemudian keluar dari mobil, “Kamu ngomong apa, Gha, anak kamu ‘kan di dalam, tante habis ambil obat di rumah sakit. Mana tante tau anak kamu di mana.”
Dan saat tante Lucy mau masuk ke mobil, polisi udah datang menghadang mobil tante Lucy.
“Kamu apa-apaan, Gha, ngapain para polisi menghadang tante? Kamu mau mempermalukan tante? Hah?” lanjut tante Lucy dengan menautkan kedua alisnya tampak kesal pada Reigha.
“Sebelum tante menyerahkan anakku, jangan harap tante bisa keluar dari rumah sakit ini!” seru Reigha.
Cantika pun segera keluar sambil menggendong Daviandra, “Ma, kita serahkan aja ya, biar kita aman,” ucap Cantika berbisik.
Tante Lucy segera mengambil Daviandra dari tangan Cantika, “Kamu mau anak ini, Gha? Jangan harap aku akan memberikan ke kamu dalam keadaan hidup,” ucap tante Lucy yang langsung mengambil pisau dari tasnya.
“Tante, urusan tante sama aku, ngapain tante mau nyakitin anak aku?” balas Reigha.
“Biar kamu ngerasain gimana rasanya dipisahkan dari orang yang kamu cintai. Karena, kamu udah misahin tante dengan suami tante. Kamu tega masukin suami tante ke penjara,” ucap tante Lucy.
“Tante, itu ‘kan kesalahan om sendiri, yang udah mencelakai Reigha, Tan, dan bukti-bukti udah ada.”
Tante Lucy tidak sadar kalau Bayu datang akan menyelamatkan Daviandra. Saat Bayu udah di belakang tante Lucy, bayu segera mengambil pisau dari tangan tante Lucy.
“Gha, segera ambil anak lo!” seru Bayu sambil terus menggenggam tangan tante Lucy yang masih menggenggam erat pisau ditangannya.
“Bayu, kenapa kamu selalu ikut campur!” teriak tante Lucy memberontak.
Reigha pun segera mengambil Daviandra dan mendekapnya. Daviandra pun kaget dan menangis.
__ADS_1
Saat Daviandra udah di tangan Papanya, polisi segera menangkap tante Lucy dan membawa Cantika juga sopirnya untuk jadi saksi.
Reigha pun segera mendekati Bayu dan berkata, “Bay, lo terluka. Maafin gue ya.”
“Ngapain lo minta maaf, udah bawa Daviandra ke dalam, Gha,” balas Bayu.
“Iya gue akan bawa Daviandra ke ruangan Shafa, tapi gue pastikan dulu kalau lo udah ditangani dokter,” ucap Reigha segera membawa Bayu yang terluka ke ruang IGD dengan Daviandra yang masih dalam dekapannya.
Tangan bayu segera dibersihkan kemudian diperban oleh dokter.
“Dokter, gimana luka adik saya gak parah ‘kan?” tanya Reigha.
“Alhamdulillah lukanya gak terlalu dalam, Pak, tapi kami jahit karena ada yang terkoyak. Dan, Pak Bayu bisa langsung pulang kok, jangan lupa obatnya di ambil ya, Pak,” jawab dokter.
“Baiklah, Dokter. Terima kasih,” balas Bayu.
“Gimana, Bay, masih sakit?” tanya Reigha khawatir .
“Gapapa, Gha, luka segini aja ngapain lo sampai khawatir. Ayo kita ke ruangan Shafa,” jawab Bayu seraya mengajak Reigha menuju ke ruangan Shafa setelah mereka mengambil obat untuk Bayu.
Sesampainya di ruangan Shafa, Reigha langsung masuk dan menidurkan Daviandra di sebelah Daviana. Sementara Bayu langsung mendudukkan diri di atas sofa.
“Lho, Mas, kok Daviandra sama kamu? Tadi ‘kan di bawa suster untuk imunisasi?” tanya Shafa.
“Iya, ‘kan di bawa untuk imunisasi, Mas, biasanya kalau mau pulang memang diimunisasi dulu kok. Tapi, emang aneh sih tadi, karena dokternya menyuruh di perawat untuk bayinya dibawa ke ruangan dokter,” ucap Shafa.
