
“Gimana ceritanya kalian bisa bawa Shafa kembali pulang?” tanya Mama Dhiya yang penasaran seakan tak menyadari tatapan Reigha yang menatap pada Mama.
“Shafa dibawa ke hotel yang kayaknya udah lama kosong gitu deh, Tan. Trus dia udah dua malam ini dikurung sama Rendra. Anna pun gak tau gimana kondisi di dalam,” jawab Anna yang memulai bercerita.
“Bayu minta bantuan sama temen yang termasuk dari kepolisian. Jadi, kami semalaman di sana bareng sama tim kepolisian. Bayu dan Andara teman Bayu sempat masuk ke dalam hotel itu dan kami dengar kalau Rendra mau bawa pergi Shafa. Kami pun nunggu sampai pagi. Pas mereka dah pergi, kami ngikutin ternyata dibawa ke bandara. Andara mencoba nanya ke Rendra, Shafa mau dibawa ke luar negeri.” lanjut Bayu mengimbuhi cerita Anna.
Mama Dhiya semakin memperdalam pelukannya. Dia sangat khawatir dengan menantunya.
“Ma, maaf karena Shafa membuat Mama khawatir,” ucap Shafa ditengah pelukan Mama.
“Bayu, berarti Rendra udah dibawa sama kepolisian?” tanya Papa Harun yang sejak tadi menyimak.
“Iya, Om. Mungkin besok Andara ke sini buat kasih tau gimana-gimananya,” jawab Bayu membuat Papa Harun mengangguk paham.
Shafa yang tengah dilepas oleh Mama Dhiya pun kini mendekat pada Reigha yang sejak tadi menatap dirinya. Shafa bersimpuh di depan kursi roda Reigha sembari mendongakkan kepalanya.
“Mas, maafkan aku karena kemarin pergi tiba-tiba dari rumah sakit meninggalkan kamu bersama Anna dan Bayu,” ucap Shafa penuh penyesalan.
“Ini bukan salah kamu,” balas Reigha memegang erat tangan Shafa.
Shafa tersenyum menatap suaminya dengan tulus.
“Kamu gak diapa-apain sama Rendra ‘kan?” tanya Reigha yang merasa cemas.
“Enggak kok, Mas,” jawab Shafa.
Mama pun menyuruh Shafa beristirahat, Shafa menitipkan Reigha bersama Mama. Shafa pun membersihkan diri di kamar.
Sementara Reigha beralih menatap pada Bayu seraya berkata, “Bayu, makasih lo udah bantu gue. Lo udah bawa kembali istri gue. Makasih juga untuk Anna.”
Bayu mendekat pada Reigha, “Iya. Apapun itu, gue seneng lihat lo udah kembali semangat gini. Semoga lo cepet bisa sembuh dan bisa barengan pergi berdua sama Shafa, menghabiskan waktu berdua. Dan, semoga keluarga lo langgeng sampai anak cucu.”
“Makasih, Bay. Dan, lo harus segera nyusul. Cepetan tuh lamar yang sebelah,” balas Reigha membuat Anna tersipu malu di samping Bayu.
Kembalinya Shafa, langsung bertanya pada Reigha, “Mas, kamu tadi udah minum obat?”
__ADS_1
“Aduh, Shafa ... Reigha ini susah banget makan kalau gak ada kamu!” seru Mama Dhiya membuat Shafa menatap tajam pada Reigha
Shafa bergegas menuju ke dapur untuk mengambil makanan Reigha dan segera menyuapinya. Tiba-tiba, ponsel Bayu berdering menandakan adanya panggilan masuk. Bayu menerima panggilan tersebut yang ternyata dari Andara.
“Bayu, mau ketemu lo. Tolong shareloc,” ucap Andara.
“Oke, gue tunggu,” balas Bayu dan segera mengirimkan shareloc untuk Andara.
Setelah selesai makan, Shafa mengambilkan obat Reigha dan membantu Reigha untuk minum obat.
Andara yang ditunggu sejak tadi pun kini hadir Ditengah-tengah keluarga Papa Harun. Andara dipersilakan duduk, dia pun duduk disamping Bayu.
“Jadi gimana?” tanya Bayu pada Andara.
"Ya, lumayan susah juga buat mereka nurut. Untungnya, sekarang udah diproses. Jadi, kalian tidak perlu khawatir,” jawab Andara.
“Gue kira lo ke sini besok, soalnya udah malam juga ‘kan,” ucap Bayu.
