
Pagi hari pun tiba, semua sudah pada sibuk karena hari ini acara pernikahan Shafa dan Reigha.
Shafa sudah dirias sejak pagi tadi, sedangkan Reigha berada di rumah sebelah Ayah Reynand bersama Papa Harun, Mama Dhiya, dan juga Bayu.
Anna yang sudah dimake up pun kini ikut bersama Bayu mendampingi pengantin laki-laki sebagai pagar ayu dan pagar bagus.
Tepat pukul 09.00 WIB, penghulu pun tiba, acara sakral segera di mulai.
Bayu dan Dicky (teman Anggi) segera mendampingi Reigha berdiri di sisi kanan dan kiri berjalan menuju rumah Shafa.
Sedangkan di depan rumah Shafa tampak sudah menunggu Anna dan Anggi yang juga udah di make up. Shafa diapit oleh Anna dan juga Anggi. Shafa terlihat sangat cantik dan anggun hingga Reigha tak berkedip mengagumi istrinya.
Acara temu pengantin pun di mulai. Setelah itu, mereka pun segera masuk ke tenda, tempat dilaksanakan akad nikah. Penghulu sudah menunggu di tempat akad bersama Ayah Reynand dan juga Papa Harun. Reigha pun segera duduk bersama Shafa di sampingnya.
Akad nikah segera di mulai. Reigha dengan sekali tarikan napas mengucapkannya dengan lantang. Setelah itu, Reigha bernapas lega tatkala terdengar para saksi bersorak mengatakan satu kata, “SAH!”
Akhirnya Reigha dan Shafa tersenyum bahagia. Karena, kali ini Reigha sendiri yang mengucapkan ijab qobulnya.
Setelah selesai berdo'a, semua mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Tak terkecuali Bu Sinta , Sintia dan Farhan.
Dan seperti biasanya, pasti Bu Sinta akan mengatakan sesuatu yang membuat kuping orang yang disekitarnya panas.
“Selamat ya, Shafa. Akhirnya kamu sah dan beneran jadi menikah sama orang kaya. Dan, ingat! Orang kaya baru jangan sombong ya!” seru Bu Sinta.
Semua yang mendengar pun tak ada yang menggubris ucapan Bu Sinta dan ditinggalkannya Bu Sinta sendirian.
Setelah akad, acara langsung di lanjut resepsi. Pengantin pun berganti baju lalu duduk bersanding di pelaminan. Tamu-tamu berdatangan secara bergantian dan mengucapkan selamat. Kedua pengantin sangat bahagia begitu juga dengan Ayah Reynand dan juga Ibu Khalisa, juga Papa Harun dan Mama Dhiya. Kedua orang tua masing-masing duduk di sebelah pengantin.
Sampai sore menjelang tamu-tamu masih ramai berdatangan hingga sebelum adzan maghrib akhirnya acara selesai.
Setelah acara selesai, terlihat wajah yang kelelahan namun bahagia. Kedua orang tua Reigha sudah pulang ke rumah. Karena, besok masih ada resepsi untuk para kolega Reigha di hotel. Shafa segera mandi dan berganti pakaian.
Reigha tampak bersandar pada headboard. Shafa yang baru saja masuk ke dalam kamar pun langsung menghampiri suaminya.
“Gimana, Mas ... capek?” tanya Shafa.
“Capek, tapi lega. Akhirnya, Mas bisa mengucapkan ijab qobul ya, Sayang,” jawab Reigha melemparkan senyumnya pada Shafa.
Kali ini pernikahan Shafa dan Reigha tak ada paksaan dari pihak manapun dan juga tak ada niatan buruk seperti nikah kontrak.
Shafa mendudukkan diri di samping Reigha seraya bersandar pada bahu Reigha, “Mas, makasih karena Mas tetap memilih Shafa untuk jadi istri Mas Reigha.”
“Kenapa ngomong gitu, Sayang? Ya ... Mas pasti milih kamu lah. Mas udah jatuh cinta sama kamu,” balas Reigha sembari menarik Shafa dalam pelukannya.
“Emm ... Mas, ayo kita istirahat. Besok acaranya padat lagi,” ajak Shafa.
__ADS_1
“Iya, Sayang. Besok kita berangkat setelah subuh, ya,” ucap Reigha yang udah mulai merebahkan badannya.
“Sini, Sayang,” imbuh Reigha sembari menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
Shafa pun mengangguk dan mulai merebahkan badannya di samping Reigha, mereka pun tidur sambil berpelukan.
Pagi pun tiba, Shafa dan Reigha udah bersiap-siap menuju hotel. Mereka menunggu Farhan yang sedang memanasi mobilnya.
Farhan masuk rumah mendekat pada Shafa dan berkata, “Fa, mobil udah siap.”
“Iya, Han. Bentar ya, kami pamit Ayah dan Ibu dulu,” balas Shafa.
Mereka berdua pun segera ke belakang menghampiri Ayah Reynand dan Ibu Khalisa yang tengah sibuk memberes-bereskan setelah acara pernikahan kemarin.
“Yah, Bu, kami berangkat dulu ya,” kata Reigha berpamitan.
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Maaf ya, Ayah dan Ibu gak bisa hadir ke sana. Tetangga dan Saudara blm pada selesai bantu-bantu di sini dan sebentar lagi ada tamu yang datang juga,” balas Ibu Khalisa yang tak enak hati.
“Iya, gapapa kok, Bu ... nanti Reigha sampaikan ke Mama,” ucap Reigha.
Reigha dan Shafa berjalan menuju ke depan rumah karena Farhan sudah menunggu bersama mobil Reigha yang telah terparkir di depan rumah.
