
Tak lama kemudian, Reigha membuka pintunya.
“Ma, pagi-pagi udah gedor-gedor pintu, ada apa sih, Ma?” tanya Reigha.
“Mama kangen sama si kembar, Gha,” jawab Mama segera menerobos masuk dan bertepatan Shafa yang keluar dari kamar mandi.
“Ma,” ucap Shafa sambil menahan malu.
“Hey, Cucu-cucuku, kalian ditinggal ya, Sayang. Nanti malam tidur sama Oma aja ya,” ucap Mama.
“Ditinggal sendiri gimana sih, Ma, kita ‘kan di kamar dari tadi,” balas Reigha terkesan protes.
“Iya bener sih di kamar, tapi ‘kan kalian lagi enak-enakan di kamar mandi,” kata Mama hingga membuat Reigha menggaruk tengkuknya.
“Maklum ajalah, Ma ... ‘kan Reigha baru puasa lama!” seru Reigha.
“Tapi kamu tuh gak tau waktu, udah pagi juga, anak-anak kamu lihat itu, udah bangun. Eh malah ditinggal sama Mama Papanya,” balas Mama membuat Shafa tersenyum malu.
Mama Dhiya mendekat pada cucu-cucunya. Sementara Shafa menyiapkan air untuk mandi si kembar.
Saat Shafa ke kamar mandi, Reigha pun berganti baju kantor, setelah siap, Reigha kembali ngobrol sama Mama yang tengah memangku Daviana karena Daviandra tengah dibawa Shafa untuk dimandikan.
“Gha, semalam Mama ketemu Cantika,” ucap Mama memulai ceritanya.
Reigha dan Shafa mendengarkan dengan Shafa yang memandikan Daviandra.
“Gimana menurut kamu, Gha?” tanya Mama setelah selesai menceritakan mengenai Cantika.
“Ma, tapi Reigha gak bisa membebaskan Om Andre dan Tante Lucy, Ma ... itu terlalu berbahaya,” balas Reigha.
“Mas, siapa tau Om dan Tante setelah di penjara udah menyesal, kasihan Cantika hidup sendirian,” sahut Shafa yang membawa baby Daviandra menuju ke ranjang untuk dipakaikan baju yang udah Shafa siapkan sebelum memandikan anak-anaknya tadi.
“Nanti Reigha akan diskusikan sama papa dan Bayu juga deh, Ma. Tapi, kalau Reigha pribadi, gak setuju,” ucap Reigha.
Mama mengambil alih Daviandra saat udah selesai dipakaikan baju oleh Shafa. Kini giliran Daviana yang dimandikan.
Setelah si kembar mandi dan minum asi, mereka tertidur. Shafa dan Reigha juga Mama Dhiya pun keluar kamar hendak sarapan.
Saat sampai ruang makan, Papa udah duduk sendirian. Papa yang menyadari hadirnya istri, anak, dan menantunya pun langsung bertanya, “Loh, si kembar mana?”
“Setelah mandi, mereka tidur, Pa,” jawab Shafa.
“Oh ... yaudah, ayo kita sarapan,” balas Papa.
Mereka pun duduk dan segera mengambil makanan untuk sarapan.
“Pa, ke kantor pagi ini?” tanya Reigha.
“Iya, Gha. Bayu ‘kan belum bisa ke kantor karena masih nungguin Anna, ada meeting katanya pagi ini,” jawab Papa.
“Yaudah, berangkat bareng aja, Pa!” seru Reigha.
__ADS_1
“Oke, tapi kita nanti barengin Mama kerumah sakit dulu ya, setelah itu baru ke kantor,” titah Papa diangguki oleh Reigha.
“Iya, Pa. Sayang, nanti kamu di rumah sendiri gapapa, ya,” ucap Reigha menoleh pada sang istri.
“Ya gapapa lah, Mas, tenang aja ... lagian ada Mbok Nah kok,” balas Shafa sembari tersenyum.
Dan setelah sarapan, mereka bergegas berangkat. Kini tinggal Shafa di rumah sendiri.
Karena rumah sepi, Shafa memutuskan untuk ke kamar si kembar.
“Sayang, udah bangun, Nak,” ucap Shafa menghampiri Daviandra. Sementara Daviana masih tertidur.
“Sini Mama gendong, kita ke kamar Mama ya ... ntar takutnya Daviana bangun,” lanjut Shafa menggendong Daviandra menuju ke kamarnya.
Sementara di rumah sakit, setelah di periksa dokter, Anna udah boleh pulang. Bayu pun segera mengurus kepulangan Anna.
Saat di lorong rumah sakit, Bayu bertemu dengan Mama, “Loh, Ma ... kirain gak kesini.”
“Kan semalam Mama dah bilang, kalau Mama pagi ini ke rumah sakit,” balas Mama.
“Masalahnya Anna udah boleh pulang, Ma, ‘kan jadinya Mama kecapean bolak balik ke rumah sakit,” ucap Bayu.
“Udah, udah ... gapapa kok. Lagian udah sampai sini juga, Mama gak bawa mobil tadi, Bay. Mama bareng sama Papa dan Reigha.”
