Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 23 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Ya, kalian harus mempersiapkan semuanya untuk besok. Segera gue bawa dia pergi jauh dari sini. Kalian harus siap untuk ikut bersama ku mengawasi Shafa!” seru seseorang yang membuat Bayu dan Andara saling tatap.


Bayu dan Andara yang tak mau ketahuan pun langsung segera keluar dari hotel tersebut. Sesampainya di mobil Bayu, keduanya masuk dan mulai membuat rencana.


“Mereka gak akan mungkin pergi malam ini. Lebih baik kita semua tidur. Besok pagi mereka akan pergi, kita harus ikutin mereka,” ucap Andara diangguki oleh Bayu dan tim polisi yang berada di dalam mobil Bayu. Namun, yang berada di mobil Andara belum tau apapun.


“Emangnya pergi ke mana?” tanya Anna penasaran.


“Rendra mau bawa Shafa pergi. Kami juga gak tau mau dibawa kemana,” jawab Bayu membuat Anna semakin kaget.


Hingga keesokan harinya, Anna tampak bangun lebih awal dari Bayu. Anna pun membangunkan Bayu dan tim kepolisian yang ternyata ada yang sudah bangun dan masih tertidur.


Bayu, Anna, dan tim kepolisian hanya fokus menatap pada hotel kosong tersebut yang tak kunjung keluar mobil yang akan membawa mereka bertemu dengan Shafa.


Sementara di rumah kediaman Papa Harun, Reigha tengah cemas karena Shafa sudah dua malam tak kunjung kembali.


Reigha yang baru saja bangun pun mencoba berdiri sendiri, tetapi tak bisa juga. Sudah mencoba tiga sampai empat kali hingga Reigha pun terjatuh membuat Mama Dhiya panik. Mama dan Papa membantu Reigha kembali ke atas kasur untuk beristirahat.


****


“Bayu, sorotan lampu udah kelihatan. Kayaknya mereka udah mau pergi nih,” ucap Andara melawat ponselnya.


Supaya tidak membuat Rendra curiga, hanya mobil Andara saja yang mengikuti mobil Rendra dari dekat. Sementara Bayu mengikuti juga tapi dalam jarak yang lumayan jauh, dan tidak lupa pula ponsel Bayu dan Andara tetap terhubung telpon dari keduanya untuk berkabar.


Mobil Rendra tampak melaju cepat dengan membawa Shafa, satu sopir suruhan Rendra dan juga dua orang suruhan Rendra yang ikut bersamanya sampai ke luar negeri. Kini, kondisi Shafa sangat buruk. Shafa pingsan sejak tadi pagi. Rendra yang telah berusaha membangunkan Shafa pun tak berhasil.


Shafa yang pingsan tak berhasil membuat Rendra menggagalkan rencananya untuk pergi ke luar negeri. Rendra membawa Shafa paksa dalam kondisi pingsan tetap masuk ke dalam mobil yang kini tengah berjalan menuju bandara.


Kini mobil Rendra telah sampai di bandara, sopir telah memarkirkan mobil di parkiran dan membantu Rendra membawa barang-barang. Sementara, satu orang suruhan Rendra tengah menggendong Shafa masuk ke dalam bandara.


Andara dan Bayu telah sampai. Mereka kaget kenapa Rendra membawa Shafa ke bandara. Itu artinya, Shafa akan dibawa pergi jauh oleh Rendra.


Andara, Bayu, Anna, dan tim kepolisian lainnya mengikuti langkah Rendra hingga sampai di dalam bandara. Netra Anna menangkap sosok Shafa yang tengah berada di gendongan salah seorang laki-laki yang Anna tau pasti itu orang yang membantu Rendra menjalankan rencana tidak masuk akal ini.


“Gue harus datengin dia!” seru Anna membuat Bayu dengan segera memegang lengan Anna kuat.

__ADS_1


“Tindakan lo, harus dipikir. Menurut lo dengan lo samperin, dia bisa lepasin gitu aja? Tenanglah, yang penting kita udah nemuin Shafa. Yang harus kita pikirkan, gimana caranya biar Shafa kembali ke kita,” balas Bayu membuat Anna mengangguk paham.


Andara pun tampak mendekat pada Bayu dan berkata, “Lo tunggu di sini, tapi lo bisukan panggilan takutnya pas gue deket dia, lo ngomong. Sementara lainnya mengawasi dan berjaga untuk menangkap empat orang itu. Gue bakal deketin yang namanya Rendra untuk mencari tau.”


Andara memang sengaja tidak memakai baju polisi. Jadi, tidak ada yang tau jika dia adalah polisi saat ini. Andara mulai berjalan mendekat pada Rendra dan lainnya.


