Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 36 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Di tempat lain di rumah Wijaya. Calvin tampak sampai rumah dan segera masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang takut jika papanya akan marah padanya dan melampiaskan semua ini pada Nadia, kekasihnya.


Saat sampai di depan kamar, Calvin mendengar ada yang memanggil, saat ia menoleh ternyata mamanya lah yang memanggil.


“Iya, Ma, ada apa?” tanya Calvin.


“Kamu ditunggu papa kamu di ruang kerjanya, Nak,” jawab mama Monica.


“Iya, Ma. Calvin akan segera ke sana,” balas Calvin melangkah menjauhi mama Monica.


“Tunggu, Nak!” panggil mama Monica.


Calvin pun berhenti dan menoleh, “Iya, Ma ... ada apa?”


“Muka kamu kenapa, Nak? Kamu habis berantem?” tanya mama Monica.


“Calvin habis di pukul sama Daviandra, Ma. Calvin bener-bener capek menghadapi ini semua. Dari awal udah Calvin bilang kan, Ma, pernikahan paksaan ini tidak akan baik kedepannya,” balas Calvin.


“Tapi itu kan karena kamu juga, Calvin, coba kamu nurut sama papa dan mama, semua ini gak akan terjadi. Coba kamu baik-baik sama Daviana dan gak nemuin pacar kamu itu. Pasti semuanya gak akan terjadi,” kata pak Hartawan yang tiba-tiba keluar dari ruang kerjanya.


“Pa, cinta itu tidak bisa dipaksakan, dari mulai kenal Daviana, Calvin sama sekali gak ada perasaan sama dia, Pa,” ucap Calvin.


“Emang kamu anak yang gak tau diuntung. Mending sekarang ini kamu pergi aja dari rumah ini, jangan anggap kami sebagai orang tua kamu lagi, anak gak berguna!” seru papa Hartawan emosi.


“Pa, jangan usir anak kita, mau tinggal di mana nanti anak kita, Pa,” lirih mama Monica.


“Biarin aja, Ma, biar dia tau seperti apa pacarnya itu bersikap kalau dia udah gak punya apa-apa,” balas papa Hartawan.


“Baiklah, Pa, malam ini juga Calvin akan pergi dari rumah ini. Semua fasilitas dari papa akan Calvin kembalikan,” kata Calvin yang segera meninggalkan rumah keluarga Wijaya.


Mama Monica memanggil-manggil Calvin sambil menangis, tapi Calvin sama sekali tidak menghentikan langkahnya.


Saat akan mengejar Calvin, tiba-tiba mama Monica terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Calvin yang melihat pun seketika langsung berbalik dan berlari menghampiri mama Monica.


“Mama, bangun, Ma,” kata Calvin.


“Puas kamu sekarang? Keluarga kita berantakan gara-gara kamu!” bentak papa Hartawan.


“Pa, semua ini terjadi karena keegoisan papa, maaf Calvin g ada waktu lagi berdebat sama papa. Calvin akan membawa mama ke rumah sakit,” kata Calvin yang segera membopong mama Monica dan segera melajukan kendaraannya menuju ke RS.


Sesampainya di rumah sakit, mama Monica langsung dibawa ke IGD, sementara Calvin menunggu di depan ruang IGD. Tak lama kemudian, papa Hartawan pun menyusulnya dan segera berlari mendekat ke arah Calvin.


Mereka pun saling diam sambil menunggu dokter yang memeriksa mama Monica.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dokter pun keluar bersama suster.


“Pasien atas nama Ibu Monica,” teriak perawat sembari memegang kertas data pasien.


“Iya, Sus, saya suaminya,” kata papa Hartawan.


“Saya putranya, Dok. Gimana kondisi mama saya?” sambar Calvin yang langsung bertanya pada dokter.


“Ibu Monica hanya kecapean dan sepertinya ada masalah yang mengganggu pikirannya. Tekanan darah naik, Pak, jadi sebaiknya ibu Monica sementara jangan menerima berita-berita yang membuat beliau drop,” jawab Dokter.


“Baik, Dokter, terimakasih penjelasannya,” balas papa Hartawan.


“Ibu monica akan di pindahkan ke ruang rawat, sebaiknya bapak segera mengurus administrasinya,” kata perawat setelahnya.


“Iya, Sus ... saya akan segera urus administrasinya,” ucap Calvin yang segera meninggalkan IGD.


Setelah selesai mengurus administrasinya, mama Monica pun dipindahkan ke kamar rawat, Calvin dan papa Hartawan menunggui mama monica.


Saat akan beristirahat, tiba-tiba asisten papa Hartawan menelpon, “Selamat malam, Pak, ada masalah di kantor, darurat. Bisa bapak ke kantor malam ini juga?”


