Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 47 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Sintia yang mendengarnya pun langsung keluar dan berkata, “Jangan gitu dong, Bu. Gimana pun ‘kan Shafa tuh yang mempekerjakan suami aku.”


“Siapa suruh Farhan mau jadi supir Shafa. Tuh suamimu, buat malu aja!” seru Bu Sinta bergegas masuk ke dalam rumah karena melihat menantunya yang baru saja turun dari mobil hingga membuat warga berbisik mengatainya.


“Tuh, Bu Sinta gak tau malu, ya. Udah untung anaknya dapat kerjaan dari Shafa,” bisik salah satu ibu-ibu yang ikut membantu acara di rumah Ayah Reynand.


“Iya. Gak bisa banget lihat orang yang diatasnya dia. Selalu kepo dan nge-julit terus!” imbuh ibu-ibu yang menatap tak suka pada Bu Sinta.


Reigha dan Shafa pun berjalan masuk ke dalam rumah disambut oleh tetangga dan juga saudara.


“Shafa, ganteng banget sih suami kamu!” seru Bu Mirna tetangga Ibu Khalisa.


“Alhamdulillah, Bu,” balas Shafa sembari tersenyum melirik Reigha.


Shafa izin ke kamar membawa Reigha agar suaminya dapat istirahat terlebih dahulu sebelum acara yang melelahkan esok hari.


Sesampainya di kamar, Shafa pun merapikan tempat tidurnya agar Reigha merasa lebih nyaman saat beristirahat.


“Fa, temenin Mas bentar dong,” pintar Reigha.


Shafa pun mengangguk dan duduk di pinggir kasur mengelus rambut Reigha sembari keduanya bercerita.


Tak lama, saat Reigha tertidur ... Shafa pun pelan-pelan bangkit dan keluar dari kamar.


Shafa kini berjalan hendak masuk dapur. Tapi, segera dicegah oleh Ibu Khalisa.


“Fa, pengantin itu gak boleh masuk dapur. Sana istirahat aja. Besok pagi acaranya full, ntar kamu malah kecapean,” ucap Ibu Khalisa.


“Tapi, Shafa tadi di rumah udah istirahat, Bu. Shafa cuma mau bantu-bantu aja kok,” balas Shafa.


“Yaudah, bantu yang di rumah aja. Gak usah masuk dapur, Fa.” Ibu Khalisa segera bergegas kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya.


Sementara Shafa yang nurut pun langsung mendudukkan dirinya di ruang tamu sembari membantu saudara yang sejak tadi tengah sibuk.


Terlihat Anggi masuk baru saja pulang sekolah dan langsung menggoda Shafa, “Cie, calon pengantin ... gugup gak, Kak?”


“Apasih, Gi. Buruan masuk kamar terus ganti baju dan bantuin sini,” balas Shafa.


“Gak mau ah, Kak. Anggi mau makan terus belajar biar bisa juara satu.”


“Gi, kamu dah berani ngebantah, ya skrng?” protes Shafa menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


“Bukan ngebantah, Kak. Anggi tuh disuruh abang ipar untuk belajar terus di ajak ke korea. Kak Shafa ‘kan dengar sendiri kemarin,” ucap Anggi dan segera berjalan menuju kamarnya. Shafa pun hanya geleng-geleng melihat tingkah Anggi.


Tak lama, Bayu dan Anna datang. Keduanya pun langsung masuk ke dalam dan bertemu dengan Shafa di ruang tamu.


“Wah ... udah ramai ya, Fa,” kata Bayu sembari mengedarkan pandangannya di dalam rumah Shafa yang tampak kekompakan dari warga membantu kelancaran acara pernikahan Shafa dan Reigha besok.


“Iya, Bay. Saudara pada ngumpul semua. Tetangga juga ikut bantu,” balas Shafa.


“Na, lo di sini aja nemenin gue ngobrol. Soalnya, gue gak boleh masuk ke dapur,” imbuh Shafa sembari mengerucutkan bibirnya.


“Oke, calon manten!” seru Anna duduk di samping Shafa.


Anak gadis yang ikut membantu di rumah Ayah Reynand tadinya yang menatap Reigha tak berkedip, kini gantian pula menatap Bayu hingga membuat Bayu tak nyaman dengan tatapan mereka.


“Fa, Reigha mana?” tanya Bayu yang berniat melarikan diri dari sini.


“Oh ... Mas Reigha lagi istirahat,” jawab Shafa.


“Fa, boleh gak gue istirahat juga di kamar lo? Gapapa ‘kan?” ucap Bayu meminta izin.


“Iya, Gapapa. Masuk aja di kamar yang itu,” balas Shafa seraya menunjuk kamarnya.


Bayu pun segera berjalan menuju kamar shafa. Dia ingin melarikan diri dari pandangan yang membuatnya risih, kebetulan pula Bayu pengen istirahat karena memang hari ini banyak banget kerjaan di kantor.