“Yaudah, Mama mau ke ruangan Anna dulu aja, Ma. Bayu mau urus kepulangan Anna ya, Ma,” balas Bayu.
“Baiklah.” Mama segera menuju ke ruang rawat Anna.
“Ayo, Sayang ... kita pulang ke rumah,” titah Bayu sembari mendekat kursi roda pada brankar.
“Abang, Anna jalan aja ya. Kayak orang sakit aja pakai kursi roda,” ucap Anna.
“Jangan, Na, nanti kamu kecapean. Udah, naik aja ke kursi roda, Reza biar Mama yang gendong,” sambar Mama.
“Bay, budhe tadi pamit pulang setelah Mama datang, katanya nanti sore mau ke rumah,” lanjut Mama memberitahu pada Bayu.
“Iya, Ma. Biar budhe istirahat. Semalam kan juga udah jagain Anna,” ucap Bayu.
Mereka pun segera keluar ruangan dan menuju ke lobby rumah sakit.
“Ma, bayu ambil mobil dulu ya. Mama tolong jagain Anna,” titah Bayu.
“Iya, Bay, kamu tenang aja. Udah sana cepat ke parkiran, kasian baby Reza kepanasan nanti kalau kamu kelamaan!” seru Mama.
Tanpa menunggu lam, Bayu pun segera ke parkiran untuk mengambil mobilnya, saat di parkiran Bayu melihat Dani yang baru turun dari mobil.
“Pak Bayu, selamat pagi,” sapa Dani.
“Pagi, Dan. Kamu ke rumah sakit, siapa yang sakit?” tanya Bayu.
“Oh ... gak ada yang sakit, Pak, lagi antar Santi periksa kandungan aja. Tadi izin sebentar ke pak Reigha,” jawab Dani.
__ADS_1
“Oh iya, Pak Bayu ... Bu Anna sudah lahiran ya? Selamat ya, Pak. Laki-laki atau perempuan, Pak?” lanjut Dani memberikan selamat pada Bayu sembari bertanya.
“Iya, alhamdulillah udah lahir, baby boy,” balas Bayu.
Setelah mengobrol dengan Dani, Bayu pun segera mengakhiri obrolannya dan menuju ke lobby rumah sakit.
Mama yang melihat mobil Bayu mendekat pun segera membantu Anna berdiri dan segera naik mobil.
“Kok lama sih ambil mobilnya, Bay?” gerutu Mama saat udah masuk ke dalam mobil.
“Maaf, Ma, tadi di parkiran ketemu Dani yang kebetulan mau memeriksakan kandungan Santi,” balas Bayu.
“Oh iya ... Santi mengandung ya? Berapa usia kehamilannya?” tanya Mama.
“Kalau gak salah sekarang usianya enam bulan deh, Ma,” jawab Anna.
“Semoga sehat ibu dan bayinya sampai lahiran,” ucap Mama dan diaamiinkan oleh Bayu juga Anna serempak.
Tak lama, mereka pun sampai di rumah. Mereka segera masuk rumah karena takut jika baby Reza kepanasan.
Mereka bersamaan masuk ke dalam rumah. Saat melihat rumah tampak sepi, Bayu dan Anna langsung menuju ke kamarnya.
Sementara Shafa yang mendengar ada mobil datang segera keluar.
“Anna,” lirih Shafa saat melihat Anna dan Bayu masuk ke dalam kamar. Shafa pun bergegas menuju ke kamar Anna.
Tok...Tok...Tok...
Bayu pun membukakan pintunya, “Eh, Fa.”
“Iya, Bay. Gue mau ketemu Anna,” ucap Shafa segera masuk ke dalam kamar.
“Anna ... selamat, ya, udah jadi ibu. Maaf gue gak bisa ke rumah sakit,” lirih Shafa berhambur memeluk Anna.
“Gue ngerti kok, Fa, si kembar sama siapa kalau lo tinggal. Makasih ya atas dukungan lo selama ini,” balas Anna.
Bayu yang melihat Shafa dan Anna mengobrol pun keluar karena gak mau ganggu perbincangan dua sahabat itu.
Bayu mendudukkan diri di ruang tengah yang tiba-tiba mendapat telpon dari Reigha.
Mama yang melihat Bayu sedang duduk pun ikut duduk di ruang tengah.
Tak lama, Bayu selesai telpon, Mama langsung menanyakan masalah aqiqahan untuk Reza. Setelah mendapatkan jawaban tentang kapan acaranya Mama segera pamit keluar untuk menyiapkan acaranya.
Mama memang yang selalu paling semangat jika mempersiapkan untuk acara apapun itu.
Sore harinya, Papa dan reigha pulang dari kantor. Bayu dipanggil Reigha ke ruang kerjanya.
“Kenapa sih, Gha, kayaknya penting banget,” ucap Bayu saat udah duduk tepat di depan Reigha.
“Bay, lo udah tau dari Mama masalah Cantika?” tanya Reigha membuat Bayu mengernyit bingung.
__ADS_1