
“Mau cerita apa? Cepet deh,” balas Daviana menatap lekat pada Almeera.
“Kak, tadi di sekolah ... ada anak baru loh, Kak, ganteng banget. Tapi sayang, dia dingin banget kayak kak Andra,” kata Almeera.
“Emang anak baru itu pindahan dari mana?” tanya Daviana.
“Pindahan dari sekolah yang paling bergengsi itu, Kak. Sekolah internasional,” jawab Almeera.
“Owh, trus kamu tertarik gitu?” balas Daviana bertanya.
“Iya, Kak, ganteng banget dia. Tapi ... tapi aku kan gak boleh pacaran, Kak,” kata Almeera.
“Gak boleh pacaran bukan berarti gak boleh berteman, Dek, kalian berteman aja. Kalau memang jodoh, pasti nanti kalian akan di perlancar jalannya, yang penting sekolah dulu yang rajin jangan mikir pacaran. Berteman aja,” ucap Daviana.
“Iya, Kak, aku janji akan mempertahankan terus prestasiku,” balas Almeera.
“Yaudah, kamu keluar gih. Kakak mau istirahat,” ucap Daviana.
“Oke, Kak. Makasih ya udah mau dengar curhat dan makasih juga buku-bukunya, Kak,” kata Almeera dan diangguki oleh Daviana.
Almeera pun segera keluar kamar Daviana menuju ke ruang keluarga menyalakan TV menunggu papi dan maminya.
Di ruang kerja, Daviandra dan Reza diajak oleh papa dan papinya untuk bergabung di kantor. Andra bergabung di kantor Reigha sedangkan Reza bergabung di kantor Bayu.
“Kenapa om Dani bilang kalau kamu tadi masuk ruangan malah pakai baju karyawan biasa? Bukan style CEO? Kamu belum siap dengan kantor?” tanya Reigha menatap lekat pada Daviandra.
“InsyaaAllah kami siap, tapi kami ingin memulai kerjanya dari nol dulu, Pa. Agar kami mengerti gimana susah kerja jadi karyawan,” jawab Daviandra dengan tenang.
“Bagus sih itu, papi setuju. Anak-anak papi emang pintar,” puji Bayu.
“Anak-Anak gue juga, Bay,” sambar Reigha.
“Baiklah, besuk papi yang atur,” celetuk Bayu tanpa mengindahkan protes dari Reigha.
“Dan satu lagi, Pa, kalau bisa ... semua jangan sampai tau kalau kami anak papa dan papi ya, aku gak mau mereka malah sok baik atau malah terlalu formal sama kami, kami ingin semua gak ada yg mengenali kami,” kata Reza.
“Iya, Nak, terserah kalian saja, yang penting kalian mau belajar mengurus kantor kami,” ucap Reigha.
“Ya udah, karena ini udah malam, kalian istirahat gih,” imbuh Reigha.
“Ya udah, Pa, Pi ... Reza pamit pulang ya,” kata Reza.
“Kamu pulang kemana, Nak? Mau pulang di rumah papi atau di apartemen kamu?” tanya Bayu.
“Reza pulang ke apartemen aja, Pi, ada tugas dan laptopnya di sana,” jawab Reza membuat Bayu manggut-manggut.
Ya, Reza udah mempunyai apartemen sendiri hadiah ulang tahunnya yang ke-20 begitu juga Daviandra yang juga diberi hadiah apartemen tepat pada hari ulang tahunnya yang letaknya bersebelahan dengan apartemen Bayu. Tapi, karena Shafa yang gak mau ditinggal Daviandra, akhirnya Daviandra pun menurut untuk tidak tinggal di apartemen.
“Hati-hati ya, Nak,” kata Reigha sewaktu Reza bersalaman padanya. Lalu, Reza beralih bersalaman pada papinya.
__ADS_1
Mereka pun keluar dari ruang kerja Reigha. Bayu, Anna dan Almeera langsung pulang lewat pintu samping, sedangkan Reza mengendarai mobilnya menuju apartemen setelah berpamitan pada mami juga adiknya.
Saat Daviandra mewati dapur, dia bertemu dengan Daviana, adiknya sekaligus kembarannya.
“Bang Andra, ngomongin apa sih di ruang kerja papa tadi?” tanya Daviana penasaran.
Ngomongin masalah kantor, kamu gak akan paham, kamu ‘kan taunya cuma obat dan jarum suntik,” celetuk Daviandra tertawa. Ya begitulah Daviandra. Dia akan dingin kalau di luar rumah, tapi kalau udah sama keluarga dan adik-adiknya, Daviandra akan sangat humoris dan hangat.
“Ishh, Bang ... walau aku dokter, tapi aku sedikit-sedikit ngerti ya masalah kantor,” sambar Daviana.
“Halahhh, beneran emang? Kalau iya, besuk bantu selesaikan tugas kantor!” seru Daviandra.
“Maaf, Bang, aku lagi sibuk,” kata Daviana yang langsung berlari meninggalkan Daviandra.
Daviandra segera menuju ke kamar adiknya Vilia. Kebiasaan Andra kalau mau tidur memastikan adik-adiknya baik-baik saja dulu baru masuk kamar.
Tok...Tok...Tok...
