
“Rendra itu udah lama suka sama lo, Fa. Semenjak dia tau lo nikah sama pasien lo sendiri, dia jadi semakin gak karuan. Pasien hampir dibunuh karena itu, lo tau, Fa ... dia sekarang benci sama pasien karena alasannya tuh lo nikah sama pasien lo, Fa. Sekarang, dia bakal nyari lo, buat lo dan suami lo celaka. Karena lo belum ditemukan sama dia, gue yang jadi sasarannya. Tapi, gapapa. Sekarang gue udah resign dari rumah sakit, mungkin gue bakalan nyari kerjaan baru aja, Fa.” Cerita Anna panjang seraya menundukkan kepala.
“Na, maafin gue. Ini semua karena gue,” ucap Shafa merasa bersalah.
“Gue gak nyalahin lo kok,” balas Anna tersenyum.
“Lo nanti pulang ke kost-an?” tanya Shafa.
“Gu-gue takut ke kost-an. Gue pulang ke rumah budhe,” jawab Anna.
“Baguslah. Gue jadi tenang kalau lo di rumah budhe,” balas Shafa.
“Trus, lo mau kerja dimana?” lanjut Shafa bertanya pada Anna.
Tiba-tiba ponsel Bayu berdering adanya panggilan masuk. Bayu pun menerima panggilan tersebut.
“Hallo!”
“Pak, saya mau lapor kalau Pak Gavin kini tengah mengobrol dengan Pak Andre di lobby kantor,” ucap seseorang dari sebrang telpon.
“Ketemu di lobby lagi?” tanya Bayu.
“Iya, Pak. Coba bapak lihat foto yang saya kirimkan,” balasnya.
“Oke, terima kasih.” Bayu pun mematikan ponselnya.
Bayu membuka ponselnya, lebih tepatnya tengah membuka room chat. Bayu melihat potret Gavin yang tengah mengobrol bersama Pak Andre dengan tatapan yang serius.
Bayu menyodorkan ponselnya pada Reigha. Reigha yang bingung pun melihat pada layar ponsel. Kemudian, Reigha mengetikkan sesuatu pada ponsel Bayu.
“Gue minta tolong, lo harus mikirin satu per satu masalah lo. Mana yang mau lo selesaikan dulu, percintaan lo atau kecelakaan gue kemarin. Gue gak keberatan kalau lo ngurus percintaan lo dulu,” ketik Reigha.
Seakan Bayu tak ingin Anna tau, Bayu pun ikut mengetikkan balasannya pada ponselnya.
“Gha, gue bakal mentingin lo duluan. Masalah percintaan, gue harus ambil hati Anna dulu. Gue lagi bingung untuk Rendra ini,” balas Bayu pada ponselnya. Kemudian, Bayu ulurkan kembali tangannya memberikan ponsel pada Reigha.
“Coba aja suruh dia jadi asisten lo, setidaknya dia selalu sama lo. Gue yakin dia mampu belajar urusan kantor,” ketik Reigha kembali membuat Bayu tersenyum.
“Oke. Gue harus ke kantor karena ada problem. Anna, lo gak perlu mikir kerja dimana, karena gue mau angkat lo jadi asisten gue. Dan, kali ini gak ada penolakan,” ucap Bayu.
__ADS_1
“Suster Shafa, gue titip Anna di sini sampai gue kembali. Gue mau ngurus kelanjutan pelacakan kecelakaan Reigha kemarin,” lanjut ucapan Bayu.
“Oke. Hati-hati, ya,” balas Shafa.
Shafa mengobrol bersama Anna. Sementara Reigha hanya memperhatikan sang istri dari kejauhan. Namun, ditengah-tengah obrolan Shafa dan Anna ... tiba-tiba Shafa teringat ini sudah waktunya Reigha minum obat.
Shafa dengan telaten membantu Reigha berbaring kembali di kasur, dan pamit pada Reigha untuk pergi ke dapur mengambil makanan.
“Na, ayo ikut gue. Ambil makanan buat Mas Reigha,” ucap Shafa dan diangguki oleh Anna.
Anna duduk di meja makan. Sementara Shafa tengah mengambil nasi di dapur dan bertemu dengan Mama Dhiya.
Bagi Mama Dhiya, ini adalah kesempatan baginya mengobrol dengan Shafa. Mama Dhiya mendekat pada Shafa yang tengah mengambil nasi seraya berkata, “Shafa, kamu harus ingat kalau kamu hanya menikah kontrak. Awas kalau kamu berani menyentuh anak saya atau melewati batasan kamu sebagai suster pribadi.”
Shafa kaget saat Mama Dhiya berkata demikian. Tapi, lagi dan lagi Shafa terlihat santai dan tersenyum.