“Besok gue malah gak bisa, karena harus pergi ke luar kota. Makannya gue sempatin hari ini,” balas Andara.
“Oh iya, teman lo yang tadi diculik, siapa namanya?” tanya Andara pada Bayu.
“Shafa,” jawab Bayu.
“Dia cantik juga. Anaknya bapak dan ibu itu, ya?” tanya Andara kembali yang kini menatap pada Papa Harun dan Mama Dhiya.
“Hmm ... bukan, Shafa itu menantu di keluarga ini. Itu suaminya yang di kursi roda,” balas Bayu membuat Andara salah tingkah.
“Maaf-Maaf ... saya gak tau, Pak, Bu,” ucap Andara tidak enak hati
Reigha tersenyum kecil seraya berkata, “Gapapa. Terima kasih atas bantuan lo untuk menyelamatkan istri gue. Dan, untuk kekaguman lo pada istri gue, itu gak salah asal gak berlebihan.”
“Om, Tante ... Anna mau siap-siap di kamar dulu, ya. Soalnya ‘kan Rendra udah dipenjara, setidaknya Anna udah merasa bebas. Anna tetap kerja di perusahaan kok, cuma Anna gak enak kalau selalu tinggal di sini. Anna mau tinggal sama budhe,” ucap Anna pada Papa Harun dan Mama Dhiya.
“Kalau emang itu keputusan kamu. Kami gak bisa memaksa, yaudah kamu beres-beres aja,” balas Mama Dhiya yang diangguki oleh Anna.
__ADS_1
Shafa yang tau Anna ingin beberes pun berniat mau membantu sahabatnya. Shafa izin pada Reigha untuk ke kamar Anna. Setelah Reigha mengizinkan, Shafa mengikuti Anna hingga sampai ke dalam kamar.
Shafa dan Anna menghabiskan waktu bersama sembari membereskan barang-barang Anna. Mengobrol dan diselingi dengan candaan hingga membuat keduanya tertawa.
“Na, gue harap lo sering main ke sini, ya,” ucap Shafa setelah selesai mempersiapkan semuanya.
“Iya, Fa. Pasti! Gue berangkat besok pagi, Fa,” balas Anna yang diangguki oleh Shafa.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Shafa kembali ke ruang tamu menjemput Reigha untuk dibawa ke kamar. Saat di ruang tamu, Shafa melihat Andara yang ternyata belum pulang juga. Sementara Mama dan Papa mungkin sudah beristirahat karena tidak ada lagi di ruang tamu.
“Bayu, Pak Andara, saya dan suami izin undur diri karena sudah waktunya suami saya beristirahat,” ucap Shafa yang berada di belakang kursi roda Reigha.
“Iya, silakan,” balas Andara.
“Terima kasih sekali lagi dari saya dan keluarga,” ucap Shafa kembali yang mendapat anggukan serta senyuman dari Andara.
Shafa pun mendorong kursi roda Reigha menuju kamar untuk beristirahat. Tinggal Bayu saja di ruang tamu yang menemani Andara hingga pulang entah kapan. Mungkin sekalian Bayu dan Andara berkumpul kembali. Karena, sangat jarang sekali keduanya berjumpa.
Saat di kamar, Shafa membantu Reigha untuk pindah ke atas kasur.
“Sayang, kamu kangen gak sama aku?” tanya Reigha yang berada di atas kasur.
“Kangen dong, Mas,” balas Shafa sembari tersenyum menatap suaminya. Shafa pun naik ke atas kasur dan beristiraha bersama suaminya.
Keesokan harinya, setelah sarapan Anna langsung diantar Bayu ke rumah budhe. Sementara Shafa dan Reigha masih saja mengobrol bersama Mama di meja makan. Sedangkan Papa Harun tengah mengecek kondisi perusahaan yang sejak kemarin ditinggal oleh Bayu.
Mama bercerita tentang Reigha yang ditinggal dua malam oleh Shafa. Hingga Reigha yang terjatuh karena berusaha untuk berdiri.
“Yaampun, Mas. Kamu ini terlalu memaksakan!” seru Shafa.
“Oiya Shafa, kapan Reigha therapy?” tanya Mama.
“Besok, Ma,” jawab Shafa.
Hari-hari yang Reigha dan Shafa lalui kini lebih nyaman setelah Rendra dipenjara. Rasanya, tak ada lagi yang akan membuat Shafa dan Anna celaka selama Rendra masih dalam pengawasan polisi.
__ADS_1