“Daviandra tadi diculik, Sayang,” balas Reigha membuat Shafa kaget.
“Hah? Apa, Mas? Astagfirullah ... tapi, anak kita gapapa ‘kan, Mas?” tanya Shafa hingga tak sadar sampai menitikkan air matanya.
“Gapapa, Sayang, itu malah Bayu yang terluka,” jawab Reigha.
Shafa segera menengok ke Bayu yang duduk di sofa seraya berkata, “Bay, makasih ya ... udah nyelamatin anak kami. Maaf lo jadi luka gitu.”
“Iya, Fa. Lagian keponakan gue kok, gapapalah luka kecil,” balas Bayu.
“Siapa yang nyulik anak kita, Mas?” tanya Shafa kembali pada Reigha.
“Tante Lucy, Sayang, dia yang menculik anak kita,” jawab Reigha membuat Shafa kembali menitikkan air matanya karena Shafa sempat gak percaya saat Reigha mencurigai tante Lucy.
“Maafin Shafa ya, Mas, Shafa percaya aja sama perawat itu.”
__ADS_1
Tak lama kemudian, dua dokter tampak masuk ke ruangan Shafa, karena akan memeriksa Shafa dan juga si kembar.
“Permisi ... siang, Pak, kami periksa dulu ibu dan si kembar ya,” ucap dokter Obgyn.
Dokter anak pun segera memeriksa dan imunisasi si kembar, sedangkan dokter Obgyn memeriksa Shafa.
“Tensinya agak naik ya, Bu, jangan banyak pikiran dulu. Hari ini udah boleh pulang ya,” ucap dokter Obgyn diangguki oleh Shafa.
“Pak, ini si kembar udah saya imunisasi, bulan depan kontrol lagi dan imunisasi,” titah dokter anak.
“Iya dokter, terima kasih,” balas Reigha.
Dua dokter itu pun segera keluar. Bayu membantu Reigha segera membereskan barang-barangnya.
“Sayang, kamu nanti sama si kembar Mas antar pulang. Tapi, setelah itu Mas akan ke kantor polisi ya,” ucap Reigha.
“Iya, Mas, atau Shafa pulang sama Vano aja, Mas. Biar mas bisa langsung ke kantor polisi,” balas Shafa.
“Oh ... nggak, Sayang. Mas harus pastikan kamu dan anak-anak aman sampai rumah!” seru Reigha.
“Bay, lo di rumah sakit dulu aja ya, tolong lo cari suster yang membawa anak gue keluar tadi. Nanti lo gue jemput, kita ke kantor polisi untuk menyerahkan buktinya,” lanjut Reigha pada Bayu.
“Oke, Gha. Gue akan menemui kepala perawat dulu. Setelah itu nanti gue dan anak buah lainnya nunggu lo di depan,” balas Bayu diangguki oleh Reigha.
Mereka udah selesai mempersiapkan semuanya, Reigha pun segera keluar untuk mengurus administrasi. Saat akan kembali ke ruangan Shafa, Reigha menelpon Dani.
“Halo, Dan, tolong kamu handle kantor dulu ya, hari ini saya gak bisa balik ke kantor, untuk meeting kamu aja yang urus,” ucap Reigha saat panggilan udah terhubung.
“Baik, Pak, nanti akan saya handle kerjaan bapak juga meeting hari ini.”
Reigha pun masuk ke ruangan Shafa saat udah mengakhiri panggilannya.
Reigha tampak membawa kursi roda masuk ke dalam ruang rawat Shafa. Di sana, Shafa udah dibantu suster untuk melepas infus.
“Sini keponakan cantik gue, biar gue gendong,” ucap Bayu segera mengambil alih Daviana yang berada dalam dekapan Shafa.
“Bisa, Bay, tangan lo masih sakit?” tanya Reigha.
“Yang sakit ‘kan tangan, lengan gue gapapa,” jawab Bayu.
Sementara Daviandra di dalam box karena masih tertidur. Suster pun mendekat pada box bayi dam menggendong Daviandra kemudian diberikannya pada Shafa.
__ADS_1
Shafa segera duduk di kursi roda dan menggendong Daviandra.
Mereka pun keluar ruangan bersama. Reigha mendorong kursi roda Shafa menuju ke depan karena mobil Reigha udah di depan.