“Emang ada masalah apa?” tanya papa Hartawan.


“Pak Reigha dan pak Bayy memutuskan kontrak secara mendadak dan imbasnya perusahaan yang lain juga memutuskan kontrak, Pak. Saham perusahaan seketika menurun drastis,” jawab Reno.


“Apa?? Saya ke sana sekarang,” kata papa Hartawan segera menutup telponnya.


“Hasil kamu udah nampak, pak Reigha dan pak Bayu marah besar dan perusahaan kita di ambang keberangkutan. Puas kamu hah!” balas papa Hartawan yang emosi.


“Pa, ini tidak sepenuhnya salah aku, Pa,” ucap Calvin. Tapi, Pak hartawan langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang rawat.


Di tempat lain, tampak Reigha dan Bayu berada di ruang kerja.


“Gimana, Bay? Berhasil?” tanya Reigha.


“Berhasil, Gha. Kita berhasil membuat perusahaan Wijaya bangkrut dalam semalam,” jawab Bayu.


“Biar tau rasa dia, itu imbalan bagi siapapun yang berani berurusan sama kita, ini tidak seberapa di bandingkan sakitnya Daviana putriku,” kata Reigha.


“Iya, Gha, apa selanjutnya yang akan dilakukan Daviana?” tanya Bayu.


“Besok pagi dia mau ngajukan perceraiannya di pengadilan agama, setelah itu terserah dia, Bay. Gue merasa bersalah. Feeling gue sebagai papanya benar kan, putriku gak bahagia,” balas Reigha.


“Udahlah, Gha, nasi udah jadi bubur, dari pada kita menyesali lebih baik kita support dia aja,” ucap Bayu.


“Iya, Bay. Betul apa kata lo,” balas Reigha.

__ADS_1


“Oiya, lo udah telpon pengacara kita untuk membantu Daviana?” tanya Bayu.


“Udah, Bay, tadi sewaktu perjalanan pulang dari tempat Daviana langsung gue telpon pengacara kita,” jawab Reigha.


“Baguslah itu, biar cepat selesai,” kata Bayu setelahnya.


Setelah mengobrol, mereka pun segera ke ruang makan. Di sana semua anak dan istrinya udah menunggu.


“Maaf ya ... kita kelamaan bahas kerjaannya,” kata Reigha.


“Iya gapapa kok, Pa ... kita juga belum lapar,” balas Daviandra.


“Yaudah ayo semua ... kita mulai makan malamnya,” ucap Shafa.


Dan mereka semua pun makan malam dengan lahap.


Setelah mereka makan malam mereka pun menuju ke kamar untuk beristirahat.


Di dalam kamar, seperti biasa Reigha dan Shafa mengobrol dulu sebelum tidur.


“Mas, apa kita gak keterlaluan membuat perusahaan Wijaya bangkrut?” tanya Shafa.


“Itu belum seberapa dibanding sakit hatinya putri kita, Sayang, putri kita butuh kita malam ini, tapi dia gak mau pulang dan ingin menyendiri dulu. Itu sama aja Calvin udah menyakiti hati Naima sangat parah. Kalau bisa, aku ingin menghiburnya, tapi bagaimana?” lirih Reigha.


“Yaudah, kita sekarang tidur aja ... besok pagi-pagi benar kita kembali ke tempat Naima dan menemaninya mengurus sidang perceraian,” kata Shafa.


“Iya, Sayang. Ayo,” ucap Reigha segera berbaring di dekat Shafa. Dan tak lama, mereka pun tertidur.


Keesokan paginya, setelah menyelesaikan memasaknya untuk sarapan, Shafa menelpon Anna untuk menemani anak-anak sarapan di rumah.


Drrtttt... Drrtttt...


“Assalamu’alaikum, Na,” kata Shafa mengawali.


“Wa’alaikumussalam ... ada apa, Fa? Pagi-pagi gini udah telpon. Kenapa?” balas Anna yang bertanya.


“Gue mau minta tolong, boleh?” ucap Shafa yang balik bertanya.


“Ngomong aja, Fa, ada apa?” tanya Anna.


“Gue minta tolong temani anak-anak di rumah sarapan ya, gue mau ke tempat Naima, Na,” jawab Shafa.


“Owh ... cuma nemenin sih gak masalah, Fa, yaudah kamu berangkat gih, nanti gue sama abang langsung ke rumah lo. Hati-hati, ya, Fa. Assalamu’alaikum,” kata Anna.


“Oke, Na. Makasih ya ... Wa’alaikumussalam,” ucap Shafa yang menutup telponnya.

__ADS_1


Shafa dan Reigha pun bergegas bersiap agar segera menuju ke tempat Daviana berada.


__ADS_2