“Dek, sudah tidur?” panggil Daviandra sembari mengetuk pintu kamar Vilia.
Vilia pun membuka pintunya kemudian berkata, “Iya, Bang. Belum nih, masih ngerjain tugas.”
“Ada yang bisa abang bantu?” tanya Daviandra.
“Gak ada kok, Bang, PRnya sangat mudah,” balas Vilia dengan entengnya.
“Yaudah, kalau udah selesai ngerjainnya langsung tidur ya!” seru Daviandra.
Daviandra segera masuk kamarnya dan merebahkan badannya. Tak lama kemudian, Andra pun tertidur.
Di kamar Reigha dan Shafa, mereka berdua sedang mengobrol, “Mas, gak nyangka ya, anak-anak kita udah dewasa semua.”
“Iya, Sayang. Makasih ya, kamu selalu ada di samping aku dalam suka dan duka,” kata Reigha memeluk istrinya.
“Iya, Mas, makasih juga udah menjadi suami dan papa yang sangat baik. Suami idaman pokoknya,” balas Shafa sembari tersenyum.
“Sayang, kamu itu kalau udah seperti ini pasti ada maunya,” celetuk Reigha.
“Enggak kok, Mas, Shafa bicara apa adanya, lagian mau apa lagi ... semua aja udah mas cukupi,” ucap Shafa.
“Yaudah kalau kamu gak mau, aku aja yang mau kamu ya, Sayang,” balas Reigha segera mencium kening Shafa.
Dan mereka pun melakukannya sampai tengah malam, setelahnya Reigha segera ke kamar mandi membersihkan badannya lalu merebahkan badannya di samping Shafa yang udah tertidur.
Keesokan paginya, tampak Vilia membangunkan mamanya yang bangun kesiangan.
Tok...Tok...Tok...
“Mama, tumben belum bangun. Papa, ayo, Pa ... Vilia nanti terlambat loh,” teriak Vilia dari luar pintu kamar orang tuanya.
__ADS_1
Daviandra yang mendengar suara adiknya segera keluar kamar dan bertanya, “Dek, ada apa? Kenapa gedor-gedor kamar papa dan mama?”
“Bang, Ini loh ... lihat deh, udah jam segini papa dan mama belum keluar kamar, Vilia takut terlambat,” jawab Vilia sembari memperlihatkan arlojinya.
“Udah, udah ... ayo biar abang tang antar, papa dan mama mungkin kecapean. Jadi gak dengar kamu panggil-panggil,” balas Daviandra.
“Serius nih, Bang? Baiklah kalo gitu. Makasih ya, Abang!” seru Vilia tersenyum lebar.
Dan mereka pun segera keluar rumah dan segera menuju ke sekolah Vilia.
Di kamar, Reigha dan Shafa yang baru bangun pun kaget.
“Astagfirullah, Mas ... udah jam setenagh tujuh pagi. Ya Allah ... gimana ini, Mas, mana aku mau antar Vilia lagi. Kamu sih minta jatahnya sampai tengah malam, kesiangan kan jadinya kita,” kata Shafa sembari nyerocos.
“Sayang, stop. Jangan ngomongin yang udah terjadi,” balas Reigha.
Dan Shafa segera bergegas ke kamar mandi, sedangkan Reigha keluar menuju ke kamar Vilia. Reigha langsung membuka pintunya tapi gak ada orang sama sekali.
Reigha segera ke sebelah kamar Vilia, dan saat akan mengetuk pintu, Daviana sudah membuka pintunya.
“Pa, ada apa?” tanya Daviana.
“Oh, itu, Nak ... papa nyari adik kamu, kemana ya? Apa udah berangkat sekolah?” balas Reigha bertanya.
“Hmm, Vilia diantar bang Andra dari tadi, Pa,” jawab Daviana.
“Oh, yaudah, Nak. Papa mau siap-siap dulu, mau ke kantor,” kata Reigha.
“Iya, Pa, daviana berangkat dulu ya,” ucap Daviana bersalaman dengan Reigha, papanya.
“Kamu gak sarapan dulu, hm?” tanya Reigha.
“Enggak deh, Pa,nanti saja di rumah sakit. Soalnya udah siang nih, Pa,” balas Daviana.
“Salam sama mama ya, Pa. Assalamu’alaikum,” lanjut Daviana yang hari ini akan diantar oleh om Bobby.
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati ya, Nak,” kata Reigha.
Tak lama setelah Daviana berangkat, Shafa keluar kamar.
“Loh, Sayang ... kamu mau ke mana? Kok udah rapi?” tanya Reigha yang hendak masuk ke dalam kamar.
“Ya mau ngantar Vilia sekolah lah, Mas, udah mau terlambat ini,” jawab Shafa.
“Udah, kamu di rumah aja. Vilia udah berangkat diantar Andra tadi,” balas Reigha.
“Alhamdulillah ... lega aku, Mas, kasian kalau terlambat,” kata Shafa.
“Yaudah, Mas ke kamar dulu, siap-siap mau kerja,” ucap Reigha.
__ADS_1
“Iya, Mas. Mas ke kamar sendiri ya, baju udah Shafa siapkan kok di atas tempat tidur,” balas Shafa.
“Iya, Sayang. Lah, trus kamu mau ke mana?” tanya Reigha.