“Astagfirullah ... kenapa Bayu ada di sini? Bukannya ini kamar Shafa,” ucap Reigha dalam hati.


Reigha pun segera keluar dari kamar dan mendengar suara istrinya yang tengah mengobrol. Reigha pun segera mendekatinya dan memanggil Shafa, “Sayang.”


“Lho, Mas kok udah bangun? Panas ya kamarnya?” tanya Shafa.


“Enggak kok, Sayang. Mas kebangun karena kaget, kok Bayu bisa tidur di kamar?” balas Reigha sembari bertanya pada Shafa.


“Oh ... iya, Mas. Tadi Bayu kecapekan, Mas. Terus dia mau istirahat, Mas tau ‘kan kalau di sini kamarnya cuma tiga. Jadi, Bayu tidur di kamar kita,” jawab Shafa.


“Yaudah gapapa kok, Sayang. Lagian Mas udah ngerasa seger lagi kok. Hmm ... ini udah mau maghrib, yuk mandi!” seru Reigha.


“Iya, Mas. Shafa ambilkan handuk dan baju ganti, ya,” ucap Shafa.


“Gak usah, Sayang. Mas ikut kamu aja, kita barengan ke kamar,” balas Reigha yang diangguki oleh Shafa.


Keduanya pun masuk ke dalam kamar dan segera mengambil handuk dan baju ganti. Kemudian, bergegas keluar kamar, melewati dapur hingga sampai di kamar mandi.

__ADS_1


Tak berapa lama, mereka pun selesai mandi. Reigha segera masuk kamar membangunkan Bayu. Sementara Shafa langsung ke ruang tamu karena teman SMA-nya datang untuk bertemu dengan Shafa.


Di kamar, sengaja Reigha meneteskan air yang masih ada di rambutnya supaya Bayu terbnagun kena air dari rambut Reigha. Akhirnya, rencana Reigha pun berjalan mulus hingga membuat Bayu terbangun dengan kaget.


“Hujan, hujan, hujan!” racau Bayu yang langsung duduk mengucek kedua matanya.


Reiga langsung tertawa puas.


“Akh, lo gak asik, Gha. Orang tidur di gangguin!” seru Bayu.


“Gue gak gangguin. Lihat tuh dah jam berapa.” Ucapan Reigha berhasil membuat Bayu menoleh pada jam dinding yang digantung tepat di samping lemari baju di kamar Shafa.


“Ya Allah ... bentar lagi maghrib!” seru Bayu segera turun dari kasur dan mandi.


Setelah selesai mandi, mereka pun melaksanakan sholat maghrib bersama. Kemudian, mereka makan malam.


Tetangga dan saudara udah pulang sebelum maghrib dan akan datang kembali besok pagi setelah subuh. Karena, di rumah ini tidak cukup tempat jika harus menginap.


“Bayu, lo mau tidur di sini atau pulang?” tanya Reigha.


“Gue pulang aja. Soalnya, gak bawa baju ganti tadi. Sekalian, gue mau antar Anna,” jawab Bayu.


Bayu pun segera berpamitan dan segera pergi bersama Anna menuju rumah kediaman budhe. Setelah itu, Bayu kembali melajukan mobilnya bergegas menuju rumah Papa Harun.


Sementara di rumah Ayah Reynand, Reigha dan Shafa masih berkumpul dengan Ayah Reynand dan Ibu Khalisa serta Anggi yang duduk di samping Shafa.


“Ayah dan Ibu jangan lupa istirahat, makannya juga dijaga, ya. Besok pasti banyak tamu. Jangan sampai Ayah dan Ibu sakit karna lupa makan,” kata Reigha.


“Iya, Nak. Gak perlu khawatir,” balas Ayah Reynand melemparkan senyumnya.


“Bang, Anggi udah selalu belajar terus. Ntar kalau nilai anggi bagus dan lolos PTN, Anggi jadi diajak ke korea ‘kan?” tanya Anggi dengan penuh harap.


“Pasti itu. Pokoknya, kalau lolos PTN, langsung hubungi abang, ya,” jawab Reigha membuat Anggi bersorak gembira.


Ibu Khalisa beralih menatap pada Shafa sembari berkata, “Fa, besok kamu setelah sholat subuh langsung di make up lho, ya. Jangan bangun kesiangan


“Pasti Shafa gak kesiangan kok, Bu,” jawab Shafa.


“Oh iya, kamu bilang ke Bayu dan Anna agar besok ke sini lebih pagi karena harus dimake up jadi pagar ayu dan pagar bagus,” ucap Ibu Khalisa yang diangguki oleh Shafa.


“Anna sama siapa, Bu?” tanya Shafa.

__ADS_1


“Sama Anggi dong, Kak!” sambar Anggi yang tampaknya sangat bersemangat.


Setelah mengobrol, mereka segera masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat mempersiapkan diri untuk hari esok.


__ADS_2