“Pagi, Bang. Lo perlu bantuan?” tanya Andara pada orang yang tengah menggendong perempuan yang Andara tau, pasti itu Shafa.


“Oh. Enggak, ini cuma pingsan aja!” jawab Rendra yang ada di samping orang yang menggendong Shafa.


“Tujuan kemana nih, Bang?” tanya Andara kembali.


“Luar negeri,” jawab Rendra yang tak membiarkan orang suruhannya berbicara.


Rendra semakin mempercepat langkahnya, begitu juga dengan Andara yang semakin mempercepat aksinya. Hingga ...


DOR!!!


Polisi pun keluar mengepung Rendra dan tiga orang suruhannya.


“Lo!” seru Rendra kaget.


Orang suruhan Rendra yang mendapat instruksi dari Rendra pun berlatih membawa kabur Shafa. Untungnya Andara tepat di belakang orang tersebut langsung mengejar orang yang untungnya tidak kuat lari terlalu cepat karena tengah menggendong dan akhirnya Andara berhasil menangkap. Kemudian, Andara menyerahkan orang tersebut pada temannya.


Shafa beralih pada gendongan Andara dan dibaringkan di kursi yang ada di sekitar mereka. Anna pun menopang kepala Shafa agar tidak terasa sakit.


Andara dan teman lainnya mengurus Rendra dan tiga orang suruhannya yang kini telah ditangkap oleh polisi. Andara pamit pada Bayu dan Anna kemudian pergi meninggalkan bandara.


“Bang, lo tolong gendong Anna untuk diangkat ke mobil. Di mobil, gue selalu bawa minyak kayu putih. Semoga Shafa cepat sadar,” ucap Anna yang diangguki oleh Bayu.


Bayu pun mengangkat Shafa pada gendongannya untuk dibawa ke dalam mobil. Anna bergegas membukakan pintu mobil dan duduk di belakang untuk menopang kepala Shafa.


Anna memberikan minyak kayu putih hingga membuat Shafa tersadar. Anna yang melihat Shafa sadar, langsung bergegas mengambilkan air putih yang dibelinya tadi dan diberikannya pada Shafa.


Shafa menoleh pada Anna. Seakan tak percaya, kini Shafa kembali bersama keluarganya.

__ADS_1


“Na, ini lo kan?” tanya Shafa.


“Iyalah. Siapa lagi yang cantik dan menarik yang depan lo ini kalau bukan Anna sahabat lo tersayang,” jawab Anna membuat Shafa tersenyum dan memeluk erat sahabatnya itu.


“Gue capek, Na ... Gue takut!” seru Shafa ditengah pelukannya bersama Anna.


Bayu pun bergegas melajukan mobilnya menuju ke rumah.


****


Hari mulai menunjukkan sekitar pukul empat sore, Bayu baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah Papa Harun.


“Lo bisa ‘kan, Fa?” tanya Anna yang melihat Shafa begitu pucat.


“Bisa. I'm fine,” jawab Shafa mengangguk-angguk kecil.


Anna pun menuntun Shafa berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bayu yang turut senang membawa kembali kebahagiaan Reigha ke rumah ini.


Netra Shafa menelusuri tiap sudut rumah tersebut. Akhirnya, Shafa bisa terselamatkan dari Rendra dan bisa kembali pulang ke rumah ini.


“SHAFA!” teriak Mama Dhiya berlari kecil ke arah menantunya.


Mama Dhiya memeluk erat Shafa. Sementara Papa Harun mendorong kursi roda Reigha mendekat pada Shafa yang tengah dipeluk oleh Mama Dhiya.


Tanpa memberi Reigha kesempatan, Mama Dhiya langsung menarik Shafa duduk di sampingnya sembari bertanya, “Gimana keadaan kamu, Fa?”


“Shafa baik-baik aja, Ma,” jawab Shafa seraya menatap pada Reigha yang tengah memperhatikannya.


“Kok pucat banget?” tanya Papa Harun tampak khawatir dengan menantunya.


“I-iya, mungkin karena kecapean aja, Pa,” jawab Shafa berusaha untuk tersenyum pada keluarganya.


Mama Dhiya tak kunjung melepaskan Shafa dari sisinya, membuat Reigha cemberut melihat istrinya yang langsung diambil oleh sang Mama.


“Gimana ceritanya kalian bisa bawa Shafa kembali pulang?” tanya Mama Dhiya yang penasaran seakan tak menyadari tatapan Reigha yang menatap pada Mama.

__ADS_1


__ADS_2