Reigha dan Shafa pun masuk mobil, mereka menuju ke hotel. Sekitar satu jam mereka tiba di hotel. Mama Dhiya tampak udah menunggu karena Shafa harus segera dimake up.
“Mas, sepertinya kita terlambat, ya? Tuh Mama udah menunggu di depan,” ucap Shafa.
Shafa pun segera membuka pintu mobil dan bergegas keluar menghampiri Mama Dhiya, “Ma, maaf banget, Shafa terlambat.”
“Belum kok, Fa. Acaranya ‘kan dua jam lagi,” balas Mama Dhiya.
“Yuk masuk, kamu udah ditunggu di dalam karena mau dimake up,” imbuh Mama Dhiya sembari menarik lembut lengan Shafa untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar hotel.
Mereka pun menuju ke kamar hotel tanpa menunggu Reigha yang masih di dalam mobil.
“Farhan, mau pulang aja atau pulang setelah makan siang dulu di sini? Soalnya saya dan Shafa akan menginap di sini,” ucap Reigha bertanya pada Farhan.
“Baik, Pak. Saya di sini dulu aja, siapa tau saya bisa bantu-bantu sebentar,” jawab Farhan.
“Baiklah, saya tinggal masuk, ya. Nanti kalau mau masuk, langsung masuk aja gapapa,” ucap Reigha pamit dan segera keluar dari mobil.
Farhan pun mengangguk lalu masuk ke parkiran mobil. Farhan melihat ada yang mencurigakan di basement dekat mobil tempat Farhan parkir. Farhan pun segera mundur ke belakang untuk memantau orang yang mencurigakan tersebut. Farhan duduk di belakang seraya melihat orang-orang tersebut. Tak lupa Farhan pun merekam pergerakan mereka juga plat mobil mereka.
Di tempat lain, tampak Binar beserta suruhannya sedang menjalankan rencana jahatnya. Dia menunggu waktu yang pas untuk bertindak.
Sementara di dalam kamar hotel tampak Shafa sedang dimake up, sedangkan Reigha duduk tidak jauh dari tempat Shafa. Reigha tampak duduk gelisah sambil menatap pantulan wajah Shafa dari cermin yang di hadapan Shafa.
__ADS_1
Akhirnya, Reigha memutuskan untuk menelepon bayu, “Assalamualaikum, Bay. Lo dimana?” tanya Reigha.
“Wa’alaikumussalam, Gha. Ini gue ada di aula tempat resepsi. Ada apa?” jawab Bayu sembari bertanya kembali.
“Bay, perasaan gue gak enak. Gue cemas. Hmm ... lo udah cek sekitaran hotel, aman ‘kan?” balas Reigha bertanya pada Bayu.
“Gue udah cek dan menyuruh orang-orang kita mengamankan di sekitar hotel, Gha. Loe tenang aja,” jawab Bayu menenangkan Reigha dan segera mengakhiri telponnya bersama Reigha.
Reigha berusaha menenangkan diri tak ingin berpikiran buruk di acara resepsi pernikahannya hari ini.
Reigha mendekat pada Shafa sembari berkata, “Sayang, ini mas ada sesuatu buat kamu.”
“Apa, Mas?” tanya Shafa menoleh pada Reigha yang tepat berada di belakang Shafa.
Reigha pun segera memakaikan kalung ke leher Shafa.
Tentu hal tersebut membuat Shafa kaget. Shafa memegang kalung yang sudah berada tepat di lehernya.
“Ya Allah, Mas ... ini bagus banget. Makasih ya, Mas,” kata Shafa.
“Sama-sama, Sayang. Hmm ... boleh Mas minta sesuatu?” balas Reigha sembari bertanya pada Shafa.
“Katakan saja, Mas. Kalau Shafa sanggup, pasti Shafa turuti apapun itu kemauan Mas,” jawab Shafa.
Reigha kini beralih menghadap Shafa sembari membungkukkan badannya.
“Dimana pun kamu berada, Mas mau kamu memakai kalung ini. Jangan pernah kamu lepas, sekalipun itu di kamar mandi,” kata Reigha dengan tatapan serius menatap kedua netra Shafa.
“Kalau cuma itu, pasti Shafa turuti, Mas.” Shafa segera memasukkan kalung itu ke dalam jilbabnya. Shafa yang udah selesai dimake up, begitu juga Reigha. Mereka langsung menuju ke aula.
Tamu-tamu undangan serta kolega Reigha tampak berdatangan semua. Shafa dan juga Reigha di pelaminan berdiri sembari mengembangkan senyum.
Mama Dhiya mendekat pada Shafa dan berseru, “Sayang, kamu cantik banget!”
“Makasih, Mama,” balas Shafa tersenyum bahagia.
“Sayang, kamu di sini sama Mama, ya. Mas mau ke tempat kolega sebentar,” ucap Reigha yang diangguki oleh Shafa.
Reigha pun turun dari pelaminan dan segera menuju meja khusus kolega yang telah disediakan olehnya.
Reigha berbincang cukup lama dan akhirnya kembali lagi ke pelaminan karena tamu-tamu tampak berbaris hendak bersalaman dengan pengantin.
Tak terasa, acara udah hampir selesai, Shafa yang sejak tadi ingin ke kamar mandi, tak bisa karena dari tadi masih ada tamu hingga membuat Shafa menahan keinginan ke kamar mandi.
Kini tamu tampak sepi, Shafa segera izin ke kamar mandi, “Mas, Shafa ke kamar mandi bentar, ya.”
__ADS_1
“Mas temani, ya!” seru Reigha yang mendapat gelengan kecil dari Shafa