“Tenang, Ma. Bahkan sampai sekarang, Shafa gak pernah melewati batasan Shafa sebagai suster,” balas Shafa.
Mama Dhiya dan Shafa keluar dari dapur bersamaan. Saat Mama Dhiya sampai di meja makan, kaget melihat Anna ada di sana.
“Lho ... Anna di sini?” tanya Mama Dhiya.
“Iya, Tante. Tadi Anna baru resign dari rumah sakit. Anna Cuma main aja kok, Tan,” jawab Anna.
Shafa tersenyum dan mengangguk.
“Lo mau Nginep sini, Na?” tanya Shafa.
“Segan deh gue, Fa,” balas Anna.
“Udah, gak perlu segan, gapapa. Mama malah seneng, jadi ramai ‘kan,” imbuh Mama Dhiya.
Anna pun mengangguk setuju. Kemudian, Mama Dhiya pergi meninggalkan Anna dan Shafa duduk meja makan. Tak lama, Shafa pun mengajak Anna kembali ke kamar dengan membawa makanan dan juga obat untuk Reigha.
“Na, lo duduk di sini dulu, ya,” ucap Shafa yang diangguki oleh Anna.
“Mas, ayo makan,” ucap Shafa duduk di samping Reigha.
Reigha pun makan dengan lahap hingga habis. Setelah selesai makan, kemudian minum obat.Tak lama, Reigha pun tertidur.
__ADS_1
****
Pagi ini, Shafa tampak sibuk di dapur dibantu oleh asisten rumah tangga dan juga Mama Dhiya yang ikut serta memasak untuk sarapan.
“Anna semalam jadi nginap di sini, Fa?” tanya Mama Dhiya.
“Jadi, Ma. Kayaknya dia masih di kamar deh,” jawab Shafa sembari mengaduk-aduk masakan yang tengah dimasak diatas kompor.
“Sini deh, Mama ambil alih. Kamu cek Anna di kamarnya dulu,” ucap Mama Dhiya yang diangguki oleh Shafa. Shafa pun berjalan keluar dapur menuju kamar tamu.
Saat lewat ruang tamu, Shafa mendengar bel rumah berbunyi. Shafa pun bergegas membukakan pintu. Ternyata, Bayu mengikuti langkah Shafa. Bayu pikir, pasti itu Binar yang datang
Pintu pun terbuka. Benar pikiran Bayu, memang Binar yang datang.
“Hai, Reigha ada?” tanya Binar pada Shafa.
“Ada. Kamu siapa, ya?” jawab Shafa sembari kembali bertanya kembali.
“Tamu ‘kan?” Binar melengos masuk sebelum Shafa mempersilakan Binar masuk.
Binar dengan kebiasaannya langsung duduk di meja makan menunggu semua berkumpul. Bayu yang ada di Belakang Shafa pun mendekat, kemudian berkata, “Suster Shafa, dia mantan pacar Reigha. Jadi, tolong sabar kalau bertemu dia.”
Shafa pun mengangguk paham. Kemudian, berjalan menuju kamar Anna tanpa menghiraukan Binar sang mantan kekasih suaminya yang tengah ada di meja makan.
“Na, Anna!” seru Shafa mengetuk pintu kamar.
Karena tak ada jawaban, Shafa pun masuk ke dalam kamar. Ternyata, Anna sedang demam.
“Na, ayo bangun. Makan dan langsung minum obat!” ucap Shafa yang diangguki oleh Anna.
Anna pun keluar dari kamar bersama Shafa. Kini pasien Shafa ada dua, Suaminya dan Sahabatnya. Anna sudah ada di meja makan, duduk berhadapan dengan Bayu. Sementara Shafa beralih ke kamarnya untuk membawa Reigha ke meja makan.
“Mas, ayo turun. Tapi, kamu harus tau, kalau mantan kamu lagi ada di meja makan tuh,” ucap Shafa.
“Kenapa dia datang?” tanya Reigha.
“Mana ku tau, Mas,” jawab Shafa santai.
Shafa pun mendorong kursi roda menuju meja makan. Mempersiapkan diri dan hati menghadapi mantan suaminya. Setelah sampai di meja makan, Reigha melihat Binar yang memang benar ada di meja makan.
__ADS_1
Shafa berjalan ke dapur, membantu Mama Dhiya mempersiapkan sarapan. Setelah semua siap, Papa Harun pun sudah duduk siap menyantap sarapan. Semua sudah berkumpul.
“Lho, Binar kok di sini?” tanya Mama Dhiya yang baru sadar adanya tamu tak diundang ikut sarapan bersama keluarganya.